Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Bertemu Om Kris

Bab 4 Bertemu Om Kris

Adel baru saja bangun pagi yang kesiangan, mama dan papanya tidak ada dirumah. Karena semalam mereka mendadak pergi untuk dinas diluar kota.

Sam, dia pun sedang sibuk dengan dunia perkuliahannya. Begitu juga dengan Elle, dia juga sedang sibuk dengan keluarganya.

"Aku benar-benar kesepian,"

Lalu Adel berjalan ke kamar mandi, ia merendam tubuhnya di dalam bak mandi.

Setelah setengah jam, Adel memakai baju santai, namun tak mengurangi kecantikan pada dirinya.

Adel berdiri didepan cermin, dan ia menatap jarum jam di dinding.

"Oke, kita pergi saja. Aku mau cari angin, mau cuci mata, mau habisin waktu sendirian. Benar-benar ngiris hidupku, maksudku miris hahaha,"

Lalu Adel pergi menggunakan taksi, menuju sebuah mall.

Hampir semua toko ia datangi, hanya untuk sekedar melihat-lihat atau mencari barang yang ia cari. Lalu Adel merasakan lapar di dalam perutnya.

Lagi, ia memasuki burger king cafe.

Saat ia akan membayar makanannya, tiba-tiba seseorang menyodorkan blackcard pada kasir. Adel terkejut, ketika ia menolehkan kepalanya.

"Om Kris?" Adel menatapnya bingung.

"Hai, kita ketemu lagi." Kata Kris yang kini sedang membayar pesanan adel.

"Emm, om Kris kok bisa disini?" pertanyaan macam apa itu Adel.

"Ini kan tempat umum, jadi saya bisa kesini."

"Ah, hehe… iya juga ya," Adel tertawa kikuk dan menggerutu dirinya sendiri.

'dasar bodoh, jelas saja dia bisa disini. Kenapa kau malah bertanya seperti itu.' batin Adel.

"Kamu sendirian?"

Adel menganggukkan kepalanya pelan,

"Ya sudah, kebetulan saya juga sendirian, ayo kita kesana. Ada meja kosong di pojok sana." Kris lalu menarik pelan tangan Adel menuju meja yang ia tunjuk.

Adel hanya terdiam menatap tangannya yang ditarik oleh om Kris.

"Sam mana? Kenapa kau tak bersama dengannya?"

"Sam, dia sibuk dengan kuliahnya, terus sahabatku juga sibuk liburan dengan keluarganya, aku sendirian aja. Ih, menyebalkan sekali." Kris menatap wajah Adel yang sedang bercerita.

Sangat menarik, membuatnya tersenyum menatap Adel.

Namun, senyumnya pudar, saat ingatan tentang gadis dihadapannya ini adalah kekasih Sam, keponakannya sendiri.

"Sial," gumamnya.

"Apa om? Om mau ngomong apa?" Tanya Adel yang mendengar gumaman Kris namun tak jelas.

"Tidak, hanya saja burger ini enak.haha" jawaban garing Kris membuat Adel terdiam.

Adel merasa tidak ada yang lucu, kenapa dia tertawa?

Masa bodoh dengan itu. Adel hanya lapar dan memakan burgernya.

Mimpi apa semalam? Dia sekarang sedang makan burger bersama om-om?

Ah, untungnya, om Kris ini wajahnya masih terlihat seperti 20 tahunan hehe,

Jadi tak perlu khawatir dengan itu.

Lalu Adel membaca pesan chat dari Sam,

Pkl. 12.10

Sam - sayang, kamu lagi apa?

Pkl. 12.20

Adel - aku lagi makan BK di mall, Sam om Kris.

Pkl.12.22

Sam - om Kris? Sejak kapan kamu bertemu dengannya? Apa kalian buat janji untuk bertemu di belakangku?

Pkl.12.30

Adel - gak, aku gak sengaja ketemu dia di mall. Aku pergi sendiri koq.

Pkl.12.35

Sam - awas aja kamu macam-macam, udahan dulu ya. Aku mau lanjut kelas, pulangnya hati-hati. Love you,

Pkl.12.40

Adel - iya, sayang. Love you too.

Adel menyimpan ponselnya kembali didalam tas, senyumnya mengembang.

Ia tak menyadari jika Kris sejak tadi sudah menatapnya.

"Ah, membosankan!" Gerutu Adel.

"Main game yuk?"

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba mulut Kris mengucapkan itu mengajak Adel untuk bermain game.

Adel menaikkan pandangannya,

"Ayo, Adel juga mau hehe,"

Kris terdiam saat Adel mau menerima ajakannya, ada perasaan bahagia dihatinya. Mungkin dia terlihat jahat dengan mengajak kekasih keponakannya itu untuk berjalan dan bermain game dengannya, seperti date, kencan atau apalah itu.

Lalu mereka berdua menuju game center di dalam mall.

Sesampainya disana, adel mengajak Kris untuk bermain game dance-dance revolution.

Tawa, bahagia dan lelah kini menghampiri mereka.

"Aduh, capek banget. Haus lagi," kata Adel lalu mengibas-ngibaskan tangannya di wajah.

"Tunggu, sebentar. Saya beli minum dulu," Kris berjalan menuju stand minuman.

Ia membeli dua cup lemon tea ice, lalu ia berikan satu cup untuk Adel.

Adel menyeruputnya dengan cepat,

Kris menatap leher Adel yang basah kena keringat, dan lagi, otak mesum datang menghampirinya.

'Sial, menyingkirlah. Jangan kau buat aku ingin menyerangnya saat ini.' batin Kris.

Lalu Kris membuang pandangannya yang sedari tadi menatap leher jenjang Adel.

"Om, ini udah sore. Adel mau pulang duluan ya?" Pamit Adel lalu membuat Kris menolehkan kembali wajahnya pada Adel.

Adel terdiam karena jarak mereka lumayan dekat.

'diliat-liat, Om Kris ini benar-benar ganteng banget' batin Adel.

"Adel," panggil Kris lembut pada Adel.

Kemudian Adel pun tersadar,

"Ah, iya om, kenapa?" tanya Adel yang kini bertemu pandang dengan Kris.

"Kamu mau saya antar, sampai depan rumah?" Tawar Kris pada Adel.

"Gak deh, om. Adel naik taksi aja,"

"Gak, gak, ayo, biar saya antar aja." Kata Kris memaksa.

Lalu Adel pun menganggukkan kepalanya.

Ya, mau gak mau lah dia diantar oleh Kris.

Sesampainya di halaman rumah, Kris menatap sejenak rumah orang tua Adel.

"Ini rumah kamu?" tanya Kris yang masih menatap rumah orang tua Adel.

"Bukan, om. Ini rumah orang tua Adel, hehe.." jawab Adel dengan cengirannya.

Kris tersenyum,

"Iya, itu maksud saya. Kaya gak asing aja,"

"Gak asing gimana?"

"Gak, lupain aja."

"Ya, udah. Adel turun ya, om. Makasih atas tumpangannya." kata Adel dengan berpamit pada Kris.

Kris pun menganggukkan kepalanya.

"Ah, ya, Adel … " panggil Kris dan membuat Adel menolehkan kepalanya lagi padanya.

"Iya, om?"

"Terimakasih, untuk hari ini." Kata Kris tersenyum pada Adel.

Adel tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu ia melambaikan tangan pada Kris yang mulai melajukan mobilnya menjauh dari halaman parkir rumahnya.

"Kayak orang lagi selingkuh gak sih, aku? Hahaha," ujar Adel pada dirinya sendiri.

Lalu Adel berjalan masuk kedalam rumah. Ia merebahkan tubuhnya, karena lelah, ia pun tertidur.

Sepanjang perjalanan, Kris tak bisa menahan senyum. Betapa bahagianya ia hari ini, berniat untuk menghilangkan rasa jenuhnya, keberuntungan justru menghampiri dirinya.

Ia bertemu dengan gadis yang ia sukai, lagi-lagi, senyumnya pudar saat wajah Sam muncul di pikirannya.

"Ah, sial, lagi-lagi aku harus menahan diri. Dia itu milik Sam, jangan jadi paman yang paling jahat dari yang ter-jahat, Kris." Kata Kris pada dirinya sendiri.

Kris menghela napas berat,

"Sebenernya, itu rumah siapa? Aku kaya pernah liat," lanjutnya.

Lalu Kris kembali fokus melajukan mobilnya hingga sampai di teras rumah milik orang tuanya. Kris memarkirkan mobil, sejenak ia menyandarkan kepala di setir mobil.

"Maaf, Sam. Mungkin om sudah jahat denganmu."

Kris memejamkan mata sejenak lalu turun dari dalam mobilnya.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel