Bab 3 Terkejut
Bab 3 Terkejut
Kris(POV)
Aku diseret paksa oleh Sam untuk turun dari kamarku, disana, di ruang tamu, mama sedang duduk bersama seorang gadis, terlihat familiar. Gadis itu duduk menghadap ke mama, lebih tepatnya aku berjalan dari arah belakang dirinya, saat Sam memanggilnya, dan ia pun menengokkan kepalanya ke arah kami yang baru saja turun dari tangga.
Aku terkejut dibuatnya, astaga, apa ini?
Itu kan gadis yang sudah mencuri perhatianku, gadis yang kulihat di cafe tadi pagi.
Ah sial, ternyata dia pacar keponakanku.
Aku benar-benar merasa sangat kecewa, karena ini pertama kalinya aku tertarik dengan seorang gadis.
Aku berjabat tangan dengannya, dia tersenyum manis, manis sekali, aku benar-benar terpesona dengan kecantikan wajahnya, sangat imut.
Mama menyadarkan pandanganku dari Adel,
Benar-benar menyebalkan, mama menggangguku, tapi aku harus sadar diri. Dia adalah pacar Sam, keponakanku sendiri.
Aku hanya menghela napas berat.
......
Adel (POV)
Aku menunggu Sam yang sedang memanggil pamannya di atas, lebih tepatnya kamar si om itu ada di lantai atas.
Aku sedikit berbincang dengan neneknya, orangnya sangat baik dan ramah. Aku benar-benar merasa senang berkenalan dengannya, umurnya tak lagi muda, mungkin sekitar 60 tahunan, tapi dia masih terlihat sehat dan tidak jauh dari kata sempurna, karena pendengaran dan penglihatan masih normal.
Lalu aku mendengar langkah kaki, menuju pada kami.
Aku menolehkan kepalaku saat mendengar Sam memanggilku, dia sudah berdiri tepat di belakangku bersama pamannya.
Aku sedikit aneh, kenapa wajahnya terlihat seperti terkejut. Aneh sekali, bukan?
Tapi aku berusaha menghiraukannya, aku pikir om Kris itu sudah menikah, namun kenyataannya ia masih menyendiri.
Dia sudah berumur 35th, tapi dia benar-benar masih sangat tampan. Aku sedikit melirik perutnya, terdapat roti sobek kotak-kotak yang kulihat di balik kaos tipis yang dipakainya.
Aku melihatnya, yang masih menatapku, sesekali dia tersenyum padaku. Entah kenapa, ada perasaan aneh muncul pada diriku.
Dia benar-benar sangat tampan, bibirnya tipis menggoda dan hidungnya yang tinggi bak tiang Monas, haha.. ingin rasanya aku jepit dengan jari-jari tanganku.
***
"Adel, kau sudah makan?"
"Sudah, aku sudah makan tadi saat bersama dengan Elle."
"Apa kau makan nasi?" tanya Sam lagi pada kekasihnya.
Adel hanya nyengir.
"Sudah kuduga, kamu bukan makan nasi. Tapi makan jajanan di luar, ayo cepat, kamu harus makan nasi." Sam menyeret Adel ke dapur.
Sam mendudukkan Adel dan mengambilkannya sepiring nasi dan juga lauknya.
"Ah, Sam, ini banyak banget. Aku gak mau," rengek Adel menolak makanan yang diambilkan Sam untuknya.
"Kau harus makan, sayang. Atau aku akan menghukummu?"
Adel mengerucutkan bibirnya,
Dengan terpaksa ia memakan, makanan yang diambilkan Sam.
Sam hanya menahan tawanya.
Sangat lucu,
"Makan yang benar, Adel. Kamu mau aku suapi?"
Adel mengangguk antusias, sangat bersemangat dengan tawaran dari Sam.
***
Sam(POV)
Aku memperkenalkan om Kris pada kekasihku, namun aku terheran, kenapa om Kris terlihat seperti kaget saat melihat wajah Adel. Berbeda dengan Adel, dia hanya tersenyum biasa.
Kupikir mereka saling mengenal, ternyata tidak.
Aku melihat om Kris sesekali melirik Adel, sungguh, aku tidak suka dengan situasi ini.
Siapa yang mau, jika kekasihnya dilirik oleh laki-laki lain?
Aku akui, Adel itu sangat cantik. Aku benar-benar mencintainya, aku tidak pernah menyentuhnya, bahkan mencium bibirnya saja tidak pernah.
Aku benar-benar menyayanginya tulus, aku tidak mau merusak masa depan kekasihku.
Aku hanya ingin menjalin hubungan yang sehat.
Lama-lama aku sedikit kesal, saat melihat om Kris melemparkan senyum pada Adel.
Aku mengajak Adel untuk makan, karena aku paham dengannya, dia sangat jarang memakan nasi.
Aku sengaja mengajaknya menghindar dari hadapan om Kris, karena aku benar-benar kesal melihat kekasihku terus d liriknya.
***
Kris merebahkan tubuhnya di ranjang saat Adel dan Sam telah pergi.
Ia menatap langit-langit kamar,
"Sial, kenapa dia sudah memiliki kekasih? Dan parahnya itu kekasih ponakanku sendiri."
"Aku harus buang jauh-jauh rasa kagum ini, aku tidak mau menjadi manusia terjahat yang ingin merebut kekasih keponakanku sendiri. Dan lagi, dia ini baru lulus SMA, terlalu muda untukku."
Lalu Kris menghela napas berat, mencoba memejamkan matanya namun tetap tidak bisa.
Lalu ia bergegas mencari kunci mobil, ia pergi dari rumah dan mendatangi sahabatnya, Vano.
"Kau, ngapain kesini? Tumben," tanya Vano yang merasa aneh, tiba-tiba Kris datang ke apartemen tanpa memberitahu dirinya lebih dulu.
"Kenapa? Kau tak mengijinkanku
ke apartemenmu? Ya udah, aku cabut nih."
"Alah, sensian, kaya cewe yang lagi psm."
"PMS, bege!!"
"Santai, bro. Gak usah ngegas, bisa gak?" Ujar Vano dengan menyodorkan minuman kaleng pada Kris.
"Gak. Aku mau numpang tidur, kamu kalo mau pergi ya pergi aja."
"Dih, si anjir. Yang punya tempat siapa, malah tamu yang mau ngusir pemilik. Dasar teman gak ada akhlak, kau!!"
"B*cot, ah!" Kris menjawabnya dengan menutup wajahnya menggunakan bantal.
"Sialan, bantal mu, bau iler!!" Kris melempar bantal pada Bank yang sedang minum.
"Uhuk-uhuk,". Vano tersedak.
"Anying, bisa mati aku gara-gara kamu!"
Kris hanya cengengesan tak jelas, Vano hanya menatap sinis Kris.
"Santai, matamu nanti lepas gimana?"
"Keluar kau, gak usah kesini. Bikin rusuh aja."
"Ya deh, sorry-sorry, besok aku traktir deh. Gak Janji tapi, hehe"
"Serah kau saja, males daku nanggapi temen kayak dirimu."
Vano menyibukkan diri dengan menatap ponsel di tangannya.
"Arghh, sial. Gak tahan lagi," kata Vano yang tiba-tiba mengerang.
"Si tol*l ngapain kau, hah?" Kris menaikkan nada bicaranya.
Sedangkan, Vano hanya nyengir pada Kris.
"Ini," Vano menjawabnya dengan menunjukkan layar ponselnya.
Kris terkejut, ternyata Vano sedang menonton film porno.
"Dasar, otak mesum. Nikah gih, sono."
"Yaelah, situ kaga sadar diri, situ aja masih kaga laku. Aku masih mending ye, punya tunangan. Kalo mau tinggal telepon, ketemuan langsung masuk kamar. Hehe," kata Vano tak berdosa.
Kris hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku gak mau ya, rusak masa depan calon istriku nanti."
"Halah, ya kalo ada yang mau? Kalo kaga?" Ucapan Vano benar-benar membuat Kris kesal.
"Udahlah, mending aku pulang. Males aku disini, bukannya tenang otak, malah tambah runyam. Enek aku liat kelakuan mu,"
"Ya, aku juga berharap kamu cepet pergi, biar aku bisa jemput tunangan dan ya gitu hehe,"
"Dasar gila, kau." Kris mengatakan hal itu dengan sinis, lalu ia berjalan keluar dari apartemen Vano.
Kris menghela napas berat,
Benar-benar merasa tertekan, bagaimana nanti dengan nasibnya?
Jika Vano menikah, pasti dia akan menyendiri.
"Ah, sial. Ini yang aku gak suka, kalo ngomongin soal nikah."
Lalu Kris menyalakan mesin mobil dan melakukannya, pergi dari area apartemen Vano.
Bersambung..
