Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Adel

Bab 2 Adel

Adel kini sedang menunggu Elle sahabatnya, dia menyibukkan diri dengan membaca novel romance yang ia bawa.

Sesekali ia melirik ke jam tangan di pergelangan tangannya.

"Ish, Elle lama banget. Dia yang buat janji, dia juga yang mengulur." Gerutunya.

Lalu seseorang datang dan mengagetkan dirinya.

'dorr'

Adel terlonjak kaget saat Elle datang menepuk punggungnya dengan keras.

Sedangkan, Elle, hanya tertawa deras saat melihat temannya terkaget.

"Kami nyebelin banget tau gak," kata Adel dan melemparkan sedotan ke wajah Elle.

"Aish, wajah cantik nan menggemaskan ki jadi basah kena cipratan air jus tobeli punya milikmu." Kata Elle yang kini menyeret tisu dan membersihkan wajahnya.

"Kamu ngagetin aku, dan aku gak mau rugi, aku harus balas dong."

"Ah, kamu pendendam banget."

"Terserah aku lah, aku kan kesel, udah nunggu lama eh kamu malah ngagetin aku." Adel mengucapkan itu dengan mengerucutkan bibirnya.

Oh my, itu benar-benar menggoda. Membuat om-om di seberang mejanya tersenyum melihat tingkahnya.

"Gimana, hari ini kita mau kemana?" Tanya Adel ada Elle.

"Ke perpustakaan kota, gimana? Kita cari-cari novel romance yang ada anunya hehe," jawaban Elle membuat Adel menatap sinis dirinya.

"Otakmu, mesum terus, ga beda sama aku hahaha," lalu mereka berdua terbahak dengan ucapan Adel.

Om-om di seberang mejanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Eh, nanti malam aku mau di ajak ke tempat kakek si do'i dong."

"Wuih, enak dong kamu. Bisa-bisa langsung di nikah sama dia,"

"Ngaco, kamu. Aku gak mau nikah muda ya, aku masih mau bebas, aku mau menikmati hidupku yang sekarang."

Elle mengangguk setuju dengan ucapan Adel.

"Ya udah, ayo kita cabut."

"Gak mau ah, baru sebentar masa cabut." Jawab Elle dengan kata ambigu.

"Ambigu, sialan." Elle hanya tertawa dengan ucapan Adel.

"Aku ke toilet dulu ya, mau pipis nih." Kata Adel pada Elle.

"Ya udah, iya. Sana cepetan, aku takut kami keburu ngompol lagi di sini."

"Nyebelin banget." Kini adel berjalan menuju toilet di cafe itu.

Lalu om-om itu pun juga berpamitan untuk pergi ke toilet, tidak, dia hanya ingin membuntuti gadis itu. Gadis yang sudah mencuri perhatian dirinya.

Om-om itu tersenyum saat melihat adel dari jauh, Adel bercermin dengan memoles sedikit lip tint di bibirnya, membuatnya terlihat lebih cantik.

Lalu ia tersadar saat Adel berjalan keluar dari sana,

"Ah, sial. Celana dalamku sedikit basah karena semprotan air keran."

Ucapan Adel membuat om-om itu menahan tawanya.

"Lucu sekali, benar-benar sangat cantik dan menggemaskan."

......

Kini adel dan Elle sudah berada didalam mall, mereka membatalkan rencana yang akan datang ke perpustakaan kota. Mereka lebih tergiur dengan membeli aksesoris juga make up kebutuhannya.

"Elle, aku mau beli makan dong. Laper nih," kata Adel yang kini merengek lapar pada sahabatnya.

"Ya udah, kuy kita cus cari makan. Yang murah tapi dapat besar ya?"

"Emang apaan yang murah tapi dapat besar?" tanya Adel bingung.

"Gorengan tempe, hahaha…" jawab Elle dengan tawa.

Adel memutar bola mata malas.

"Aku mau makan burger dong, udah gak tahan laper nih. Aku gak mau nanti sakit perut terus kena omel mama sama papa, ya. Ayo buruan," Adel menarik tangan Elle dan membawanya ke burger king.

Mereka kini sedang menyantap burger king yang tadi dipesan. Adel dengan seriusnya menatap ponsel.

"Sam ya?" Tanya Elle pada Adel dan hanya dijawab dengan anggukan.

"Aman kan, hubungan kalian berdua?"

"Aman kok, katanya dia mau jemput aku sorean. Biar bisa jalan-jalan dulu, di taman."

"Yah, jadi kita harus balik cepet dong."

Adel menganggukkan kepalanya lagi,

"Gak masalah, nanti kan kita bisa jalan lagi. Waktu kita banyak kan, sebelum kita masuk kuliah, kita nikmati dulu waktu main puas-puas hehe," jawaban Adel membuat Elle tersenyum.

Adel dan Elle sudah bersahabat dekat sejak awal masuk SMA, kini mereka telah lulus. Berbeda dengan Sam, pacar Adel. Dia sudah kuliah semester ganjil.

***

Adel tengah bersiap, menunggu jemputan dari kekasihnya.

"Adel, Sam datang nih … " teriak mama Adel dari bawah.

Lalu Adel dengan berlari kecil menuruni tangga.

"Astaga, Adel, jangan lari-larian, kesandung nanti kamu."

"Iya,iya, mama, jangan bawel ih." Kata Adel tak terima diingatkan oleh mamanya.

"Kamu, di ingatkan sama mama, kenapa malah gak terima, dasar bandel." Sambung kekasihnya itu.

Adel hanya nyengir seperti tak berdosa.

"Mau jalan sekarang?" tanya mama Adel pada Sam,

"Iyalah, ma. Nanti Adel pulang kemalaman dimarah papa lagi, papa kan serem banget orangnya." Adel menimpal pertanyaan sang mama yang ditujukan untuk Sam.

"Huss, gitu-gitu juga papa kamu. Ya udah gih, kalian hati-hati ya?"

Adel dan Sam menganggukkan kepalanya, sebelum pergi tak lupa mereka berpamitan dan mencium tangan mama Adel.

Di dalam mobil, Sam sesekali melirik Adel.

"Ih, kamu lirik-lirik aku terus. Aku malu tau," kata Adel dengan wajah merona.

Sam hanya terkekeh dengan tingkah kekasihnya itu.

"Aku kangen sama kamu, berapa hari kita gak ketemu."

"Ya, gak papa, kamu kan sibuk sama kuliah. Masa aku ngerengek terus minta ketemu. Malu ih, mending ditahan rasa kangennya hehe," kata Adel yang berhasil membuat Sam tersenyum.

Sam menggenggam tangan Adel dan tangan satu tangannya memegang setir,

"Kamu mau makan dulu atau mau kemana, sayang?"

Ucapan sayang dari mulut Sam membuat wajah Adel semakin merona.

"Ah, i-itu, gak usah deh. Langsung aja ke tempat kakek sama nenek kamu," ucapan Adel terdengar gugup.

Sam terkekeh geli dengan Adel.

"Ya udah, siap tuan putri. Kamu bakal betah disana, nenek sama kakek aku baik banget orangnya. Kamu gak bakal kecewa aku ajak kesana,"

"Ya udah, ayo cus. Aku udah gak sabar, yang." Kata Adel dengan semangat.

Di lain tempat,

"Katanya Sam mau datang ya, Ma?"

"Iya, Sam mau datang sama pacarnya. Kenapa? Malu, kalah sama ponakan?" jawaban yang sangat menohok untuk Kris.

Kris hanya mengelus dadanya.

"Mama ini kenapa sih, aku kan cuma tanya. Kalau dia punya pacar ya gak papa gak masalah juga." Ujar Kris dengan membela dirinya sendiri.

"Alah, bilang aja kamu malu, karena gak punya pasangan."

Kris mendengarnya dengan wajah datar.

Lalu terdengar suara bel rumah.

Olivia bergegas dan membuka pintunya, ternyata Sam dan kekasihnya yang datang.

"Ah, cucuku, kau makin tampan, Sam." Olivia memeluk dan mencium kedua pipi Sam.

"Ah, nenek, aku bukan anak kecil lagi, jangan cium aku seperti itu. Aku malu didepan Adel."

Adel hanya terkekeh,

"Ya ampun, kau sangat cantik, kau pasti pacar Sam, bukan?"

"Terimakasih, tapi nenek berlebihan memujiku," Adel menjawab dengan tersipu.

"Menggemaskan, sekali. Ayo, kita masuk." Olivia mengajak Adel dan Sam masuk, disana Sam dan Adel masih berjalan dengan bergandengan tangan.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel