Bab 1 Didesak Menikah
Bab 1 Didesak Menikah
Seperti hari-hari sebelumnya, Kris kini baru saja selesai pulang olahraga. Ia langsung masuk ke kamar dan membuka menuju kamar mandi.
Di bawah kucuran air shower, Kris membersihkan dirinya. Aduhai … wajah tampannya, hidung mancung, dan bibirnya yang sexy. Ah, tak lupa lagi, tubuhnya memiliki roti sobek di perutnya, sangat menggoda, bukan? Hahaha…
Kris memakai kemeja dan baju kantornya, terlihat sangat tampan. Siapapun yang melihatnya akan tergoda, tapi sayangnya, Kris seorang pemilih. Ia berpikir, jika wanita di sekitarnya hanya menyukai harta dan juga wajah tampannya.
"Morning, ma, pa … " Kris menyapa kedua orangtuanya yang sejak tadi sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
"Pagi…" jawab mama papa singkat dan bersamaan.
"Mama masak apa?"
"Apa saja, terserah mama lah. Kau tinggal makan saja,"
"Jika kau sudah memiliki istri, kau bisa meminta istri mu untuk memasak apa saja yang kau mau." Sang papa pun ikut menjawab.
"Itu lagi? Ayolah, aku belum ingin menikah dan aku masih nyaman dengan posisiku yang seperti ini." Kata Kris yang penuh dengan eyelan nya.
'plakk'
"Awh, mama, ini sakit." Kata Kris meringis dan mengusap lengannya yang dipukul dengan sendok nasi oleh sang mama.
"Apa yang kau ucapkan tadi? Masih nyaman dengan posisimu yang seperti ini? Astaga, mama tak habis pikir. Umurmu saja sudah 35th, dan kau belum menikah? Ya Tuhan, hampir pecah kepalaku ini."
"Ayolah, ma. Aku masih ingin bermanja padamu, aku ini kan anak bungsumu."
"Tidak, tidak, kau harus menikah. Mama dan papamu ini sudah tua, Kris. Kami berdua belum tenang jika kau masih begini," sambung sang papa mendukung ucapan sang istri.
Kris menghela napas berat.
Lalu ia berdiri dari duduknya,
"Hei, mau kemana kamu, Kris? Kau belum menyentuh sarapan pagimu."
"Tidak, aku mendadak tidak lapar. Aku akan berangkat ke kantor lebih dulu." Kata Kris yang kini sudah berjalan menjauh dari orangtuanya.
Olivia dan Harry hanya menghela napas berat.
"Kenapa, anak kita yang satu ini sulit sekali diatur?" Kata Harry pada istrinya, Olivia.
"Entahlah, aku sendiri tidak mengerti jalan pikirannya. Aku hanya takut jika dirinya memiliki kelainan, seks."
Mata Harry membelalak saat mendengar ucapan sang istri, ada benarnya juga yang ia katakan. Lalu ia memijat pelipisnya, bagaimana jika semua itu benar? Bagaimana jika ia tak bisa menikah dengan seorang perempuan? Astaga, perkataan itu terus berputar di kepalanya.
"Apa perlu kita menjodohkan anak kita?" Olivia terkejut dengan pertanyaan sang suami.
Karena menurutnya, perjodohan adalah hal yang kurang tepat untuk anak-anaknya.
***
Sesampainya Kris di kantor, ia disambut baik dengan beberapa karyawannya yang sudah terlihat.
Ia membalasnya hanya dengan senyuman. Sangat manis, itu membuat karyawan wanitanya mendidih.
"Astaga, pak Kris benar-benar sangat tampan, dia tersenyum padaku." Kata karyawannya.
"Dia juga tersenyum padaku." Jawab temannya lagi.
"Hei kalian, apa yang kalian bicarakan? Cepat kembali bekerja."
Dua karyawan itu langsung terdiam dan menunduk saat di tegur oleh sekretaris Kris.
Setelah mereka pergi, sekretaris nya itu mulai menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Menyebalkan sekali, pak Kris itu hanya milikku, untukku. Sangat beruntung, bukan? Aku bisa mendapat posisi sebagai sekretarisnya yang bisa di ajak nya kemanapun." Katanya dengan penuh percaya diri.
Meskipun Kris memiliki sekretaris, namun ia banyak melakukan hal kecil untuk dirinya sendiri, contohnya seperti, membuat kopi atau keperluan kecil di luar pekerjaan yang berhubungan dengan berkas.
Kini Kris sudah duduk di kursi putar miliknya. Tak lama kemudian sang kakak pun masuk kedalam ruang kerjanya.
"Kris," panggil sang kakak menghampiri.
"Kakak? Ada apa?"
"Tidak, hanya mengantar bekal makan siang saja untukmu. Kakak iparmu membuat bekal sekalian untukmu, karena ia prihatin dengan keadaanmu."
Kris melirik kakaknya sinis, sedangkan sang kakak? Ia hanya terkekeh tak jelas.
"Apa maksudmu prihatin dengan keadaanku?"
"Itu karena kau belum menikah, belum memiliki istri. Jadi dia prihatin dan kasihan saja." Jawab sang kakak lagi dan masih dengan tawa kecilnya.
"Astaga, kepalaku benar-benar pusing, serasa akan pecah. Hampir setiap hari aku didesak untuk menikah." Kris mengatakannya dengan memijat pelipisnya.
"Kau ini sudah tua, Kris. Wajar kau didesak untuk segera menikah."
"Ah, tidak, tidak. Aku belum tua, emm, maksudku, umurku sudah dewasa tapi lihatlah wajahku yang masih terlihat seperti 20 tahunan."
Ya, meskipun umurnya sudah 35th, tapi percayalah, wajahnya masih sangat muda. Tidak akan menyangka jika dia sudah berumur 35th, bagi siapa saja yang melihatnya.
Tatapan tajam tertuju pada sang kakak yang sedang terkekeh.
"Terus saja kau menertawakan ku."
Gerutu Kris dengan wajah kesalnya.
"Kakak curiga, jangan-jangan kau belok atau mungkin kau memiliki hubungan dengan Vano." Kata sang kakak dengan suara tawanya yang semakin menggelegar.
'brakk'
Kris menggebrak mejanya, namun gebrakannya tidak di gubris sang kakak. Karena justru, tawanya semakin keras.
"Keluar kau dari ruangan kerjaku, aku akan buktikan jika aku bukan penyuka sesama jenis!!"
"Baiklah-baiklah, aku akan keluar dari ruangan mu. Tapi kau harus buktikan, jika kau tidak belok hahaha," lagi-lagi, Roby menertawakan sang adik.
"Astaga, otaknya benar-benar tidak ada. Pemikirannya terlalu jauh, kenapa aku dituduh memiliki hubungan dengan Vano."
Kris melempar bolpoinnya ke meja, lalu terdengar suara ketukan pintu dan dia pun menjawabnya dengan mata terpejam.
"Masuk,"
Lalu masuklah, Wina sekretaris Kris.
"Permisi pak, sebentar lagi kita ada meeting di Archer cafe. Apa kita akan berangkat sekarang?" Ucap Wina pada Kris,
Tidak diragukan, memang cara kerja Wina ini sangat cekatan dan rapi. Maka dari itu, Kris mempertahankan kan dirinya karena cara kerjanya.
Kris melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kita berangkat sekarang saja, saya takut perjalanan kita macet. Lebih cepat selesai lebih baik."
"Baik, pak. Saya akan siapkan segala berkas dan keperluan nantinya." Kata Wina lalu membungkuk permisi keluar.
Kris lalu bergegas dan memakai jasnya kembali, ia menyeruput secangkir kopi yang dibuat sejak awal datang ke kantor.
Saat berada dalam cafe, menunggu koleganya datang Kris mencuri pandang pada seorang gadis yang tengah duduk sendirian dengan membaca buku yang ia pegang.
Diam-diam Kris tersenyum tipis.
Gadis itu, sangat cantik. Benar-benar membuat mata Kris tak berkedip, terlihat dagu lancip dan bibir mungilnya. Mungkin akan nikmat jika ia mencium bibirnya, ahh, buang pikiran itu jauh-jauh. Pikirannya benar-benar mulai liar, itu karena gadis yang ia lihat benar-benar terlihat sangat menggoda imannya.
Wajahnya ramping namun berisi, benar-benar mencuri perhatian Kris.
Lamunan Kris tersadar saat Wina mengatakan jika koleganya sudah datang.
Dengan cepat Kris membenarkan posisi duduknya, lalu ia berdiri untuk menyambut kedatangan sang kolega.
Bersambung...
