Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Gema di Balik Gerbang Perak

Asap putih masih mengepul dari ujung jemari Putra, meninggalkan bau sangit yang ganjil—campuran antara daging terbakar dan energi murni yang tajam. Lututnya gemetar. Lonjakan ribuan volt dari kabel-kabel MRT tadi bukan cuma lewat, tapi seolah-olah mengamplas saraf-saraf di sekujur tubuhnya.

"Napas, Putra. Fokus ke jantung lo, bukan ke apinya," suara Vanya terdengar mendesak di samping telinganya.

Putra mencoba menghirup udara, tapi yang masuk ke paru-parunya terasa seperti debu sisa ledakan. "Gue... gue rasa gue barusan jadi trafo idup, Vanya. Rasanya sakit banget, gila."

Vanya tidak menjawab dengan kata-kata. Gadis itu meraih tangan kanan Putra yang masih memerah. Sentuhan jemari Vanya yang sedingin es langsung memicu reaksi instan; uap dingin bertemu panas yang membara, menciptakan desis halus di antara kulit mereka. Aroma vanilla dari rambut Vanya kembali menyapu indra penciuman Putra, menjadi satu-satunya hal yang menjaganya tetap berpijak di realitas.

"Darah Phoenix itu berkah sekaligus kutukan," gumam Vanya tanpa melepaskan genggamannya. "Kalau lo nggak bisa kontrol emosi, api itu bakal makan lo dari dalem sebelum musuh sempet nyentuh lo."

Putra menatap mata biru jernih Vanya. "Lo tahu banyak soal ini. Kenapa nggak bilang dari awal kalau gue ini bahan bakar menara?"

Vanya membuang muka, tatapannya beralih ke gerbang Menara Aethelgard yang kini berdiri kokoh di depan mereka. Ukiran Phoenix di pintu raksasa itu kini berpendar dengan cahaya emas yang stabil, seolah baru saja selesai 'makan' setelah kelaparan selama ribuan tahun.

"Karena nggak semua orang siap tahu kalau hidup mereka cuma sekadar kunci buat pintu yang nggak seharusnya dibuka," jawab Vanya dingin. Ia melepaskan tangan Putra, lalu berdiri tegak sambil menyampirkan busurnya kembali ke punggung. "Ayo. Syndicate nggak bakal tinggal diam. Pemimpin yang tadi lo 'masak' itu cuma ujung tombak kecil. Yang bakal dateng selanjutnya... lo nggak bakal mau tahu."

Mereka melangkah masuk. Begitu melewati ambang pintu gerbang, suasana Jakarta yang bising, lembap, dan berdebu mendadak lenyap. Suara tetesan air dari atap MRT tergantikan oleh dengungan frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

Interior Menara Aethelgard bukanlah ruangan beton biasa. Dindingnya terbuat dari material yang tampak seperti obsidian hitam yang dipoles hingga mengilap, dengan jalur-jalur sirkuit emas yang berpendar di sepanjang langit-langit yang sangat tinggi. Di tengah ruangan, sebuah pilar cahaya membentang dari dasar lantai hingga ke puncak yang tak terlihat, berputar pelan seperti badai api yang tenang.

"Selamat datang di Jantung Jakarta yang sebenarnya," bisik Vanya.

Putra terperangah. Sebagai seorang teknisi listrik, ia melihat pemandangan ini dengan cara berbeda. "Ini bukan sihir... ini teknologi. Tapi jauh lebih maju dari apa pun yang pernah gue liat di gardu induk mana pun."

Ia mendekati salah satu panel di dinding. Jarinya gemetar saat menyentuh simbol-simbol kuno yang mendadak berubah menjadi proyeksi holografis saat ia mendekat. Tato di tangannya kembali berdenyut kencang.

"Vanya, liat ini," Putra menunjuk sebuah simbol yang berkedip merah di pojok proyeksi. "Ini peringatan sistem. Ada kebocoran energi di sektor bawah. Kalau ini nggak ditangani, seluruh sistem pendingin menara bakal jebol."

"Bukan urusan kita, Putra. Tugas kita cuma nyampe ke ruang kendali utama dan—"

"Ini urusan gue!" potong Putra dengan nada keras yang jarang ia gunakan. "Gue teknisi, inget? Kalau menara ini meledak karena kelebihan beban, satu Jakarta Pusat bakal amblas ke bawah tanah. Ribuan orang di atas sana, mereka nggak tahu apa-apa soal Phoenix atau Syndicate. Mereka cuma mau bangun besok pagi dan kerja."

Vanya terdiam. Ia menatap Putra dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa hormat yang terselip di balik wajah dinginnya. "Ternyata lo bukan cuma gembel yang beruntung punya kekuatan, ya?"

"Gue gembel yang punya etos kerja tinggi," balas Putra sambil nyengir getir, meski keringat dingin masih membasahi dahinya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat bergema dari lorong gelap di sisi kiri ruangan. Bukan langkah kaki manusia. Suaranya lebih seperti gesekan logam berat di atas lantai batu. Srek... Srek... Srek...

Dari kegelapan, muncul sebuah entitas setinggi dua meter. Bentuknya menyerupai ksatria berbaju zirah, tapi tubuhnya terdiri dari susunan kabel tembaga dan potongan logam mesin kuno yang disatukan oleh api biru di persendiannya. Matanya adalah dua lensa kamera tua yang berputar mencari fokus.

"Guardian," desis Vanya. Ia langsung menarik anak panahnya, tapi tangannya gemetar. "Sial, mereka seharusnya nggak aktif kalau kuncinya sudah masuk."

Si ksatria mesin itu mengangkat sebuah gada besar yang juga dialiri listrik. Suaranya keluar dari speaker karatan di bagian dadanya, sebuah rekaman suara yang sudah terdistorsi ribuan kali.

"Akses... ditolak. Subjek... tidak terdaftar... dalam... database... teknisi... klan... api."

Putra menelan ludah. "Kayaknya kartu ID gue nggak laku di sini."

"Putra, mundur!" teriak Vanya saat Guardian itu menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran makhluk sebesar itu.

Gada listrik menghantam lantai tepat di tempat Putra berdiri tadi, menghancurkan lantai obsidian menjadi serpihan tajam. Putra berguling di lantai, merasakan sisa-sisa energi di tangannya kembali meronta. Tapi kali ini, ia tidak ingin meledakkannya secara asal-asalan.

Ia teringat cara kerja sirkuit paralel. Jika ia tidak bisa mengalahkan Guardian itu dengan kekuatan kasar, ia harus 'memutus' aliran energinya.

"Vanya! Alihkan perhatiannya ke arah pilar cahaya itu!" teriak Putra sambil berlari ke arah panel kontrol yang tadi ia temukan.

Vanya bergerak lincah. Ia melompat dari satu pilar ke pilar lain, melepaskan anak panah es yang membekukan sendi-sendi Guardian tersebut selama beberapa detik. "Gue nggak bisa nahan dia lama-lama! Logamnya terlalu panas!"

Putra mengabaikan teriakan Vanya. Ia memfokuskan pikirannya. Ia menusukkan telapak tangannya yang terluka langsung ke dalam celah panel kontrol. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah lengannya dipaksa masuk ke dalam mesin penggiling.

"Ayo... kenali gue... gue teknisinya di sini!" raung Putra.

Seketika, kesadaran Putra seperti ditarik keluar dari tubuhnya. Ia tidak lagi melihat ruangan itu dengan matanya, melainkan dengan aliran data. Ia melihat aliran energi menara sebagai sungai api yang raksasa. Di ujung sungai itu, ada sebuah 'benalu'—Guardian mesin itu yang menyedot energi secara liar.

Putra mencengkeram aliran energi itu dalam pikirannya. Dengan satu sentakan mental, ia membalikkan polaritasnya.

Di dunia nyata, si Guardian mendadak berhenti di tengah ayunan gadanya. Api biru di sendinya berubah menjadi emas, lalu mulai bergetar hebat.

BOOM!

Bukannya meledak menghancurkan ruangan, Guardian itu justru luruh. Logam-logamnya terlepas dan jatuh berantakan ke lantai, kembali menjadi tumpukan barang rongsokan kuno yang tak bernyawa.

Putra jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Darah emas dari tangannya kini bercampur dengan oli hitam dari panel tersebut.

Vanya menghampirinya, kali ini ia tidak ragu untuk berlutut di depan Putra. Ia menyeka keringat di wajah Putra dengan ujung jaketnya. "Lo baru aja melakukan hacking saraf menara dengan darah lo sendiri. Itu gila. Nggak ada satu pun catatan sejarah klan gue yang bilang kalau itu mungkin dilakukan."

Putra tersenyum pucat. "Ya, biasanya gue cuma nanganin kabel yang digigit tikus. Ini... peningkatan karier yang lumayan ekstrem."

Namun, kemenangan mereka singkat. Getaran hebat kembali mengguncang menara. Kali ini bukan dari Guardian, melainkan dari arah pintu masuk yang tadi mereka lalui. Suara tawa dingin yang tadi Putra dengar di terowongan kembali terdengar, tapi kali ini lebih dekat. Lebih nyata.

"Kalian pikir menghancurkan satu boneka tua sudah cukup?"

Sesosok wanita dengan jubah perak berkilau berdiri di ambang gerbang. Di tangannya, ia memegang sebuah jantung mekanis yang masih berdetak dengan api hitam.

Vanya menegang. "Ibu Suri Syndicate..."

Putra mencoba berdiri, tapi kakinya terasa seperti jeli. "Vanya... bilang ke gue kalau kita punya rencana cadangan."

Vanya mengeluarkan sebuah belati perak yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, belati itu memancarkan aura dingin yang membuat lantai di sekeliling mereka mulai membeku.

"Rencana cadangannya," bisik Vanya, matanya menatap tajam ke arah wanita berjubah perak itu, "Adalah jangan sampai lo tertangkap. Karena kalau mereka dapetin darah lo... Jakarta bukan lagi tempat buat manusia."

Putra mengepalkan tangannya. Di balik rasa lelah yang luar biasa, ia merasakan sesuatu yang baru. Menara ini bukan cuma mesin. Menara ini hidup. Dan sekarang, menara ini sedang marah.

Bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel