Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4: Kontrak Darah dan Aroma Vanilla

Bau ozon dan besi terbakar memenuhi udara saat gerbang raksasa Menara Aethelgard mulai bergeser. Suaranya bukan lagi gesekan logam biasa, melainkan deru mesin kuno yang sudah tertidur selama ribuan tahun di bawah tanah Jakarta. Putra berdiri terpaku, merasakan getaran hebat merambat dari telapak kakinya hingga ke ubun-ubun. Tato Phoenix di punggung tangannya berdenyut seirama dengan detak jantung menara itu sendiri.

"Tahan posisimu, Teknisi! Jangan melamun atau lo bakal kehilangan tangan lo!" bentak Vanya.

Putra tersentak. Ia baru saja hendak membalas ucapan tajam gadis itu saat Vanya tiba-tiba menarik kerah jaketnya yang sudah koyak, menyeretnya masuk ke dalam sebuah celah sempit di balik pilar beton raksasa yang

menopang struktur stasiun MRT terbengkalai ini.

Aroma vanilla yang samar namun tegas dari rambut Vanya mendadak menyerbu indra penciuman Putra, bertabrakan dengan bau amis dari bangkai Shadow-Hounds yang berserakan. Dalam celah yang sangat sempit itu, tubuh mereka berhimpitan. Putra bisa merasakan panas tubuh Vanya yang kontras dengan aura es yang menyelimuti busurnya.

"Gue punya nama, Vanya. Panggil Putra," bisik Putra, napasnya memburu tepat di depan wajah Vanya. Jarak mereka hanya beberapa senti. Mata Vanya yang berwarna biru jernih menatapnya tanpa kedip—dingin, waspada, namun ada kilatan sesuatu yang tak bisa Putra definisikan.

"Nama nggak penting kalau lo mati dalam sepuluh menit ke depan," balas Vanya dengan bisikan yang lebih tajam dari anak panahnya. "Lo liat gerbang itu? Itu sektor jantung Jakarta. Dan darah lo... itu bahan bakarnya."

Vanya melepaskan cengkeramannya, lalu merogoh sesuatu dari balik jaket kulit hitamnya. Sebuah belati kecil berbahan perak murni dengan ukiran bunga es di gagangnya. Tanpa peringatan, ia mengambil tangan kanan Putra. Jemarinya yang sedingin es menyentuh kulit Putra yang kini membara karena energi Phoenix.

Sret!

Ujung belati itu menggores telapak tangan Putra. Bukannya darah merah pekat, yang keluar adalah cairan kental berwarna emas kemerahan yang mengeluarkan asap tipis. Darah itu menetes tepat ke segel di tengah gerbang.

[ZINGGG!]

Suara dengingan tinggi memecah kesunyian terowongan. Ukiran Phoenix di gerbang itu seolah hidup, sayapnya membentang luas dalam bentuk proyeksi cahaya emas yang menyinari seluruh ruang bawah tanah. Tekanan udara mendadak berubah, membuat telinga Putra berdenging hebat.

"Satu tetes darah untuk satu nyawa menara," gumam Vanya, suaranya kini terdengar sedikit lebih lembut, hampir seperti doa.

Namun, momen sakral itu hancur seketika saat sebuah ledakan besar menghantam langit-langit terowongan tepat di atas mereka. Puing-puing beton berjatuhan seperti hujan batu. Dari balik kepulan debu dan asap, muncul tiga sosok berjubah hitam panjang dengan topeng perak yang menutupi seluruh wajah mereka. The Shadow Syndicate.

"Selamat malam, Sang Phoenix," suara pria di tengah terdengar berat dan bergema, seolah-olah dia bicara dari dalam jurang. "Terima kasih sudah membukakan pintu untuk kami. Kami sudah menunggu kunci ini selama tiga generasi."

Putra mengepalkan tangannya yang terluka. Rasa perih itu justru memicu amarahnya. "Gue nggak tahu siapa kalian, tapi gue baru aja mau pulang tidur setelah shift malam yang melelahkan. Kalian bener-bener ngerusak suasana!"

Vanya langsung melompat keluar dari celah, menarik busurnya dengan kecepatan yang tak masuk akal. Tiga anak panah es langsung tercipta di udara, memancarkan cahaya biru neon yang indah namun mematikan. "Putra, masuk ke dalam menara! Cari pusat energi api abadi! Biar gue yang urus sampah-sampah bertopeng ini!"

"Gue nggak bakal ninggalin partner gue sendirian, Vanya!" teriak Putra.

"Gue bukan partner lo! Gue pengawal lo! Sekarang lari!" perintah Vanya, sambil melepaskan ketiga anak panahnya.

Anak panah itu melesat, membekukan udara di jalurnya. Namun, pria bertopeng perak itu hanya melambaikan tangannya dengan santai. Sebuah perisai bayangan muncul, menelan anak panah Vanya tanpa sisa.

"Klan Es... sisa-sisa kejayaan yang menyedihkan," ejek pria itu. Ia menjentikkan jarinya, dan dua anak buahnya langsung melesat ke arah Putra dengan belati hitam yang berlumuran racun kegelapan.

Putra merasakan adrenalinnya mendidih. Ia teringat cara ia memanjat tower listrik di ketinggian 50 meter tanpa tali pengaman—rasa takut yang diubah menjadi fokus. Ia memejamkan mata sekejap, membayangkan api di punggung tangannya sebagai bagian dari dirinya, bukan sekadar alat.

WUSH!

Api emas meledak dari lengan Putra, menyelimuti tangannya hingga membentuk bilah pedang yang panjangnya hampir satu setengah meter. Hawa panasnya begitu dahsyat hingga membuat air di lumpur terowongan mendidih seketika.

"Gue mungkin cuma teknisi listrik," Putra melesat maju, meninggalkan jejak kaki yang terbakar di lantai beton.

"Tapi gue tahu cara nanganin korsleting kayak kalian!"

Putra mengayunkan pedang apinya. Benturan logam bertemu api menciptakan ledakan cahaya yang menyilaukan. Ia bertarung dengan gaya kasar—tidak ada teknik pedang dewa, hanya insting bertahan hidup orang jalanan Jakarta yang digabung dengan kekuatan Phoenix.

Clang!

Ia menangkis serangan belati lawan, lalu melakukan tendangan memutar yang membuat salah satu anggota Syndicate terpental menghantam pilar. Di sisi lain, Vanya terus menghujani pemimpin Syndicate dengan anak panah es, mencoba memberikan celah bagi Putra.

"Lo lumayan juga, Teknisi!" teriak Vanya di tengah desingan panah.

"Lumayan buat ukuran gembel, kan?!" balas Putra sambil tertawa kaku. Ia menebas monster bayangan yang mencoba menyelinap di belakang Vanya. Pedang apinya membelah kegelapan itu menjadi dua, menyisakan bau daging terbakar yang menyengat.

Namun, pemimpin Syndicate itu mulai bergerak. Ia melangkah maju, setiap langkahnya mematikan cahaya lampu darurat di terowongan itu. Ia mengeluarkan sebuah cambuk dari kegelapan murni.

"Bermain-mainnya cukup sampai di sini."

Cambuk itu melesat, membelah udara dengan kecepatan suara. Putra mencoba menangkis, tapi kekuatan itu terlalu besar. Ia terlempar ke belakang, menghantam gerbang besi menara dengan keras. Darah segar merembes dari sudut bibirnya.

"Putra!" Vanya berteriak, wajahnya yang biasanya dingin kini tampak pucat karena panik. Ia mencoba mendekat, tapi dua anggota Syndicate lainnya menahannya dengan jaring bayangan.

Putra terbatuk, mencoba berdiri. Pandangannya sedikit kabur. Ia melihat Vanya yang terdesak, melihat gerbang menara yang mulai meredup cahayanya karena ia kehilangan fokus.

Eh? Suara apa itu? Putra menggelengkan kepalanya. Ia merasa seperti mendengar suara adalah panggilan dari dalam menara itu sendiri. Seolah-olah Menara Aethelgard sedang memintanya untuk 'berhubungan' lebih dalam.

"Kalau gue mati di sini," gumam Putra sambil mencengkeram pedang apinya lebih erat, "Gue nggak bakal bisa minta kenaikan gaji ke bos gue besok pagi."

Putra meraung. Api di tangannya berubah dari emas menjadi putih terang. Ia memusatkan seluruh energinya ke satu titik. Menara Aethelgard seolah merespons—seluruh kabel listrik di terowongan itu mendadak meledak, mengalirkan daya ribuan volt langsung ke arah Putra.

"Ini... ini yang namanya high voltage, brengsek!"

Putra melesat seperti kilat api. Gerakannya tidak lagi bisa diikuti mata manusia. Ia melewati pemimpin Syndicate dalam satu kedipan mata.

SLASH!

Hening sejenak.

Lalu, ledakan api putih melalap pria bertopeng perak itu. Jeritan menyakitkan terdengar sebelum sosok itu lenyap menjadi abu. Dua anggota Syndicate lainnya yang melihat pemimpin mereka tumbang, langsung meledakkan bom asap bayangan dan menghilang ke dalam kegelapan.

Terowongan itu kembali sunyi. Hanya ada suara percikan listrik dari kabel yang putus.

Putra jatuh bertumpu pada pedangnya yang perlahan menghilang. Napasnya berat, keringat mengucur deras. Vanya, yang sudah bebas dari jaring bayangan, berlari mendekat. Tanpa ragu, ia memegang pundak Putra, memastikan pemuda itu masih bernapas.

"Lo... lo hampir meledakkan satu blok Jakarta Pusat dengan kekuatan tadi," bisik Vanya, matanya menatap Putra dengan tatapan yang kini sepenuhnya berbeda. Ada rasa hormat di sana.

Putra tersenyum lemah, menatap Vanya yang jaraknya kembali sangat dekat. "Gue kan teknisi... gue tahu cara mainin voltase..."

Vanya mendengus, tapi kali ini ia tidak memutar bola matanya. Ia mengambil sapu tangan biru miliknya, lalu menyeka darah di bibir Putra dengan gerakan yang sangat pelan.

"Ayo masuk. Gerbangnya sudah terbuka penuh. Tugas sebenarnya baru dimulai di dalam sana."

Putra bangkit berdiri, dibantu oleh Vanya. Mereka melangkah masuk ke dalam cahaya emas di balik gerbang Menara Aethelgard. Jakarta di atas sana mungkin masih sibuk dengan kemacetan dan polusi, tapi di bawah sini, seorang teknisi listrik baru saja mengukuhkan kontrak darahnya sebagai pelindung dunia.

"Vanya," panggil Putra saat mereka sudah di ambang pintu.

"Apa lagi?"

"Aroma vanilla lo... lebih enak daripada bau lumpur tadi."

Vanya tertegun, pipinya memerah samar di balik cahaya emas. Ia mendorong bahu Putra pelan. "Jalan saja, bodoh. Sebelum gue bekuin mulut lo itu."

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel