Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6: Frekuensi Kematian

Lantai obsidian yang tadinya tenang, sekarang bergetar hebat. Ibu Suri Syndicate melangkah maju, setiap ketukan hak sepatunya di lantai batu mengeluarkan gelombang kejut berwarna ungu gelap yang memadamkan pendar emas di dinding menara. Wajahnya tertutup cadar perak tipis, tapi matanya—merah menyala seperti bara yang hampir padam—menatap Putra seolah pemuda itu hanyalah sebuah komponen cadangan yang berharga.

"Darah Phoenix dalam tubuh seorang teknisi kelas teri," suara Ibu Suri bergema, lembut namun mengiris indra pendengaran.

"Sungguh ironi yang indah. Aethelgard sudah terlalu lama tertidur di bawah tumpukan sampah dan polusi kota ini. Saatnya ia bangun untuk menghirup nyawa baru."

Vanya melompat ke depan Putra, busurnya melengkung sempurna. "Langkah kaki lo bau busuk, Malika. Balik ke lubang persembunyian lo sebelum gue bekukan seluruh organ tubuh lo!"

Ibu Suri, yang dipanggil Malika, hanya tertawa kecil. Ia mengangkat jantung mekanis di tangannya. Seketika, kabel-kabel di langit-langit menara merayap turun seperti ular yang kelaparan, mengincar mereka berdua.

"Putra, dengerin gue!" bisik Vanya tanpa menoleh. "Gue bakal tahan dia. Lo liat pipa besar di belakang pilar cahaya itu? Itu jalur pembuangan uap darurat. Kalau lo bisa buka katupnya, tekanan udara bakal bikin distorsi frekuensi. Itu satu-satunya cara buat kita kabur dari jeratan bayangannya!"

Putra meringis, mencoba menahan rasa sakit di dadanya. "Vanya, itu pipa tekanan tinggi! Kalau salah buka, kita semua jadi pepes di sini!"

"Lakuin aja, Teknisi! Atau lo mau jadi tumbal di meja operasinya?" bentak Vanya sambil melepaskan rentetan panah es yang meledak menjadi dinding kristal di depan mereka.

Putra tidak punya pilihan. Ia merangkak, memanfaatkan bayangan pilar-pilar raksasa untuk mendekat ke arah sistem mekanis menara. Di belakangnya, suara dentuman sihir dan jeritan kabel logam yang beradu menjadi musik latar yang mengerikan. Vanya bertarung habis-habisan; gerakannya seperti tarian maut, menghindari serangan cambuk bayangan Malika dengan kelincahan luar biasa.

Saat sampai di depan katup raksasa yang sudah berkarat selama ribuan tahun, Putra menelan ludah. Tato Phoenix di tangannya merespons—bukan lagi dengan panas yang membakar, tapi dengan getaran frekuensi rendah.

"Oke, oke... mari kita liat seberapa bandel baut-baut kuno ini," gumam Putra. Ia tidak punya kunci inggris, tapi ia punya api.

Ia memusatkan panas di ujung telapak tangannya, memanaskan sambungan katup hingga logamnya memerah membara. Dengan teriakan keras, ia memutar tuas raksasa itu sekuat tenaga.

KREEEKKK!

Seketika, suara desisan raksasa memekakkan telinga. Uap putih yang sangat panas menyembur keluar, memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Pandangan menjadi kabur. Suara Malika yang tadinya jernih kini terdistorsi oleh frekuensi uap yang mengandung partikel energi menara.

"Sialan! Berani-beraninya kau mengotori kesucian menara ini!" teriak Malika dari balik kabut uap.

"Ini namanya perawatan darurat, Tante!" balas Putra sambil berlari menembus kabut, mencari posisi Vanya.

Ia menemukan Vanya tersungkur di dekat pilar cahaya, napasnya tersengal dan bahunya terluka terkena sabetan bayangan. Tanpa pikir panjang, Putra menyambar pinggang Vanya dan menyeretnya ke arah lubang pembuangan yang baru saja ia buka.

"Kita masuk ke sana?" tanya Vanya, matanya terbelalak melihat lubang gelap yang mengeluarkan angin kencang.

"Ini jalur cepat ke permukaan! Pegangan yang kenceng, Vanya! Kalau kita kepisah, gue nggak tanggung jawab kalau lo nyasar di gorong-gorong Monas!"

Mereka melompat tepat saat sebuah ledakan energi ungu menghancurkan tempat mereka berdiri tadi. Mereka meluncur di dalam pipa raksasa dengan kecepatan gila, melewati lorong-lorong sempit yang diterangi oleh percikan listrik statis. Putra memeluk Vanya erat, menggunakan sisa kekuatan api di punggungnya sebagai bantalan agar mereka tidak hancur menabrak dinding pipa.

WUSH!

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, mereka terlempar keluar dari sebuah pipa drainase besar. Mereka mendarat dengan keras di atas tumpukan sampah dan lumpur yang becek.

Putra terbatuk, mencoba mengeluarkan air kotor dari mulutnya. Ia melihat ke sekeliling. Langit Jakarta masih gelap, tapi di kejauhan, lampu-lampu gedung pencakar langit mulai terlihat. Mereka berada di pinggiran aliran sungai Ciliwung, tidak jauh dari kawasan niaga yang masih sibuk.

Vanya bangkit perlahan, bajunya yang tadinya rapi kini penuh lumpur, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi yang aneh. Antara marah dan... kagum?

"Lo bener-bener gila, Putra. Nggak ada orang waras yang berani masuk ke pipa pembuangan Aethelgard," kata Vanya sambil membersihkan busurnya.

Putra nyengir sambil berusaha berdiri, meskipun sekujur tubuhnya terasa seperti habis digebuki satu kompi preman. "Selamat datang di cara kerja teknisi lapangan, Vanya. Kalau nggak bisa diperbaiki dengan cara bener, ya dipaksa."

Namun, suasana santai itu pecah saat ponsel di saku jaket Putra yang sudah basah kuyup mendadak berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Putra membukanya dengan tangan gemetar.

[Pesan: Lo pikir bisa lari? Liat ke seberang sungai.]

Putra dan Vanya serentak menoleh ke seberang sungai yang gelap. Di bawah lampu jalan yang berkedip, berdiri tiga sosok berjubah hitam. Dan yang paling mengerikan, salah satu dari mereka memegang sesuatu yang sangat familiar di tangan mereka.

"Itu... itu tas kerja gue?" bisik Putra pucat. "Ada dompet sama alamat kontrakan gue di situ!"

Vanya langsung menarik Putra masuk ke dalam bayangan pohon besar. "Mereka bukan cuma ngincer menara, Putra. Sekarang mereka ngincer hidup lo di permukaan. Mulai detik ini, lo nggak bisa balik ke rumah."

Putra menatap langit Jakarta yang mulai berubah abu-abu menjelang subuh. "Jadi... gue resmi jadi buronan mistis sekarang?"

"Lebih buruk," jawab Vanya dingin. "Lo sekarang adalah target utama perang yang sudah berlangsung seribu tahun. Dan jujur aja, bau lo sekarang lebih mirip sampah daripada Phoenix."

Putra menghela napas panjang. "Yah, setidaknya besok gue punya alasan valid buat nggak masuk kerja."

Bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel