BAB 3: Bara di Kedalaman
Bau tanah basah dan karat besi menyambut Putra saat ia melompat masuk ke terowongan proyek MRT yang terbengkalai. Di atas sana, sirine polisi masih meraung-raung, tapi di bawah sini, keheningan terasa mencekam. Satu-satunya cahaya berasal dari sisa-sisa pendar tato Phoenix di punggung tangannya.
"Stasiun MRT bawah tanah... arah utara," gumam Putra mengingat instruksi Bram.
Ia berjalan menyusuri rel yang belum terpasang sempurna. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gesekan logam. Putra refleks memanggil pedang apinya. Wush! Bilah pedang yang membara itu kembali muncul, menerangi terowongan gelap itu dengan cahaya oranye yang tajam.
"Jangan bergerak, penyusup!"
Sebuah suara perempuan yang dingin dan tegas terdengar dari balik pilar beton. Sebelum Putra sempat bereaksi, sebuah anak panah bercahaya biru melesat dan menancap tepat di depan kakinya, menciptakan ledakan es kecil yang membekukan lantai.
Seorang gadis muncul dari balik kegelapan. Ia mengenakan jaket kulit ketat berwarna hitam dengan aksen biru neon. Rambutnya dikuncir kuda, dan ia memegang busur mekanik yang terlihat sangat canggih. Matanya tajam, tapi ada sedikit rasa terkejut saat ia melihat pedang di tangan Putra.
"Api...?" Gadis itu menurunkan busurnya sedikit. "Kau... si burung yang baru bangun itu?"
Putra mengerjapkan mata. Cantik, tapi galak banget. "Gue Putra. Dan lo siapa? Orang suruhan Bram?"
Gadis itu mendengus, lalu berjalan mendekat. Dalam jarak sedekat ini, Putra bisa mencium aroma parfum vanilla yang samar, kontras dengan bau karat di sekitarnya. "Nama gue Vanya. Dan bukan, gue bukan orang suruhan Bram. Gue partnernya. Lebih tepatnya, orang yang harus jagain lo biar nggak mati konyol di hari pertama."
Vanya menatap Putra dari atas ke bawah, membuat Putra merasa sedikit salah tingkah. "Bajumu hancur, baumu seperti sampah terbakar, dan kau memegang pusaka paling berharga di kota ini seolah-olah itu adalah obor ronda. Menyedihkan."
"Heh, gue baru aja nebas monster segede mobil, ya!" protes Putra.
Vanya hanya memutar bola matanya, tapi Putra menangkap ada sedikit lengkungan tipis di bibirnya—semacam senyum remeh yang entah kenapa malah bikin dia kelihatan makin manis.
"Ikut gue. Syndicate nggak akan berhenti di atas sana. Mereka punya 'anjing pelacak' yang bisa mencium bau energi Phoenix dari jarak berkilo-kilo," kata Vanya sambil berbalik.
Saat mereka berjalan beriringan, Vanya tiba-tiba berhenti dan menoleh. "Satu hal lagi, Putra. Jangan pikir karena lo punya api Phoenix, lo jadi bos di sini. Di bawah tanah ini, panah gue yang nentuin siapa yang hidup."
Vanya sengaja berjalan sangat dekat melewati Putra, membiarkan bahu mereka bersentuhan pelan sebelum melangkah maju ke kegelapan. Putra tertegun sejenak, memandangi punggung gadis itu.
“Baru juga jadi penjaga, udah dapet partner yang galaknya minta ampun,” batin Putra sambil tersenyum tipis. Ternyata, tugas berat ini mungkin nggak akan sebosan yang dia bayangkan.
Tiba-tiba, dari arah depan, terdengar suara geraman yang lebih berat. Bukan satu monster, tapi puluhan.
Vanya menarik anak panahnya lagi. "Siap-siap, Teknisi. Waktunya lihat apa api lo itu cuma buat gaya-gayaan atau beneran bisa bakar musuh."
Vanya berjalan mendahului Putra dengan langkah yang sangat ringan, seolah kakinya tidak menyentuh debu lantai terowongan. Putra, yang masih terpaku memandangi punggung gadis itu, segera tersadar dan mengekor di belakang.
"O-oi, tunggu! Jadi lo tinggal di bawah tanah kayak begini?" tanya Putra mencoba memecah kecanggungan.
Vanya tidak menoleh, tapi suaranya terdengar sedikit melunak. "Hanya saat bertugas. Menara Aethelgard punya banyak cabang akar ke seluruh Jakarta. Terowongan ini salah satunya. Dan sebagai Sentinel dari klan Es, tugas gue memastikan nggak ada sampah dimensi yang masuk ke jalur logistik kita."
Tiba-tiba, Vanya berhenti mendadak. Putra yang tidak siap hampir saja menabrak punggungnya. Gadis itu berbalik, menempelkan satu jarinya yang dingin ke bibir Putra. Deg. Jantung Putra berdegup kencang. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat pantulan cahaya api Phoenix di iris mata Vanya yang jernih.
"Diam," bisik Vanya. "Gue dengar detak jantung... tapi bukan jantung manusia."
Dari kegelapan di depan mereka, muncul sepasang mata merah, lalu sepuluh, lalu puluhan. Itu adalah Shadow-Hounds, anjing pelacak Syndicate yang berbentuk seperti bayangan pekat dengan gigi-gigi tajam dari kristal hitam.
"Putra, tunjukin ke gue. Apa lo cuma teknisi yang jago manjat, atau lo emang beneran sang Phoenix," Vanya menarik busurnya, tiga anak panah es sekaligus muncul di tangannya.
Putra menyeringai kecil. Rasa takutnya hilang, berganti dengan adrenalin yang membakar. Ia mengepalkan tangan, dan seketika api keemasan menjalar dari tato di punggung tangannya, menyelimuti seluruh lengannya hingga membentuk pedang yang lebih besar dan lebih terang dari sebelumnya.
"Cuma butuh satu percikan buat bakar sampah-sampah ini, kan?" tantang Putra.
Vanya melepaskan anak panahnya. Zing! Ledakan es membekukan lima monster di depan, dan di saat yang sama, Putra melesat. Gerakannya sangat cepat, meninggalkan jejak api di udara. Ia menebas monster-monster itu dengan gerakan yang tidak terduga—kasar namun efektif, gaya bertarung orang jalanan yang digabung dengan kekuatan dewa.
Setiap kali pedang Putra mengenai monster, terjadi ledakan cahaya yang menerangi seluruh terowongan. Vanya yang biasanya sinis, tertegun sejenak melihat bagaimana api itu tidak hanya menghancurkan musuh, tapi juga seolah memberikan kehidupan pada ruangan yang mati itu.
Setelah monster terakhir menjadi abu, Putra berdiri di tengah terowongan dengan napas terengah. Apinya meredup, menyisakan hawa hangat di sekelilingnya.
"Gimana? Lumayan buat hari pertama?" tanya Putra sambil menyeka keringat di dahinya.
Vanya berjalan mendekat, menatap bekas tebasan Putra. Ia lalu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil berwarna biru. Tanpa berkata apa-apa, ia mendekati Putra dan menyeka noda hitam di pipi pemuda itu.
Tindakan itu begitu tiba-tiba sehingga Putra membeku. Vanya melakukan itu dengan sangat teliti, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Putra.
"Masih berantakan," gumam Vanya pelan, pipinya sedikit memerah terkena radiasi panas dari tubuh Putra. "Tapi... lo nggak seburuk yang gue kira."
Ia menyimpan kembali sapu tangannya dan berbalik dengan cepat sebelum Putra sempat merespons. "Ayo cepat. Sebelum lebih banyak lagi yang datang. Dan satu hal lagi, Putra... jangan berani-berani mati di depan gue. Itu bakal ngerusak reputasi gue sebagai partner."
Putra tersenyum lebar. "Siap, Partner!"
Mereka lanjut berjalan menembus kegelapan, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa hangat yang bukan berasal dari api Phoenix, melainkan dari langkah kaki yang kini berjalan seirama. Di ujung terowongan, sebuah pintu besi raksasa dengan ukiran burung api mulai terlihat. Gerbang menuju pusat Menara Aethelgard.
Petualangan Putra baru saja dimulai, dan sepertinya, hidupnya tidak akan pernah terasa dingin lagi selama ada Vanya—dan mungkin, gadis-gadis lain yang akan ia temui di balik gerbang itu.
bantu suportnya ya gess like dan komen ya
