Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2: Di Bawah Radar Kota

Napas Putra memburu, menciptakan uap panas yang langsung hilang ditelan air hujan. Atap cafe tempatnya mendarat masih menyisakan retakan menganga, bukti bahwa pendaratannya tadi bukan sekadar mimpi. Bau hangus dari monster yang baru saja ia belah menjadi abu masih menyengat di hidung, bau yang lebih busuk daripada sampah bantar gebang yang membusuk berminggu-minggu.

"Apa-apaan tadi itu..." gumam Putra.

Dia menatap pedang di tangannya. Bilahnya masih berpijar, memberikan kehangatan yang aneh di tengah dinginnya malam Jakarta. Namun, begitu pikirannya sedikit tenang, pedang itu tiba-tiba meledak menjadi partikel cahaya keemasan dan meresap kembali ke dalam telapak tangannya. Tato Phoenix itu kini meredup, tapi terasa berdenyut, seirama dengan detak jantungnya.

Wiuuu... wiuuu... wiuuu...

Suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian malam di kawasan Sudirman. Cahaya biru dan merah mulai memantul di kaca-kaca gedung.

"Sial, Doni pasti lapor ada ledakan," Putra tersadar. Kalau dia ketahuan berdiri di sini dengan baju compang-camping dan bekas ledakan, dia bakal berakhir di ruang interogasi, atau lebih buruk lagi, di lab penelitian pemerintah.

Putra melompat turun dari atap cafe ke gang sempit yang gelap. Tubuhnya terasa luar biasa ringan. Biasanya, lompatan setinggi tiga meter akan membuat lututnya bergetar, tapi kali ini dia mendarat sehalus kucing. Dia berlari menyusuri gang, menghindari sorotan lampu helikopter patroli yang mulai menyisir area dari udara.

"Putra! Berhenti di situ!"

Sebuah suara dingin menghentikan langkahnya. Putra berbalik dengan waspada. Di ujung gang yang remang-remang, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jubah trench coat panjang berwarna kelabu. Pria itu memegang sebuah payung hitam dan tampak sangat tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.

"Siapa lo? Polisi?" tanya Putra, tangannya bersiap memanggil kembali pedang apinya.

Pria itu terkekeh kecil, memperlihatkan barisan gigi yang rapi. "Polisi? Mereka tidak akan mengerti apa yang baru saja kau bunuh, Putra. Mereka hanya akan melihatmu sebagai teroris atau gangguan jiwa."

Putra tertegun. "Lo tahu nama gue? Dan... lo tahu makhluk tadi itu apa?"

"Itu adalah Glow-Eater, parasit dari dimensi bayangan yang tertarik pada cahaya murni. Dan kau," pria itu melangkah maju, cahaya lampu jalan yang redup mengungkap matanya yang berwarna perak, "kau adalah nyala api yang mereka cari. Kau adalah alasan kenapa Menara Aethelgard mulai bergetar malam ini."

"Gue cuma teknisi listrik, Pak! Gue cuma mau benerin kabel!" seru Putra frustrasi.

"Dulu, mungkin iya. Tapi api Phoenix tidak memilih orang karena keahliannya menyambung kabel tembaga. Ia memilih jiwa yang berani berdiri di ketinggian tanpa gemetar," pria itu menutup payungnya meski hujan masih deras. Anehnya, air hujan seolah-olah berbelok menghindari tubuh pria itu. "Nama saya Bram. Dan jika kau ingin tetap hidup sampai matahari terbit, ikut saya sekarang. The Shadow Syndicate sudah mengirim unit pembersih mereka."

Tepat saat Bram menyelesaikan kalimatnya, tiga sosok berpakaian taktis hitam-hitam melompat turun dari dinding gedung. Mereka tidak membawa senjata api, melainkan belati panjang yang memancarkan aura ungu gelap. Gerakan mereka terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa.

"Tahan napasmu, Putra," instruksi Bram singkat.

Bram menghentakkan gagang payungnya ke aspal. Seketika, kabut tebal berwarna perak meledak, menelan seluruh gang. Putra merasa suhu udara di sekitarnya turun drastis. Dia tidak bisa melihat apapun, tapi dia bisa merasakan keberadaan Bram di sampingnya.

"Lari ke arah utara, temui aku di stasiun MRT yang belum jadi di bawah gedung menara itu. Pakai instingmu, jangan pakai matamu!" suara Bram menggema di dalam kabut.

Putra tidak punya pilihan. Dia berlari menembus kabut. Saat dia berlari, tato di tangannya kembali memanas, memberikan semacam "navigasi" di dalam benaknya. Dia melompat melewati pagar pembatas konstruksi, masuk ke dalam lubang gelap yang menuju ke bawah tanah Jakarta.

Di belakangnya, dia mendengar suara benturan logam dan teriakan-teriakan yang bukan berasal dari suara manusia. Kota Jakarta yang dia kenal selama 22 tahun kini terasa asing dan sangat berbahaya. Di bawah tanah yang lembap dan dingin, Putra mulai menyadari bahwa pekerjaannya sebagai teknisi hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Dia bukan lagi sekadar penjaga kabel. Dia adalah Sang Penjaga Menara. Dan perang untuk memperebutkan cahaya kota ini baru saja dimulai.

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel