Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1: Warisan yang Membakar

Hujan di Jakarta tidak pernah membawa kesejukan bagi Putra. Baginya, tetesan air yang jatuh dari langit malam ini hanya berarti satu hal: licin. Di ketinggian 300 meter di atas permukaan jalan, berdiri di atas gondola yang berayun ditiup angin kencang, licin adalah musuh mematikan.

Putra menyeka air hujan dari kaca helm keselamatannya. Di depannya, hamparan kabel optik yang berantakan mencuat dari panel sirkuit luar Gedung Artha Kencana—salah satu pencakar langit paling mewah di jantung kota. Sebagai teknisi listrik spesialis ketinggian, Putra sudah biasa melihat kota dari sudut pandang yang tidak dimiliki orang lain. Dari sini, Jakarta tampak seperti sirkuit raksasa yang bercahaya neon, penuh dengan manusia-manusia kecil yang sibuk dengan urusan fana mereka.

"Putra, laporan status. Kita hampir masuk jam malam. Angin makin kencang, mending lo turun sekarang," suara parau Doni, rekan kerjanya di bawah, terdengar melalui walkie-talkie.

"Satu menit lagi, Don. Kalau kabel ini nggak gue sambung, seisi gedung ini bakal gelap total pas jam operasional besok. Gue nggak mau kena potong gaji lagi," jawab Putra sambil menjepit kabel tembaga dengan tangnya.

Namun, saat jari Putra menyentuh inti kabel yang tampak hangus itu, sesuatu yang aneh terjadi. Bukan sengatan listrik yang dia rasakan. Itu adalah rasa panas yang murni, seolah-olah dia baru saja mencelupkan tangannya ke dalam lava.

"Argh!" Putra menarik tangannya. Di telapak tangannya, tidak ada bekas luka bakar, melainkan sebuah simbol yang mulai bersinar keemasan. Simbol itu berbentuk burung dengan sayap merentang—seperti tato yang baru saja dipahat dengan api.

Tiba-tiba, pendengarannya menajam. Suara bising knalpot di bawah sana menghilang, digantikan oleh suara kepakan sayap raksasa yang seakan mengguncang udara. Langit yang gelap tiba-tiba memerah. Bukan karena lampu kota, tapi karena sesuatu di puncak menara di seberangnya—menara yang selama ini dianggap orang hanya sebagai pemancar radio tua.

"Apa itu...?" gumam Putra.

Dari puncak menara itu, sebuah siluet burung raksasa dari api murni muncul, berputar di angkasa sebelum menukik tajam ke arahnya. Putra membeku. Dia ingin lari, tapi kakinya terpaku pada lantai logam gondola. Saat burung api itu hampir menabraknya, waktu seolah berhenti. Hujan yang turun tertahan di udara, setiap tetesnya berkilauan seperti kristal.

“Bangunlah, Sang Penjaga. Api telah memanggilmu,” sebuah suara berat dan purba bergema langsung di dalam otaknya.

Detik berikutnya, burung api itu menembus dadanya. Putra merasa paru-parunya terbakar. Dia berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya terjungkal ke belakang, melewati pagar pengaman gondola. Dia terjatuh.

Angin menghantam wajahnya saat tubuhnya melesat jatuh menuju aspal Jakarta yang keras. Di saat-saat terakhirnya, Putra hanya bisa memikirkan satu hal: dia mati konyol karena sebuah halusinasi.

Tapi sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sebuah ledakan panas keluar dari punggungnya. Sepasang sayap api yang membara muncul, menahan laju jatuhnya hingga dia mendarat dengan dentuman keras di atas atap sebuah cafe kecil. Beton atap itu retak, tapi Putra tidak merasa sakit.

Dia berdiri perlahan. Pakaian kerjanya compang-camping, terbakar habis di bagian punggung. Di tangannya, sebuah pedang dengan bilah yang berpijar seperti bara muncul dari udara kosong.

"Putra? Lo di mana? Sialan, gondola lo kosong!" suara Doni di walkie-talkie terdengar panik.

Putra tidak menjawab. Matanya tertuju pada gang gelap di samping gedung. Di sana, bayangan-bayangan hitam yang tidak berwujud manusia mulai merayap keluar. Mereka memiliki mata merah yang lapar, dan mereka menatap langsung ke arahnya. Bukan, mereka menatap ke arah kekuatan yang baru saja bangkit di dalam dirinya.

Salah satu makhluk itu, yang ukurannya lebih besar dari mobil, melompat ke arahnya dengan kuku-kuku hitam yang tajam. Tanpa berpikir, Putra mengayunkan pedangnya. Sebuah busur api besar menyambar udara, membelah makhluk itu menjadi abu seketika.

Putra terengah-engah. Tangannya gemetar. Dia menatap ke arah menara tua yang kini bersinar terang di tengah kota yang mulai panik. Menara yang kini dia tahu namanya: Aethelgard.

"Tugas ini..." Putra menatap telapak tangannya yang masih bersinar. "Bukan tugas teknisi listrik biasa."

Di langit, rintik hujan berubah menjadi uap saat menyentuh kulitnya. Malam ini, Putra bukan lagi warga biasa. Dia adalah api yang akan menahan kegelapan. Dia adalah Phoenix, Sang Penjaga Menara.

Petualangan baru saja dimulai, dan Jakarta tidak akan pernah sama lagi.

bantu suportnya ya gess like dan komen ya

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel