Tumbal Pemilihan Dewan
Alena yang sedang tidur di kamarnya tersentak bangun begitu mendengar suara gedoran di pintu.
"Iya tunggu," Jawab Alena dengan malas dari dalam kamar.
Begitu pintu kamar di buka dia melihat muka Amor sudah nongol di depan pintu dengan senyuman yang manis.
"Ada apa?" tanya Alena kepada Amor.
"Ada tamu yang datang bersama Riki dia minta bantuan karena dia merasa ada keanehan dari tubuhnya," Jawab Amor menjelaskan.
"Iya tunggu," jawab Alena Singkat.
Alena yang baru bangun tidur berjalan ke ruang tamu di sana dia melihat tamu seorang laki-laki yang sudah duduk di sana dengan muka ketakutan.
Di hadapan laki-laki itu ada Riki yang memang menemani lelaki itu untuk datang ketempat ini.
"Alena kenalkan ini Mahmud dia merupakan kawanku yang tinggal di Daerah Jakabaring, mau minta bantuan kepada kamu sebab dia mengalami beberapa teror di dalam keluarganya," Jelas Riki melihat Alena sudah datang ke ruang tamu.
Alena yang baru datang langsung merasakan ada kekuatan gaib yang bersemayam di dalam tubuh laki-laki itu.
Walau begitu Alena bersikap santai dan menekan hawa gaib yang datang dari tubuh laki-laki yang bernama Mahmud.
"Apakah kamu punya musuh?" Tanya Alena kepada Mahmud yang duduk dengan gelisah.
"Seingat saya tidak ada musuh dalam hidup saya," Jawab Mahmud menjelaskan dengan mimik muka gelisah.
"Sudah berapa lama kamu merasakan gangguan gaib ini?" tanya Alena dengan santai.
"Saya merasakannya sudah berapa bulan ini tepatnya setelah saya di lantik menjadi Anggota Dewan di Kota ini," jelas laki-laki itu lagi.
"Apakah benar tidak punya musuh?" Tanya Alena lagi matanya menatap tajam Mahmud yang duduk di depannya.
"Seingat saya tidak ada atau mungkin musuh ketika mencalonkan diri menjadi anggota dewan," Jawab Mahmud agak ragu.
"Itu bisa jadi, selain kamu apakah ada anggota keluarga lain yang merasakan gangguan gaib juga?" Tanya Alena lagi menyelidiki.
"Selain saya di rumah anak wanita saya yang paling tua juga merasakan, setiap malam dia merasa berkelahi dengan sosok tubuh tinggi besar sehingga anak saya itu merasakan ketakutan hampir setiap malamnya," Jelas Mahmud kepada Alena.
"Sebenarnya yang Mahmud dan anaknya rasakan merupakan kiriman dari seseorang melalui jasa seorang dukun, orang itu merasa dendam kepada kamu dan ingin membunuh kalian sekeluarga tapi sebelum di bunuh kalian akan di siksa lebih dahulu," Jelas Alena dengan mata terus menatap Mahmud.
"Tolong bantu kami lepaskan semua gangguan gaib ini pada diri kami," Mahmud yang mulai merasakan ketakutan memohon kepada Alena.
"Aku akan berusaha membantu untuk mengatasi masalah ini namun setelah ini jangan ada dendam apapun kepada orang yang sudah mengganggu keluarga kalian, cukup berpura-pura tidak tahu saja," Jawab Alena dengan bijaksana.
"Baik aku akan berusaha untuk tidak dendam kepada Orang itu walaupun tahu siapa orangnya," Jawab Mahmud yang terlihat sangat ketakutan.
"Orang yang mengirimkan ini semua merupakan saingan kamu ketika mencalonkan diri sebagai Anggota Dewan namun yang mengerjakan kiriman ini merupakan seorang dukun yang mungkin rumahnya tidak terlalu jauh dari kamu," jelas Alena kepada Mahmud.
"Anak kamu sekarang ada dimana?" tanya Alena lagi.
"Anakku ada di rumah dia mengurung dirinya di dalam kamarnya," Mahmud menjawab dengan rasa khawatir.
"Kita harus bergegas membantu kamu dulu kemudian baru kita ke rumah kamu untuk membantu anak kamu, karena menurut apa yang aku lihat malam ini si dukun akan mulai menarik satu korban semoga kita tidak terlambat," Jawab Alena dengan rasa khawatir.
"Aku minta tolong secara penuh pada kamu apa yang akan kamu lakukan aku akan menurut," Jawab Mahmud lagi dengan nada ketakutan.
"Baiklah aku akan membantu, apapun yang terjadi jangan menyimpan dendam pada pelakunya" Jawab Alena kepada Mahmud.
Kemudian Alena segera menempelkan tangannya ke kepala Mahmud setelah menarik napas panjang mereka mulai menyalurkan kekuatan dengan sinar warna merah melalui kepala lelaki itu.
Perlahan-lahan melalui belakang tubuh Mahmud keluar sebuah kabut berwarna hitam kemudian makin utuh membentuk satu sosok tubuh.
Sosok tubuh itu makin-lama-makin jelas yang merupakan sebuah makhluk yang berwarna sangat hitam dengan kedua kupingnya berbentuk lancip.
"Groookkk!"
Makhluk yang keluar dari dalam tubuh Mahmud mengeluarkan suara yang sangat besar membuat rumah itu bergetar.
Selain itu makhluk itu juga mengeluarkan bau amis yang sangat santer sehingga semua yang ada di sana merasakan mual mencium bau makhluk itu.
Mahmud yang merasa lemas seluruh badannya setelah makhluk itu keluar dari tubuhnya menjadi pucat pasih ketika dia melihat makhluk itu.
Dia terjatuh seluruh badannya tak bisa di gerakkan sama sekali saking takutnya ketika dia melihat makhluk yang baru keluar dari dalam badannya.
Alena ketika melihat Makhluk yang keluar dari tubuh Mahmud sudah membentuk wujud sempurna langsung mencengkram leher makhluk itu dengan tangan kirinya yang sudah di bungkus sinar merah.
"Ternyata Jin Karap yang mau main-main dengan alam manusia, siapa yang mengirim kamu memasuki tubuh ini?" Bentak Alena dengan nada geram.
"Aku tidak akan bilang karena kami sudah terikat sumpah dengan orang yang mengirimkan kami," Jawab Jin itu dengan suara seperti tercekik karena lehernya di tekan oleh Alena.
"Baiklah kalau begitu aku akan menghancurkan leher kamu dan kamu seketika akan menjadi abu," Gertak Alena dengan menambah sinar merah di tangannya.
Jin Karap tampak ketakutan merasakan hawa panas di lehernya yang siap mematahkan leher tersebut kapan saja.
"Ampun-ampun aku akan bilang tapi jangan menghanguskan tubuhku?" Ratap Jin itu lagi.
"Baik kalau begitu kamu bilang sekarang," Alena kembali menggertak.
"Aku dikirim oleh Ki Jintan untuk membunuh anggota keluarga ini, raja kami juga sedang memasuki anak orang ini dan malam ini akan membunuhnya," jawab Jin Karap itu ketakutan.
"Baiklah kalau begitu kamu aku bebaskan tapi ingat jangan kembali lagi pada Ki Jintan yang mengikat janji dengan kalian, masalah Ki Jintan dan raja kalian biar aku yang urus," jawab Alena lagi.
"Baik-baik aku akan patuh asal kau selamatkan nyawa yang aku punya," jin itu meratap penuh penyesalan.
Kemudian Alena meniup badan jin itu yang kemudian hilang dari pandangan mata mereka semua.
Melihat sosok jin Karap hilang dari pandangan mata membuat Mata Mahmud terbelalak.
Bukan hanya Mahmud yang terbelalak melihat makhluk itu menghilang, Riki dan Amor juga terbelalak.
Apalagi bersama dengan menghilangnya sosok itu mereka mencium aroma anyir yang tadi memenuhi ruangan itu juga turut hilang.
Sekarang aroma di dalam ruangan itu menjadi lega mereka hanya mencium aroma melati yang berasal dari tubuh Alena.
Berapa kali mereka celingukan mencari namun memang di sana tidak di ketemukan lagi makhluk yang dinusir Alena.
Melihat kelakuan mereka Alena hanya tersenyum saja.
######
