Karma Sang Dukun
"Kemana perginya jin itu?" Tanya Mahmud masih dengan nada ketakutan.
"Jangan takut dia sudah aku kembalikan ke alamnya, sekarang kita harus ke rumah kamu untuk membantu anak kamu," Jawab Alena dengan santai.
"Baik-baik ayo kita pergi aku takut anakku sudah di bunuh oleh jin itu," Jawab Mahmud yang kelihatannya sudah tenang.
"Aku akan mandi dulu, tak usah terlalu khawatir karena dalam penglihatanku raja jin yang ada di dalam badan anak kamu baru selepas malam akan melaksanakan tugasnya karena dia menunggu perintah dari dukun yang mengirimnya," Jawab Alena sembari menatap Mahmud.
"Riki, aku sekalian mau mengajak kamu dan Amor untuk menemaniku," Alena berkata kepada Riki.
Riki dan Amor hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar perkataan dari Alena.
*******
Malam itu di rumah Ki Jintan dari sore sudah tercium bau kemenyan yang sampai tercium oleh para tetangga.
Namun para tetangga tidak ada yang protes sebab mereka semua pada tahu kalau Ki Jintan adalah seorang dukun, mereka semua sudah tahu jika sudah santer bau kemenyan seperti ini berarti dia sedang ada pekerjaan.
Sebelum matahari terbenam Ki Jintan sudah duduk bersila di hadapan pendupaan yang selalu mengeluarkan aroma kemenyan.
Mulutnya terus komat kamit membaca mantera yang tiada putus, sesekali dari mulutnya keluar racauan aneh.
"Bunuh... malam ini ambil nyawanya dan jadikan budak di alam kalian," Suaranya berkata namun tidak jelas kepada siapa dia berbicara.
Ketika matahari sudah penuh tergelincir ke barat tiba-tiba tangan Ki Jintan berkali-kali menyemburkan kemenyan kedalam api di depannya.
"Bunuh sekarang... bunuh..." Teriak mulutnya dengan angker.
Namun tiba-tiba api kemenyan di depannya meledak semua bara api yang ada di depannya beterbangan menembus tubuhnya.
Seketika dia terjatuh ke lantai dari tubuhnya yang tertembus bara dupa mengalir darah tiada henti menggenangi lantai namun seketika darah itu mengering seperti ada yang menghisapnya.
"Bunuh...." Hanya itu kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya.
******
Di saat yang sama di rumah Mahmud semua orang tampak tegang melihat Alena yang duduk bersila di hadapan anak Mahmud terlihat berapa kali menarik napas panjang.
Tangan dan kaki anak Mahmud itu di ikatkan pada pinggir tempat tidur tempat dia berbaring dengan tali yang terbuat dari kain.
Alena yang duduk bersila di samping tubuh terikat itu memandang tajam ke pada tubuh itu.
Walaupun tubuhnya terikat terlihat berapa kali orang yang terikat itu berusaha untuk membunuh Alena.
"Aku perintahkan kau keluar dari tubuh ini," Alena berkata makhluk yang ada di dalam tubuh anak Mahmud yang terikat.
Setelah berapa kali Alena berkata seperti itu namun tidak ada yang keluar dari dalam tubuh itu dengan cepat Alena meletakkan tangan kirinya di dada orang itu.
Tiba-tiba cahaya merah membungkus tangan Alena seperti mendesak sosok yang bersemayam di dalam tubuh anak Mahmud untuk keluar.
Hanya lima menit dari dalam tubuh itu keluar satu sosok tubuh hitam legam mirip dengan sosok yang keluar dari tubuh Mahmud yang berbeda hanya kepalanya.
Di kepala sosok hitam itu terlihat menggunakan sebuah Mahkota yang berwana putih kekuningan.
Begitu sosok itu keluar dengan cepat tangan kanan Alena menangkap lehernya dengan tangan kanan yang sudah dialiri cahaya berwarna merah.
Cahaya itu kemudian bergerak turun mengikat seluruh tubuh sosok jin berwarna hitam itu sehingga makhluk itu tak bisa bergerak.
Setelah tali cahaya berwana merah itu mengikat seluruh badan jin itu, Alena menyentaknya sampai keluar semua dari tubuh anak Mahmud yang terbaring.
Kemudian Alena menyuruh orang-orang yang bergidik ngeri di sana untuk melepas ikatan anak Mahmud dan membawanya menjauh.
"Raja Jin Karap kenapa kau memasuki dan bahkan ingin membunuh anak ini?" hardik Alena kepada Raja Jin Karap.
"Aku terikat janji kepada manusia yang memerintah aku, sebagai upah kepatuhanku aku bisa membawa jiwa orang yang aku bunuh untuk pajangan istana," Jelas Raja Jin Karap kepada Alena.
"Mulai sekarang aku perintahkan kau untuk menjauhi keluarga ini dan jangan pernah terikat janji lagi kepada manusia manapun," Bentak Alena menggelegar.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raja Jin Karap berkata tak mau kalah.
"Kalau begitu malam ini badan kamu yang akan aku buat lebur," Jawab Alena menggertak raja jin itu.
Kemudian dia menambah hawa panas pada tali cahaya yang mengikat tubuh raja jin itu seketika si raja jin meraung-raung.
"Ampun aku mengaku kalah, aku berjanji akan mengabdi kepada kamu sebagai tuanku," Raja Jin Karap berteriak kesakitan.
"Baiklah aku terima janji kamu tapi kalau kamu ingkar aku akan membuat lebur bukan hanya tubuh kamu namun seluruh isi kerajaan kamu," bentak Alena dengan garang.
"Aku bersumpah akan mematuhi kamu sebagai tuanku, namun bagaimana dengan ikatan sumpah yang sudah aku buat dengan orang yang sudah mengirimku karena sumpahku terikat sampai orang itu mati," Raja Jin Karap berkata dengan suara kesakitan.
"Kalau begitu batalkan janji itu," Bentak Alena lagi.
"Baik-baik aku takluk kepada kamu, hanya kamu sekarang yang menjadi junjungan kami, kamu bisa memanggilku kapan saja," Jawab Raja jin itu masih dengan suara kesakitan.
"Aku terima sumpah kamu," Alena berkata sambil melepaskan tali cahaya merah dari badan jin itu.
Begitu tali cahaya yang di buat Alena lepas Raja Jin itu langsung bersujud kepada Alena.
"Sekarang kamu pergilah dan putuskan sumpah kamu," Bentak Alena memberi perintah.
"Baik tuan," Jawab Raja Jin itu kemudian menghilang dari sana.
Seketika tempat itu terasa hening tak ada yang berkata-kata mereka sama-sama bungkam melihat kejadian di depan mereka.
Suasana hening itu di pecahkan oleh suara ledakan keras yang mengguncang tempat yang tak jauh dari rumah Mahmud.
Bbbooommm!
Semua orang berlari keluar rumah mendengar suara ledakan keras yang mengguncang.
Setelah di cari suara itu berasal dari rumah Ki Jintan, warga yang ingin tahu merangsek masuk kedalam rumah itu.
Kehebohan terjadi di kalangan warga ketika Riki mulai menjalankan mobilnya bersama Amor dan Alena kembali ke rumah Amor.
Masyarakat di sekitar tempat itu menjadi heboh karena mereka menemukan Ki Jintan sudah menjadi mayat dengan sekujur tubuh terdapat bolong-bolong di tembus bara dupa.
Selain itu yang membuat aneh warga yakni kematian Ki Jintan yang tanpa ada darah setetespun, Alena yang mendengar cerita itu semua tersenyum penuh misteri.
Hanya Alena yang mengetahui kejadian yang sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuh Ki Jintan.
"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Amor yang penasaran.
"Rasanya aku harus mencari rumah untuk tempat tinggal dan sopir yang bisa membawaku kapan saja," Jawab Alena sambil tersenyum.
Amor yang tahu bukan itu masalah yang membuat Alena tersenyum hanya mengangguk saja.
"Bagaimana kalau kami memerlukan bantuan kamu?" Tanya Amor yang sepertinya tak rela kalau Alena pergi dari rumahnya.
"Tenang saja kalian bisa menemuiku kapan saja, bagiku hanya kalian berdualah yang merupakan saudaraku," Jawab Alena sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Alena membuat Amor dan Riki hanya memganggukkan kepalanya.
#####
