Kutukan Jenglot Gua
"Yang kita hadapi sekarang merupakan kekuatan jahat yang di bangkitkan dari harapan manusia yang putus asa, aku melihat sebuah jenglot yang di jadikan manusia sebagai tempat meminta, mereka tak sadar kalau sebenarnya patung itu berisi kutukan, apapun yang mereka minta akan terjadi namun di barengi dengan kutukan kematian setelah si peminta merasakan jika permintaannya di kabulkan," Jelas Alena sambil menarik napas berat.
"Berarti ada kemungkinan ratusan korban selanjutnya yang ada di luar?" Kapten Polisi itu bertanya dengan nada panik.
"Bahkan lebih dari itu, sebelum terlambat kita harus menghancurkan patung itu, hanya Sinta yang bisa di jadikan petunjuk, sebab untuk saat ini dia satu-satunya saksi mata yang selamat," Jawab Alena lagi.
"Kalau begitu kita harus segera menanyainya sebelum semuanya menjadi terlambat," Kapten Polisi itu berkata tegas.
Alena mengikutinya di belakang untuk menanyakan kepada Sinta mengenai lokasi keberadaan patung yang di cari.
*******
"Bagaimana keadaan kawan-kawanku?" Sinta bertanya dengan nada ketakutan sewaktu Alena sampai bersama Kapten Polisi bernama Japar di rumah Amor.
"Seperti yang kamu bilang, kami tidak bisa menyelamatkan teman kontrakan kamu," Jawab Alena ringan.
Mendengar jawaban Alena kembali tangis Sinta pecah di sana, Alena dan Kapten Polisi membiarkan wanita itu melepas semua gejolak yang ada di hatinya.
Begitu di lihatnya Sinta sudah bisa mengendalikan emosinya, baru Alena mencoba bertanya kembali.
"Sinta, sudahlah bukan saatnya bersedih sebab semua sudah terjadi, kami menduga akan ada ratusan orang di luar sana yang mengalami ancaman kematian seperti ini, jadi kami mohon kerjasama kamu," Alena berkata kepada Sinta.
"Baiklah demi kawan-kawanku, aku akan bekerjasama, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sinta dengan tatapan mata penuh tanda tanya.
"Kami hanya perlu tahu, dimana lokasi goa tempat keberadaan patung yang kamu temukan bersama kawan-kawan, karena patung itu harus segera di hancurkan sebelum ada korban lain yang menyusul," Jelas Alena kepada Sinta.
Sinta sejenak termenung, dia menatap Alena dan Kapten Polisi secara bergantian, setelah itu baru kemudian dia bercerita.
"Goa tempat kami menemukan patung tersebut, berada di tempat yang berada di luar kota, goa itu selalu ramai di kunjungi oleh orang yang berwisata, sementara tempat berada patung itu ada di samping kawasan air terjun terletak di sebuah cerukan batu, kami tertarik untuk mendatanginya karena kabar yang beredar kalau patung itu bisa mengabulkan semua permintaan, aku tidak tahu kalau harus di tebus dengan kematian kawan-kawanku... hiks... hiks... hiks...." Sinta menjelaskan sambil menangis.
Setelah mendengar jawaban Sinta dengan cepat Alena menoleh kepada Kapten Polisi Japar yang berada di sampingnya.
"Kapten, apakah bisa di cari dan di lacak lokasi yang disebutkan oleh Sinta?" tanya Alena kepada Japar yang ada disampingnya.
"Aku akan koordinasikan ini dengan bagian wilayah, untuk menyisir lokasi itu," Jawab Japar dengan Mantap
"Iya, tapi jangan melakukan apapun terhadap patung itu, aku akan ke sana jika lokasinya sudah di temukan," Jawab Alena sambil menatap Kapten Polisi Japar.
"Iya, jika lokasinya sudah di temukan aku akan segera memberi tahu kamu, untuk mendatangi lokasi tersebut," Jawab Kapten Polisi Japar.
"Baiklah, aku akan menunggu kabarnya," jawab Alena.
Mereka semua terdiam tanpa ada yang bertanya sama sekali, namun keheningan itu tiba-tiba di pecahkan oleh telepon Kapten Polisi yang berbunyi.
"Ada kematian yang sama lagi, kali ini terjadi di pusat sebuah perbelanjaan yang membuat heboh masyarakat kita," Jelas Kapten Japar dengan wajah tegang.
"Kalau begitu aku akan ikut ke lokasi untuk memeriksanya," Jawab Alena.
Pusat perbelanjaan yang di sebutkan di telpon merupakan sebuah pusat perbelanjaan yang sangat ramai di Kota Palembang.
Setiap hari pusat perbelanjaan ini di datangi oleh ribuan orang, selain itu pusat perbelanjaan merupakan sebuah tempat yang sangat elit.
Orang yang datang berbelanja juga merupakan orang yang mempunyai kantong tebal karena barang yang di jual merupakan barang kelas tinggi.
Alena bersama Kapten Japar berjalan dengan terburu-buru menuju tempat yang dilaporkan melalui handphone.
Alena setengah berlari mendatangi tempat yang di jaga ketat oleh polisi di dalam pusat perbelanjaan itu.
"Di mana korbannya berada?" Tanya Kapten Japar kepada anggota yang bertugas.
"Di sana kapten, ada berapa korban yang meninggal dengan cara yang sama, sehingga kami harus menutup tempat perbelanjaan ini," Lapor petugas itu kepada Kapten Japar.
"Kalian sudah melakukan tindakan yang tepat, ada berapa korban yang terjadi?" tanya Kapten Japar kepada petugas itu.
"Ada dua belas orang, mereka meninggal dengan cara yang aneh," Jelas petugas itu kepada Kapten Japar.
Alena menghampiri salah satu korban yang ada di sana matanya meneliti tubuh korban yang terbaring dengan mata terbelalak.
Alena menghampiri Kapten Japar kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga Kapten itu.
"Apa kamu yakin?" Tanya Kapten Japar kepada Alena.
"Minimal harus di coba, supaya bisa tahu kebenarannya," Jawab Alena meyakinkan Kapten Japar.
"Baiklah aku akan menyediakan satu buah ruangan," Jawab Kapten Japar yang kemudian memberikan beberapa instruksi kepada personel yang ada di sana.
Polisi yang tadi mendapat perintah dari Kapten Japar buru-buru pergi dari sana, sejenak kemudian dia kembali lagi dan mengatakan sesuatu.
"Apa yang kamu minta sudah di persiapkan, aku akan meminta anggota untuk membawa korban kedalam ruangan yang sudah di persiapkan," Kapten Japar berkata kepada Alena.
"Baik aku akan bersiap untuk melaksanakan rencana," Jawab Alena sambil tersenyum.
"Baiklah aku akan menunggu di dalam ruangan yang sudah di persiapkan, kamu langsung saja ke sana jika sudah melakukan persiapan," Kapten Japar berkata kepada Alena.
"Iya, aku nanti akan segera menyusul kedalam ruangan itu," Jawab Alena kepada Kapten Japar.
Alena pergi dari sana mencari beberapa yang dia butuhkan, kemudian dia langsung menyusul Kapten Japar yang sudah menunggu di dalam sebuah ruangan.
"Apakah sudah siap semua?" Tanya Alena kepada Kapten Japar yang sudah menunggunya.
"Sudah, sekarang kamu bisa melakukan rencana yang kamu rancang," jawab Kapten Japar.
"Baik, aku minta jangan ada yang berada di dalam ruangan ini," Jawab Alena kepada Kapten Japar.
Alena kemudian duduk bersila di hadapan tubuh Korban sambil memejamkan matanya untuk masuk ke Dimensi gaib.
Sejenak kemudian badan Alena seperti memasuki satu lorong panjang, kemudian dia berhenti di salah satu dinding yang terbuat dari kaca.
Begitu tangannya menyentuh dinding dari kaca itu terjadi ledakan besar yang membuat ruangan dimensi gaib itu bergetar.
Blaarrr!
Sukma Alena yang memasuki dimensi gaib menjadi bergetar karena merasakan lantai gaib itu bergetar dengan hebat.
Setelah menguasai keadaan di dalam dimensi gaib itu Alena berjalan sampai di ujung lorong yang panjang.
Di hadapannya telah berdiri satu makhluk gaib yang tinggi besar berkepala botak menatap tajam kepada Alena.
"Jenglot gua, aku yakin kamu yang menjadi dalang kematian mendadak di alam manusia!" Bentak Alena dengan garang.
"Hahaha... ternyata ada juga manusia yang bisa masuk ke dimensi ini, aku akui kalau kau lumayan hebat karena bisa menembus dimensi, pelakunya bukan aku, yang membuat manusia itu mati tak lain dari ambisi mereka sendiri," Jawab Jenglot itu dengan sengit.
"Aku perintahkan kamu mengehentikan perbuatan kamu kepada manusia, aku tidak ingin mendengar ada korban lagi!" Bentak Alena kepada Jenglot di depannya.
"Hahaha... apa hak kamu yang berani memerintah aku untuk menghentikan perbuatan ini?" Jenglot di hadapan Alena kembali menjawab dengan sengit.
"Aku mempunyai hak sebagai manusia," Jawab Alena tak mau kalah.
"Hanya itu, maka kamu tidak ada hak untuk menghentikan tindakan yang aku perbuat," Jawab Jenglot itu sembari menatap tajam sukma Alena.
"Aku tidak akan mengatakan hal lain, aku hanya meminta kamu untuk menghentikan perbuatan kamu yang menyebabkan kematian mendadak pada umat manusia!" Alena kembali membentak dengan garang.
Mendengar bentakan Alena, Jenglit dengan rambut riap-riapan itu tidak mengatakan apapun dia menatap tajam kepada Alena dengan pandangan mata yang mengandung api kemarahan.
######
