Kematian Misterius
Malam yang disertai gerimis jatuh menimpa Kota Palembang, Alena yang duduk di teras rumah memandang keluar rumah ke arah langit yang mencurahkan airnya.
Di luar pagar rumah Alena melihat seorang wanita muda yang menggedor-gedor pagar rumah.
"Toollooonnggg... toollooonnggg!" teriak wanita itu memelas.
Alena buru-buru mendatangi wanita yang berdiri di luar pagar dengan muka ketakutan, badan wanita itu gemetar seperti melihat hantu.
"Ada apa?" tanya Alena begitu melihat muka panik dari wanita itu.
"Tolong aku, aku sedang di kejar orang!" teriak wanita itu dengan muka memelas.
"Tenang dulu, mari masuk kita berbicara di dalam, kamu aman berada di sini," Alena berkata menenangkan wanita yang ketakutan itu.
"Siapa nama kamu?, sekarang kamu ceritakan apa yang kamu alami, kenapa kamu sangat takut seperti di kejar-kejar sesuatu yang menyeramkan?" Alena bertanya kepada wanita yang baru datang itu setelah melihat wanita itu sudah tenang kembali.
"Aku Sinta, berapa hari ini aku dan kawan-kawan satu kontrakan di kejar oleh sesuatu yang sangat menakutkan, sampai akhirnya kawan-kawanku meninggal satu persatu, sekarang tinggal aku sendiri, tolong aku sebab aku merasa selanjutnya aku yang akan meninggal," jelas Sinta dengan muka ketakutan.
"Tenang saja dulu aku akan membantu kamu, setelah itu kamu bisa menceritakan apa yang terjadi," jelas Alena kepada Sinta.
"Iya, aku sangat ketakutan menghadapi semua ini," jawab Sinta gemetar.
Alena berbalik melihat Amor yang baru keluar dari dalam rumah.
"Bisa nggak aku minta tolong suruh Bik Suti membuat minuman, aku melihat ada sebuah kutuk yang sangat besar di dalam tubuh orang ini, aku akan membantunya," bisik Alena kepada Amor.
"Iya," jawab Amor singkat.
Amor yang baru keluar segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri Bik Suti.
Sementara Alena yang mengajak Sinta langsung berdiri di belakang wanita itu, sejenak sinar merah yang keluar dari telapak tangan Alena masuk ke dalam tubuh Sinta, kemudian sinar itu berputar-putar di dalam tubuh Sinta cukup lama.
Setelah cukup lama sinar merah dari tangan Alena berputar di dalam tubuh Sinta, baru kemudian di dahului teriakan kencang Alena menarik sesuatu di dalam tubuh Sinta.
Sebuah bayangan berwarna kuning keluar dari tubuh Sinta membentuk seperti sebuah potongan tengkorak kepala.
Sinar berwujud tengkorak itu kemudian dengan cepat di hantam oleh Alena menggunakan sinar merah dari tangannya, dengan seketika sinar itu meledak.
Alena menarik napas panjang setelah menghancurkan sinar berwarna kuning itu, di lain pihak Sinta yang melihat semua itu badannya bergetar takut.
Dengan cepat Alena menghampirinya dan menyalurkan sinar merah kembali kedalam tubuh Sinta yang membuat Sinta dalam sekejap menjadi tenang.
"Kenapa di dalam tubuh kamu bisa ada kutukan kematian yang sangat kuat, dari mana ini semua berasal?" tanya Alena kepada Sinta.
"Aku juga tidak tahu kenapa kutukan ini berada di dalam tubuhku, hal seperti ini aku dan kawan-kawan alami ketika kami pulang dari sebuah goa di dalam hutan dan menemukan satu buah patung di sana, setelah itu kami mengalami teror dihantui rasa takut, sampai akhirnya teman-temanku mati semua dengan mata terbelalak dan bekas kuning melilit leher mereka," jawab Sinta masih dengan mimik ketakutan.
"Kamu sekarang aman, teman-teman kamu dimana sekarang berada?" tanya Alena kepada Sinta.
"Mereka ada di kamar kontrakan dan sudah menjadi mayat seperti yang aku ceritakan," jawab Sinta lagi dengan badan gemetar.
"Baiklah kalau begitu mana alamat kontrakan kamu dan kawan-kawan aku akan mencoba mengeceknya ke sana," jawab Alena.
Alena yang mendengar jawaban Sinta segera menelpon Kapten Polisi bernama Japar untuk mengecek ke lokasi yang di katakan oleh Sinta.
Sekitar tiga puluh menit telpon Alena berdering, begitu Alena mengangkatnya rupanya yang menelpon Japar.
"Bagaimana situasinya?" tanya Alena kepada Kapten Polisi itu.
"Iya, seperti yang kamu bilang semuanya memang meninggal dengan cara yang sangat aneh," jawab Kapten Polisi itu kepada Alena.
"Baiklah aku akan ke sana untuk memastikan semuanya," jawab Alena sambil menutup telpon.
"Amor aku minta tolong kamu temani Sinta, sementara kasus ini belum selesai biarkan dia menginap di sini dahulu," Alena berkata kepada Amor.
Kemudian dengan cepat Alena melajukan mobil kepunyaan Amor menyusuri jalanan Kota Palembang menuju lokasi Kontrakan Sinta.
Alena segera memarkir mobil yang dikendarainya dan berjalan cepat memasuki kontrakan yang menjadi tempat tinggal Sinta dan kawan-kawannya.
Alena memperhatikan mayat yang ada di dalam kamar kontrakan yang berukuran sekitar 4 X 4 meter itu.
Ada sekitar tiga Mayat yang meninggal dengan cara tak wajar di dalam kamar kontrakan itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Japar yang bingung bertanya kepada Alena.
"Nanti aku jelaskan, sebab sesuatu yang sangat tidak wajar sedang terjadi dan aku takutkan ini tidak hanya terjadi di sini," Jelas Alena.
"Dimana orang yang kata kamu menjadi saksi mata kejadian ini?" tanya Kapten Polisi itu lagi.
"Orang itu ada di tempat kami, habis ini kapten bisa menanyainya, dia sekarang sedang dalam posisi terguncang," jawab Alena.
Alena menghampiri satu mayat yang ada di sana kemudian mengulurkan tangannya menyentuh leher mayat yang berwarna kuning itu.
Perlahan Alena seperti melihat sebuah patung kecil dengan rambut panjang menutupi kepalanya dan mempunyai lidah panjang yang di keluarkan dari mulutnya.
Mata patung itu berwarna merah menyala, perlahan patung itu membesar sampai akhirnya sebesar sosok orang dewasa.
Sosok itu begitu menjadi besar sangat jelas kelihatan dari sela-sela giginya menetes darah berwarna merah yang menjijikkan.
Selain itu Alena juga melihat sangat banyak orang yang mengelus patung itu ketika berwujud kecil.
Setiap mulut orang yang memegang patung itu seperti mengucapkan satu permintaan dengan sangat tulus.
Setelah mengucapkan permintaannya masing-masing orang-orang tersebut mengelus kepala patung kembali.
Alena melepaskan tangannya pada leher mayat tersebut, kemudian dia segera menoleh Kapten Polisi dengan tatapan mata yang tegang.
"Ada apa?" Tanya Kapten Polisi yang tegang di samping Alena.
Alena tidak langsung menjawab dia menarik napas panjang, kemudian berjalan keluar kontrakan melewati Japar yang bingung.
Sampai di luar kontrakan itu Alena menoleh jauh ke langit yang kelam tanpa bintang gemintang.
Kapten Polisi yang melihat kegelisahan Alena segera menyusul, dia berdiri di samping Alena tanpa mengeluarkan kata sepatahpun.
Alena memandang Kapten Polisi yang ada di sampingnya, setelah menarik nafas panjang baru Alena berkata.
"Kematian di dalam hanya permulaan, kali ini yang kita hadapi tidak bisa di prediksi sama sekali dan sangat gawat" Alena berkata sembari kembali menatap langit luas.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Kapten Polisi bernama Japar itu bingung bingung.
#######
