Murka Alena
"Aku tidak pernah meminta para manusia untuk memohon kepadaku, namun mereka saja yang datang sendiri kepadaku supaya aku memberikan keinginan mereka, mereka semua pada dasarnya memahami resiko meminta kepadaku namun mereka tidak memperdulikan resiko tersebut, jadi selama keinginan dan ambisi masih mengalahkan akal sehat mereka aku pastikan akan banyak yang lain yang mengalami kematian dan akhirnya menjadi pajangan pada istanaku ini... hahaha," Jenglot itu menjawab dengan penuh sesumbar.
"Apapun alasan yang kamu katakan, aku perintahkan untuk menghentikan perbuatan yang kamu lakukan!" Bentak Alena lagi.
"Tidak akan aku hentikan!" Jenglot itu menjawab tak kalah sengit.
"Kalau begitu aku akan menggunakan cara lain untuk menghentikan perbuatan kamu!" Bentak Alena tak kalah sengit.
"Hahaha.... manusia kerdil kemampuan apa yang kamu punya untuk menghentikan aku!" Ejek Jenglot itu dengan sombong
Sebelum gema suara Jenglot itu hilang, dari tangan Alena memancar sinar merah yang menyilaukan.
Jenglot di hadapannya yang melihat pancaran sinar merah itu dengan terburu-buru menepiskan tangannya menghalau sinar merah yang berasal dari tangan Alena.
Duuaarrr!
Suara ledakan keras dari benturan kekuatan itu membuat ruang dimensi gaib itu bergetar hebat.
Alena yang hanya sukma saja melayang-layang kemudian berdiri lagi dengan gontai.
Sementara Jenglot di hadapannya terbanting berapa langkah karena benturan kekuatan tersebut, mulutnya mengeluarkan menggembor marah.
"Manusia kurang ajar yang berani menantangku, aku pastikan kau akan menjadi salah satu korban kutukan kematian yang aku lepaskan!" Bentak Jenglot itu dengan nada marah melihat lawan bisa membuat tubuhnya terbanting sedemikian rupa.
"Aku hanya memperingatkan supaya kamu menghentikan ini, jangan salahkan aku kalau istana kamu ini aku segel supaya kamu mengalami siksaan yang mengerikan!" Bentak Alena tak mau kalah.
"Kau akan menyesal manusia, aku akan memastikan kamu menjadi makanan kutukku!" Bentak Jenglot itu dengan penuh kemarahan.
Dengan cepat Jenglot tersebut melepaskan pukulan berwarna kuning dari tangannya menuju deras pada tubuh Alena.
Alena yang tak mau kalah segera bergerak ke samping sambil melepaskan tangkisan pada pukulan jenglot itu.
Dari posisi samping tangan kiri Alena langsung melancarkan sinar merah dengan kekuatan dua kali lipat.
Duuaarrr!
Ledakan keras terjadi lagi di sana, walaupun ledakan terjadi sangat keras memenuhi tempat itu tapi sinar merah yang di lepas Alena memakai tangan kirinya dengan sangat cepat melilit leher Jenglot di hadapannya.
"Grookk..." Suara tercekik keluar dari mulut Jenglot di hadapannya.
"Kau tidak akan bisa lari dariku, sekali aku menarik tangan kiriku dapat aku pastikan kepalamu akan menggelinding di lantai, walaupun kamu dari golongan jin jangan kira aku tidak bisa membakar habis tubuh kamu!" Gertak Alena kepada Jenglot itu.
Dari pancaran mata Jenglot yang tercekik itu tidak kelihatan lagi keangkuhan yang dia pancarkan tadi, mata Jenglot tersebut perlahan mengeluarkan air dari hidung dan telinganya mengalir darah.
"Sekarang aku bukan hanya meminta kamu menghentikan perbuatan kamu, namun kamu juga harus menjadi budakku, kalau tidak aku akan menghancurkan kamu sekarang!" Gertak Alena lagi.
Tangannya yang memegang sinar merah dia tarik perlahan-lahan sehingga membuat Jenglot di depannya mengalami kesakitan.
Tidak ada suara lain yang keluar dari mulut Jenglot itu selain suara raung kesakitan yang teramat sangat menahan siksaan sinar merah berbentuk tali di lehernya.
"Sekali lagi aku memerintahkan kamu untuk menyerah dan menarik kutukan kematian yang kamu lepas, dan juga bersumpah untuk menjadi budak baguku!" Bentak Alena dengan garang.
Perlahan perlawanan yang di lakukan Jenglot riap-riapan itu mulai melemah, namun Alena tak mengendorkan tali cahaya yang terikat pada lehernya.
Perlahan tali cahaya berwarna merah itu makin melilit kencang pada leher Si Jenglot tersebut, mimik muka Jenglot itu makin kelihatan tersiksa.
Setelah tidak mampu menahan siksaan lagi akhirnya Jenglot itu dengan sendirinya jatuh bersujud di hadapan Alena.
"Ampunn... ampun... aku akan mencabut semua kutukan kematian yang aku lepas, dan mulai sekarang aku akan mengabdi kepada kamu..." Jenglot itu berkata dengan suara bergetar.
Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan pada Jenglot itu, sekarang dia lebih mirip dengan pecundang yang takluk pada lawan.
"Seharusnya aku menghancurkan kamu, karena aku rasa tidak ada gunanya memberi pengampunan lagi kepada kamu," Gertak Alena dengan sinis.
"Ampun... ampuni aku, aku bersumpah tidak akan melakukan lagi kesalahanku, aku mohon biarkan aku hidup..." suara Jenglot yang masih bersujud semakin ketakutan kepada Alena.
"Baiklah aku ampuni kamu, namun jika suatu saat kamu melakukan kejahatan aku tidak akan segan membunuh kamu, dan mulai sekarang kamu harus menjadi pembantuku dalam memberantas kejahatan," Gertak Alena sambil menarik tali cahaya yang melilit leher Si Jenglot.
Sekali sentak tali cahaya yang melilit leher Jenglot itu terlepas, namun walaupun cahaya merah sudah lepas dari lehernya Jenglot itu tetap saja bersujud.
"Sekarang angkat kepala kamu, dan segera lepaskan kutuk kematian yang sudah kamu buat," Alena berkata kepada Jenglot yang bersujud di hadapannya.
"Baik aku akan melepaskan semua kutuk kematian yang sudah aku lepas," Jawab Jenglot itu dengan kepala tertunduk.
"Satu lagi kamu harus menjadi budakku, jika aku memanggil kamu harus segera datang dan membantuku," Alena berkata lagi, pandangan matanya tajam menatap Jenglot yang bersujud di hadapannya.
"Baik aku berjanji, sekarang juga aku akan melepas kutuk kematian yang aku buat," Jawab Jenglot itu penuh penyesalan.
Dengan cepat dia menyilang tangannya di depan dada, kemudian kedua tangan itu dia gerakkan seperti menarik sesuatu.
Nun jauh dari dimensi gaib, di sebuah tempat yang ada di dekat air terjun tiba-tiba terjadi ledakan pada patung Jenglot dengan rambut riap-riapan yang ada di dalam ceruk batu.
Blaaarrr!
Patung Jenglot itu meledak dan hancur berkeping-keping tanpa sisa, pecahan patung itu dalam sekejap menjadi abu.
Jenglot yang berada di hadapan Alena membungkukkan badannya dengan hormat kepada Alena.
"Aku sudah menarik dan menghancurkan kutuk kematian yang aku buat," Jenglot itu berkata kepada Alena.
"Baiklah aku pergi dulu, jika aku membutuhkan kamu aku akan segera memanggil," Alena berkata kepada sosok Jenglot di hadapannya.
"Baik, terima kasih telah mengampuniku," Jawab Jenglot itu dengan kepala masih tertunduk.
Sukma Alena kemudian berputar berapa kali dan melesat masuki sebuah lorong panjang kemudian kembali masuk ke dalam tubuhnya.
"Bagaimana?" Tanya Kapten Japar yang sudah berada di sampingnya dengan penasaran.
"Semua sudah selesai, kutukan itu sudah di cabut sehingga tidak akan ada lagi korban selanjutnya," Jawab Alena sambil menarik napas panjang.
"Bagaimana kita bisa tahu?" tanya Kapten Japar kepada Alena.
Alena tidak menjawab dia hanya menunjuk ke arah mayat yang terbaring di hadapannya.
"Perhatikan leher mayat itu, tanda kuning di lehernya yang menunjukkan kutukan sudah tidak ada lagi," Jelas Alena lagi.
Kapten Japar melihat apa yang di tunjuk Alena, benar saja tidak ada lagi tanda kuning di leher mayat, begitupun di leher mayat yang lain.
Tanda kuning yang menjadi bukti kutuk sudah tidak ada lagi pada tubuh mayat yang lain, yang menjadi pertanda kalau kutukan itu memang sudah di lepaskan.
######
