New Home New Life
Author.
Danisha berdiri tegak memandangi bangunan bertingkat dua di hadapannya. Sesekali dia lemparkan pandangan ke sekelilingnya di mana terhampar taman yang cukup luas dan begitu asri.
Beberapa belas meter dari tempatnya berdiri terdapat garasi yang lumayan besar, sekiranya cukup untuk menampung 3-5 mobil di dalamnya.
“Gede juga rumah laki lo, Sha,” seru Rara sahabat Danisha seraya menyenggol lengan Danisha yang masih berdiri termangu mengamati bangunan di depannya.
“Hm, not bad. Walaupun nggak segede rumah bokap gue, tapi paling nggak cukup deh kalo gue mau guling-guling,” ucap Danisha dengan nada angkuh dan sedikit meremehkan.
Anak horang kaya yang nyaris sepanjang hidupnya tidak pernah merasakan susah untuk urusan materi, jadi ya begitulah sifat arogannya yang menjadi-jadi.
“Yang pasti ada kolam renangnya, kan, Sha? Supaya gue bisa saban hari numpang renang di sini,” timpal Viona dengan sangat antusias, yang berdiri di sisi kirinya.
“Mudah-mudahan ada, kalo nggak ada ntar gue suruh dia bikin sekarang juga sebelum ayam jantan berkokok. Kalo nggak selesai, gue cerein tuh si Bang Sat.“
“Beeuh! Sadisnya titisan Roro Jongrang,“ seru Viona lagi seraya bergedik ngeri menoleh pada Danisha yang masih mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah.
Ketiga gadis yang baru akan menuju dewasa itu menghentikan celotehan absurb mereka ketika menoleh ke arah Satria yang melangkah menghampiri bersama Alex, sahabat sekaligus asisten pribadi Satria.
“Morning, Ladies. Selamat datang. Apa kabar, Vi? Ra?” sapa Satria ramah seraya menyalami Viona dan Rara yang sudah dia kenal sebelumnya sewaktu mereka hadir di acara akad nikahnya dengan Danisha beberapa hari lalu.
“Kabar baik, Bang Saaaatt....” salam keduanya kompak sambil melambaikan tangan pada Satria dengan ekpsresi polos dan tersenyum lebar.
Alex yang berdiri di belakang punggung Satria cekikikan mendengar sapaan yang disebut oleh kedua gadis berotak setengah ons tersebut.
Seketika Satria mengalihkan bola mata pada Danisha dan melotot gemas padanya.
‘Pasti kamu Sha yang ngajarin dua punggawa sintingmu ini,' gumam Satria dalam hatinya.
Danisha yang ditatap sedemikian gemasnya oleh si Pak Su hanya bergedik bahu seolah tidak tahu menahu.
“Panggil nama aku aja. Oke, ya?” pinta Satria kemudian menyungging senyum gemas pada Viona dan Rara.
“Oke, Bang Saaattt … triaaa.” jawab keduanya berbarengan seperti ada yang mengomandoi dengan ekspresi yang sama dengan sebelumnya. Meledek Satria.
Alex kembali cekikikan dengan suara tertahan di belakang punggung Satria. Dan Satria pun hanya menggeleng-gelengkan kepala pasrah.
“Hmm … cape deh. Suka-suka kalian ajalah....” gumam Satria, mengalah saja akhirnya.
“Oiya, Sha. kenalin ini Alex, sahabat aku. Dia yang sudah mempersiapkan semua perlengkapan di rumah ini sebelum kita tempatin.” Satria memperkenalkan Alex yang sudah berdiri di sampingnya.
Danisha pun menoleh dan melambaikan tangan serta tersenyum ramah pada Alex. Begitupun juga dengan dua punggawa Danisha, Viona dan Rara yang tersenyum-senyum menatap genit pada Alex yang memiliki tampang cukup menggiurkan untuk memanjakan penglihatan mereka.
“Kalo dirasa ada yang kurang, kamu kasih tau aku ya, Sha. Nanti aku segera siapin," ucap Alex membuka suaranya.
“Oh iya ada. Baru di luar sini aja Sha ngerasa ada yang kurang tuh,” sahut Danisha
Alex menautkan kedua alisnya menatap bingung pada Danisha. ”Apa, Sha?”
“Kurang kasih sayang....” jawab Danisha manja seraya memanyun-manyunkan bibirnya dan mengerlingkan sebelah mata menggoda Alex.
Pria tampan sebaya dengan Satria itu hanya tertawa renyah mendengar celetukannya.
“Shaaa! Jangan mulai, deh. Alex udah punya tunangan,” tukas Satria membuyarkan kekaguman Danisha pada Alex.
“OoPenonton kecewa!" seru Danisha terbelalak dan membulatkan bibirnya diikuti kedua sahabatnya Rara dan Viona yang spontan memasang wajah kecewa yang mendalam.
Satria dan Alex hanya tersenyum lebar melihat tingkah ketiga wanita yang baru akan menuju dewasa itu.
“Ya udah, cari mangsa yang lain aja. Sekarang ayo semua masuk. Panas di sini,” ajak Satria kemudian.
Ketiganya pun menurut, lalu melangkah memasuki rumah yang bernuansa seperti seragam sekolah, putih abu-abu itu.
Ketika memasuki rumah besar itu, terpampang dengan jelas satu hunian yang menggambarkan ke-maskulinan sosok pemiliknya, Satria.
Dengan perabotan minimalis, namun berkelas dan sangat estetis. Tanpa banyak hiasan yang bertengger di sekitarnya. Sesuai dengan sifat Satria yang tidak terlalu suka dengan keramaian dan hingar-bingar.
“Sha....” panggil Satria pada Danisha ketika mereka sudah menapaki lantai dua rumah itu.
“Hm.... “ Danisha menghampiri Satria yang berdiri di depan pintu sebuah kamar.
“Ini kamar kamu.“
Danisha dan Satria memasuki kamar yang ditunjuk. Gadis yang sedang berbadan dua itu mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan yang cukup luas yang akan menjadi kamar tidurnya nanti.
“Ini kamar Sha? Bukan kamar kita? Berarti kita nggak tidur bareng, ya? Aaahhh, aku syediiihhh, Bang!” goda Danisha sambil mengerucutkan bibirnya, meredupkan matanya seolah memelas pada Satria.
“Jangan harap tidur bareng! Aku takut diperkosa sama ibu hamil,” balas Satria seraya menunjuk ke arah perut Danisha.
“Idiiihhh, siapa juga yang ngarep. Ke-ge-er-an amat,” sungut Danisha sengit seraya berdecih.
“Nah, sebelah ini kamar aku. Ini pintu konekting. Jadi kalo kamu butuh aku, kamu bisa langsung ke kamar aku lewat sini,” beritahu Satria ketika membuka sebuah pintu di tengah dinding yang langsung menghubungkan ke sebuah kamar.
“Kalo Sha butuh kehangatan, gimana dong?” usil Danisha lagi seraya memeluk dirinya sendiri dan memejamkan mata dengan gaya sensual.
“Kalo butuh kehangatan, ada kompor di bawah, ya, Sha. Kamu bisa duduk di atasnya semalaman,“ balas Satria polos pura-pura tidak mengerti apa yang Danisha maksud.
“Itu bukan hangat lagi, Bang. Tapi terpanggang. Kambing guling, kali ah!”
Satria tertawa renyah menanggapi kicauan Danisha yang seenak udelnya itu.
Danisha melangkah masuk ke ruang kamar yang disebut akan ditempati Satria. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Ukurannya sedikit lebih besar dari kamar yang akan dia tempati.
Lalu beralih menuju ke kamar mandi yang terletak di sebelah walk in closet.
“Ya ampun, banyak banget sabunnya. Abang jualan atau apa, Bang?“ teriak Danisha ketika masuk ke kamar mandi dan melihat jajaran botol sabun cair yang berbaris rapi di atas rak kecil di samping bath tub.
“Nggak, itu untuk stok aja. Aku kan, seneng mandi, soalnya,” jawab satria yang sudah berdiri dan bersandar di depan pintu kamar mandi.
Danisha menghampiri Satria, dengan senyum lebar dan tatapan curiga.
“Seneng mandi, atau seneng itu tuuuh?“ selidik Danisha seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Satria dan mengerlingkan sebelah matanya.
“Itu apa?“ Satria mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Alaaahhh, pura-pura nggak ngerti. Itu tuh … hobinya cowok-cowok jomblo kayak Abang supaya 'Si Jeki' nggak karatan,“ cetus Danisha seraya menunjuk wilayah sensitif di bagian bawah Satria.
Dan Satria pun menunduk sedikit mengikuti arah telunjuk Danisha yang tertuju pada pangkal pahanya. Lalu tersenyum malu-malu saat mengerti apa yang dimaksud Danisha.
“Dasar cewek mesum!” umpat Satria seraya mendorong gemas jidat Danisha dengan ujung telunjuknya.
“Jangan sering-sering atuh, Bang. Ntar 'si Jeki' jadi glowing,”
Danisha tertawa renyah meledek Satria yang wajahnya mulai memerah malu karena Danisha ternyata bisa menebak ‘hobi’nya yang satu itu.
Ya, maklumlah, di usianya yang tidak lagi muda, bahkan menuju kepala tiga, dia belum pernah merasakan nikmatnya sensasi bercinta yang sebenarnya.
Akhirnya, demi memuaskan hasrat kelaki-lakiannya, untuk sementara ini dia hanya bisa bermesraan dengan lembutnya busa sabun mandi.
'Yang penting keluar, dari pada dipendam lama-lama, bisa jadi beku di dalam,' pikirnya.
Walaupun beberapa kali menjalin hubungan istimewa dengan wanita, tapi Satria berprinsip akan melakukan hubungan intim itu ketika sudah dalam ikatan yang sah. Supaya lebih gereget dan lebih joss poll, begitu alasannya.
Spesies cowok langka yang hidup di jaman keperjakaan patut dipertanyakan. Jenis bujangan seperti ini sepertinya harus dilestarikan dan dikembang biakkan.
***
“Upiiin! Ipiiin! Come here, Besties!” teriak Danisha dari pangkal anak tangga di lantai dua pada Viona dan Rara yang masih asyik menggoda Alex di mini bar di lantai bawah.
Tentu saja kedua gadis cantik yang tengah berlomba-lomba flirting dengan Alex enggan menanggapi teriakan Danisha.
Menurut mereka, sangat mubazir menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berbincang-bincang dengan sahabat dari suami Danisha yang aduhai itu.
“Viii! Raaa!” Kembali Danisha menggemakan suaranya dari tempat yang sama. Kali ini dengan setengah kesal karena panggilan pertamanya tidak digubris sama sekali oleh kedua teman gesreknya itu.
“Iya, Nyaaah!” Kali ini Viona menyahut tidak kalah nyaringnya dengan suara Danisha.
“Bantuin gue beres-beres kamar. Come on ladies, tunjukan pesonamu!” teriak Danisha lagi seraya melambaikan tangan pada kedua temannya itu untuk menuju ke tempatnya.
“Tunjukan pesona apaan disuruh beres-beres kamar? Gue berasa jadi Ijah deh. Dasar titisan Hittler! Merintah-merintah molooo!” Rara ngedumel di hadapan Alex yang tertawa geli mendengar ocehan mereka.
Namun keduanya pun menuruti juga perintah Danisha. Dengan melangkah cepat, Viona dan Rara menapaki anak tangga satu persatu menuju kamar Danisha yang letaknya berhadapan dengan pangkal anak tangga.
“Bantuin gue, dong! Lo pada tega amat ama ibu hamil ini.” Danisha merajuk seraya mengerucutkan bibirnya.
“Iya, apa yang perlu gue banting, ehh gue bantu maksudnya?” sahut viona seraya menggulung lengan t-shirtnya.
“Tolong pindahin meja itu, dong. Ngadep ke jendela balkon,“ suruh Danisha menunjuk meja tulis beserta bangku kerja ber-jok kulit warna hitam.
Viona dan Rara menuruti apa yang diperintahkan Danisha. Bersamaan, keduanya mengangkat meja tulis yang lumayan berat dan besar itu, lalu meletakkannya persis berhadapan dengan jendela balkon sesuai yang diminta Danisha.
Seketika bola mata Rara dan Viona terbelalak saat melihat pemandangan di luar sana. Sebuah bangunan bertingkat dengan beberapa balkon yang berjajajar rapi dan plang besar diatasnya bertuliskan Kost Putera Perwira.
Seorang pemuda bertelanjang dada dan bercelana training panjang tampak berdiri di salah satu balkon kost-an tersebut sambil mengangkat dumbel berulang-ulang.
“Wuidiiihh! Pemandangan indah, Cuy! Suiiitt! Suiiitt!“ seru Viona disusul suara siulannya yang melengking.
“Pantesan lo minta meja belajar lo ngadep sini, Sha. Ternyata, oh ternyata ….” timpal Rara mengarahkan pandangannya lurus ke depan dengan ekspresi kekaguman yang sama dengan yang ditunjukan Viona.
“Nah, lo berdua emang pinter baca pikiran gue. Kalah deh Uya Kuya,“ sahut Danisha seraya melangkah menghampiri tempat kedua temannya yang sudah bersandar di kiri kanan pintu balkon. Lalu ikut mengamati apa yang tengah mereka pandangi.
“Kalo gini mah, gue betah deh ke sini tiap hari. Kalo perlu gue nginep ya, Sha,“ ucap Rara lagi tanpa melepaskan pandangannya pada sosok pemuda di balkon sana.
“Boleh, kamar pembantu masih kosong tuh di belakang,” jawab Danisha sekenanya.
“Semprul, bener-bener nganggap gue Ijah lo, ye?” protes Rara melirik sebal pada Danisha di sampingnya.
“Iyaaaa! Lo berdua boleh nginep sini. Tapi jangan tidur di kamar ini. Ganggu aja,” ucap Danisha seraya menyudahi pengamatannya pada sosok tampan di balkon seberang.
Lalu menghampiri ranjang yang penuh dengan tumpukan baju-bajunya yang belum sempat disusun di lemari.
Kedua temannya itu pun mengikuti Danisha, lalu ikut menghenyakkan diri di atas ranjang.
“Sha, lo masih keingetan Freddy?” tanya Viona yang berbaring miring memeluk guling menghadap Danisha dengan tatapan serius. Rara pun yang duduk di bibir ranjang ikut mendengarkan dengan seksama.
“Masih,” jawab Danisha singkat. Sorot matanya seketika meredup ketika mendengar nama laki-laki itu.
“Gue sama Rara tetep pantau medsosnya, Sha. Mas Vicky juga ikutan nyariin alamat keluarganya. Kata Mas Vicky keluarganya semua di Surabaya, tapi nggak tau tepatnya.”
“Gue nggak nyangka Freddy jahat gini sama gue. Waktu pacaran ama gue kayaknya dia tulus banget, sampe gue klepek-klepek ama dia,” ucap Danisha dengan nada penuh penyesalan.
“Gara-gara lo sama mas Vicky tuh, Vi. Kalo lo bedua nggak ngenalin Freddy ke Danisha, nggak bakal begini jadinya,” tuding Rara menunjuk Viona dengan dagunya.
“Iiihhh? Kok gue? Kan gue cuma ngenalin. Kalo akhirnya mereka pacaran, ya mana gue tau,“ protes Viona sengit seraya bangkit dari rebahannya.
“Udah, udah, Viona sama Mas Vicky nggak salah. Yang salah cuma gue. Gue gampangan banget jadi cewek. Ya, jadi tekdung begini deh akhirnya,” sahut Danisha menengahi.
“Ya ampun, Sha. Gue miris liat lo kayak gini, sumpah deh. Tapi lo jangan kuatir, kalo lo butuh apa-apa, ada gue sama Rara yang siap bantu. Kalo lo mau curhat apa pun ada gue. Kalo butuh asisten untuk bebenah rumah, Rara siap dua puluh empat jam, bukan begitu, Ra?” cerocos Viona sambil mengangkat jempolnya pada Rara dan mengangkat kedua alisnya berulang-ulang.
“Tuh, kan urusan Ijah selalu ke gue, deh!” sungut Rara mengerucutkan bibir tipisnya.
“Eh, Sha, apa lo masih cinta sama Freddy? Tapi, kan lo udah kawin sama abang angkat lo, gimana dong?” tanya Rara diburu rasa penasaran.
“Sejujurnya, gue ngarepin banget si kampret Freddy yang nikahin gue, bukan Bang Sat. Kasian gue sama abang gue itu. Mana dia punya pacar, lagi. Sekarang terpaksa nikahin gue karena permintaan papa,” tutur Danisha dengan wajah yang mulai menunduk murung.
“Ya ampun, Bang Sat emang baik banget ya, Sha. Empat jempol deh buat abang lo itu,” puji Viona seraya tersenyum sekilas membayangkan wajah tampan Satria di benaknya. Dalam tunduknya Danisha mengangguk setuju dengan ungkapan Viona.
“Terus, malam pertama kemarin lo sama Bang Sat oh yes oh no, nggak, Sha?” tanya Rara polos masih dengan tatapan seriusnya.
Dasar cewek dengan otak setengah ons. Pertanyaan yang sungguh terlalu unfaedah.
“Ah, gila lo! Ya nggak lah, Ra. Gue kan lagi hamil anak si kampret. Mana boleh ditiban lagi ama cowok lain. Masa anak gue jadi anak patungan. Sinting banget lo, ya!” tutur Danisha meninggikan nada suaranya sambil menoyor jidat Rara dengan ujung telunjuknya.
“Yaaaa, paling nggak cium-cium gitu? Kalo ciuman doang boleh kali, ah.“
Danisha menggeleng. “Gue cium Bang Sat terakhir waktu dia wisuda doang, itu pun cuma gue cium di pipi ngasih ucapan selamat. Kalo sekarang nyium dia, berasa pelaku incess deh gue. Serem. Secara Bang Sat udah gue anggap abang kandung sendiri,” ujar Danisha seraya bergidik sesaat membayangkan bibirnya melumat bibir Satria.
Rara dan Viona pun ikutan bergidik ngeri mendengar kata-kata Danisha.
“Eh, By the way anyway busway, Abang lo itu ganteng juga ya, Sha. Lumayan tajir pula. Gue kalo ada di posisi lo pasti nggak bakalan nolak dikawinin sama abang angkat kayak dia, sih,” ujar Viona berandai-andai.
“Jangan Vi, jangan sampe lo berdua ngalamin apa yang gue alamin sekarang. Banyak yang dikorbankan gara-gara kelakuan gue. Gue bener-bener nyesel,” lirih nada suara Danisha dan menundukkan kepalanya.
“Yang sabar ya, Sha. Kita berdua selalu dukung lo.“ Viona mendekat pada Danisha lalu merentangkan kedua tangannya dan merangkulnya hangat.
Begitupun Rara tidak mau ketinggalan memberi dekapan hangatnya pada Danisha. Membuat Danisha terharu begitu dalam menerima perlakuan kedua sahabat setianya itu.
Walaupun terkadang tingkah mereka berdua selalu berlomba-lomba dalam kejijikan, tetapi soal rasa setia kawan mereka tidak ada tandingannya.
Dari balik pintu, Satria tersenyum memperhatikan ketiga gadis manis itu saling berpelukan seperti para Teletubies.
Dia sudah mendengar semua celotehan mereka, termasuk pujian untuk dirinya.
Dalam hati Satria, terbetik rasa iba untuk Danisha yang mengaku masih berharap menikah dengan bapak si jabang bayi yang tengah dikandungnya.
Namun, mau dikata apa? Semua sudah terjadi. Dan kini dia yang diserahi tanggung jawab untuk menjaga Danisha lahir dan bathin.
