No Love Marry
Satria.
Jarum jam di tanganku kini menunjukkan pukul dua dini hari. Aku yakin Sha pasti sudah terlelap di dalam mimpinya saat ini.
Walaupun pernah juga aku dengar dari Mama Freya bahwa Sha bermasalah dengan tidurnya, alias Insomnia. Tapi aku yakin kondisinya yang tengah hamil muda sekarang ini pasti memaksanya untuk bisa tidur secara normal kembali.
Aku tidak mau membunyikan bell dan membuat Sha terpaksa bangun dari tidurnya hanya untuk sekadar membukakan pintu untukku. Karena itu aku meminta cadangan key card kamar dari receptionist di lobby hotel.
Aku tempelkan key card itu pada boxnya, sedetik kemudian terdengar kunci otomatisnya terbuka. Perlahan aku dorong pintu supaya tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu.
Aku melangkah mengendap-endap memasuki ruangan kamar yang cukup luas ini. Lalu kutengok sesaat tempat tidur berukuran besar yang berada di tengahnya. Tampak tubuh Sha tengah terbaring dengan posisi menyamping di sana.
Aku menghampiri ranjang besar itu, dan kuamati Sha tertidur sangat pulas seperti bayi. Dia hanya mengenakan baju tidur baby doll berwarna putih sebatas paha dengan tali kecil yang tersangkut di kedua bahunya. Hingga terpampang jelas di depan mataku sepasang kaki jenjang Sha yang mulus, lekukan pinggul yang bergelombang indah dan sembulan bulat di dadanya yang mengintip di balik bajunya yang berkerah sangat rendah.
Aaaah, seksi sekali.
Ya, Tuhan, adik angkatku yang dulu semasa kecilnya sering aku ajak bermain dan bercanda kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Baru nyadar aku.
Kutarik selimut yang masih terlipat rapi di atas ranjang. Perlahan kulingkupi tubuh Sha hingga sebatas lehernya. Sha menggeliat memutar tubuh hingga posisinya terlentang dengan kedua tangan yang terangkat ke atas, di sisi kepalanya.
Kelopak mata Sha mengerjap-ngerjap lemah. Dan ....
“Aaaakkk!!!!”
Sha berteriak kaget ketika membuka matanya dan terbelalak melihat aku duduk di tepi ranjang tepat di sisi tubuhnya.
Spontan Sha bangkit dari tidurnya dan bersandar pada headboard ranjang dengan selimut yang dia tarik menutupi sampai batas dadanya.
“Kok, balik ke sini? Sha kira Abang nggak balik lagi,” tanyanya dengan suara serak akibat kantuk yang masih melanda.
“Ya baliklah, masa nginep. Bisa-bisa aku diperkosa sama pacar aku,” ucapku nyeleneh seraya beranjak dari tepi ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.
“Halah, diperkosa juga Abang kesenengan,“ balas Sha. Walaupun aku sudah menjauh, tetapi aku jelas mendengarnya.
Aku hanya tersenyum geli menanggapinya
***
Danisha.
Kutengok jam tanganku yang tergeletak di atas meja nakas samping tempat tidur. Sepuluh menit menuju pukul dua belas malam.
Berarti hampir setengah jam aku benamkan tubuhku di dalam bathtub dengan tambahan beberapa tetes essential oil aroma terapi yang harumnya sangat menenangkan. Membuat seluruh pikiran dan tubuhku yang semula menegang menjadi lebih rilex dan segar kembali.
Aku buka bathrobeku yang masih melingkupi tubuh sejak keluar dari kamar mandi. Lalu menggantinya dengan baju tidur favoritku, babydoll putih berbahan satin sebatas paha dengan tali kecil yang menyangkut di kedua sisi bahu.
Lalu aku merebahkan tubuh ke atas ranjang, meskipun kantuk belum menyerang.
Satria, kakak angkatku yang kini resmi menjadi suamiku, lebih memilih bersama kekasihnya di malam pengantin kami.
Aku tidak marah. Aku mengijinkan. Namun ada sedikit rasa kesal yang mengganjal di hatiku. Setidaknya, hargailah aku yang kini sudah berstatus sebagai istrinya.
Rasa mual kembali melanda. Benar-benar terasa begitu menyiksa. Hari ini saja sudah tidak terhitung berapa kali aku berjuang mengeluarkan isi perutku karena ada sesuatu yang bergumul hebat di dalam sana.
Aku coba menutup kelopak mata, berharap mual ini tidak menggangguku lagi.
'Freddy the Kampret, anakmu ini sepertinya sama nakalnya dengan kamu.'
Rasa kantuk mulai menyerang, hingga akhirnya aku tidak sadar sudah tenggelam ke alam mimpi.
Aku merasa sepertinya belum lama aku terlelap dalam tidurku, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menutup tubuhku. Terasa hangat melingkupi dari ujung kaki sampai batas leherku.
Aku menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan mata yang terasa berat.
Dan ....
“Aaaakkk!!!!”
Bang Satria duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah tubuhku. Sumpah, aku kaget bukan main karena penampakan kakak, eh, suamiku ini. Jantungku seakan nyaris terloncat keluar dari tempatnya.
Walaupun lampu kamar yang sedikit temaram, tetapi aku masih bisa melihat bola matanya berbinar-binar menatap wajahku.
Entah apa yang ada di pikirannya melihatku tertidur hanya dengan mengenakan pakaian tidur yang minim ini.
Tapi aku yakin, pasti dia yang menyelimuti aku untuk melindungi tubuhku dari dinginnya penyejuk udara kamar ini.
'Ooow, so sweet juga kamu, Bang.'
“Kok balik ke sini? Sha kira Abang nggak balik lagi,” tanyaku dengan suara serak karena kantuk yang masih melanda hebat.
“Ya baliklah, masa nginep. Bisa-bisa aku diperkosa sama pacar aku,” ucapnya nyeleneh seraya beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi.
“Halah, diperkosa juga Abang kesenengan,“ balasku tak kalah nyelenehnya dari jawabannya.
Dia hanya terkekeh geli menanggapi. Sementara aku berdecak sebal karena si Abang ini sudah mengganggu tidur lelapku.
Karena tidak dapat lagi mengembalikan kantuk, aku putuskan untuk duduk bersandar sambil mengutak-ngatik Iphone-ku.
Membaca berita-berita online dan sesekali mengecek media sosial, aku berharap ada notifikasi yang masuk dari ayah si jabang bayi di dalam perutku ini. Namun tetap tidak ada juga. Padahal aku sudah beberapa kali mengirimkan personal massage untuknya.
Aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. Kutengok sejenak. Dan … tampak Bang Satria keluar dengan hanya mengenakan boxer hitam yang menutupi ‘si Jeki’nya.
My God, pusing pala barbie ini dibuatnya.
‘Biarpun Sha gak punya perasaan nafsu ama kamu, tetep aja aku ngilu ngeliat ‘si Jeki‘ mu itu, Bang.’
“Ya ampun, Sha kirain Tarzan kota, Bang!“ seruku kaget, eh, kagum deh, demi mengamati tubuhnya yang cihuuuuy itu, dengan barisan otot sensual di perutnya dan dadanya yang tebal paripurna.
Aku tidak menyangka abang angkatku yang dulunya cungkring seperti tiang listrik sekarang memiliki body aduhai dengan bahu kokoh yang pelukable dan dada yang sandarable.
“Enak aja kayak Tarzan, hasil fitness bertahun-tahun ini, nih. Kamu aja sampe nganga gitu, tuh. Hati-hati ngiler, Sha," protesnya membanggakan diri seraya memperlihatkan lengannya yang berotot lalu menunjuk wajahku yang memang … mupeng.
Aku hanya bergedik sebal dan menutup mulutku yang memang tanpa aku sadari menganga melihat tubuh aduhainya.
Mungkin kalau nggak ingat lagi hamil, sudah aku terkam kamu, Bang.
Dengan langkah santai dia menghampiri ranjang yang aku tempati. Lalu tanpa ijinku, dia menghenyakkan tubuh persis di sampingku.
“Eehh, loh? Loh??? Bang, ngapain di sini? Sana di sofa tuh,“ usirku segera.
“Mau tidur, ngantuk,” jawabnya singkat. Lalu memiringkan tubuh besarnya, memunggungiku.
“Pake baju, dong! Jangan telanjang gitu! Deg-degan hati adek nih, Bang!”
“Deg- degan kenapa? Aku, kan sekarang suami kamu. Cuek ajalah. Jangan norak gitu, deh.”
“Sha takut di kikuk – kikuk ama Abang,“ cicitku sambil menatap punggungnya yang memang pelukable itu.
“Nggak bakalan, Sha. Itu di larang keras. Tugas aku tuh untuk jagain kamu, bukan niban kamu, tau!”
Aku termangu mendengarnya. Syukurlah, ternyata dia lebih paham mengenai larangan yang satu itu. Bahwa aku yang kini hamil karena pria lain, tidak boleh 'digauli' oleh pria yang berbeda, walaupun kami sudah resmi dalam ikatan sah menurut hukum agama dan negara.
“Iya, tapi Abang pake baju, dong. Sha risih liatnya. Atau tidur di sofa aja sana,“ Aku masih berusaha mengusirnya, menjauhkannya dari ranjang yang kutempati.
Entahlah, melihatnya bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer minim seperti itu tiba-tiba rasa mualku kembali melanda .
Apa anak si Freddy di dalam perutku ini tidak rela mommy-nya dekat dengan cowok lain?
“Ya ampun, Sha. Berisik, deh! Kamu risih liat aku begini? Tapi kamu nggak risih liat badan laki-laki yang bukan suami kamu, malah sampe hamil begini,“ ketusnya dengan nada suara meninggi setelah membalikkan badannya menghadapku dan menatapku dengan kesal.
Nyesss....
Ada rasa perih di hatiku mendengar gerutuannya itu. Seketika aku pun tertunduk.
Tiba-tiba saja ada buliran air hangat yang menetes dari sudut mataku. Jelas aku tersinggung dengan ucapannya itu. Seolah-olah aku adalah perempuan murahan yang segitu gampangnya tidur dengan sembarang laki-laki.
Sakit hatiku, Bang Sat!
Sepertinya Bang Satria menyadari perkataannya yang sangat menyinggung hatiku. Aku lirik dia melalui ekor mata.
Dia bangkit dari rebahan dan duduk bersila berhadapan denganku. Perlahan, dia menarik jemariku dan meremasnya lembut.
“Maaf, Sha. Bukan maksudku bikin kamu tersinggung. Maaf banget.” Nada suaranya berubah lembut dan lemah.
Aku mengangguk, lalu mengangkat wajah dan menatap matanya. Tampak penyesalan di kilau matanya yang meredup.
“Sha yang harusnya minta maaf, Bang. Gara-gara Sha, Abang jadi susah begini.“
“Jangan bilang begitu, Sha. Walaupun sekarang kita udah married dan status kita berubah, tapi kamu tetap adik kecilku yang harus selalu aku jaga,” ucapnya dengan kalimat yang cukup menenangkan hatiku.
“Sabar ya, Bang. Tunggu delapan bulan lagi, abis itu kita ber …”
“Ssttt.... Udah, sini peluk....” Satria memotong kalimatku lalu meraih bahuku dan merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku rebahkan kepalaku di bahu kokohnya. Dan itu terasa nyaman sekali.
“Jangan nafsu,” candanya di telingaku sambil menepuk lembut bahuku satu kali.
“Kagak!” jawabku hanya singkat.
Ia terkekeh pelan persis di depan telingaku. Tapi tidak aku hiraukan lagi. Aku hanya ingin menikmati kenyamanan bersandar di bahunya yang hangat.
