Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Miyabi Wanna Be

Author.

“Bye, Sha! Bye, Mas Alex! Bye, Bang Saaat!” seru Viona dari balik kemudi Honda Jazz abu-abu miliknya bersama Rara yang duduk di sampingnya. Kedua gadis itu melambai-lambaikan sebelah tangan pada dua cowok tampan menawan dan seorang gadis cantik pemilik senyum manis memesona di depan mobil.

Danisha yang berdiri di antara dua cowok keren itu melemparkan senyum lebar pada kedua sahabat errornya seraya menggamitkan lengan kanannya pada lengan Satria dan lengan kirinya pada lengan Alex. Dan menjatuhkan kepalanya di sisi bahu Satria.

“Shaaa! Menang banyak lo, Sha!” teriak Rara sambil mengarahkan telunjuknya bergantian pada kedua cowok matang yang mengapit tubuh ramping Danisha.

“Danisha, gitu loh!” sahut Danisha ikut berteriak.

“Sha, gue titip yang kotak-kotak, jangan sampe lepas!" Viona menjulurkan kepala keluar jendela mobilnya, ikut berteriak pada mereka.

Yang dimaksud Viona adalah Alex yang sedang tersenyum geli seraya membalas lambaian tangan Viona.

“Bereesss! Ntar gue kandangin!” sahut Danisha lagi.

Sekian detik kemudian, Honda Jazz abu-abu itu pun mundur perlahan keluar dari halaman rumah bercat putih abu-abu itu lalu meluncur ke jalanan dengan cepat.

Satria membalikkan badan hendak masuk ke dalam rumah menyusul Alex yang sudah lebih dulu menghilang ke dalam.

“Lepas, ah! Ribet. Gandengan mulu kayak nenek-nenek mau nyebrang,” protes Satria sebal seraya menepis pelan tangan Danisha yang masih menggamit mesra lengannya.

Gadis itu merengut kesal menatap wajah santai Satria.

“Abang nggak kasian sama ibu hamil ini?“ sungut Danisha seraya memanyunkan bibirnya.

“Nggak! Ayo masuk,”

“Hubby, gendoooong … ” pinta Danisha manja seraya merentangkan kedua lengannya di hadapan Satria yang sudah melangkah beberapa meter darinya.

“Ogah, ah! Berat. Kebanyakan dosa,” sahut Satria seenaknya seraya melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Danisha yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

“Huuh! Percuma punya badan kayak Deddy Corbuzier, ngangkat ibu hamil aja nggak mampu!” ejek Danisha, lalu melangkah masuk juga mengikuti Satria.

***

“Thanx ya, Lex. Lo udah bantu gue persiapkan rumah ini dalam waktu singkat. Lo emang hebat,” puji Satria pada sahabatnya ketika mereka sudah menempatkan diri di sofa ruang keluarga.

“Ah, itu udah tugas gue, Sat. Gue, kan asisten lo. Ya, gue pasti siapin apa pun keperluan lo, lah,” tutur Alex, kemudian menyesap minuman bersodanya.

“By the way, Anna gimana, Sat? Apa dia tau lo pindah rumah?“ tanya Alex seraya meletakan gelas bertangkainya ke atas meja yang membatasi duduknya dengan Satria.

“Gak, Lex. Dia jangan sampe tau. Dia taunya gue masih di rumah ibu,”

“Kalo dia nyari lo ke rumah ibu gimana?”

“Gue yakin ibu nggak akan ngasih tau, Apalagi ibu gue keliatan banget kurang suka sama dia cuma karena profesinya. Gue heran sama ibu yang selalu negatif thinking sama profesi Anna.”

“Ya, mungkin ibu lo punya pemikiran lain, Sat. Terus, hubungan lo sama Anna kayak gimana sekarang? Masih lanjut atau lo putusin?”

Sejenak Satria mengangkat wajahnya menatap Alex dengan sorot mata yang meredup.

“Masih lanjut, Lex. Rasanya gue nggak rela putus sama dia,” jawab Satria kemudian.

Alex menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban Satria yang menurutnya sangat mengherankan.

“Lo nggak mau lepasin Anna, sementara lo udah nikah sama Sha. Gimana sih?”

“Complicated-lah pokoknya. Yang pasti gue jalanin aja dulu, Lex.”

Satria meraup wajahnya kasar dan meremas rambutnya gemas pada dirinya sendiri.

Kesal pada dirinya yang merasa tidak bisa mempertahankan prinsip cintanya. Dan geram pada dirinya yang tidak sanggup menolak permintaan ayah angkatnya yang memang sangat berjasa besar dalam hidupnya selama ini.

“Coba seandainya gue nikahin Anna lebih dulu, mungkin gue udah happy sekarang dan nggak berada di situasi rumit ini,” lirihnya, kemudian menoleh pada Alex.

“Lo nggak boleh gitu, Sat. Ini udah jalan hidup lo yang harus lo jalanin. Optimis dong. Gue liat Danisha juga orangnya baik, asik lagi, rame kayak pasar malem,” ujar Alex menilai pribadi Danisha dengan tepat.

“Iya, gue juga heran sama bocah satu itu. Dengan keadaan dia sekarang kok masih bisa-bisanya ngakak sana sini kayak nggak punya beban hidup. Kalo cewek-cewek lain yang ngalamin masalah kayak dia mungkin ada yang gantung diri atau bersedia ngopi bareng Jessica, kali,” tutur Satria dengan dilingkupi rasa heran dalam benaknya.

“Hahaha! Mnum kopi sianida maksud lo?” Alex tertawa geli menanggapi ucapan Satria yang mulai tertular kegesrekan Danisha.

Satria mengangguk dan ikut tertawa renyah.

“Tapi lo emang kakak yang baik, Sat. Mau mengorbankan cinta lo ke Anna demi menjaga kehormatan keluarga angkat lo. Gue salut. Kalo gue di posisi lo mungkin gue udah kabur, kali,“ puji Alex untuk Satria yang membuang pandangannya ke lain arah.

Dengan sorot mata nanar, Satria membayangkan nasib percintaannya dengan Anna seperti apa selanjutnya nanti.

“Ya abis mau gimana lagi. Yang bisa gue lakukan sekarang cuma berdoa, semoga Allah kasih gue kekuatan untuk ngejalanin ini semua,” ucap Satria penuh kepasrahan.

“Amin, Pak Ustadz....”

Sementara itu di lantai dua.

‘Maapin Sha, ya Bang,’ gumam Danisha lirih seraya menatap punggung Satria dari sandaran tangga.

Dia mendengar semua pembicaraan kedua laki-laki yang duduk saling bersebrangan di sofa bawah sana. Hatinya terasa begitu miris mendengar apa yang Satria katakan.

Rasa bersalah yang membuncah tak dapat dia pungkiri lagi. Karena dia merasa dirinya menjadi sumber perusak masa depan kakak angkatnya yang kini berstatus suaminya.

***

Tok! Tok! Tok!

Danisha mendongak dan menoleh ke arah pintu kamar setelah terdengar suara ketukan dari sana.

Tampak Satria melongokkkan kepala seraya melemparkan cengiran kudanya pada Danisha yang sedang tertelungkup di atas ranjang dengan dua kaki yang terangkat dan menyilang.

“Boleh masuk?” ijin Satria basa basi tanpa melepaskan senyuman.

“Masuk aja, Bang. Kayak orang mau minta sumbangan aja masuk pake minta ijin segala,” sambut Danisha santai dengan suaranya yang melemah.

Gadis itu hanya menoleh sekilas pada Satria yang menghampiri tempatnya, lalu kembali mengalihkan pandangan pada Iphone digenggaman.

Satria geleng-geleng kepala saat melihat tumpukan baju-baju Danisha yang masih berserakan di lantai yang dilapisi dengan karpet tebal. Kemudian, kembali dia mengarahkan bola matanya pada Danisha dan menatap gadis itu gemas.

Gadis itu sama sekali tidak menggubris Satria, jarinya masih saja asyik menari-nari di atas layar gawainya.

“Sha, beresin nih baju-baju kamu. Cepetan!" perintah Satria akhirnya dengan nada suara meninggi.

Danisha menoleh sekilas pada Satria yang kini sudah berkacak pinggang dan melotot gemas padanya.

“Ntar ajalah, Bang. Sha cape banget, nih.” Cuma alasan Danisha, tanpa melepaskan kesibukan pada ponselnya.

Satria menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya dengan kesal. Menunggu Danisha menuruti perintahnya untuk bebenah, seperti menunggu pohon pisang berbuah semangka. Mustahil bin mustahal.

Akhirnya dia putuskan untuk turun tangan membereskan baju Danisha yang terhampar di depan matanya.

Satria memungut satu persatu baju yang sudah terlipat. Lalu disatukan ke dalam tumpukan dengan jenis yang sama. Dan membawanya ke dalam lemari di walk in closet yang terletak beberapa meter dari tempatnya dan disusun dengan rapi.

Begitu juga dengan gaun-gaun Danisha yang terbungkus kantong baju masing masing. Dia satukan dengan yang sejenis, lalu kembali dia deretkan di dalam lemari khusus untuk pakaian formal.

Danisha yang memperhatikan Satria bolak-balik membereskan baju-bajunya, hanya cengengesan seraya menutup mulut dengan Iphonenya.

“Malah cengar-cengir. Bantuin, kek!“ protes Satria dengan nada kesal melihat Danisha hanya berbaring terlentang santai sambil melempar senyum lebarnya tanpa dosa.

“Sha bantu doa aja deh, Bang. Untuk saat ini cuma itu yang Sha bisa,” jawab Danisha enteng tanpa peduli pada Satria yang semakin melebarkan kelopak matanya dan menarik kedua sudut bibirnya dengan gemas.

Kesal, Satria meraih satu celana dalam Danisha berwarna hitam motif polkadot yang tergeletak di dekatnya, lalu di remas-remasnya seperti bola.

Dan...

Celana dalam hitam itu mendarat tepat menutupi wajah Danisha.

“Baaang! Iihhh jahatnya kamu sama ibu hamil ini!” pekik Danisha setelah mengangkat celana dalam itu dari wajahnya.

“Bodo!” ketus Satria seraya membaringkan tubuh jangkungnya di lantai berkarpet, tepat di antara tumpukan-tumpukan pakaian dalam dan lingerie Danisha yang beraneka model dan warna.

Penat pun mulai menjalari seluruh persendiannya.

“Wuiiidihh, dia dapet posisi uenak. Nyaman bener hidupmu, Bang,” ledek Danisha seraya bangkit dari atas ranjang.

Satria hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan Danisha, lalu memejamkan mata sejenak meresapi dinginnya udara dari penyejuk ruangan yang melingkupi kamar itu.

Danisha pun ikut membaringkan diri di sebelah tubuh Satria. Pria itu hanya bergeming dan masih memejamkan mata.

“Bang....“ panggil Danisha pelan seraya menoleh pada wajah maskuline yang dekat di sampingnya.

“Hm....”

“Sha mau bilang makasih sama Abang.”

“Untuk?”

“Untuk pengorbanan Abang buat Sha.”

Satria membuka kelopak matanya perlahan, lalu menoleh pada Danisha di sisinya hingga pandangan mereka pun bertemu.

Satria mengukir senyum manis dan mengedipkan matanya satu kali untuk menjawab ucapan terima kasih Danisha.

Danisha ikut menyungging senyum pada pria pemilik hidung tegak dan bentuk rahang yang kokoh disertai lesung pipi di kedua sisinya itu.

Satria menatap wajah mungil Danisha lekat, lalu lebih mendekat dan kian mendekat. Dia melirik bibir tipis Danisha yang sedikit terbuka. Hatinya pun bergemuruh karena tiba-tiba saja ada rasa tak menentu di sana.

Begitupun Danisha saat menyadari tatapan mata Satria yang mengarah pada bibirnya. Hatinya pun sangat kacau seperti ketika meletusnya balon hijau.

Jantungnya berdegub kencang, darahnya berdesir cepat, terlebih ketika bibir Satria yang nyaris menempel di bibirnya. Dia pejamkan sepasang kelopak matanya, merasakan embusan hangat nafas Satria yang beraroma mint yang menerpa kulit wajahnya.

‘Waduh, kejadian deh nih kayaknya gue dicium abang gue. Haduuhh, incess nggak yah? Bismillah, mudah-mudahan cuma Inces Syahrini aja yang dijulukin Inces. Gue enggak,’ ucapnya dalam hatinya yang kini tengah meletup -letup dahsyat.

Danisha menghitung detik demi detik, tapi benda kenyal empuk itu tak kunjung mendarat di bibirnya.

Perlahan dia angkat lagi kelopak matanya. Tetapi, justru mendapati Satria tengah mengangkat sebuah bra warna merah fanta miliknya dan mengamati benda feminis itu dengan seksama. Danisha pun terbelalak dan menganga melihatnya.

“Buset cup-nya gede amat. Ukuran berapa, nih? Harganya mahal banget sih cuma untuk kain segini kecil,” ujar Satria terheran, seraya mengamati price tag yang masih tergantung di ujung tali bra itu.

“Bang Saaattt! Bikin malu Sha aja!“ omel Danisha spontan seraya bangkit dari rebahannya dan mendaratkan cubitan gemas ke lengan Satria.

Pria itu gelagapan menangkap tangan Danisha yang siap mendaratkan cubitannya berkali-kali di sekujur tubuhnya.

“Idiiihh! Emangnya aku bikin malu kenapa?“ protes Satria tergelak geli karena Danisha beberapa kali mencubit pinggangnya.

“Tau, ah!” rajuk Danisha seraya membuang wajah ke arah lain, menutupi semu merah di kedua pipinya agar tidak terlihat oleh Satria yang masih cengengesan menatapnya.

“Malu karena bra kamu yang segede gaban ini? Atau karena gak jadi cipokan?” tanya Satria menggoda Danisha yang masih mengerucutkan bibirnya.

“Udah, ah, jangan bikin Sha kesel mulu. Ntar anak Sha mirip Abang, lagi,“ ketus Danisha dengan memasang raut judesnya.

“Ya bagus, dong kalo mirip aku. Aku, kan tampan mempesona dengan wajah dingin dan datar persis CEO-CEO di novel-novel gitu,” jawab Satria sekenanya masih di sela-sela tawanya.

“Hadeeeeh! Halu Abang ketinggian. Mana ada CEO mukanya dingin dan datar. Emangnya kulkas?” sahut Danisha seraya memutar bola matanya.

Ponsel milik Satria di dalam saku samping celananya bergetar. Lekas Satria meraih gawai tersebut, lalu dia melihat sekilas pada layar yang menampilkan wajah cantik Anna.

Danisha pun berusaha untuk melihat penampakan itu dengan rasa penasaran. Namun tidak jelas tertangkap oleh netranya karena Satria lekas menghalanginya.

“Halo, Sayang....” jawab Satria mesra setelah menggeser logo terima panggilan.

“Mas, aku kangen,“ sahut suara manja dari seberang telepon.

“Iya sama, aku juga kangen. Kamu udah makan siang?”

Danisha yang memperhatikan mimik wajah Satria yang begitu sumringah dengan bola mata berbinar-binar segera mengambil posisi tepat di samping tubuh Satria yang masih merebahkan diri.

‘Ini saatnya gue bales lo karena PHP-in cipokan tadi.’ Ide jahil Danisha seketika muncul dari otak bisulannya.

“Belum, Mas. Nanti pas break aja, sebentar lagi.”

Satria hanya membulatkan bibirnya.

“Mas, lagi apa? Sibuk, ya?“ Suara Anna menyapa lagi.

“Ini aku lagi ….”

“Oooh! Mas! Aahhhh! Sssssh! Pelan-pelan dong, Mas. Ooohhhh!”

Tiba-tiba Danisha membelah percakapan Satria dan Anna dengan mendesah-desah di ceruk leher Satria, dekat dengan gawai yang masih menempel di telinga Satria.

Satria tersentak kaget menoleh ke arah Danisha yang menggeliat-geliat seduktif ke tubuhnya, seraya memelet-meletkan lidah seperti kadal lapar ke wajah Satria.

“Ehhh, Sha? Wah, kacau nih anak!” Satria sontak bangkit dari rebahannya dan mendorong jidat Danisha dengan telunjuknya.

“Heh! Siapa itu, Mas? Kamu lagi ngapain? Itu suara cewek, kan?” cecar suara Anna sengit.

Seketika emosinya memuncak karena menangkap jelas suara desahan-desahan Danisha di saluran telepon Satria.

“Aaah! Mas Satriaku sayang.... Asshhh! Aahhhh! Ohhhh! Yes, dorong, Mas.” Lagi-lagi Danisha mendekatkan bibirnya ke gawai yang masih menempel di telinga Satria.

“Ehhh, Anna. Ini … Si …” Satria terbata-bata seraya melotot geram pada Danisha yang semakin gencar menggodanya.

“Siapa? Kamu lagi ML, ya? Buaya kamu, Mas! Sama aku nggak mau, tapi sama cewek lain kamu mau!”

“Ann … Ann … Bukan, ini aku lagi nonton drama Korea. Itu suaranya Miyabi. Beneran....” dusta Satria dengan raut sangat panik.

Kemudian lelaki itu bergegas bangkit dari duduknya dan berusaha menjauh dari Danisha yang terus saja berusaha menempelkan tubuhnya seraya mengeluarkan desahan dan lenguhan yang dibuat-buat sedemikian panasnya.

“Miyabi? Sejak kapan Miyabi main di drakor. Dia, kan artis bokep, Mas!” seru Anna melengking di ujung sambungan.

“Aaahh, iya. Aku lagi nonton bokep. Ini … ” jawab Satria gugup, lalu mencubit pipi Danisha dan memelintirnya dengan geram, membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Ahhhh, sakitttt, Mas Satria! Aku masih perawan, Mas. Sakiiittt! Pelan pelan, dong, Mas! Aaahhhh.....” pekik Danisha masih disertai suara desahannya. Padahal sakit yang dirasakannya benar-benar nyata, sehingga pipinya terasa panas dan memerah.

“Hah?Miyabi kok nyebut-nyebut nama kamu? Dan masih perawan? Dasar, Tukang bohong! Buaya darat!”

“Ann... Ann. Bukan. Ini si mie yamin____”

Klik....

Sambungan telepon seketika terputus, sudah pasti Anna yang mengakhiri.

Satria melempar kasar gawainya ke atas ranjang. Lalu melotot geram pada Danisha yang meringis kesakitan di sampingnya seraya mengelus-ngelus pipinya yang tampak memerah karena jepitan jari Satria.

“Kamu puas, Miyabi?!” ketus Satria geram pada Danisha dengan gigi-gigi rapinya yang menggeretuk ketat seolah-olah akan mencabik-cabik tubuh Danisha. Namun gadis itu hanya terkekeh-kekeh tanpa rasa bersalah.

“Ya elaaah! Becanda, Bang. Segitu esmosinya....”

“Parah kamu, nih! Untung aja cuma sampe sembilan bulan aku jadi suami kamu. Kalo selamanya, aku bisa ketularan gila, Sha!” umpat Satria seraya berlalu dari hadapan Danisha dengan hati dongkol dan geram.

“Jiaaah! Hahaha! Dia marah, pemirsa!” ledek Danisha menunjuk punggung Satria yang hendak memasuki kamar sebelah melalui pintu konekting.

“Abang Cakeeep, nih handphonenya ketinggalan, Sayang,” panggil Danisha masih dengan nada menggoda menunjuk gawai Satria yang tergeletak di atas ranjangnya.

“Oh iya, lupa.....” Satria berbalik kembali, lalu menghampiri gawainya di atas ranjang dan meraihnya kasar.

Dengan bola mata yang masih melotot geram pada Danisha, dia kembali menuju kamarnya dan membanting pintu itu dengan keras.

Dasar tak berperikesatriaan, Danisha malah terkekeh-kekeh menyaksikan kemarahan Satria lantaran kelakuan jahilnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel