Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Excited

Berjalan dengan langkah ringan, sesekali bersiul menggoda para perawat yang menyapanya. Darren memang terkenal ramah, sekaligus populer di kalangan para perawat dan dokter wanita di rumah sakit itu. Sikapnya yang ramah kepada siapa pun itu justru membuat Darren dicap sebagai Dokter kesayangan. Bukan hanya berparas tampan, namun sisi lembut dan sopan ketika berbicara kepada orang lain seakan menambah kesan plus. Belum lagi dia begitu royal kepada teman-temannya.

"Selamat pagi, Dok. Tugas pagikah?"

"Yups! Betul sekali. Suster Eni juga?"

"Saya tugas malam. Sekarang mau pulang, Dok."

Darren mengangguk-angguk paham. "Kalau begitu hati-hati di jalan. Oh, ya, langitnya mendung."

"Mendung, Dok?"

"Iya, mendung. Tapi, mendung belum berarti hujan."

Suster Eni tertawa kecil. "Dokter bisa aja. Menurut saya kalau mendung pasti nanti turun hujan."

"Tenang, anggap saja saya pawang hujan," gombal Darren, "kalau jadi pawang hatinya Suster Eni boleh tidak, ya?"

"Ha ha ha. Menjadi pawang gajah saja, Dok. Lebih dibutuhkan."

Darren tertawa hambar mendengarnya.

"Atau jadi pawang buaya saja, Dok."

"Berarti saya mirip buaya dong, Sus?"

"Eh, bukan, ya?" Suster Eni memasang ekspresi wajah berpura-pura kaget.

Darren melirik jendela kaca di sampingnya, melihat dari pantulan kaca di depannya ini Darren merasa tidak mirip buaya sama sekali. Penampilannya justru memancarkan aura penuh pesona, senyumannya manis, dan matanya yang tampak berbinar-binar.

Buaya dari Hongkong? Gue cakep kayak pangeran lho ini!

"Suster, saya duluan, ya. Pasien sudah banyak yang menanti."

"Oke, Dok. Semangat kerja, ya, Dok."

Darren tersenyum lebar. Tentu saja dia harus semangat bekerja. Itu karena dia akan menyambut kedatangan seseorang.

"Hei, Dar!"

Darren membalas seruan temannya dengan lambaian tangan. Melihat Aden dengan tas di punggungnya, sepertinya laki-laki itu akan pulang.

"Tugas malam?"

Aden mengangguk. "Ngantuk parah nih. Semalam IGD rame banget."

"Ada pasien operasi berapa?"

"Mana gue tau. Dari IGD tadi sih nggak ada tanda-tanda pasien yang mau operasi. Kecuali ada rujukan dari dokter ruangan."

"Oh, lo mau pulang?"

"Maunya sih langsung pulang."

"Lah, terus?"

"Gue harus mampir dulu ke supermarket, titipan adik kesayangan."

"Oh, ya, udah. Balik sana."

"Eits, jangan ngusir juga dong." Aden tersenyum lebar, dia mendekatkan kepalanya. "Tadi gue ngobrol sebentar sama dokter baru."

Satu alis Darren terangkat. "Ya, terus?"

"Gila, Dar. Cakep banget, suaranya lembut, senyumannya manis, gue deketin lagi, eh, harumnya nggak ketulungan."

"Nggak gitu juga kali, Den. Yang ada dia ilfeel sama lo."

"Dia ramah kok, baik banget."

"Terserah deh."

Aden menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gini nih, kalau playboy nggak bisa move on."

"Apaan?"

"Mau sampai kapan lo keinget sama mantan lo itu? Udah lama juga, tiga tahunan kalau nggak salah. Ayolah, cari yang baru."

"Sok tau lo."

"Dicoba aja dulu sama dokter baru itu. Orangnya enak kok."

"Gampang itu mah."

"Ya, udah. Gue pulang dulu. Kerja yang bener. Oh, ya, Dar. Tadi gue ketemu sama asisten Dokter Julian. Katanya kalau lo udah datang disuruh langsung ke ruangan Dokter Julian."

"Mau ngapain?"

"Entah. Lo buat salah kali. Makanya hati-hati, Dar. Dokter Julian bukan sembarang orang, kalau lo macem-macem lo bisa dipecat. Dia punya kuasa buat pecat lo."

"Jangan buat gue takut, Den. Kebiasaan banget."

"Gue balik ya."

"Yo'i."

-0-

"Permisi, Dok."

Darren melongokkan kepalanya. Namun, hanya ruangan kosong yang dia dapati.

"Masuk, Dar. Maaf, habis cuci tangan di kamar mandi."

Darren menganggukkan kepalanya. Dia lantas mengikuti langkah Julian menuju sofa.

"Baru datang?" tanya Julian memulai percakapan.

"Iya."

"Kenapa? Kok kamu kelihatan lesu begitu?"

"Masa sih, Dok? Perasaan nggak deh. Hari ini justru lagi semangat."

"Kelihatan gitu dari wajah kamu."

"Mungkin kelihatan ngantuk, ya, Dok?"

"Lah, memangnya kamu semalam nggak tidur?"

"Tidur, Dok. Tapi kemarin malam nggak bisa tidur."

Julian membagi kopinya untuk Darren. "Udah sarapan belum? Minum dulu kalau gitu, supaya lebih segar."

"Terima kasih, Dok."

"Lanjut, kemarin malam kenapa nggak bisa tidur?" tanya Julian lagi yang ternyata masih penasaran.

"Ada ponakan, Dok. Maunya main terus, padahal udah malam."

"Oh, Zayyan, ya?"

"Iya."

"Tidur di rumah?"

"Kebetulan kemarin malam lagi libur. Jadi, Zayyan dibawa Karren. Sengaja gitulah."

"Zayyan memang dekat sama kamu. Kelihatan kok, bawaannya betah kalau main sama kamu."

"Keenakan papa dan mamanya, Dok."

"Panggil Om aja, kayak biasa." Julian tertawa kecil. "Ngomong-ngomong kamu sudah jenguk oma?"

Darren mengangguk.

"Oma kamu itu sering nanyain kamu. Om paham kok, kamu kan cucu kesayangan oma."

Kesayangan? Darren tertawa terbahak-bahak. "Jangan berlebihan, Om. Aku tuh cucu oma yang paling nakal."

Julian mengangguk. "Tapi, oma paling sayang sama kamu. Meskipun setiap liat kamu beliau sering marah-marah, sebenarnya dia sayang sama kamu."

"Aku bukan Karren yang pintar cari perhatian, aku juga bukan Mas Farren yang jadi cucu kebanggaan oma. Asal Om tau, aku yang paling sering dijewer oma. Kata oma, aku satu-satunya cucu yang susah diatur."

"Tapi, kamu mirip banget sama opa. Begitu kata oma, makanya oma sayang banget sama kamu."

Darren kembali tertawa. "Jadi, maksudnya Dokter Julian memanggil saya ke sini adalah untuk membahas masalah oma?"

Julian ikut tertawa. "Saya manggil kamu bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai paman dan keponakan."

Darren terbahak. Julian memang bisa menghiburnya. "Iya, deh, Om."

"Pulang ke rumah oma. Kasian beliau."

"Iya, nanti."

"Jangan sampai lupa apalagi kabur."

"Eits, kabur itu bukan cara aku."

Julian tertawa mengejek. "Oh, ya? Bukannya dulu kamu pernah kabur dari rumah?"

"Yang lalu, biarlah berlalu, Om. Lagi pula aku sekarang ini sering pulang ke rumah kok."

"Seminggu sekali? Itu pun kalau Karren datang bawa Zayyan, iya, kan?"

Darren meringis pelan. Sebenarnya dia tetap malas untuk kembali ke rumah, namun berhubung dia sudah baikan dengan ibunya, jadi mau tak mau Darren harus sesering mungkin pulang dan menginap di rumah. Alasan lainnya adalah karena Zayyan, keponakannya yang lucu itulah yang membuat Darren ingin tinggal di rumah. Biasanya Karren sengaja membawa Zayyan menginap di rumah ketika hari libur.

"Oh, ya. Kita kedatangan dokter baru. Dulu dia pernah kerja di sini, beberapa tahun yang lalu. Om juga lupa tepatnya berapa tahun."

Darren menatap Julian dengan perasaan gugup. "Kalau boleh tau, alasan dia balik ke sini lagi karena apa?"

"Om sih, kurang tau. Tapi, dia bilang karena rumah sakit ini yang berakreditasi lebih baik dari rumah sakit lainnya. Kebetulan juga papanya itu teman Om, teman papa kamu juga. Jadi, beliau menitipkan anaknya sama Om."

Darren mengangguk-angguk paham. "Alasan dulu dia keluar karena apa?"

"Om lupa. Nggak tanya juga. Oh, ya, kalau tidak salah dulunya kalian satu almamater, meskipun beda angkatan."

"Oh, ya?"

"Dia masih muda lho. Mungkin beda beberapa tahun dari kamu."

"Hari ini dia sudah mulai kerja, Om?"

"Sudah. Tadi Om sempat ngobrol sama dia. Mau kenalan? Nanti Om antar sekalian karena Om masih ada keperluan sama dia."

Darren menganggukkan kepalanya mantap. "Boleh, Om. Lagian apa salahnya kenalan. Siapa tau nantinya kami jadi akrab." Darren tersenyum amat lebar.

"Mau sekarang atau nanti? Selagi Om belum ada kesibukan nih."

"Sekarang boleh."

"Oke."

"Okay."

Darren memandang keluar jendela. Meskipun dia merasa gugup, namun Darren tak munafik kalau dia juga merasa senang. Yang lebih membuatnya penasaran adalah bagaimana reaksi perempuan itu ketika melihatnya nanti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel