Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Energi yang hilang

Pada malam hari.

Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan ICU.

Dua puluh menit kemudian dokter keluar dari dalam ruangan.

“Keluarga Bapak Dirga!”

Arimbi berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain. Bapak Dirga dan Ibu Sukma telah meninggal dunia. Saya turut berduka cita,” ujarnya.

Arimbi tidak menjawab sepatah kata pun. Dia kembali berjalan dan duduk di kursi ruang tunggu.

Arimbi sudah tahu semuanya sejak Abdul duduk di sampingnya beberapa waktu yang lalu. Dia tahu tidak lama akan mendengar kabar ini.

Dua jam kemudian, Bi Inem datang.

“Neng? Bagaimana kondisi Bapak dan Ibu? Neng makan dulu ya, ini Bibi bawakan makanan,” tawarnya.

“Bapak dan Ibu sudah meninggal.”

Bi Inem langsung menangis tersedu-sedu. Dia memeluk bahu Arimbi.

“Sabar ya, Neng, sabar,” tuturnya sambil menyeka pipinya sendiri.

Arimbi tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Bi Inem terus menangis sambil memeluknya.

Lima belas menit kemudian Bi Inem baru melepaskan pelukannya.

“Neng, biar Bibi di sini, Neng Arimbi pulang ke rumah dulu saja. Apa perlu aku panggil Mang Kohar supaya dia jemput aku nanti? Sama kasih kabar ke Den Abdul.”

“Sebentar lagi jenazahnya dikirim ke rumah. Aku ikut mobil jenazah saja biar nggak repot.”

Bi Inem menelan ludahnya sendiri menyaksikan ekspresi datarnya. Dia dengar dari Abdul ketika anak itu pulang tadi, ayah dan ibunya terluka di kepala. Pikirnya mungkin Arimbi akan merasa takut atau sedih ketika harus tinggal di rumah sakit seorang diri.

“Neng Arimbi benaran nggak mau naik taksi atau biar dijemput Abdul?”

Arimbi tidak menjawab, Bi Inem menyentuh bahunya.

“Kalau begitu Bibi telepon Mang Kohar saja, biar dia jemput Bibi pulang.”

***

Pada keesokan harinya.

Banyak tetangga yang datang melayat.

Abdullah menangis terisak-isak di sudut ditemani Mang Kohar.

Arimbi duduk di samping jenazah Bu Sukma dan Pak Dirga.

Arman datang, dia masuk ke dalam lalu duduk di samping Arimbi.

“Aku turut berduka cita,” ujarnya dengan rasa bersalah.

Arimbi hanya diam.

Air mata Arman menetes dari kedua matanya, dia tidak berani menatap Arimbi di sampingnya.

Arman menyalahkan dirinya sendiri dan merasa menyesal dengan kata-kata pembalasan yang pernah dia ucapkan dalam hati karena penolakan Pak Dirga dan Bu Sukma atas lamarannya kemarin.

“Aku minta maaf, Arimbi. Mungkin ini salahku karena aku nggak ikhlas gara-gara ditolak sama Bapak dan Ibumu. Bahkan dalam hati aku bersumpah untuk membalas mereka...” akunya.

Arimbi menghela napas.

“Bukan salahmu, sudah takdirnya Ibu dan Bapak meninggal.”

Arman menoleh untuk melihat ekspresinya dari dekat.

Di balik kerudung hitam longgar yang menutupi kepala Arimbi. Wajah itu terlihat dingin, datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Bahkan tidak terlihat kehilangan atau sedih setelah kematian kedua orang tuanya.

Arman sampai tidak tahu harus bagaimana bersikap.

“Tetap saja aku minta maaf, aku merasa bersalah padamu. Kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan khawatir.

Arimbi menoleh membalas tatapan matanya.

“Seperti yang kamu lihat.”

“Arimbi, kalau kamu setuju mulai detik ini aku bersedia menjaga di dekat kamu. Ki-kita juga bisa menikah.”

Arimbi mengangkat sudut bibirnya.

“Menikah?”

“Ya, kita bisa menikah.”

“Apa pantas kamu berkata begini setelah Bapak dan Ibuku baru saja meninggal?”

“Setidaknya kamu tidak menolakku, kan? Kita sudah lama dekat, sudah bertahun-tahun kita-”

“Arman, kamu berhalusinasi. Sudah waktunya untuk... bangun.”

Arman terdiam seketika. Dia tidak ingat lagi tentang pertemuan mereka dua bulan yang lalu. Dia hanya ingat kalau Arimbi adalah satu-satunya wanita yang ingin dia nikahi sejak saat itu.

Arman merasa sangat dekat dan merasa sudah bertahun-tahun mengenalnya.

Saat dia mengejar Arimbi dengan mengajaknya menikah dia tidak mendengar suara apa pun di sekitar. Arman hanya mendengar suaranya sendiri dan keberadaan Arimbi di sampingnya.

Dia baru sadar kalau dirinya sejak tadi berada di tengah-tengah ruangan bersama orang-orang yang sedang melantunkan ayat-ayat suci. Suara mereka menggema memenuhi segala penjuru.

Kenapa setiap berada di samping Arimbi aku selalu merasa kehilangan kesadaranku? Seolah-olah duniaku berhenti dan menjadi dunia milik Arimbi. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?

“Arimbi, sebenarnya apa yang kamu lakukan padaku?”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kenapa aku selalu tenggelam ke dalam duniamu. Rasanya asing tapi nyata kalau kita-”

Tiba-tiba Mang Kohar menyentuh bahunya.

“Nak Arman?”

Arman menoleh sebentar lalu kembali menatap ke arah Arimbi.

“Arimbi, aku-”

Arimbi sudah tidak ada.

“Di mana Arimbi, Mang?”

“Neng Arimbi? Ke pemakaman ikut orang-orang pergi barusan. Aku ke sini juga mau bertanya sama kamu. Sejak tadi malah duduk sendirian di sini melamun.”

“Aku sendirian? Aku dari tadi cuma melamun, Mang? Jelas-jelas tadi-”

“Sudah, kamu mau ikut apa tidak? Kalau mau ikut, ayo lekas!” ajak Mang Kohar.

Arman pikir dunianya selama ini sudah begitu gelap tapi dia melihat dunia yang lebih gelap lagi dari dunianya sendiri yaitu dunia milik Arimbi.

Setiap dia melangkah mendekat jarak antara mereka berdua selalu terasa sangat jauh bahkan lebih jauh dari sebelumnya.

Arman berjalan di samping Mang Kohar menuju ke area pemakaman.

“Mang, sebenarnya apa alasan Pak Dirga menolak lamaranku?” tanyanya memecah keheningan antara mereka berdua.

“Kok tanya sama aku, mana aku tahu.”

Arman memutuskan untuk bertanya hal lain.

“Arimbi itu bagaimana orangnya, Mang?”

“Aku kurang tahu, dia jarang bicara.”

“Mang Kohar sudah lama kerja di rumah Pak Dirga pasti tahu.”

“Sebenarnya keluarga Pak Dirga juga baru pindah ke sini selama beberapa tahun. Mereka bukan berasal dari sini.”

“Dua bulan lalu Nenek bilang Arimbi datang ke rumah kami, tapi aku selalu merasa jauh sebelum itu kami sudah saling mengenal satu sama lain. Kami sangat dekat dan karena itulah aku datang melamar.”

Mang Kohar tiba-tiba berhenti.

“Ada apa, Mang? Area pemakaman masih jauh.”

“Arman, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Sebaiknya kamu tanya ke orang pintar,” saran Mang Kohar.

“Orang pintar? Apa maksudnya, Mang?”

“Em, di barat desa ini. Kamu tahu kediaman H. Yusuf?”

“Tahu, Mang.”

“Pergilah ke sana, coba kamu tanyakan sama beliau. Aku lihat wajahmu pucat sekali sejak beberapa hari lalu. Ada sesuatu yang aneh, tapi aku sendiri tidak tahu. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.”

Arman mengangguk, dalam hatinya dia berkata,

“Aku sendiri dukun masa harus pergi ke dukun lagi.”

Sampai di area pemakaman. Arman bergegas mendekati Arimbi, dia berdiri tepat di sampingnya.

Mang Kohar baru saja ingin menasihatinya untuk tidak terus-menerus berada di sekitar Arimbi. Ada alasan tidak masuk akal yang pernah dia rasakan sendiri. Setiap Mang Kohar berbicara atau sekedar mendekat untuk menyampaikan sesuatu, Mang Kohar selalu merasakan hawa dingin aneh. Ada energi di sekitar Arimbi yang bergerak dan tanpa dia sadari menguras energi dari tubuhnya.

Terlalu lama di sampingnya terkadang membuatnya bingung, lupa, dan asing.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel