Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Rumah sakit

Hari ini adalah pertemuan kedua Arman dengan Arimbi setelah dua bulan lalu. Semua kata-kata Arman bahwa mereka berdua sudah mengenal cukup lama hanya pikiran Arman sendiri. Mereka tidak pernah dekat, mereka juga tidak bertemu setiap hari.

Abdullah sudah menyisir jalan di desa, dia bertemu dengan orang di jalan. Abdul menghentikan mobilnya lalu menurunkan kaca mobil untuk bertanya.

“Pak, numpang nanya,”

“Ya, Dik?”

“Rumah Arman di mana ya?”

Orang yang ditanya langsung mengerutkan keningnya. Sejak dulu yang berkunjung ke rumah Arman hanya wanita dan gadis. Tidak pernah ada lawan jenis yang datang mencarinya.

“Tumben laki-laki yang nyari, apa suami orang lagi mau mengamuk karena istrinya kepincut sama Arman.”

Pria tersebut menatap penampilan Abdul lalu menepis pemikirannya barusan.

“Adik mau mencari siapa?”

“Aku, ya... nyari Arman, Pak.”

“Oh, mau ikut nyari pesugihan? Acara ritualnya sudah ditutup dua bulan yang lalu, Dik.”

“Bukan, Pak. Aku mau melayat.”

“Oh, iya, lupa aku kalau Nenek Darmi baru saja meninggal dunia. Dari sini Adik lurus saja lalu belok kiri. Nanti di depan sana ada ramai-ramai, rumahnya ada di samping gang paling ujung,” jelasnya pada Abdul.

“Iya, Pak, terima kasih.”

“Iya, Dik, sama-sama.”

Abdul mengikuti jalan yang ditunjukkan tadi tapi dia tidak menemukan Arimbi. Abdul memutuskan untuk terus menunggu. Dia tidak sadar dan ketiduran di dalam mobil. Ketika hari mulai gelap, Abdul baru terjaga dari tidurnya.

“Mbak Arimbi pergi ke mana sih? Apa mungkin masih di dalam rumah Arman?”

Tidak lama kemudian, Abdul mendengar kaca jendelanya diketuk dari samping.

Abdul buru-buru menurunkan kaca jendela samping. Dilihatnya Arman berdiri di samping mobilnya.

“Mas,”

“Kamu siapa? Kenapa parkir di jalan sempit?”

Abdul segera turun dari dalam mobil lalu mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri pada Arman.

“Perkenalkan, namaku Abdullah, Mas.”

“Kapan kamu datang? Apa kamu kenal sama aku?” tanya Arman dengan tatapan mata curiga. Dia sering bertemu momen seperti ini. Pikirnya Abdul adalah salah satu pacar pelanggannya.

“Ya, kenal. Mas Arman, kan?”

“Ya, maksudku apa kita pernah bertemu?”

“Tidak pernah.”

“Terus?”

“Aku cuma merasa akrab dengan suara Mas Arman.”

“Suaraku?”

“Ya, kemarin Mas datang ke rumah mau melamar Mbak Rimbi,” jelasnya.

“Kamu siapa?” Arman memicingkan mata.

“Sepupunya atau... pacarnya?” Dia menatap Abdul dengan tidak berkedip.

Apa alasan Arimbi nggak mau ketemu aku karena suka sama berondong ingusan ini? Apa jangan-jangan dia juga pakai ilmu sihir? Karena tidak ingin kalah saingan denganku dia memintaku berhenti?

“Bukan, Mas. Aku adik kandungnya.”

“Oh.” Rasa lega di dalam hati Arman.

“Malam-malam ke sini, ada apa?”

“Aku nyari Mbak Arimbi, pagi-pagi dia bilang mau pergi melayat. Ibu memintaku ngantar dia ke sini, tapi pas aku susul ke sini aku sama sekali nggak ketemu sama dia. Sebenarnya dia pergi ke mana, ya?”

Arman baru ingat, pagi tadi dia memang bertemu dengannya.

“Sudah pergi.”

“Mas tahu dia pergi ke mana?”

Arman menggelengkan kepala.

“Sudah malam, lebih baik kamu pulang.”

“Iya, mas. Kalau begitu aku pamit pulang dulu,”

“Tu-tunggu sebentar,” cegahnya.

Abdul yang terlanjur membuka pintu mobil kembali mengurungkan niatnya.

“Ada apa, Mas?”

“Sebenarnya apa alasan Arimbi menolak lamaranku?”

Abdul menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Baru sekali bertemu dengan Mbakku langsung melamar, ya jelas kamu ditolak to! Piye to Mas Arman ini?

Kata-kata itu langsung ditelannya kembali.

“Aku nggak tahu, Mas.”

“Apa Arimbi dekat dengan pria lain?” lanjut Arman dengan tatapan mata emosi.

Abdul langsung menggeleng cepat. “Mbak Arimbi ndak pernah dekat sama siapa-siapa. Nggak perlu curiga, kalau gagal kan bisa coba lagi?” kelakar Abdul dengan senyum dipaksakan.

Arman ikut memaksakan bibirnya untuk tersenyum.

“Setelah Nenekku meninggal, tentu saja aku tidak akan membiarkannya kabur.”

“Ka-kabur? Mbak Rimbi mau kabur? Serius!?”

“Kabur dariku.”

Abdul manggut-manggut. Karena tidak ada yang ingin dia tanyakan dia segera masuk ke dalam mobil lalu menekan klakson sambil menundukkan kepalanya sebagai isyarat kesopanan.

“Kata orang-orang Mas Arman dukun pesugihan, tapi kenapa rumahnya malah gubuk biasa? Bukan rumah gedongan?”

***

Ketika tiba di rumah, Abdullah tidak melihat mobil ayahnya di luar.

“Bapak pergi?” tanyanya seraya turun dari dalam mobil.

“Iya, Den. Sore tadi keluar sama Ibu.”

“Terus, Mbak Rimbi? Sudah pulang?”

“Siang tadi pulang.”

Abdullah berjalan dengan hati-hati mendekati pintu kamar Arimbi. Dia mengetuk daun pintu sambil menempelkan daun telinganya di pintu.

“Mbak? Mbak Rimbi?”

Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

Abdul memutar gagang pintu.

Dari belakang punggungnya Bi Inem berlari mendekatinya.

“Den, Den Abdul! Bapak sama Ibu, Den,” ujarnya sambil menangis tersedu-sedu.

“Bapak dan Ibu kenapa, Bi?”

Arimbi mendengar keributan dari luar kamarnya segera keluar.

“Ibu dan Bapak mereka... Mengalami kecelakaan,”

“Bi Inem yakin?” tanyanya untuk memastikan.

“Iya, Neng. Barusan ada telepon dari kantor polisi, mobil Bapak dan Ibu menabrak pohon besar di jalan tengah hutan.”

“Mbak, kita harus pergi ke rumah sakit!” Abdul bergegas mengambil jaket lalu pergi menyiapkan mobil.

Arimbi yang tadi dia lihat masih berdiri di beranda sudah tidak ada.

“Mbak Rimbi?! Mbaak!” tidak ada yang menyahut panggilannya.

Mang Kohar yang tadi tidur di ruangan pos jaga langsung bangun.

“Den Abdul? Mau ke mana?”

“Aku mau ke rumah sakit, Mang! Aku buru-buru, kalau Mbak Rimbi masih di dalam nanti Mang Kohar antar nyusul ke sana.”

“Iya, Den,”

***

Dua jam perjalanan Abdullah baru tiba di rumah sakit.

Dia melihat Arimbi sudah duduk di kursi ruang tunggu. Diam tak bergeming seperti patung bisu.

“Bagaimana kondisi Bapak dan Ibu?”

“Kritis.”

“Mbak naik apa ke sini? Bisa cepat banget sampainya.”

Arimbi hanya melipat kedua tangannya.

Abdul cemberut, dia merasa kesal dengan sikap dingin Arimbi dan cenderung selalu menjaga jarak darinya.

“Mbak, ada beberapa hal yang selalu ingin aku tanyakan.”

Abdul menunggu Arimbi menyahut tapi tidak ada komentar sama sekali jadi dia kembali melanjutkan pertanyaannya.

“Sebenarnya aku ini adik kandungmu apa bukan sih? Sejak aku bisa mengingat Mbak Rimbi nggak pernah bicara banyak sama aku. Bahkan selalu menjaga jarak. Dari sekian banyak keluarga cuma kita yang selalu berjauhan. Mbak Rimbi nggak pernah makan bareng di ruang makan. Mbak Rimbi juga nggak pernah bicara kalau nggak ditanya.”

Abdul menarik napas panjang dan berniat menanyakan hal lain. Tapi lagi-lagi kosong, tidak ada seorang pun yang duduk di sampingnya. Hanya udara dingin yang tersisa. Abdul mengusap tengkuknya yang meremang.

“Ke mana Mbak Rimbi? Setiap kali selalu begini. Ada lalu tidak ada. Aku bahkan nggak dengar dia jalan kaki atau terbang...”

Abdul beringsut dan dia terkejut ketika menoleh ke samping kanan. Dia melihat Arimbi malah duduk di sana.

“Astaga! Ya Alloh, Mbak!”

“Ada apa?”

“Mbak tadi duduk di kiri kok tiba-tiba pindah ke kanan?” protesnya. “Kaget aku, hampir kena serangan jantung, tahu?!” Abdul mengelus dadanya sendiri.

“Kamu pulang saja, aku akan tinggal di sini.”

“Yakin?”

“Hm.”

“Nanti aku minta Bibi Inem ngantar makanan.”

“Nggak usah.”

“Mbak belum makan, to? Perutku saja sudah teriak-teriak ini.”

“Aku nggak lapar.”

Abdul sudah membuka bibir ingin bicara lagi tapi Arimbi menoleh sambil menatapnya dengan tidak berkedip. Abdul mengangguk dan tidak bicara. Aura dingin dari sinar matanya membuat Abdul mengigil.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel