6. Jiwa bergentayangan
Setelah semua orang pergi dari area pemakaman.
Arman masih menemani berdiri di sampingnya.
“Kamu seharusnya menuruti kata-kata Nenekmu.”
Arman menoleh dengan tatapan bingung.
“Apa maksudmu?”
“Bukankah Nenekmu sudah berpesan padamu, apa kamu lupa?”
“Apa yang dikatakan Nenek padaku bagaimana kamu bisa mengetahuinya?”
Hening.
Arimbi menaburkan bunga di atas tanah basah makam Bu Sukma.
Arman ikut membantu.
“Terkadang aku selalu merasa kamu aneh. Sebenarnya apa alasan Bapak dan Ibumu menolak lamaranku? Dan juga kenapa kamu tidak memberiku jawaban?”
Arimbi mengangkat sudut bibirnya.
“Alasan?”
“Ya, setidaknya kamu punya alasan sendiri.”
“Kamu yang gila kenapa aku yang harus memberikan alasan.”
Arman terdiam. Dia mengukir senyum dengan tatapan mata tidak percaya.
“Jadi sejak awal semuanya salahku.”
“Dua bulan yang lalu aku datang dan memintamu untuk berhenti melakukan ritual sihir. Apa kamu juga lupa berapa banyak jiwa yang sudah menjadi korban?”
“Aku tidak pandai menghitung, lagi pula aku sudah berhenti sejak kamu datang ke rumah.”
Arimbi mengangkat alis kananya.
“Benar-benar berhenti?”
Ekspresi Arman mulai gusar dan serba-salah. Dia menatap Arimbi lekat-lekat.
“Aku tidak sengaja.”
“Sihir yang kamu kirimkan padaku, berbalik arah kembali pada dirimu sendiri. Apa sekarang kamu tahu rasanya bagaimana sebagian jiwa dari tubuhmu mengalir dan pergi meninggalkanmu? Seperti para wanita yang telah kamu ambil jiwanya sebagai tumbal. Kamu hidup tapi seperti tidak hidup. Kamu menyalahkanku dan berpikir aku merebutnya darimu. Arman, kamu sudah salah mengarahkan ujung senjatamu ke mana.”
Arman menggelengkan kepalanya.
“Aku-aku... tidak mungkin!”
“Arman, alasan kamu tidak bisa melupakanku karena sejak awal kamu berniat menarikku datang padamu. Kamu bahkan tidak mengerti kenapa aku memintamu berhenti melakukan ritual.”
Arman mengepalkan tangannya dengan marah.
“Kamu sendiri apa?! Kamu bukan manusia. Kamu datang dan pergi seperti hantu. Apa kamu iblis? Atau cucu buyut keturunan setan?! Nenekku bilang ada Ratu di dalam kamarmu. Kamu pasti menyembah iblis untuk mengutuk keluargaku. Karenamu juga Nenekku meninggal. Sejak pulang dari kediamanmu aku merasa ada yang tidak beres dengan keluargamu.” ejek Arman dengan emosi.
Arimbi tersenyum dengan sudut bibirnya.
“Kalau kamu tahu, kenapa masih mengejar? Kamu seharusnya menjauh.”
“Kamu bahkan tidak mengelak. Jadi benar Nenekku meninggal karena ulahmu?”
“Dia menggantikanmu.”
Arman terdiam.
Arimbi meletakkan keranjangnya di tanah, dia menyentuh batu nisan Bu Sukma lalu membetulkan letak kerudungnya.
Ketika Arimbi berniat pergi, dengan cepat Arman menyambar tangannya.
“Aku belum selesai bicara! Jawab aku apa Nenekku meninggal karena iblis peliharaanmu?!”
“Bukan aku, tapi karena kesalahanmu sendiri. Kamu mengirimkan sihir padaku bukankah kamu harus membayar pada mereka?! Saat sihirmu berbalik arah kembali padamu. Nenek Darmi memutuskan untuk menggantikanmu.”
“Dari mana kamu tahu semua ini?! Dari mana kamu tahu aku mengirimkan sihir padamu?”
Arimbi menghela napas panjang.
“Arman, kamu juga tidak senang pada Bapak dan Ibuku karena menolak lamaranmu, sekarang mereka juga sudah tidak ada lagi di dunia ini. Bukankah seharusnya kamu puas dan berhenti sampai di sini? Menjauhlah dariku.”
Arimbi berniat menarik tangannya tapi Arman malah meraihnya ke dalam pelukan.
“Aku tidak bisa, Arimbi...”
Arman memeluknya dengan sangat erat.
“Aku sangat mencintaimu.”
“Bagaimana jika kamu mati? Kamu harus berhenti sekarang.”
“Aku benar-benar tidak bisa, ini di luar kendaliku,” tuturnya seraya memejamkan mata. Arman memeluknya lebih erat.
***
Pulang dari pemakaman.
Arman langsung rebah di atas dipan dalam kamar. Dalam pikirannya terus terbayang-bayang oleh Arimbi.
Arman terus memikirkannya sampai lupa waktu makan, dan lupa sudah berapa lama dia berbaring di atas ranjang.
Beberapa saat kemudian dia mendengar ketukan pintu dari luar rumahnya.
Arman bangun dan membuka pintu. Dia melihat wanita muda berdiri di sana dengan setelan kemeja ketat serta bawahan rok mini.
“Mas Arman! Sudah mulai buka belum?”
“Belum, Mbak.”
“Lalu kapan buka lagi?”
Wanita itu berjalan maju lebih dekat dan menempel pada Arman.
“Aku butuh bantuan, Mas,” bisiknya di telinga Arman seraya meraba-raba bagian bawah milik Arman. Kepala wanita itu menunduk dan bersandar di dadanya.
Perlahan wanita itu mendongak. Wajahnya dipenuhi dengan belatung dan aromanya sangat busuk.
Arman terdiam dan merasakan sentuhannya, lalu ketika melihat wajah wanita itu spontan Arman langsung melepaskan dan mendorongnya menjauh.
Arman berdiri membeku di pintu. Dia masih terkejut dengan apa yang dia lihat barusan.
“Mas Arman? Apa Mas Arman lupa siapa aku? Aku Rini, Mas. Aku pelangganmu...” suara tersebut perlahan menghilang.
Arman segera menutup pintu. Hari suah mendekati waktu magrib. Dia berjalan masuk ke dalam seraya meraba tengkuknya sendiri. Dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul lima lebih seperempat menit.
“Sudah sekian lama melakukan ritual, sudah biasa juga didatangi mereka tapi aku masih saja terkejut sampai sekarang.” Arman bergumam sendiri.
Pada malam hari, Arman teringat dengan pesan Mang Kohar yang menyarankan dia pergi ke rumah H. Yusuf.
Demi mengetahui lebih jelas tentang kebenaran yang terjadi baru-baru ini, Arman pun memutuskan pergi ke sana pada esok pagi.
