Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Pertama kali bertemu

***

Dua bulan yang lalu.

Ketika Arimbi datang pertama kali. Di beranda depan ada sekitar tiga orang yang mengantre. Lima lainnya sudah menunggu di dalam. Mereka tidak akan masuk sebelum dipanggil.

Di dalam ruangan khusus, ada sebuah ranjang dengan tirai merah tipis. Di sampingnya digelas alas tikar daun pandan lengkap beserta dupa yang telah dinyalakan dan air kembang.

Waktu itu Arman sedang melakukan ritualnya. Dia sedang bersetubuh dengan Nurul, pelanggannya.

Arimbi tidak duduk menunggu layaknya pelanggan yang lain. Gadis itu berjalan masuk ke dalam dengan tenang seolah-olah tidak ada yang tahu kedatangannya kecuali Arman.

Dia masuk ke dalam kamar. Aroma dupa dan aroma bunga memenuhi ruangan.

Desahan Nurul dan lenguhan Arman menjadi satu-satunya suara yang dia dengar saat itu.

“Oukh, Mas, oukh, terus, tekan lebih dalam!”

“Nur, okh, oh, okh.”

Dari balik tirai tipis tampak dua orang sedang bergumul di atas ranjang tanpa pakaian. Arimbi meliriknya sekilas dan bisa merasakan Arman mulai menyerap aura Nurul.

Arman mulai menyadari keberadaan Arimbi, dia pun menghentikan pacuannya.

“Sedikit lebih lama lagi, Mas, aku sudah mau keluar lagi, oh!” pinta Nurul pada Arman. Wanita itu memeluk tengkuk Arman dan menempel erat pada tubuh atletik Arman seperti lem.

Arman melepaskan diri dengan sedikit memaksa, aroma aura seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan terasa pekat dan mengusik hatinya. Arman mengenakan celananya kembali lalu turun dari atas ranjang.

“Berani masuk ke dalam ruangan pribadiku tanpa mau mengantre, apakah kamu tahu akibatnya?”

Arimbi menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Gadis itu masih berdiri di samping tirai, diam tak bergeming.

Mendengar Arman bicara dengan orang lain, Nurul yang masih telentang sambil membuka pahanya langsung menarik kain batik untuk menutupi tubuhnya. Anehnya dia tidak melihat siapa-siapa. Jelas-jelas di dalam ruangan hanya ada dirinya dan Arman.

“Mas Arman, lagi ngomong sama siapa? Ini jatahku belum selesai,” protesnya sambil beringsut bangun lalu memeluk pinggang Arman dari belakang.

“Nur, ambil buntalan kain milikmu. Ritualnya sudah selesai...”

Nurul mengerutkan keningnya. Dia tidak berani protes lagi. Nurul bergegas keluar melewati pintu samping sambil membawa buntalan berisi daun yang sekarang sudah berubah menjadi uang ratusan ribu.

Arman membuka tirai dan dia melihat Arimbi.

Arimbi sangat cantik, kulitnya bersih, sosoknya bersinar seperti cahaya rembulan. Aroma tubuhnya wangi, mengalahkan aroma air kembang di dalam ruangan.

“Katakan siapa namamu.”

“Arimbi.”

“Rumahmu?”

“Desa Sumber Urip.”

“Dari desa sini?” Arman mengerutkan keningnya.

Arimbi tidak menjawab, sejak tadi dia hanya berdiri diam di sana. Sementara Arman terus mengamati sambil menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Rebahlah, di sana,” tunjuknya ke arah ranjang yang tadi dia gunakan untuk bersetubuh dengan pelanggannya.

Arimbi hanya mengedip lambat, menoleh sekilas ke arah ranjang tanpa bergerak sama sekali. Arman sudah tidak sabar, dia langsung mendekat dan mulai mengendus leher Arimbi seperti serigala lapar.

“Lancang,” desis Arimbi.

Arman merasa sudah salah dengar dan menghiraukan bisikan tersebut. Ditariknya lengan Arimbi menuju ke arah ranjang. Dilucutinya gaun dari tubuhnya dengan tergesa-gesa. Arman menatap gundukan mulus di dadanya dan langsung menciuminya. Arman meraba sisi dalam paha Arimbi, dia tidak tahan dengan bagian itu. Ketika dia buka roknya, aroma wangi langsung menyeruak keluar. Dia mengendus dan menarik penutupnya ke samping.

Sejak tadi dia sibuk menyentuh, mencium, menggigit, menghisap, tapi dia tidak mendengar desahan dari bibir Arimbi.

“Arman, sudah berapa banyak jiwa manusia yang kamu makan?”

Arman terhenti lalu menarik wajahnya dari antara kedua paha Arimbi.

Wajah cantik Arimbi hanya menatap kosong langit-langit kamar.

“Apa maksudmu?”

“Kamu tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu?” Arimbi bangun dari posisinya.

Arman tidak ingin kehilangan kesempatan, dia langsung membuka celananya dan memosisikan miliknya untuk menyatukannya dengan milik Arimbi.

“Jangan banyak bicara, lebih baik kita lakukan sekarang.”

“Kenapa tergesa-gesa?”

Dengan tenang Arimbi menyentuh kulit dada Arman menggunakan ujung jari telunjuknya. Dia mendorong pelan dada Arman menjauh.

Seperti kerbau yang dicocok batang hidungnya, Arman dengan patuh duduk di samping Arimbi.

“Kamu mempermainkanku?” tanya Arman dengan tatapan mata tidak senang.

Arimbi pindah duduk di atas pangkuan Arman lalu menyentuh bibir tipisnya dengan jemarinya.

“Kamu begitu menginginkanku?”

“Apa maksudmu? Bukankah kamu datang ke sini sama seperti pelanggan lain untuk mendapatkan pesugihan? Kalau bukan karena uang, apa karena kamu menginginkanku?” Arman menggenggam pergelangan tangan Arimbi lalu menciumi punggung telapak tangannya seperti haus akan sesuatu yang ada di dalam dirinya.

Arman tidak ingin menunda lagi, dia membawa Arimbi rebah di ranjang untuk segera memulainya. Arman menciumi buah dadanya seperti orang kerasukan. Semakin lama tinggal di sisi Arimbi seperti ada yang bergolak di dalam dadanya. Dia sudah tidak tahan lagi ingin mempercepat penyatuannya.

Ketika miliknya menyentuh bagian intim Arimbi, tubuh Arman tiba-tiba terpental menjauh. Energi kuat di tubuh Arimbi membuatnya tidak bisa menyentuhnya.

“Apa yang terjadi?”

“Semakin besar ambisimu semakin besar energi di tubuhku menolakmu,”

“Sebenarnya siapa kamu?” tanyanya seraya bangkit berdiri.

“Aku sudah bilang, aku Arimbi.”

Arimbi mengukir senyum menggoda, membiarkan tubuh telanjangnya terbuka.

Pemandangan itu membuat Arman menggila. Arman berjalan mendekat lalu menyentuh rahang Arimbi, memaksa gadis itu mendongak menatap kedua matanya. Tidak ada reaksi, malahan tatapan mata Arimbi berubah menjadi dingin.

Gadis ini, kenapa tidak mempan dengan ilmu pengasihanku?

“Berhentilah,” ucapnya.

“Berhenti?” Arman mengerutkan keningnya.

“Berhenti menggunakan sihir terkutukmu.”

Arman menelan ludahnya lalu tertawa tanpa suara.

“Apa hakmu melarangku? Toh mereka yang datang mencariku! Kamu juga bukan Bapak dan Ibuku,”

“Arman, kehilangan orang terdekatmu tidak membuatmu sadar.”

“Apa maksudmu? Apa kamu datang hanya untuk menceramahiku.”

“Aku datang untuk mengingatkanmu.”

“Dulu semua orang menghinaku! Bahkan tidak sudi melirikku! Sekarang aku dicintai, semuanya tergila-gila padaku. Kenapa kamu menyalahkanku padahal mereka sendiri yang ingin kaya? Aku hanya meneruskan ilmu leluhur.”

Di samping ruangan, Nenek Darmi bisa merasakan aura Arimbi. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan lalu melihat tubuh telanjang Arimbi sedang duduk di ranjang sementara Arman menggenggam rahangnya.

Dia datang menyela. “Arman, lepaskan dia!” perintahnya.

Nenek Darmi mendorong Arman menyingkir lalu menyelimuti tubuh Arimbi dengan kain dari gantungan.

“Nak, pakai bajumu kembali, ada ruangan kosong di samping.”

Arimbi menatap kedua matanya. “Aku sudah mengingatkannya, tugasku sudah selesai.”

Nenek Darmi tercekat. “Ra-ratu?”

Arimbi mengukir senyum lembut. “Nenek tidak salah, jadi tidak perlu takut.”

“Aku akan mengingatkan Arman, bila perlu aku akan menghentikan ritualnya mulai detik ini!” janji Nenek Darmi.

“Begitu lebih baik, daripada .... ada korban lagi.”

Arimbi dengan tenang berjalan keluar dari dalam kamar.

Arman tidak ingin membiarkannya pergi begitu saja jadi dia buru-buru mengejarnya.

Di ruangan samping tidak ada siapa-siapa, Arman menoleh ke arah gantungan di kamar ritualnya. Kain yang diberikan Nenek Darmi masih tergantung di sana.

Sementara Nurul yang tadi dia lihat sudah pergi masih duduk menunggu di atas ranjang.

“Mas? Kenapa melamun?”

Teguran Nurul membuat Arman terbangun. Kesadarannya telah kembali.

“Arimbi! Aku pasti akan menemukanmu!”

***

“Arman?” panggil salah satu orang yang sedang melayat. “Kamu baik-baik saja?”

Arman menoleh kaget, di sampingnya tidak ada siapa-siapa. Sejak tadi dia tenggelam dan bicara sendiri. Arman mengusap wajahnya yang memucat.

“Aku baik-baik saja, Pak,”

“Turut berduka cita yo, Le. Sudah jangan terlalu dipikirkan lagi. Semua yang hidup memang bakalan dikubur,” nasihatnya.

Arman mengangguk lalu kembali mengedarkan pandangan matanya ke sekitar untuk menemukan sosok Arimbi.

Dia pun berdiri dari kursi lalu berjalan keluar kediaman.

Di antara kerumunan warga, Arman bisa melihat punggungnya semakin lama semakin jauh dari pandangan matanya.

Sebenarnya dia manusia atau iblis?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel