Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Kunjungan

Di perjalanan pulang, Nenek Darmi menggandeng erat tangan Arman.

“Kamu jangan menaruh dendam sama Pak Dirga dan Bu Sukma,” nasihatnya.

“Nek, tapi ini itu tidak adil, mereka memutuskan untuk menolak tanpa meminta pendapat Arimbi dulu. Nenek tahu kan Arimbi gadis yang baik, dia tidak mungkin menolakku begini!”

Nenek Darmi menggelengkan kepalanya.

“Dari mana kamu tahu isi hati Arimbi?” tanyanya dengan tatapan mata serius.

Arman terdiam.

Sejak kedatangan Arimbi ke gubuknya dua bulan yang lalu sebenarnya Nenek Darmi bisa merasakan energi mistis yang sangat kuat melingkupi tubuh gadis tersebut. Aura tersebut terus melindungi pemiliknya.

Arman bilang mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama, tapi Nenek Darmi tidak pernah melihat Arimbi kecuali pada hari itu. Seperti ada sesuatu yang janggal masuk ke dalam pikiran Arman dan membuat Arman meyakini sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Setelah Arman dan Nenek Darmi tiba di rumah.

“Aku masuk ke dalam kamar dulu, Nenek lelah pengen istirahat sebentar,”

Arman menggenggam erat jemari tangan neneknya.

“Nek, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Sudah, jangan dipikirkan lagi, lebih baik kamu lupakan saja, Arimbi, dia bukan gadis yang cocok untukmu.”

Nenek Darmi buru-buru masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu. Begitu duduk di atas dipan dalam kamar dia langsung terbatuk-batuk dan memuntahkan darah.

Arman menerobos ke dalam ruangan, dia mencium aroma bunga melati kerajaan yang sangat pekat.

“Aroma ini ....”

Langkahnya terhenti di tengah ruangan sejenak. Kemudian tertuju ke arah Neneknya yang sudah berbaring meregang nyawa.

“Nek! Nenek?!” Teriaknya dengan panik.

Nenek Darmi mengukir senyum sambil memegangi telapak tangan Arman.

“Le, lupakan .... Arim-bi, jangan pernah terlibat apa pun dengannya, di-dia ti-tisan Ra...tu,”

Nenek Darmi sudah meninggal dunia. Satu-satunya pesan yang ditinggalkan untuk Arman adalah agar cucunya tersebut melupakan Arimbi.

“Nenek....”

Air mata Arman mulai menggenang di kedua pelupuk matanya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

“Tidak-tidak! Semua ini karena Pak Dirga dan Bu Sukma yang sudah menolak lamaranku! Karena mereka Nenek meninggal. Aku tidak terima, aku akan menuntut balas atas kematian Nenek! Aku akan membalas mereka dan membuat mereka membayarnya dengan harga yang setimpal!” tegasnya.

***

Arimbi duduk termenung di beranda depan menatap bunga mawar bermekaran di taman.

Mang Kohar memegang selang air menyiram pohon di pelataran rumah kebetulan melihatnya. Pria tersebut berjalan mendekatinya.

“Neng?”

Arimbi menoleh perlahan, kedua matanya terlihat sembab. Sepertinya dia baru saja menangis.

“Ya, Mang. Ada apa?”

“Neng Arimbi sudah dengar kabar apa belum?”

“Kabar apa, Mang?”

“Kabar duka, Mbok Darmi neneknya Arman kemarin sore meninggal dunia...”

Arimbi membeku di kursi, kabut dingin tiba-tiba datang mendekat.

Mang Kohar seketika mengusap kedua lengannya yang bergidik, tatapan matanya beredar ke sekeliling. Hari masih pagi dan tadi langit cerah mendadak menggelap.

Aura apa ini, kenapa seperti ada malaikat maut datang ke sini?

Ketika menoleh ke arah Arimbi, kursi yang tadi diduduki sudah kosong. Arimbi sudah tidak ada di sana.

“Sebenarnya aku barusan ngomong sama siapa?” gumamnya seraya melemparkan selang air ke atas rumput lalu buru-buru mematikan keran air.

Ketika hendak masuk ke dalam rumah, Mang Kohar melihat Arimbi berdiri di tengah pintu ruangan utama dengan baju serba hitam. Rasanya semakin lama berada di sekitar Arimbi, dia merasa dunia berputar cepat dan membuatnya kehilangan sebagian kesadaran pikirannya.

Mang Kohar dan Bi Inem sudah lama bekerja di kediaman Pak Dirga. Tidak satu pun dari mereka berdua berani membahas masalah kejanggalan yang ada pada Arimbi.

Beberapa orang tua di Desa Sumber Urip mengetahui leluhur Dirga merupakan keturunan kerajaan. Raden Ajeng Dayu – leluhur Dirga memiliki aura yang sangat kuat dan semua keturunannya disegani oleh seluruh masyarakat sekitar.

Nenek Darmi sebelumnya juga sudah wanti-wanti pada Arman agar tidak terlalu dekat dengan Arimbi. Tapi Arman selalu berkata bahwa mereka berdua sudah berteman sejak lama.

Bu Sukma melihat putrinya berdiri dengan gaun hitam di pintu ruangan utama, wanita tersebut segera bergegas turun ke lantai utama.

“Arimbi? Kamu mau pergi?” tanyanya.

Abdul – adik Arimbi mendengar suara ibunya, dia langsung keluar dari dalam kamar.

“Iya, Bu. Aku mau melayat ke rumah Mbah Darmi.” Suaranya terdengar datar dan dingin.

Mendengar jawaban kakaknya, Abdullah spontan mengusap tengkuknya sendiri yang meremang.

Arimbi menatap menerawang jauh ke luar sana. Di luar kediaman udara sekitar masih tampak berkabut. Dia berjalan perlahan keluar dari dalam kediaman. Langkahnya pelan dan tenang.

Bu Sukma menoleh ke arah Abdul.

“Dul, kamu nggak mau ngantar Mbakmu? Masa kamu biarkan dia jalan kaki?”

Abdullah keluar dari dalam kamar lalu menyambar kunci mobil di meja ruang tengah. Pada saat tiba di ambang pintu ruangan utama, dia tidak melihat siapa pun di luar sana.

“Bu, Mbak tadi pergi naik motor?” tanyanya sambil mengusap kedua matanya.

“Naik motor? Jalan kaki! Sudah cepetan, kamu susul dia!”

“Jalan kaki? Ibu yakin? Jejaknya saja sudah nggak kelihatan.”

Bu Sukma menarik napas dalam dan berat, dia tidak segera menjawab keluhan Abdul.

“Bu? Ibu baik-baik saja? Wajah Ibu pucat, Ibu sakit?” tanya Abdul dengan tatapan cemas.

“Kamu mau nyusul Mbakmu apa tidak to?”

Abdullah mengangguk cepat kemudian bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyusulnya.

***

Di kediaman Mbah Darmi.

Langkah kaki Arimbi terhenti, dia menatap keramaian orang yang berlalu-lalang.

Setelah mengedarkan pandangan matanya ke sekitar sejenak, dia kembali berjalan menuju ke pintu utama.

Di dalam ruangan utama, ada dua puluh orang lebih sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Arman duduk di sudut samping dengan kepala menunduk.

Arimbi berjalan mendekatinya, tanpa bicara sepatah kata dia duduk tepat di sampingnya.

Arman mengangkat wajahnya perlahan, dia tidak yakin Arimbi benar-benar datang melayat. Tapi gadis yang sedang duduk di sebelahnya benar-benar Arimbi.

“Untuk apa kamu datang?”

“Bukankah kamu yang bilang, kita cukup dekat.”

Arman mendengus, bibirnya menyunggingkan senyum merendahkan. Raut wajahnya dipenuhi ekspresi kesakitan. Air matanya terus mengalir tanpa bisa berhenti.

“Wanita jahat! Ini, kan yang kamu mau? Ini kan yang keluargamu harapkan? Kamu lihat? Nenekku yang merawatku sejak aku bayi telah meninggal dunia?! Sejak kami pulang dari kediaman kalian aku sudah bersumpah. Aku akan membalas semua perlakuan kalian pada keluargaku!”

Arimbi tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia tetap tenang dan menatap lurus ke depan.

“Setelah Nenekku meninggal kamu baru bersedia datang menunjukkan wajah di depanku!? Untuk apa?!” teriaknya dengan emosi.

Arimbi menoleh perlahan.

“Bukankah kamu yang bilang, kita cukup dekat.”

Jawaban Arimbi sama seperti sebelumnya, suaranya juga sama. Datar tanpa tekanan.

Semua orang di dalam ruangan masih melantunkan ayat-ayat suci seolah-olah mereka tidak mengetahui kehadiran Arimbi di sana.

“Arimbi, aku sudah cukup bersabar! Aku sudah berusaha bersikap baik, tapi apa balasanmu? Saat kami datang melamarmu kamu bahkan tidak keluar untuk menemui kami! Apakah itu sikap yang pantas?! Setidaknya kamu bersikap baik pada Nenekku!”

“Arman, kenapa kamu masih menggunakan ilmu .... sihir?”

Pertanyaannya di luar topik membuat Arman membeku. Bibir Arman bergetar tanpa bisa mengatakan sesuatu.

“Saat aku datang pertama kali di rumah ini, aku sudah bilang padamu. Kamu tidak boleh menggunakan ilmu sihir.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel