Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

1. Lamaran Yang ditolak

Pagi itu cuaca di Desa Sumber Urip masih berkabut. Arman berjalan di samping neneknya, bahu kekar kanannya memanggul tundun pisang raja. Sinar matanya teduh dan dalam seolah dia yakin, kedatangannya ke rumah Arimbi hari ini pasti akan membuahkan hasil.

Mereka berjalan cukup jauh, keringat tipis mulai menghias kening keriput Nenek Darmi. Wanita tua tersebut menoleh ke arah cucunya seraya menyeka keringat di keningnya dengan selendang.

“Le, kamu yakin Arimbi bakalan terima lamaran kamu?”

Arman mengukir senyum lembut lalu memeluk bahu neneknya dengan tangan satunya.

“Nenek khawatir? Sudah jangan dipikir terus, niatku datang melamarnya juga tulus dari dalam hati. Keluarga Arimbi juga bukan keluarga sembarangan. Mereka tidak akan pernah memandang rendah orang lain.”

“Justru itu yang membuat Nenek khawatir, mereka itu bukan keluarga sembarangan. Ibaratnya sebagai kelas menengah ke bawah kita itu harus bercermin dulu sebelum berjalan maju.”

Arman tidak menanggapi ucapan neneknya, pria itu hanya membalasnya dengan senyum dan tepukan di bahu kiri Nenek Darmi untuk menghapus kegelisahan di hatinya.

Dua jam berjalan kaki, mereka mulai melihat kediaman megah berlantai dua di ujung desa. Kediaman mewah tersebut memiliki pelataran yang cukup luas. Bunga mawar merah darah bermekaran menghias sisi dalam pagar.

Ketika langkah mereka tiba di pintu, seorang tukang kebun paruh baya buru-buru membukakan pintu.

“Loh, Mbok Darmi?” sapa tukang kebun tersebut yang langsung mengenali sosoknya. Tatapan matanya kemudian beralih ke arah Arman yang sedang memanggul pisang di bahunya. “Ini...”

“Iya, ini, cucuku minta diantar ke sini,” jawabnya sambil mengukir senyum serba salah.

“Mari silakan masuk,” lanjutnya.

Mang Kohar memberikan jalan untuk mereka berdua.

Arman dan neneknya segera masuk ke dalam.

Mang Kohar menatap bakul besar dengan tutup selendang dalam gendongan Nenek Darmi.

“Ada acara apa to ini? Kok bawa-bawa pisang segala? Apa mau hajatan?” tanyanya.

“Sudah-sudah, jangan terlalu banyak tanya, antar kami ke dalam dulu, ayo!”

Nenek Darmi menarik lengan Mang Kohar agar lekas mengantarkannya ke dalam untuk bertemu dengan tuan rumah.

Sampai di beranda depan rumah, Mang Kohar mempersilakan mereka berdua untuk duduk dan menunggu.

“Arman, Mbok Darmi, kalian tunggu sebentar, aku mau masuk ke dalam dulu manggil Bapak Dirga sama Bu Sukma,”

“Iya, Mang,” jawab Arman.

Dia menurunkan pisang dari bahunya ke lantai lalu membantu neneknya melepaskan bakul besar dari gendongan.

Sejak tadi raut wajah Nenek Darmi masih dipenuhi dengan rasa khawatir. Entah kenapa hatinya tidak bisa tenang. Firasatnya terus mengatakan kedatangannya ke kediaman Pak Dirga akan membawa malapetaka di masa depan.

Tidak lama kemudian Mang Kohar datang dan mempersilakan mereka masuk ke dalam.

“Bu Sukma dan Bapak Dirga mempersilakan masuk ke dalam, sudah ditunggu,” ujarnya.

Arman menggandeng tangan neneknya masuk ke dalam.

Ruangan utama kediaman tersebut tampak sangat elegan. Kursi kayu berukir terlihat mengilat seolah dipoles setiap hari.

Di kursi ruangan utama, Pak Dirga duduk menunggu mereka. Di samping Bu Sukma berdiri menunggu.

“Silakan duduk,” tutur Bu Sukma.

Arman dan Nenek Darmi mengangguk lalu duduk di kursi seberang meja.

Setelah mereka duduk barulah Bu Sukma duduk di samping Pak Dirga.

“Bi Inem,” panggil Bu Sukma pada pelayan.

“Iya, Bu?” wanita paruh baya datang mendekat.

“Teh manis empat,”

“Baik, Bu.”

Nenek Darmi masih menunjukkan kecemasan, keningnya terus-menerus berkeringat.

“Niat kedatangan kami ke sini untuk...” dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Kata-kata ingin melamar seperti tersangkut di tenggorokan.

“Kami ingin melamar Arimbi, Pak, Bu,” potong Arman.

Bu Sukma menoleh ke arah suaminya dengan ekspresi terkejut.

Pak Dirga mengukir senyum, tapi dari sinar matanya jelas-jelas dia tidak akan menyetujui niat Arman dan Neneknya.

“Melamar?” tanya Bu Sukma untuk memastikan apa yang dia dengar barusan.

“Ya, Bu Sukma, cucuku .... Arman, dia sudah lama menaruh hati pada Nak Arimbi.”

Tanpa bertanya bagaimana pendapat Arimbi, Pak Dirga segera menjawab.

“Maaf, Nek, putri kami belum siap menikah.”

Bi Inem datang meletakkan teh di meja. Dia juga mendengar penolakan tersebut, tangannya sampai gemetar karena takut.

Arman tampak tidak puas dengan jawaban sepihak dari Pak Dirga karena pikirnya sebagai seorang ayah tentunya harus bertanya pada putrinya sebelum mengambil keputusan.

“Pak Dirga, kenapa tidak bertanya pada Arimbi dulu?” protesnya.

“Kami yang memutuskan menolak lamaran kalian, tidak perlu bertanya bagaimana pendapat Arimbi.”

“Pak, aku dan Arimbi sudah mengenal satu sama lain. Hubungan kami juga bukan hanya setahun dua tahun,” lanjut Arman.

“Arimbi itu memang supel dan ramah, jadi wajar kalau dia punya banyak teman di Desa dan luar Desa.” Kata-kata yang terucap dari bibir Pak Dirga terdengar tenang dan tanpa tekanan.

Tidak ada niat di dalam hatinya untuk merendahkan Arman dan juga Neneknya.

Arman menelan ludahnya yang terasa pahit. Jarinya mengepal erat, ada api yang membara di dalam dadanya.

“Bapak serius tidak ingin mempertimbangkan kami?” tanyanya dengan ekspresi dipenuhi amarah.

“Ya, sekali tidak tetap tidak.”

Nenek Darmi meraih lengan Arman, dia sudah tahu hasilnya akan begini.

“Le, kita pulang saja, ayo,” ajaknya sambil menarik lengan Arman untuk berdiri dari kursi.

“Tidak, Nek, aku harus dengar alasan mereka menolak lamaran.”

“Sudah-sudah, ayo pulang!”

Nenek Darmi menarik lengan Arman dengan paksa. Mau tidak mau Arman pun berdiri dari kursinya.

“Pak, Bu, kami-kami minta maaf sebesar-besarnya sudah mengganggu ketenangan di rumah ini. Kami mohon undur diri dulu,” pamitnya dengan tubuh gemetar.

Wajah Bu Sukma dipenuhi ekspresi cemas melihat kondisi Nenek Darmi.

“Nek, tehnya diminum dulu,”

Nenek Darmi berhenti sejenak, tatapan matanya tertuju ke arah pintu kamar di samping. Aroma wangi melati khas kerajaan tiba-tiba menyeruak menusuk hidungnya.

Petaka! Ini aura Sang Ratu .... Benar-benar tanda malapetaka.

“Nek?” tegur Bu Sukma sambil menyentuh lengan Nenek Darmi.

Darmi menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah pintu.

“Kamar itu, siapa yang ada di dalam sana?”

Pak Dirga tampak gelisah, baru kali ini dia menunjukkan reaksi tidak tenang.

“Arimbi, Arimbi ada di dalam sana,” jawabnya dengan suara lantang namun tertekan.

Arman menatap Bu Sukma dan Pak Dirga dengan sorot mata penuh dendam.

Dia tahu Arimbi ada di dalam ruangan tapi sama sekali tidak bertanya dulu bagaimana pendapat putrinya tentang kedatangan kami! Orang tua macam apa kalian! Lihat saja, kalian akan menyesal dengan keputusan hari ini. Suatu hari kalian akan datang merengek dan memintaku untuk menikahi Arimbi!

“Mari aku antar keluar, Nek,”

Bu Sukma menggandeng tangan Nenek Darmi yang kini berkeringat dingin. Dia pun mulai merasa tidak tenang karena tiba-tiba mencium aroma bunga kerajaan tersebut. Sudah bertahun-tahun lamanya aroma itu menghilang dari tubuh Arimbi. Aroma pembawa malapetaka.

***

Di balik pintu di dalam kamar yang tertutup. Arimbi berdiri bersandar, dia mendengar semua yang mereka katakan. Sekujur tubuh Arimbi gemetar dan berkeringat dingin.

“Arman, dia melemparkan teluh pengasihan padaku?” gumamnya dengan tatapan mata tidak percaya seraya menatap kedua telapak tangannya sendiri.

Tubuh Arimbi bergetar hebat merosot jatuh ke lantai, asap putih keluar dari ubun-ubun kepalanya. Energinya bertempur melawan energi pengasihan yang ditujukan oleh Arman.

“Arman, aku sudah bilang sejak lama, ka-kamu tidak akan pernah menang .... energi terkutuk ini tidak akan pernah mempan padaku, ukh,”

Arimbi mengepalkan tangannya, tubuhnya mengejang sesaat lalu normal kembali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel