Bab 7 Terpaksa Menikah
Dengan tegas Gilda menggeleng. “Mengenang pernikahan bisa dengan cara apa pun, termasuk pernikahan tertutup yang tidak perlu mewah pula.” Mateo tersenyum mendengarnya. “Aku mohon Kakek ... atau, aku tidak akan menikah dengan Ezhar sama sekali.”
“Menurutmu kau siapa?! Harus menikah dengan anakku saja karena insiden menjijikkan, kau juga ingin pernikahan sederhana?” Lexa menggeleng tak percaya. “Mimpi apa aku semalam memiliki menantu kampungan sepertimu?! Oh, tidak! Aku bisa gila lama-lama di sini!” imbuhnya sambil bangun dari kursi dan memilih pergi dari ruang makan.
Mateo menatap Gilda dalam-dalam sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. “Baiklah ... sekarang katakan padaku apa alasanmu menginginkan pernikahan sederhana dan tertutup yang begitu tidak kuharapkan ini, Gilda?” tanyanya yang membuat Gilda melirik Edzhar karena pria itu berdeham tiba-tiba.
“A-aku hanya ingin pernikahan biasa-biasa saja, Kakek. Aku juga tidak ingin keluarga Carla mengetahui pernikahanku dan Edzhar ... apakah Kakek tidak keberatan jika pernikahan ini tidak mengundang banyak orang?”
“Tidak masalah, aku menyetujui saranmu.” Gilda mengangguk tersenyum sebelum meraih gelas berisi jus alpukat. Meminum minuman sehat itu sampai tandas. “Antarlah calon istrimu pulang, agar sampai rumah dengan selamat, Ed,” titah Mateo setelah Gilda meletakkan gelas kosong bekas jus alpukatnya.
“Baik, Kek.” Edzhar mengangguk dan sedikit tersenyum.
*
Pernikahan sederhana berhasil digelar oleh keluarga Martinez. Menjadi pernikahan paling sederhana di sejarah keluarga itu. Selama hidup, baru kali ini Mateo menghadiri acara pernikahan paling tertutup. Apalagi ini adalah acara pertama yang digelar oleh cucu kandungnya sendiri.
“Bukan gaya hidup Martinez, dan tidak patut dibanggakan,” komentar Lexa sesudah berpose di samping Gilda dan Mateo.
Dalila yang berdiri di samping Edzhar sampai mendengar. Ia yang tak terima pun menyahut, “Kesombonganmu yang sebenarnya tidak layak kau bangga-banggakan, Nyonya Isidora.” Dalila sungguh geram pada wanita yang seumuran dengannya itu. “Seharusnya kau merasa beruntung karena mendapat menantu baik-baik dan tidak pernah menilai anakmu dari hartanya.”
“Bibi,” panggil Gilda yang sudah memandang ke arahnya lalu menggeleng. “Bukankah setelah dari sini Bibi akan memeriksa toko?”
“Ya, aku tidak sabar ingin pergi dari sini,” balas Dalila lalu menoleh ke arah Mateo. “Saya pulang lebih awal, Tuan Mateo. Saya titipkan Gilda pada Tuan dan Edzhar.” Mateo dengan senyum mengembangnya setuju. “Tolong jaga dia seperti Anda menjaga cucu Anda sendiri, Tuan ...,” tambahnya sebelum berdiri di depan Mateo dan mengulurkaan tangan.
“Tanpa kau minta, aku senantiasa menjaga dan mendukungnya. Kau tenang saja,” balas Mateo sambil menerima uluran tangan Dalila. “Biarkan salah satu sopirku mengantarmu pulang.” Dalila mengangguk setelah tersenyum haru pada Gilda.
Sebelum Dalila turun dari panggung, Gilda mendekatinya dan langsung memeluknya. “Bibi tidak perlu cemas, aku baik-baik saja. Edzhar peduli padaku, dan ibunya tidak sejahat itu, Bibi. Tidak seperti yang Bibi bayangkan.”
“Aku mengenal Isidora sebelum kau mengenalnya, jadi ... berhati-hatilah dengan wanita itu ...,” bisik Dalila sebelum menarik tubuhnya. Dia mencium pipi Gilda, dan mengikuti ke mana sopir Mateo menuntunnya.
Pagi itu, Gilda telah resmi menjadi istri dari Biantara Edzhar Martinez. Sesuai permintaan darinya, Mateo mengabulkan. Pernikahan itu digelar sangat tertutup, hanya beberapa pelayan dan anak buah Mateo saja yang diundang. Namun, sosok lelaki yang tak asing bagi Gilda muncul setelah sesi pemotretan usai.
“Dia Kendrick, bukankah kau sudah mengenalnya?” tanya Edzhar sambil menyodorkan satu sendok sup ayam pada Gilda. “Kau tidak perlu terkejut melihatnya ...,” ucap pria itu sebelum memerintah, “Buka mulutmu.”
Gilda menurut. Ia menerima suapan dari suaminya, dan cukup terkejut karena Edzhar makan satu mangkuk juga sesendok dengannya. “Apa kau yang mengundang Kendrick?” tanya Gilda kemudian yang dibalas Edzhar dengan gelengan. “Lalu siapa? Atau ... kakek?”
“Ya, bagi kakek keluarga Hernandes wajib mengetahui pernikahan kita,” balas Edzhar dan kembali menyuapi Gilda. “Kau ingin mencoba menu apalagi? Akan aku ambilkan.”
Belum sempat Gilda menjawab, Kendrick yang berjalan ke arah mereka berdua menyapa. Ia tiba-tiba mengucapkan selamat pada Edzhar, lalu melirik Gilda. “Aku tidak menyangka kalau pertunanganmu dan Carla ternyata tidak bisa mengantarkan kalian ke hubungan lebih suci. Apa wanita ini yang berhasil merebut cintamu dari Carla, Ed?” tanya Kendrick dengan nada bercanda.
Edzhar tak mengambil pusing, pria itu justru ikut tertawa. Beda dengan Gilda yang menatap Kendrick tak suka. “Kita tidak pernah tahu takdir, Ken,” balas Edzhar masih diiringi tawa, lalu mempersilakan Kendrick menikmati suguhan yang tersedia di sekitar mereka. “Nikmati waktumu. Aku harus mendampingi istriku,” putusnya yang diangguki Kendrick sebelum pria itu memilih berlalu.
“Dia bukan pria baik-baik, Ed ...,” ucap Gilda yang membuat Edzhar mengerutkan dahi.
“Kau bilang begitu karena merasa tersinggung gara-gara ucapannya tadi?”
“Tidak, aku hanya merasa kalau Kendrick pria yang kurang baik. Itu saja.”
Edzhar menggeleng, menganggap ucapan Gilda hanya angin lalu. “Sudahlah, kau mau makan apa?” Gilda tiba-tiba menutup mulutnya. “Ada apa? Apa kau mual?! Ingin muntah?!” tanya Edzhar panik dan membantu Gilda berdiri.
Tanpa menunggu jawaban dari Gilda, Edzhar membopongnya. Dibawanya Gilda pergi dari aula, pergerakan Edzhar yang sigap itu membuat beberapa orang di sana menatapnya dan Gilda penasaran. Dari mereka semua, hanya Mateo yang tersenyum senang melihat kemesraan sepasang pengantin baru itu.
“Apakah menantumu sedang tidak enak badan, Lexa?” tanya seorang wanita yang merupakan ibu dari Kendrick. Lexa menggeleng dan mengangkat bahu tak peduli.
Sedangkan Mateo yang mendengar pertanyaan itu menyahut, “Mereka pengantin baru, kau pasti paham.” Mateo menatap Lexa dan memberi tatapan tajam sebelum memandangi wanita yang berdiri di sebelah menantunya.
Wanita yang memegang segelas minuman beralkohol itu mengiyakan. “Ah, benar Tuan Mateo. Pihak wanita pasti kelelahan mengurus pernikahan mereka,” jawabnya seraya tersenyum dan kembali melihat ke mana Edzhar membawa sang istri. Mateo yang mendengar jawaban dari saudara Lexa itu ikut menyunggingkan senyum. Kembali melihat ke mana Edzhar membawa sang istri.
Edzhar berjalan cepat menuju toilet, dan menurunkan Gilda di depan pintu toilet. “Masuklah, muntah di dalam sana,” perintahnya kemudian, sambil menunjuk pintu toilet perempuan yang tertutup rapat. Gilda tidak menjawab, tapi langsung pergi masuk.
Sembari menunggu Gilda yang pastinya sedang berusaha memuntahkan isi perut, Edzhar bersandar pada dinding lalu mengeluarkan ponselnya. Selama sibuk dengan acara, gawainya bergetar. Beberapa pesan dari Carla masuk, dan rata-rata mengingatkannya untuk berbelanja di mall siang ini, sesuai permintaan perempuan itu tadi malam.
“Wajahmu tampak bingung, ada apa?” tanya Kendrick yang tiba-tiba berada di depannya. “Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu, Ed.”
“Oh, tidak. Hanya saja, aku harus pergi siang nanti.”
“Di hari pernikahanmu?” tanya Kendrick yang membuat Edzhar mengangguk kecil. “Ternyata kau semakin sibuk sekarang.”
Edzhar tersenyum tipis. “Kenapa kau berdiri di sini? Kau ingin ke toilet atau menemuiku?” tanyanya saat melihat Kendrick diam dengan melipat dua tangan di depan dada, sambil menatapnya. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?”
