Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Perhatian Kecil

Kendrick menggeleng sambil membalas, “Tentu tidak. Aku hanya ingin pamit padamu dan Gilda. Sudah cukup waktuku di sini.” Edzhar tertawa, ia pikir ada sesuatu yang terlalu penting sampai Kendrick menunggunya. “Ngomong-ngomong, mengapa istrimu terlihat kurang sehat? Aku tahu dia mual sebelum masuk ke toilet. Kau yakin Gilda baik-baik saja?”

Gilda yang baru saja keluar dari toilet perempuan itu lantas menyahut, “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Ken. Aku sehat.”

“Oh, baguslah. Kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang,” sahut Kendrick seraya mengulurkan jemarinya pada Gilda. “Aku pamit, Kakak Ipar. Sekali lagi selamat untuk pernikahanmu,” lanjutnya sambil melirik tangan Gilda yang belum membalas jabatan tangannya.

Edzhar yang melihat Gilda bergeming, lantas sedikit menyenggol lengan sang istri sampai Gilda meliriknya. Kemudian dengan sedikit terpaksa menerima uluran tangan Kendrick. “Ya, terima kasih.” Sesudah itu Kendrick tersenyum lebar sambil mengusap punggung tangan Gilda dengan jempolnya. “Kau terlalu lama memegang tanganku.”

“Ah, ya! Baiklah, aku pergi sekarang. Bye, Ed!” Edzhar merangkul Kendrick, lalu mempersilakan saudara lelakinya itu angkat kaki dari hadapannya.

Ia hendak mendampingi Gilda, namun wanita itu sudah pergi, jalan ke bagian minuman. Saat Edzhar hendak membalas pesan Carla, kekasihnya itu tiba-tiba membatalkan acara mereka. Ia pun menelepon Carla untuk memastikan sang kekasih tidak marah karena dirinya terlalu lama mengabaikan pesannya. Namun, panggilannya ditolak, dan Carla mengatakan bahwa dia ada acara mendadak bersama teman-teman SMA-nya.

“Baiklah kalau begitu, aku jadi tidak perlu memikirkan alasan untuk izin ke kakek,” ucap Edzhar sambil memasukkan benda pipih itu ke dalam saku tuxedo hitamnya. Ia pun menyusul Gilda. Turut menikmati minuman yang menyegarkan di atas meja. Mengajak Gilda duduk ke tempat semula dengan satu tangan merangkul pinggang sang istri.

Acara hari ini berlangsung sangat baik, sesuai keinginan Mateo dan Gilda. Akan tetapi, salah satu dari mereka yang ada di sana sangat membenci pernikahan tersebut. Lexa bertekad untuk menjauhkan Gilda dengan keluarga Martinez, bagaimana pun caranya.

“Tidak peduli yang kau kandung itu cucuku atau bukan, aku tidak pernah sudi menerima dan mengakuinya sebagai darah daging putraku,” batin Lexa yang tatapannya tak pernah lepas dari wanita dalam pelukan Edzhar.

*

Malam telah berlalu. Gilda yang sudah menjadi bagian dari keluarga Martinez, kini tidak boleh melakukan kegiatan apa pun termasuk membantu pelayan memasak. Alhasil, ikut menunggu di meja makan bersama anggota keluarga lainnya. Begitu masakan berbau amis datang, entah mengapa rasa mual Gilda bangkit lagi. Membuat aktivitas semua orang di meja makan berhenti, kecuali Lexa.

Edzhar dengan sigap menarik pelan kursi yang dipakai sang istri, dan ingin menemani Gilda jalan ke wastafel. Akan tetapi, Gilda menahannya. “Lanjutkan makanmu, aku bisa jalan, Ed ...,” pinta Gilda seraya melirik Lexa yang menatapnya tak suka. Mau tidak mau Edzhar menurut.

Melihat sang nyonya berusaha memuntahkan isi perut di depan wastafel, Mona segera membuatkan segelas air jahe. Gilda tak langsung ke ruang makan, tetapi duduk dulu di kursi yang disiapkan Mona. Gilda juga menerima minuman hangat nan harum buatan Mona sebelum lanjut sarapan.

Di tengah minum air jahe buatan Mona, Edzhar datang dengan membawa semangkuk sup jamur yang tadinya dinikmati Gilda, sebelum insiden mual menyapa.

Edzhar tiba-tiba berjongkok. “Apa itu salah satu kejahilanmu, Baby?” tanya Edzhar sebelum mengusap perut rata Gilda. Gilda yang mendapat perlakuan manis itu tak bisa menahan senyum di wajahnya. Namun, ia buru-buru berdeham. “Aku harus berangkat kerja sekarang,” ucapnya pada sang istri.

“Hati-hati di jalan,” ucap Gilda yang dibalas Edzhar dengan mengusap perut ratanya.

Edzhar juga tak ragu untuk mencium kening Gilda setelah berdiri. “Kau juga harus hati-hati, terutama saat ke kamar mandi dan turun tangga,” balas Edzhar. Gilda pun mengiyakan, dan sebelum beranjak, Edzhar mengusap perut rata Gilda lagi sambil tersenyum. “Sampai jumpa, Baby ...,” pamitnya dan benar-benar beranjak dari dapur.

Tak lama setelah Edzhar pergi, Lexa masuk ke dapur dan segera meminta Mona keluar. “Sadarlah, kau itu tidak pantas bersanding dengan putraku, terlebih lagi menjadi bagian dari keluarga ini!"

“Jauh sebelum anda berkata begitu, saya sudah bercermin, Nyonya Lexa.” Lexa semakin mendekat dengan tangan yang setia dilipat di depan dadanya. “Memiliki sahabat seperti Ed saja saya sudah merasa beruntung, Nyonya Lexa.”

“Kalau kau sudah sadar, ceraikan putraku setelah anakmu itu lahir!” bisiknya namun dengan penuh penekanan, lalu menambahkan, “Karena hanya Carla yang pantas menjadi pasangan Edzhar selamanya. Kau paham itu?!”

Gilda masih dengan menatap sang mertua, kemudian menyahut, “Kita tidak pernah tahu takdir, Nyonya. Jika suatu saat saya harus bercerai dengan Edzhar, maka saya harus menerima, namun ... jika saya sudah ditakdirkan menjadi pasangan hidup Edzhar, saya tidak akan menyerah untuk menjaga keutuhan rumah tangga saya.”

“Berani-beraninya kau membantah perintahku?!” pekik Lexa yang sudah melayangkan tangannya, hendak menampar mulut Gilda. Akan tetapi, dengan cepat Gilda menahannya.

“Anda salah kalau mengira saya takut pada Anda, tapi benar adanya kalau selama ini saya sangat menghargai dan menghormati Nyona.” Dihempaskannya tangan kanan Lexa, dan ia pun bangkit dari kursi. “Rasa hormat saya kepada Anda bukan berarti saya harus menerima semua perlakuan Anda, Nyonya.”

Setelah mengatakan itu, Gilda keluar dari dapur sembari menghembuskan napas panjang. Ia juga menyentuh dadanya, merasakan degup jantungnya. Sampai di ruang makan ia tidak melihat Mateo, hanya ada Mona saja yang menatapnya cemas dan buru-buru menghampirinya.

Lexa pun turut keluar dari dapur. Dia melirik sekilas pada Gilda dengan tangan mengepal. Keluar dari ruang makan, ia masuk ke kamar tidurnya.

Mona yang menghampiri Gilda dan berdiri di depannya, menatap wanita muda itu lekat-lekat. "Nyonya Gilda, apa kau baik-baik saja?" Lalu memeriksa kondisi sang nyonya dari ujung kepala sampai kaki, dan kembali memerhatikan bagian muka Gilda.

"Aku tidak apa-apa, Mona." Ia tersenyum dan mengangguk meyakinkan. "Aku sungguh baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir." Mona pun bernapas lega mendengarnya. "Kakek ke mana? Kenapa beliau tidak ada di sini?"

"Pagi ini tuan ada jadwal pemeriksaan, Nyonya. Beliau juga harus menemui sanak saudara yang semalam masuk ke rumah sakit."

Gilda mengerutkan kening, bingung. "Mengapa tidak menemuiku dulu?" Pasalnya, Mateo jarang sekali pergi tanpa pamit. Biasanya, dulu setiap dia bertandang ke sini, Mateo selalu pamit padanya juga jika hendak keluar.

"Tidak tahu, Nyonya. Mungkin tuan terlalu terburu-buru." Gilda hanya mengangguk. "Beliau sempat berpesan agar saya menjaga Nyonya, untuk itu Nyonya Gilda harus memberitahu apa pun yang Nyonya inginkan," ucap Mona sambil mengikuti Gilda yang beranjak dari ruang makan.

Gilda jelas menggeleng, tidak setuju. "Itu tidak perlu, lagi pula aku baik-baik saja. Rasa mualku juga sudah reda," balasnya yang mulai menaiki tangga diikuti Mona yang jalan di belakangnya. "Oh, ya ... hari ini aku harus ke toko seperti biasa."

Mona sontak tidak memberikan izin. "Tidak boleh, Nyonya Gilda. Tuan Mateo melarang, beliau pun sudah meminta Nyonya untuk di rumah saja."

Gilda menggeleng keras. "Aku tetap akan bekerja, Mona. Aku tidak suka diam di rumah. Lagi pula aku tidak memiliki aktivitas apa pun di sini, jadi sangat membosankan kalau di rumah saja," sahutnya yang makin masuk ke kamar Edzhar. Diikuti Mona yang kukuh, tidak memperbolehkannya pergi.

"Tuan bisa marah padaku jika Nyonya nekat bekerja. Tuan Mateo pasti marah besar, Nyonya. Beliau sudah cukup marah karena tuan Edzhar memilih bekerja setelah menikah, pasti beliau semakin marah jika tahu Nyonya juga bekerja." Sambil menatap Gilda dengan tatapan memohon dan membuat Gilda yang hendak masuk ke walk in closet memutar badan ke arahnya.

Gilda cukup merasa khawatir juga kalau Mona kena amukan dari Mateo, tetapi ia benar-benar tidak suka di rumah tanpa melakukan apa pun. "Aku sudah tidak boleh melakukan apa-apa di rumah ini, Mona. Jadi, hanya toko roti saja tempatku beraktivitas. Apa kau masih ingin tetap melarangku ke sana? Kau tidak kasihan padaku?" Mona terdiam sejenak mempertimbangkan permintaan Gilda. "Atau begini saja, kau ikut aku ke toko, bagaimana?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel