Bab 6 Pernikahan Tertutup?
Gilda yang baru bergabung, dikejutkan dengan ucapan Edzhar pada Mateo. “Sudah seharusnya kalian bersama. Kakek yang akan mengurus pernikahan kalian, dan membicarakan baik-baik pembatalan pernikahanmu dengan Carla.”
“Izinkan aku yang mengatakannya pada Carla, Kek.”
“Baiklah, kakek yang akan membicarakannya pada orang tua Carla setelah kau berbicara pada tunanganmu itu.” Edzhar mengangguk setuju. Kemudian melihat ke arah Gilda yang menatap sang kakek. “Ada yang ingin kau sampaikan pada kami?”
“Hamil anakmu tidak mengubahku menjadi wanita jahat,” ucap Gilda lalu menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hendak turun. “Aku bukan wanita kejam, aku sahabatmu dan Carla, aku tidak mungkin tega melihat pernikahan kalian batal.”
“Keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin cucu buyutku dicap sebagai anak haram atau apa pun sebutannya. Dia bagian dari Martinez yang wajib kuperhatikan statusnya.”
Edzhar mengangguk. “Ikutilah rencana Kakek, Kakek hendak memberikan keadilan untukmu dan bayi dalam perutmu,” bisik Edzhar lalu melanjutkan, “Pikirkanlah baik-baik masa depan anak kita.”
“Sebagai calon ibunya seharusnya kau tahu, bahwa anak yang lahir di luar pernikahan akan dipandang sebelah mata, Gilda. Apa kau ingin anakmu diperlakukan tidak baik setelah lahir tanpa orang tua yang jelas, Nak?”
Gilda menggeleng. “Tapi aku memikirkan perasaan Carla, Kakek.”
“Kalian tidak bisa menikah tanpa restuku,” ucap seseorang yang tiba-tiba masuk dan membuat semua mata tertuju padanya. Wanita yang umurnya jauh di atas Gilda itu melirik tajam sambil berjalan cepat ke tempat mereka berbincang. Wanita itu duduk di samping Mateo dan mengatakan, “Aku tidak pernah setuju putra kesayanganku menikah dengan gadis yatim piatu.”
Mateo yang mendengar itu mendadak murka. Ia menatap tajam Edzhar. “Bawa Gilda ke kamarmu, Ed!” titah Mateo yang langsung dilaksanakan sang cucu tanpa protes sedikit saja.
Edzhar menggandeng Gilda setelah perempuan itu sudah berdiri, tepatnya saat wanita yang terlihat garang itu menatapnya tajam. Ia digandeng sampai ke atas. Akan tetapi, kala masuk ke dalam Edzhar, Gilda segera melepaskan tangan yang masih memegangnya.
Edzhar meminta Gilda untuk duduk di kasurnya seperti biasa, namun wanita itu menolak dan memilih duduk di sofa. “Jangan pedulikan ucapan ibuku,” ucap Edzhar sesudah ia melihat Gilda duduk.
“Sampai kapan pun ibumu tidak akan pernah menyukaiku, terlebih lagi dia tahu kalau kakek Mateo menginginkanmu menikahiku, Ed.”
“Setelah tahu kau hamil anakku, ibuku pasti menyetujuinya ... walaupun mungkin dia sedikit terpaksa memberikan restunya.”
Gilda tak ingin menjawab. Dia menatap lurus pada jendela kamar Edzhar yang tirainya terbuka cukup lebar. Hingga beberapa detik berlalu, barulah dia mengatakan, “Perasaanku padamu memang sudah berubah menjadi cinta, Ed ... namun aku tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk merebutmu dari Carla.” Ia berkata jujur, dan hal itu membuat Edzhar menatapnya tak percaya.
“Aku akan menikahimu, tapi bukan berarti aku harus berhenti mencintai Carla, bukan?”
Gilda yang semula enggan melirik Edzhar, kini memandang pria itu. Ia tak menyangka kalau Edzhar akan mengatakan kebenaran pahit. Gilda pikir Edzhar akan fokus padanya dan calon buah hatinya saja, tanpa memerhatikan Carla. “Maksudmu ... kau tidak akan memutuskan hubunganmu dengan Carla walaupun kita nanti menikah, Ed?”
“Ya, aku akan tetap menjalin hubungan dengan Carla tanpa sepengetahuan kakek. Jadi, kau pun harus menjaga rahasia ini dari siapa pun. Hanya kau dan aku yang tahu.”
Rasa sesak mendiami hati Gilda. Memang salah jika dia sudah mulai mencintai Edzhar, tapi mendengar kejujuran lelaki itu sungguh menyakitkan. “Kalau memang begitu, lebih baik aku mundur. Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tak mungkin bisa mencintaiku. Aku tidak mau menikah bersamamu, Ed." Lelaki itu menggeleng, sementara Gilda langsung menarik tangan Edzhar. “Biarkan aku mengurus anak ini sendiri,” pintanya.
“Tidak, calon bayi yang ada di perutmu itu bukan hanya milikmu, tapi juga darah dagingku. Sudah kuputuskan, aku akan menikahimu sebagai bentuk tanggung jawabku untuk kalian ... kau dan calon anak kita. Lalu Carla ... dia tetap wanitaku, dan kau tidak berhak melarang kami berhubungan, termasuk setelah kita berdua menikah nanti.”
“Kau mengatakan bahwa aku egois karena memilih untuk menyembunyikan calon bayi di dalam perutku ini darimu, lalu kau sendiri apa? Bukankah kau lebih egois karena menikahiku, tapi tidak ingin mengakhiri hubunganmu bersama Carla?”
Edzhar sedikit memaksa Gilda untuk duduk. Kedua tangan menahan pundak Gilda, dan ia berlutut di depan Gilda yang kembali menempatkan diri di sofa. “Yang terpenting adalah status anak kita. Mengenai hubunganku dengan Carla, kau seharusnya sadar diri. Kau hanya sahabatku, bukan wanitaku.”
Saat Edzhar mengatakan itu, sosok Mona sudah berdiri di depan pintu kamar. Wanita itu segera meminta maaf saat kedua manusia yang sedang berkonflik itu mengetahui keberadaannya. “Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja mendengar, Tuan.” Mona menunduk tak berani menatap Edzhar.
“Ada apa kau kemari?”
“Tuan Edzhar, tuan Mateo memanggil kalian berdua,” ucap Mona yang perlahan-lahan kembali mendongak. “Beliau sudah menunggu di meja makan bersama Nyonya Lexa.”
Edzhar mengibaskan tangannya dan menjawab, “Turunlah, aku dan Gilda akan menyusul sebentar lagi.” Tanpa membantah, Mona putar badan dan segera angkat kaki. Meninggalkan sepasang muda-mudi yang belum selesai berdebat dengan membuang napas lega, karena tidak diceramahi oleh Edzhar sebelum keluar.
“Baiklah jika itu maumu, tapi ... aku ingin kau adil.” Edzhar mengerutkan dahi sebelum Gilda kembali meneruskan ucapannya, katanya, “Saat kita menikah nanti, aku ingin waktumu sepenuhnya kau curahkan untukku ketika di rumah. Jika di luar, lakukanlah apa yang kau mau termasuk pergi bersama Carla.”
Memicingkan matanya, Edzhar tak langsung setuju. “Kau yakin hanya memberikan syarat ini?”
“Ya, seperti katamu sebelumnya, aku harus sadar diri karena aku bukan wanita yang kau cintai.” Wanita itu tersenyum dan menjauhkan sepasang tangan Edzhar yang menempel di pundaknya. “Kita hanya teman yang terpaksa menikah karena kecelakaan,” sambung Gilda lalu bangkit berdiri. Memilih keluar duluan, daripada berjalan dengan Edzhar yang ia rasa sudah sangat asing.
Sesampainya di ruang makan, Gilda bisa melihat Mateo yang duduk berdampingan dengan Isidora Lexa, ibu kandung dari Edzhar. Wanita empat puluh tahun itu merupakan menantu satu-satunya di keluarga Martinez. Tatapan tajamnya tak pernah lepas dari sosok Gilda yang turut bergabung bersamanya.
Empat orang yang duduk saling berhadapan itu diminta sang kepala keluarga untuk menikmati menu makan malam dengan tenang. Mateo memberi perintah itu karena tidak ingin jika diskusinya bersama Gilda berantakan akibat Lexa yang menentang keputusannya menikahkan Edzhar dengan wanita di depannya itu. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Lexa tak menyukai Gilda sejak berteman dekat dengan Edzhar.
“Karena aku tidak ingin menimbulkan keributan, aku ingin pernikahan kami tidak diumbar.” Edzhar melirik dan menunjukkan senyum simpulnya saat Gilda menoleh singkat ke arahnya. “Aku ingin pernikahan tertutup, Kakek ...,” pinta Gilda setelah selesai makan dan memandang serius pada pria lanjut usia di depannya yang langsung terkejut.
Mateo yang baru saja mengelap mulutnya dengan sapu tangan, lantas bertanya, “Mengapa kau meminta itu? Edzhar adalah cucu satu-satunya yang kumiliki, dan pernikahan kalian hanya terjadi satu kali, Nak. Kau tidak ingin mengenang pernikahan pertama dan terakhirmu?”
