PRIA DARI MASA LALU
Vania memarkir mobilnya di tempat biasanya. Dia berangkat lebih pagi karena ingin segera menyelesaikan laporan liputannya dan pulang cepat.
Tempat kerja Vania memang terhitung fleksibel. Asalkan sudah setor berita harian, reporter, fotografer, dan videografer bisa langsung pulang ke rumah. Karena itulah, kantor sering kali sepi karena semuanya bekerja dengan sistem remote.
Tangan Vania membuka pintu mobil. Baru saja dia melangkah keluar, seseorang sudah menjambak rambut Vania dari belakang.
“AKH!” teriak Vania kesakitan. Dia menoleh ke belakang dan kaget karena yang menjambaknya adalah Rosa.
“Perempuan licik! Berani-beraninya kamu ngadu sama Dio! Kurang ajar!” amuk Rosa. Dia melotot dengan wajah merah penuh amarah.
“AKH! Lepasin, Rosa! Sakit!” pinta Vania. Dia tak mengerti alasan Rosa mendadak mengamuk padanya. Padahal, dia tak pernah mengadu apapun soal Rosa pada Dio.
“Jangan bohong kamu! Perempuan murahan! Kamu pikir aku mudah untuk kamu tipu?!” timpal Rosa dengan geram. “Kamu pura-pura baik dan mengalah di depanku. Nyatanya, kamu masih berusaha merebut Dio dariku! Murahan!”
“Rosa! Aku mohon, hentikan! Aku nggak lakuin apapun. Sumpah!” jerit Vania. Kepalanya sangat sakit dan pusing.
Sayangnya, Rosa tak menggubris ucapan Vania. Dia malah menarik kepala Vania dan membenturkannya pada kap mobil.
Tubuh Vania benar-benar terasa remuk. Rosa mengamuk seperti seekor banteng yang melihat bendera warna merah.
Vania melihat beberapa teman sekantornya datang. Dia berteriak meminta tolong.
“Bantu aku?” pinta Vania memohon. “Badanku sakit semua!”
“Rasain! Makanya jadi perempuan itu yang benar! Jangan suka merebut tunangan orang!” balas orang-orang kantor.
Mereka tak ada keinginan untuk membela Vania sama sekali. Sebaliknya, mereka malah menyoraki Rosa agar memukuli Vania lebih keras. Bahkan, mereka menghujat Vania dan merekam Vania.
“Siksa dia, Rosa!”
“Dia pantas dapat itu!”
Vania benar-benar pusing. Tak ada satu pun orang yang memihaknya.
Rosa pun tenaganya begitu besar. Dia mengamuk tanpa henti.
Pandangan Vania menjadi kabur. Dia lelah karena akhir-akhir ini memang kesulitan tidur. Tak pelak, dia langsung jatuh pingsan di dekat mobilnya.
Saat terbangun, Vania mendapati dirinya masih berada di lantai dekat mobil. Sungguh sangat mengenaskan kondisi dirinya. Keningnya berdarah. Rambutnya sakit semua karena dijambak Rosa. Tubuhnya lecet-lecet terkena kuku-kuku panjang Rosa yang terus mencengkeramnya.
Semua rasa sakit itu semakin menyayat karena Vania sadar bahwa tak ada satu pun orang yang berbelas kasihan padanya. Semua orang yang melihatnya hanya menertawakan dirinya. Mereka mengejek Vania seolah-olah mereka yang paling tahu tentang cerita sebenarnya. Padahal, mereka hanya bergosip dan melihat dari sudut pandang Rosa saja. Mereka tak benar-benar tahu apa yang dirasakan dan dialami oleh Vania.
Dengan tertatih, Vania bangun dari duduknya. Dia melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk di sana.
Tangis Vania luruh membasahi pipi saat sudah berada di dalam mobil. Dia mengambil tisu dan menangis sepuasnya. Dia mengeluarkan semua rasa sesak, marah, dan kecewanya. “Sial, kenapa nasibku sesial ini?” ratap Vania.
Dia masih sesenggukan hingga dadanya terasa sakit. “Apa aku sesial ini karena masa laluku?” desis Vania. Dia sadar bahwa dirinya tak benar-benar baik. Masa lalu Vania suram. Apalagi, dia sempat bekerja menjadi sugar baby selama lima tahun.
Entah mengapa, Vania berpikir mungkin ini balasan dari Tuhan atas kesalahan di masa lalunya. Tiap dosa pasti ada pembalasannya. Entah akan dibalas di dunia atau di akhirat.
Vania menghentikan tangisannya. Dia mencoba menerima semua ini sebagai hukuman atas dosa masa lalunya. Dengan begitu, hatinya tak lagi merasa terlalu sakit memikirkan semua perilaku buruk Rosa dan teman-teman sekantor padanya.
Vania mengambil botol minumnya. Dia membasahi tisu dan mengusap wajah dan luka-lukanya. Dia mengambil plester luka dan menutupnya.
Di saat itulah, telepon dari Dio masuk. Vania hanya melihat sekilas. Dia memilih mengabaikannya.
Tak berapa lama, Dio mengirimkan pesan pada Vania. “Vania, aku lihat videomu bertengkar dengan Rosa. Kamu baik-baik saja, kan? Di mana kamu sekarang? Aku ke sana secepatnya. Tolong beritahu aku,” pinta Dio lewat pesan chat itu.
Vania hanya membacanya. Namun, dia tak menanggapinya. Dia memilih mematikan ponselnya dan mengemudi.
Vania menyetir menuju rumah sakit terdekat. Di sana, dia antre untuk mengobati luka-lukanya.
“Aduh, kamu ini nggak kena kekerasan dalam rumah tangga, kan?” tanya dokter yang mengobati luka Vania.
“Akh, pelan-pelan, Dok. Sakit,” ujar Vania. Dia meringis kesakitan saat si dokter mengoleskan obat di lukanya.
“Kamu kalau memang ada masalah rumah tangga, kamu bisa langsung cerita padaku ya? Aku akan membuatkan berkas laporannya dan kamu bisa melaporkannya ke kantor polisi,” terang si dokter memberikan nasihat.
“Saya belum nikah, Dok,” jawab Vania. Dia masih berjuang menahan rasa sakit yang dia derita sekarang.
“Berarti ini kekerasan dalam berpacaran?” timpal si dokter. Dia masih berusaha untuk menebak apa yang dialami oleh Vania.
“Bukan. Saya tidak punya pacar,” tutur Vania.
“Jangan bohong ya? Saya ini berusaha membantu kamu. Kalau kamu kena masalah hingga membahayakan nyawa, saya masih bisa membantumu,” jelas si dokter. Dia menunjukkan rasa simpatinya pada Vania.
Tentu saja hati Vania trenyuh mendengarkan dukungan dan mendapatkan simpati dari dokter. Sesaat Vania berpikir untuk mencurahkan rasa sesak di dadanya. Namun, dia teringat bagaimana perilaku teman-teman sekantornya yang menghujat dirinya.
Sepertinya percuma kalau aku cerita padanya, batin Vania. Dia tak memiliki rasa percaya diri. Dia tak mau kembali dihujat dan disebut sebagai perempuan jalang. Padahal, dia sama sekali tidak mendekati Dio duluan. Justru Dio yang mengejar-ngejar Vania seperti orang gila.
“Saya tidak bohong kok, Dok,” ujar Vania. “Tadi memang ada kecelakaan sedikit. Saya jatuh di tangga dan luka-luka. Tangganya lumayan tinggi.”
“Oh, begitu,” tutur dokter. “Hati-hati ya? Jangan mudah terjatuh. Selain sakit, nanti organ dalam tubuhmu bisa bermasalah. Tulangmu juga bisa patah.”
Si dokter terdiam sebentar. Dia menatap Vania serius. “Apa kamu mau melakukan CT scan? Untuk memastikan bahwa tubuhmu baik-baik saja?” tanya dokter. Dia tampak cemas dengan kondisi Vania.
“Tidak perlu, Dok. Saya tidak merasa ada yang aneh,” terang Vania. “Cukup obati luka saya. Setelah ini, saya harus segera kembali bekerja.”
“Lebih baik istirahat dulu. Nanti saya buatkan surat istirahat seminggu ya? Biar lukamu pulih,” tutur si dokter dengan penuh pengertian.
Vania mengangguk saja. Dia bersyukur mendapatkan dokter yang baik dan perhatian.
Dokter itu menyelesaikan pengobatan. Dia membuatkan surat izin cuti untuk Vania. “Nanti tanggalnya kamu isi saja. Pilih sesukamu,” tutur dokter. “Nanti kalau memang ada masalah, kamu langsung ke sini saja ya? Kami akan memberikan bantuan semaksimal mungkin.”
“Iya, Dok. Makasih,” Vania tersenyum. Dia menerima surat cuti buatan dokter itu. Lantas, dia melangkah keluar ruangan perawatan.
Vania membayar obat dan biaya perawatannya. Setelah itu, dia memutuskan untuk kembali bekerja.
Di dalam mobil, Vania mengecek timeline liputannya. Dia harus terus melakukan liputan tentang erupsi Merapi.
Vania pun memutuskan pergi ke balai pemantauan bencana alam untuk melakukan wawancara. Lokasinya ada di sekitaran Jalan Kaliurang. Vania segera meluncur ke sana dengan mobilnya.
Sialnya, mobil Vania mogok di jalan. Dia melangkah keluar dan mengecek. Ternyata, ban belakang mobilnya bocor.
“Astaga, kenapa bisa bocor begini,” desis Vania penuh kekesalan.
Dia merasa menjadi orang paling sial sedunia sekarang. Tadi pagi dia dipukuli Rosa dan dicaci maki orang sekantor. Kini ban mobilnya bocor.
Vania menghela napas resah. “Kenapa bocor ya? Seingatku baru dua minggu lalu aku bawa ke bengkel. Katanya bannya bakal awet sampai akhir tahun,” decak Vania bingung.
Sekelebat, Vania berpikir mungkin saja teman sekantornya ada yang membuat bannya bocor. Tadi Vania memang pingsan. Tak ada yang menolong sampai Vania bangun. Tentu saja ada kemungkinan bahwa teman sekantornya bisa melakukan hal buruk seperti membuat ban mobilnya bocor.
Rasa sesak dan marah kembali menghampiri hati Vania. Dia ingin sekali melempar granat ke kantornya sekarang juga.
Sayangnya, dia tak mungkin melakukan tindakan seperti itu. Dia tak memiliki granat. Kalaupun nekad melakukan pemboman, pastilah dia akan langsung dipenjarakan.
Kepala Vania menggeleng. “Nggak usah berimajinasi yang aneh-aneh Vania,” ujar Vania pada dirinya sendiri. “Mending cari orang lewat yang mau bantu.”
Vania melangkah ke tepian jalan. Dia melambaikan tangannya ke arah kendaraan yang lewat di depan mobilnya.
Sayangnya, tak ada yang benar-benar mau untuk berhenti. Semua yang berkendara hanya sekadar lewat saja. Bahkan, mereka lewat dengan kecepatan tinggi. Tanda bahwa mereka diburu waktu.
Untungnya ada sebuah mobil hitam metalik berhenti tepat di depan mobil Vania. Sesaat Vania senang karena akhirnya ada orang yang mau berbaik hati membantunya.
Namun, kesenangan Vania itu menghilang ketika dia melihat bahwa si pemilik mobil itu adalah Hayam, sugar daddy terakhir yang Vania tinggalkan tanpa kabar. Hayam melangkah tegap dan menatap Vania tegas.
Jantung Vania berdebar tak tentu. Dia tak lagi berharap bahwa Hayam akan menolongnya sekarang. Malah, dia berpikir bahwa Hayam akan memarahinya atau menghinanya karena sudah pergi tanpa kabar.
Vania menelan ludahnya ketika Hayam sudah berada di hadapannya. Jujur saja tubuh Vania gemetaran sekarang. Dia sungguhan takut terjadi hal buruk sekarang.
Sementara itu, Hayam menatap Vania dengan sorotan mata tajamnya. Pria tua yang sudah memasuki usia 50 tahunnya itu memang memilik mata setajam elang.
Buru-buru Vania membuka pintu mobil. Dia berniat masuk ke dalam mobil untuk bersembunyi. Namun, Hayam menghentikannya. “Vania, kita harus bicara,” ujar Hayam dengan suara beratnya yang tegas dan sedikit arogan.
