Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

PERMAINAN NERAKA DIMULAI

Vania teringat tagihan rumahnya. Tak mungkin dia menganggur. Apalagi, mencari pekerjaan adalah perkara sulit. Ditambah dirinya sudah mendapat cap negatif lewat sebaran video di kafe kemarin Sabtu.

Mau tak mau, Vania menganggukkan kepala. “Iya, akan aku lakukan,” jawab Vania dengan suara lemah.

Rosa menyunggingkan senyuman mengejek. Dia segera membuatkan surat tugas untuk Vania dan mencetaknya. “Ini untukmu. Surat jalan,” Rosa mengangsurkan selembar kertas yang berisi tanda tangan dan cap kantor. Tanda bahwa Vania memang resmi meliput berita terkait gempa dan erupsi di gunung Merapi.

Vania menerimanya dengan lesu. Dia membaca sekilas isi surat tugas itu. “Aku meliput dengan siapa?” tanya Vania.

“Sendirian,” ucap Rosa. “Sampai Merapi berhenti erupsi, kamu akan terus liputan di sana dan sendirian. Tidak ada yang boleh menemanimu sama sekali.”

“Tapi, aku kan butuh bantuan orang untuk merekamku?” timpal Vania. Dia merasa perintah Rosa tak logis sekarang.

“Sekarang canggih. Ada tripod. Kenapa kamu tidak menggunakan tripod?” ujar Rosa. “Atau, kamu bisa mencari videografer muda dan menggajinya dengan tubuhmu. Aku rasa kamu ahli di bidang ini.”

Vania menggeram. Dia marah dengan cara Rosa menyindir dirinya dengan sangat sarkas itu.

“Rosa, kamu—“

“Pergi sana,” potong Rosa. Dia mengusir Vania tanpa mau mempedulikan ucapan Vania sedikit pun. Baginya, Vania hanyalah pengganggu dan layak diperlakukan seperti lalat sampah.

Vania tak bisa melawan Rosa di kantor. Bagaimanapun, Rosa adalah atasannya. Bertengkar dengan Rosa itu sama saja dengan mencoba untuk menjadi seorang pengangguran.

“Baik. Terima kasih atas tugasnya,” Vania meremas kertas tugasnya dengan kasar. Dia bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang kerja Rosa.

Vania hanya bisa menyimpan amarahnya hingga dia tiba di rumah. Dia berteriak kencang saat malam hari di atas kasur. Dia meneriaki bantalnya agar suaranya teredam dan tidak menggema memenuhi ruang kamarnya.

“Rosa kenapa bersikap kekanakan seperti ini sih?” protes Vania pada bantalnya. Dia memukuli bantalnya untuk menyalurkan amarah membara yang sedari tadi dia simpan. “Aku berusaha sebaik mungkin untuk meminta maaf. Aku bahkan sudah memutuskan Dio. Dia mau aku melakukan apa lagi?”

Vania merasakan sesak di dadanya. Matanya memerah panas. Air matanya mengalir membasahi pipinya.

“Kenapa hidup tidak pernah adil? Padahal, aku tidak tahu apa-apa soal Dio dan Rosa,” isak Vania sambil menyeka air matanya. “Kalau aku tahu mereka bertunangan, aku pasti akan langsung menjauh. Aku tidak segila itu pada Dio.”

Vania kembali menangis kencang. Hanya di rumah dia mampu melakukan ini. Dia bisa berteriak, marah, dan menangis tanpa ada beban sedikit pun.

Demi kenyamanan inilah, Vania mencoba tetap bertahan di tempat kerjanya. Dia menahan semua derita dan lara ini agar tidak kehilang rumah nyamannya ini.

Keesokan harinya, Vania mulai berangkat liputan di sekitaran Jalan Kaliurang atas. Dia menyetir seorang diri menuju desa yang sudah menjadi zona waspada.

Warga yang tinggal di sana seharusnya mulai mengungsi atau pindah. Namun, mereka biasanya masih tetap di sana untuk bertahan karena hewan ternak tak bisa dievakuasi dengan sembarangan.

Vania menemui kepala desa. Dia melakukan wawancara singkat tentang sosialisasi erupsi dan persiapan evakuasi jika mendadak erupsi begitu besar tiba. Setelah itu, Vania lanjut melakukan wawancara pada penduduk dan ketua RT.

Setiap kali liputan, Vania selalu melakukan wawancara secara keseluruhan. Dia akan mewawancarai semua narasumber potensial untuk mendapatkan berita yang lebih akurat. Karena itulah, semua hasil wawancara Vania selalu mendapatkan penilaian positif. Gaji Vania pun naik cukup pesat. Apalagi, Rosa selalu mendukung Vania.

Vania termangu. Dia berhenti di tepian dan mendirikan tripod dan ponselnya di sana. Dia merekam pembukaan video untuk mengawali liputan dengan latar gunung Merapi.

Angin bertiup kencang. Membuat tripod goyah dan nyaris jatuh. Untungnya seseorang berlari dan menangkap tripod itu.

“Ah, terima kasih,” ujar Vania. Dia berlari menghampiri pria itu.

“Hati-hati. Kenapa merekam sendirian?” balas pria itu. Dia memberikan tripod dan ponsel itu ke Vania.

“Dio,” desis Vania saat sadar bahwa pria itu adalah Dio.

Tampak Dio dengan pakaian kasual dan kameranya menatap Vania. Pria itu heran melihat Vania liputan sendirian.

“Kamu tidak punya patner kerja?” tanya Dio. Dia mulai merasa ada yang aneh dari Vania.

“Bukan urusanmu,” balas Vania ketus. Dia mengalami hal buruk ini karena Dio. Jika ingat, Vania ingin menendang Dio sekarang. Namun, Vania tak mungkin mendadak menendang Dio di tempat umum seperti ini.

“Kamu terlihat mengenaskan,” ujar Dio jujur. “Mau aku bantu?”

“Bantu?” Vania terkaget. Dio tak lagi menginterogasinya. Pria itu malah menawarkan bantuan yang memang dibutuhkan oleh Vania sekarang.

“Iya, kamu tidak mau kubantu?” balas Dio. “Angin kencang. Sekarang langit mendung. Sebentar lagi kemungkinan hujan deras. Pekerjaanmu akan berantakan kalau kamu mengotot melakukan semua ini sendirian. Kamu butuh bantuanku Vania dan aku mau membantumu.”

Vania menatap langit. Ucapan Dio benar. Sekarang warna langit sudah menjadi abu-abu gelap. Sekitaran setengah jam atau satu jam, hujan pasti turun.

“Baiklah. Aku mohon bantuanmu,” balas Vania setuju. Dia tak mau sakit dan pekerjaannya menjadi kacau.

Dio tersenyum. Dia meraih mengeluarkan kameranya dan merekam Vania.

Vania mulai bekerja. Dia melakukan siaran sesuai dengan naskah yang sudah dia catat.

Semuanya berjalan sempurna dan tepat waktu. Vania tersenyum lebar dan meminta memori kamera Dio.

“Aku mau copy rekamannya,” terang Vania. “Makasih ya, Dio.”

“Aku sudah membantumu. Kamu harus mentraktirku makan siang,” balas Dio. “Nanti kupinjami memory card-ku saat kita makan siang.”

“Hah? Bukannya itu menyalahi perjanjian kita?” balas Vania terkaget. “Kukira kamu tulus bantu aku.”

“Tidak ada yang gratis di dunia ini, Babe,” ucap Dio dengan senyuman liciknya.

Vania melongo. Kini dia bahwa Dio telah menipunya. Namun, Vania tak bisa mengelak karena dia sudah terjebak.

“Aku tidak akan akan memberikan video rekamanmu kalau kamu tidak mentraktirku makan siang,” ancam Dio lembut.

“Iya. Kamu mau makan di mana?” tanya Vania.

“Ikuti motorku,” balas Dio. Dia melangkah menuju tempat parkiran motornya.

Vania pun masuk ke mobilnya. Dia mengemudi mengikuti laju motor Dio.

Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah rumah makan tradisional khas Yogyakarta. Di sana, Dio memesan banyak makanan. Semuanya adalah makanan kesukaan Vania.

“Makanlah. Kamu terlihat kurus,” tutur Dio.

“Makasih. Nanti aku bayar,” ucap Vania. Dia sudah lapar dan langsung makan tanpa basa-basi.

Dio menatap Vania dengan senyuman di wajah. Dia senang melihat Vania makan dengan sangat lahap.

“Kamu kenapa tidak pergi dengan rekan satu kantor?” tanya Dio. Dia mengirim file video di kameranya ke ponsel Vania.

“Bukan urusanmu,” jawab Vania konsisten.

“Aku dengar orang-orang satu kantormu tahu soal skandal kita ya?” timpal Dio. “Mereka membully kamu?”

“Kamu pikir aku anak kecil? Bisa dengan mudah dibully?” ucap Vania malas-malasan.

“Vania, aku khawatir padamu. Kalau kamu memang ada masalah, beritahu aku ya?”

“Kalau aku memberitahumu, memangnya semua masalah bisa selesai?” balas Vania marah. “Kamu saja tidak bisa menyelesaikan masalahmu dengan Rosa.”

Dio terdiam. Dia tahu persis maksud ucapan Vania.

“Makanlah. Setelah itu, aku mau pulang. Mumpung hujannya sudah reda,” tutur Vania memungkasi percakapan di antara mereka.

Dio mengangguk. Dia merasa bersalah pada Vania. Apalagi, Vania mulai jadi bahan ejekan di kantor. Belum lagi, Rosa pasti akan memberikan banyak kesulitan pada Vania.

Malam harinya, Dio memutuskan untuk datang ke rumah Rosa. Dia mengajak Rosa mengobrol dan membawakan hadiah berupa kue dan bunga mawar.

“Ini untukmu,” ujar Dio.

“Kamu mencoba baikan denganku?” Rosa menerimanya. Hatinya senang mendapatkan hadiah dari Dio. Jarang sekali Dio memberikan hadiah padanya.

“Rosa, kita bisa bicara santai nggak?” balas Dio. “Aku mau bicara sesuatu denganmu.”

“Bisa. Mau di mana?”

“Di teras rumahmu saja,” Dio melangkah ke kursi di teras dan duduk di sana.

Rosa masuk ke dalam rumah. Dia menyuruh pembantu untuk membawa hadiah dari Dio ke kamarnya. Lantas, dia menyuruh pembantu menyiapkan minuman dan camilan untuk Dio.

“Ini minum dulu. Kamu pasti haus,” ucap Rosa. Dia menyajikan teh madu dan jeruk yuzu. “Ini bagus untuk kesehatan.”

“Terima kasih,” Dio mengangguk. Dia mencicipi setengah gelas dari teh itu.

Rosa tersenyum menatap Dio. Dia menyukai pria itu sejak lama. Mereka sepantaran dan pernah satu sekolah saat SMA. Setelah itu, Rosa kuliah di Singapura dan saat pulang ke Indonesia dia dijodohkan dengan Dio. Betapa senang hati Rosa saat itu.

“Kamu mau bicara apa?” tanya Rosa.

“Aku ingin kamu tidak mempersulit Vania,” tutur Dio. “Dia tidak tahu apapun, Rosa. Aku yang menipu dia. Kalau kamu mau marah, kamu bisa limpahkan semua amarahmu padaku.”

“Apa?” Rosa menatap Dio tak percaya. Dia kira Dio sudah berubah pikiran karena Vania telah memutuskan hubungan dengan pria itu. Nyatanya, Dio malah datang ke rumah Rosa untuk membela Vania.

“Kamu keterlaluan, Rosa. Kamu memberikan tugas wawancara berat kepada Vania. Dia harus liputan sendirian di lokasi bencana tanpa seorang patner. Kamu bisa saja membunuh dia,” jelas Dio.

“Siapa peduli!” balas Rosa marah. Dia bangun dari duduknya dan meraih gelas teh. Dilemparkannya isi gelas teh itu ke wajah Dio. “Pergi dari sini!”

Rosa mendengkus marah. Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan kasar.

Rosa berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di sana. Dia membanting tubuh di atas kasur dan menangis di sana.

“Kenapa selalu, Vania?! Kenapa?!” jerit Rosa marah. Hatinya begitu sakit dan penuh dendam.”Tak akan kubiarkan Vania hidup nyaman. Lihat saja pembalasanku besok padamu, Vania!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel