KAMU DIPECAT!
“Vania, kan?” ucap Hayam sekali lagi. “Kenapa di pinggiran jalan? Mobilmu kena masalah?”
Vania tercekat kaget. Dia menoleh dan termangu menatap Hayam. “Tadi bilang apa?” tanya Vania terbata.
“Mobilmu kena masalah?” tanya Hayam lagi.
“Um, ya. Bannya bocor,” jawab Vania. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Hayam memanggil sopirnya. Dia menatap Vania dan bertanya. “Ada ban cadangan?”
“Ada,” ujar Vania. “Mau dipasang?”
“Kamu tidak mau mobilmu berjalan normal lagi?” balas Hayam.
“Um, mau. Sebentar,” tutur Vania. Dia melangkah ke arah bagasi mobil. Dia membuka bagasi dan mengeluarkan ban cadangannya.
Sopir mengambil ban itu. Dia mengganti ban bocor Vania dengan alat yang ada di bagasi mobil milik Hayam.
Vania lega karena ban mobilnya sudah dibenarkan. Dia menatap canggung Hayam.
“Terima kasih,” ucap Vania. “Aku tidak menyangka akan membuatmu repot.”
“Tidak masalah. Lagipula, kita pernah saling mengenal,” Hayam menatap Vania dengan pandangan datar.
Vania tak bisa menyelami apa yang ada di pikiran Hayam sekarang. Satu-satunya yang Vania tahu adalah Hayam masih tetap terlihat tampan meski sudah tua usianya.
“Kamu ada waktu siang ini?” tanya Hayam kemudian.
“Oh, aku mau bekerja,” jawab Vania.
“Bekerja?” Hayam menatap heran Vania. “Dengan wajahmu yang penuh luka?”
Vania tersadar. Mukanya memang lebam dan keningnya diplester. “Um, aku harus bekerja,” ucap Vania. “Jika tidak, nanti aku tidak memiliki bahan laporan harian.”
“Bekerja sebagai apa?” balas Hayam. “Kamu dulu kuliah apa? Komunikasi?”
“Iya. Sekarang aku bekerja sebagai reporter televisi swasta,” terang Vania singkat dan jelas.
Hayam menganggukkan kepala. Dia mengulas senyuman simpul di wajahnya. “Syukurlah. Kamu tumbuh dengan baik,” ujar Hayam. “Aku selalu mengkhawatirkanmu.”
Vania tercekat. Dia tak menyangka jika Hayam mencemaskannya. Padahal, dia pergi meninggalkan Hayam tanpa kabar sama sekali. Bahkan, dia pindah lokasi kos-kosan.
“Kenapa kamu mencemaskanku?” celetuk Vania. Entah mengapa, dia merasa penasaran. Padahal, dia tidak boleh bersikap seperti itu. Apalagi, dia sudah memutuskan dan berjanji pada diri sendiri agar tidak kembali menjadi seorang sugar baby.
“Memangnya aku tidak boleh mencemaskanmu?” balas Hayam. “Bagaimanapun, aku pernah dekat denganmu selama beberapa tahun, kan?”
Vania menelan ludahnya. Ucapan Hayam benar. Hubungan mereka dekat dan tak biasa.
Vania mengulum bibirnya. Dia menatap Hayam dengan wajah canggungnya. “Kamu tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa menjaga diriku dengan baik,” ucap Vania. Dia tersenyum simpul. Tak ada keinginan untuk membuat Hayam lebih tahu tentang kehidupannya selama ini.
Bagi Vania, Hayam hanyalah sepenggal kisah masa lalunya. Dia tak mungkin membawa perasaan masa lalu itu dalam hidupnya saat ini. Semuanya sudah berakhir. Lebih baik untuk tidak diungkit lagi.
“Aku tidak bisa berhenti mencemaskanmu karena kamu bagian terbaik dalam hidupku, Vania,” terang Hayam dengan jujur. Dia menengok jam tangannya. “Sekarang sudah waktunya makan siang. Kamu bisa ikut temani aku makan siang?”
“EH?” Vania terkaget mendengar hal itu.
“Aku sudah membantumu. Seharusnya kamu tahu cara berterima kasih. Apalagi kamu seorang sarjana, kan? Pasti paham tentang tata krama dan adab berterima kasih,” jelas Hayam. Kali ini dengan nada bicara memaksa.
“Hm, baiklah. Tapi, sebentar ya? Di dekat sini aja lokasinya,” tutur Vania. Akhirnya dia mengiyakan ajakan Hayam. Mengingat bahwa Hayam sudah menolong dirinya.
“Sure,” jawab Hayam dengan senyuman lebarnya. “Sekarang kamu masuk mobilku.”
“Mobilku bagaimana?” balas Vania bingung.
“Biar diperbaiki sopirku. Kamu ikut aku makan siang. Efisiensi,” ujar Hayam.
“Oh, iya,” tutur Vania canggung.
Vania mengikuti langkah Hayam. Dia masuk dalam mobil Hayam dan duduk di sampingnya.
Hayam langsung menyalakan mesin mobil. Dia mengemudi menuju restoran terdekat untuk makan siang.
“Aku senang bisa bertemu denganmu. Waktu berlalu begitu cepat. Padahal, Yogyakarta itu sempit. Tapi, aku masih kesulitan menemukanmu. Aneh sekali,” Hayam tertawa kecil.
Vania hanya mengulum senyuman. Dia memang mencari lokasi kosan terpencil. Dia juga tak langsung kuliah. Dia memutuskan cuti setahun dan kerja magang di Jakarta. Karena itulah, Hayam kesulitan menemukan Vania di Yogyakarta.
“Sekarang kamu jadi reporter di TV mana?” tanya Hayam penasaran. “Aku ingin kamu wawancarai sewaktu-waktu.”
“Sepertinya itu tidak mungkin,” balas Vania.
“Kenapa tidak mungkin. Tugas reporter kan melakukan wawancara. Aku tidak salah, kan?” timpal Hayam.
“Aku sudah ditugaskan meliput erupsi dan gempa di Merapi. Tugasku berlangsung lama sampai erupsi benar-benar berhenti,” terang Vania. “Kalau ingin aku mewawancarai kamu, mintalah pada Merapi agar berhenti erupsi.”
Tawa Hayam mencelos keluar. Dia tak menyangka humor Vania akan sepahit ini untuk didengar. Meski begitu, dia tetap bisa tertawa.
“Kamu ada-ada saja. Mana bisa aku memohon pada Merapi. Dia benda mati dan bukan manusia,” kekeh Hayam. Dia belum bisa menghentikan tawanya.
“Makanya, aku bilang tidak bisa. Atasanku sangat tegas. Aku bisa dilempar dari atas gedung kalau tidak bekerja dengan benar,” imbuh Vania.
“Jahat sekali dia. Kenapa kamu bisa bertahan dengan atasan seperti itu?” timpal Hayam heran.
Seingat Hayam, Vania bukan tipe orang yang bisa bertahan dengan lingkungan yang membuat tertekan. Vania akan memilih berontak atau kabur.
“Bukankah orang dewasa selalu bersikap seperti itu?” ucap Vania pasrah dan getir. “Meski pekerjaan berat dan lingkungan kerja toxic, orang akan tetap bertahan bekerja. Semuanya dilakukan karena orang butuh uang. Tanpa uang, orang tidak bisa bertahan hidup. Apalagi, untuk seorang perempuan seperti Vania.
“Benar. Orang dewasa selalu bersikap seperti itu,” balas Hayam setuju.
Mobil Hayam bergerak masuk ke dalam parkiran restoran. Di sana, Hayam memesankan makanan kesukaan Vania.
“Kamu masih suka ayam bakar dan sambal, kan?” ujar Hayam dengan senyuman lebarnya.
“Kamu selalu mengingatnya. Apa istrimu tidak marah?” tanya Vania. Entah mengapa, dia ingin mengingatkan Hayam agar tidak lagi memberikan perhatian padanya.
“Kami sudah bercerai,” balas Hayam.
“Eh? Kenapa bercerai?” Vania terkaget mendengarnya.
“Sebenarnya hubungan kami memang tidak pernah baik,” ungkap Hayam. “Saat aku bersamamu, itu karena aku tahu istriku juga berselingkuh. Hanya saja, aku tak bisa langsung menggugat cerai karena ada banyak hal yang harus diselesaikan.”
Vania termangu. Baru kali ini Hayam mengungkapkan perkara ini.
Dulu Vania mengira Hayam memang hanya sekadar ingin bersenang-senang. Pria itu lebih banyak diam dan tersenyum pada Vania layaknya seorang sugar daddy. Karena itulah, Vania mengira bahwa Hayam memang hanya sekadar ingin mencari sensasi seks lain di luar.
Nyatanya, Hayam memang memiliki masalah rumah tangga. Pria itu diselingkuhi sang istri dan ingin membalas dendam.
“Tapi, ini semua sudah berakhir. Tidak perlu kita bahas lagi,” pungkas Hayam. Dia tampak tak suka dengan bahasa ini.
Vania mengangguk. Dia lanjut makan dan mencoba mencari topik percakapan lain. “Aktivitasmu apa sekarang?” tanya Vania.
“Aku?” ucap Hayam dengan nada bertanya kaget.
“Iya. Sekarang kan sudah single. Atau, sudah menikah lagi?” canda Vania.
“Kamu ingin mendaftar sebagai istriku?” canda Hayam. Dia terkekeh menatap Vania. “Aku sudah tua. Aku hanya perlu pendamping hidup yang mau menerima kerentaanku.”
Vania mengulas senyuman simpul. “Aku masih muda. Aku tidak berencana hidup santai,” balas Vania. Dia menolak Hayam dengan tegas.
Hayam memahami maksud Vania. Perempuan muda dan mampu bekerja mandiri seperti Vania pasti memiliki banyak cita-cita. Tak mungkin Vania mau menghabiskan waktu dengannya.
“Sekarang aku sedang mencoba hal baru,” tutur Hayam. “Aku mencoba mendaftar dalam pencalonan bupati periode ini.”
“Oh, kamu ikut pemilihan kepala daerah?” Vania terkaget.
Hayam mengangguk. “Aku hanya mencoba-coba,” Hayam mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil kartu nama dan memberikannya pada Vania. “Hubungi aku jika kamu ingin pekerjaan yang lebih baik. Kamu bisa jadi bagian dari tim humasku.”
Vania menerimanya. Dia takjub mendapatkan kartu nama Hayam meski hanya sesaat.
“Um, aku tidak bisa. Aku masih ada kontrak kerja di perusahaanku,” tolak Vania dengan sopan.
“Tidak masalah. Kamu simpan saja. Siapa tahu kamu butuh,” terang Hayam dengan senyuman manisnya.
“Terima kasih,” tutur Vania.
Pertemuan dengan Hayam membuat Vania merasa seperti nostalgia. Dia senang mengobrol dengan Hayam karena Hayam memang lebih pengertian dan mau mendengarkan.
Sayangnya, Vania tak ada keinginan menjalin cinta. Hidupnya masih ruwet karena masalah Dio dan Rosa.
Keesokan harinya, Vania tetap memberanikan diri masuk kantor. Dia melangkah dengan hati-hati. Dia takut dipukuli Rosa lagi seperti kemarin.
Saat sedang melakukan sidik jari harian, Vania didekati kepala HRD perusahaannya. “Kamu ikut saya ke ruangan saya,” ujar perempuan berkacamata tebal itu.
“Baik,” jawab Vania.
Vania melangkah mengikuti kepala HRD. Dia duduk di sofa dan melihat kepala HRD mengambil berkas di meja.
“Ini bacalah,” ucap kepala HRD.
Vania menerimanya. Dia membaca sekilas dan kaget melihat isi surat pemecatan dirinya yang ada dalam berkas itu.
“Sa-saya dipecat?” Vania ternganga saking kagetnya. Dia tak pernah menyangka bahwa pagi ini dia akan menerima surat pemecatan. Bahkan, dia tak mendapatkan surat peringatan terlebih dulu.
“Iya. Beberapa hari ini kamu membuat masalah terus di kantor. Semua karyawan mengeluh dan ingin kamu keluar dari perusahaan. Mereka terganggu dan merasa tak nyaman dengan kehadiranmu di kantor ini.”
“Tapi, saya masih ada kontrak di sini. Pekerjaan saya juga lancar. Saya tidak pernah bolos dan melakukan wawancara dengan baik. Berita-berita saya juga disukai oleh penonton,” cerca Vania tak terima. Dia merasa tidak ada keadilan untuknya sekarang.
“Ini sudah keputusan dari pihak atasan. Saya hanya menyampaikannya,” balas kepala HRD. “Kamu bersikaplah bijak dan terima saja keputusan ini. Tidak ada gunanya melawan.”
