KITA PUTUS!
Vania menggelengkan kepala. Dia tak mau dilabeli sebagai seorang perebut kekasih orang.
“Aku mau kamu beres dulu sama Rosa. Kalau kamu sudah selesai urusan dengan Rosa, baru kita selesaikan urusan di antara kita,” terang Vania tegas.
Hati Vania sesungguhnya berat mengatakan semua ini. Dia masih mencintai Dio. Dia tahu dia tak bisa membohongi getaran sedih yang muncul di hatinya.
Namun, Vania memiliki harga diri. Dia tak mau membawa dirinya dalam kenestapaan asmara. Dia ingin memiliki kehidupan asmara yang normal. Dia tak mau menjadi simpanan lagi karena dia sudah bukan seorang sugar baby seperti di masa lalu.
Vania bangun dari duduknya. Dia menarik tangan Dio agar segera bangun. “Ayo pulang sana. Aku sudah mengantuk. Aku mau istirahat,” ucap Vania dingin. Dia tak mau memberikan harapan pada Dio. Apalagi, Dio masih belum bisa memberikan posisi yang jelas pada Vania.
Dio enggan pergi dari rumah Vania. Dia masih ingin berduaan dengan kekasihnya itu. Namun, dia tahu Vania masih marah besar padanya.
Dengan malas, Dio melangkah lamban keluar rumah Vania. Dia mencoba menoleh ke arah pintu untuk menatap wajah cantik Vania.
Sayangnya, Vania langsung membanting pintu di depannya. Suara pintu tertutup begitu keras. Dio terkaget dan mematung karenanya.
Vania mengunci pintu secepat kilat. Dia tak ada niat untuk membanting pintu tadi. Dia hanya buru-buru menutup karena takut Dio memaksa masuk lagi ke dalam rumah.
Vania sempat membuka gorden. Dia melihat Dio sudah melangkah gontai kembali ke mobil yang diparkir di seberang jalan.
Vania menghela napas resah. Dia merasa bersalah pada Dio. Namun, dia tak bisa melakukan apapun karena hubungannya dengan Dio sangat kacau sekarang.
Vania memutuskan kembali ke kamar. Dia berbaring dengan tubuh tertutupi selimut. Pandangan Vania menatap langit-langit kamar. Pikirannya resah membayangkan saat dirinya ke kantor Senin besok.
“Astaga, mau kutaruh mana mukaku,” ujar Vania sedih. Dia teringat bahwa Rosa adalah atasannya.
Vania berguling ke kiri dan ke kanan. Pikirannya kacau. Dia meraih ponselnya. Tangannya membuka grup chat kantor.
Bola mata Vania melebar. Ada sebaran video dirinya dan Rosa di kafe. Tampak banyak orang sudah berkomentar hingga ribuan chat.
Sekilas Vania membaca. Banyak teman sekantornya yang menghujat dirinya. Hati Vania menciut. Dia memilih menutup dan mematikan ponselnya. Dalam diam, dia kembali menangis hingga lelah dan tertidur.
Di hari Minggu, Vania pun melakukan hal yang sama. Dia seharian di atas kasur dan makan seadanya ketika lapar. Itupun, dia hanya bisa sedikit makan.
Vania belum berani melihat grup chat di ponselnya lagi. Semuanya terlalu jahat dan menakutkan. Padahal, dia tak ada maksud untuk menggoda Dio.
Selama ini Dio yang mengejar Vania. Dio berbohong pada Vania tentang semua identitas diri. Sebuah kesalahan karena Vania tidak mengecek kebenaran dari penjelasan Dio. Namun, Vania pikir percuma jika dia harus mengecek. Saat itu, Vania hanya berpikir untuk sekadar pacaran dan have fun bersama Dio. Dia sama sekali tidak berpikir untuk menikah dengan Dio hingga Dio melamar Vania.
Sayangnya, semuanya hancur ketika Vania tahu fakta bahwa Dio adalah tunangan Rosa. Ya, begitulah kejadian sebenarnya. Namun, hanya Vania dan Dio yang tahu.
Vania menatap kalender. Dia melihat tulisan dirinya untuk semangat bekerja. Dia melingkari jadwal-jadwal liputan dan memberikan tanda senyuman. Tanda bahwa dia harus semangat bekerja karena cicilan rumah harus dibayar tiap bulannya.
Vania tersadar akan tujuan awal dirinya bekerja. Dia bekerja keras hingga kurang istirahat hanya demi hidup bahagia. Dia tak mau keluar dari pekerjaannya. Dia masih mau bertahan karena harus membayar cicilan hingga tujuh tahun ke depan.
“Iya, aku nggak boleh menyerah,” tekad Vania menyemangati diri sendiri. “Besok Senin aku harus tetap bekerja. Aku harus membela dan memperjuangkan diriku.”
Vania ingat bahwa dunia memanglah kejam. Karena itulah, manusia harus bekerja keras agar tidak jatuh tenggelam dalam kekejaman dunia.
“Harusnya aku tidak banyak menangis,” Vania menyeka air matanya. “Aku harus mulai bekerja dan menjelaskan semua permasalahan pada semua orang.”
Vania meraih ponselnya. Dia menghidupkan daya ponselnya dan mengecek grup chat kantor. Dia mengetikkan pesan penjelasan tentang hubungannya dan Dio. Dia juga mengirimkan permintaan maaf pada Rosa dengan pesan video.
Setelah itu, Vania tersenyum. Dia melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia berniat untuk melanjutkan sisa pekerjaannya yang tertunda karena sakit hati kemarin agar tetap bisa bertahan hidup.
Semangat Vania tetap berkobar. Dia pergi ke kantor seperti biasanya.
Namun, gosip memang sudah beredar di luar prediksi Vania. Meskipun Vania sudah memberikan klarifikasi, orang-orang di kantor tetap ada yang menatap Vania dengan pandangan benci.
“Ih, dasar wanita murahan,” cibir Nita, teman sesama reporter Vania di divisi yang sama. Mereka sama-sama bawahan Rosa di kantor.
“Dia tidak punya malu sepertinya,” imbuh Desi. “Ya, wajar sih. Orang yang perilakunya buruk tetap saja tidak akan bisa bertobat dengan mudah.”
“Kita harus jaga jarak. Jangan sampai pacar atau tunangan kita direbut sama Vania. Ngeri deh,” ucap Nita memprovokasi yang lainnya.
Vania menghela napas lelah. Dia sadar bahwa tidak semua orang akan berpihak padanya. Namun, dia tak ingin terbawa suasana. Vania menyalakan komputernya dan mulai menyetor semua laporan pekerjaannya.
Pandangan Vania bergerak melirik ke arah pintu ruangan saat melihat Rosa masuk ke dalam. Tampak Nita dan Desi menyapa dan menyemangati Rosa.
Rosa hanya tersenyum dan mengangguk. Sekilas pandangan Vania dan Rosa bertemu. Namun, Rosa langsung menatap kesal Vania dan membuang pandangan.
Rosa melangkah masuk ke ruang kerjanya yang ada di sisi timur. Sebuah ruangan terpisah yang ada di dalam ruangan divisi ini.
Vania menatap paper bag di atas mejanya. Dia tadi mampir ke tempat lilin aromatik. Dia membeli lilin aromatik dengan bau mawar kesukaan Rosa. Dia membeli yang harganya palling mahal dan menulis ucapan permintaan maaf di sebuah kartu berwarna biru muda.
Vania mengambil paper bag itu. Dia bangun dari duduknya dan melangkah menuju ruangan Rosa.
“Permisi, apa saya bisa bicara sebentar?” tanya Vania sopan. Dia melihat Rosa yang sedang menyalakan komputer dan memainkan ponsel.
Tampak Rosa bersikap dingin. Dia diam dan tak mau memperhatikan Vania sedikit pun.
Vania pun memberanikan diri masuk ke dalam ruangan. Dia menutup pintu dan duduk di depan Rosa.
“Rosa, ini aku, Vania,” tutur Vania. Dia agak kikuk karena Rosa tampak begitu dingin sikapnya.
“Ada apa?” balas Rosa. Dia tetap tak mau menatap wajah Vania. Pandangannya tetap pada ponsel dan beralih ke layar komputer saat komputernya menyala sempurna.
Vania mengangsurkan paper bag berisi lilin aromatik. “Ini buatmu, Rosa,” ucap Vania. “Aku minta maaf karena sudah bersikap buruk padamu. Aku sungguh tidak tahu bahwa Dio adalah tunanganmu. Tapi, kamu tenang saja. Aku sudah memutuskan Dio.”
Rosa akhirnya melirik Vania. Hati Vania senang melihat Rosa akhirnya mau menatapnya.
Tangan Rosa meraih paper bag itu. Dia memeriksa isinya. Dia bangun dari duduknya. Langkahnya bergerak ke tempat sampah yang ada di pojok ruangan. Rosa membuang paper bag itu tanpa melihat isinya sama sekali ke dalam tong sampah.
Hati Vania hancur lebur melihatnya. Dia sudah menghabiskan uang banyak untuk membeli lilin aromatik itu. Namun, Rosa membuang semua itu dengan entengnya.
Rosa tersenyum lebar pada Vania. Dia kembali duduk lagi.
“Rosa, kenapa dibuang? Kan sayang?” balas Vania protes.
“Aku tidak suka,” ujar Rosa.
“Bukannya kamu suka lilin aromatik aroma mawar?” timpal Vania penuh keyakinan.
“Aku tidak suka kamu. Aku tidak suka apapun yang kamu berikan padamu. Aku ingin kamu cepat pergi dari hadapanku,” Rosa menatap tajam Vania.
“Rosa, kenapa begini? Aku sudah menjelaskan segalanya padamu,” ratap Vania sedih. “Aku bahkan sudah putus dari Dio. Apa lagi yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?”
“Berhentilah bekerja. Aku tidak suka kamu dan aku muak melihatmu terus berada di hadapanku tiap hari. Dadaku sesak tiap kali melihatmu ada di depanku. Aku bisa mati cepat kalau terlalu banyak melihatmu,” terang Rosa ketus.
“Aku tidak bisa berhenti kerja,” ujar Vania. “Aku suka kerja di sini. Di sini tempat terbaikku. Kumohon jangan bersikap seperti ini Rosa?”
Rosa menyunggingkan senyuman mengejek. “Orang sepertimu masih berani memohon padaku? Hebat sekali kamu! Benar-benar tidak tahu malu!”
“Rosa, aku harus bekerja karena kontrakku belum selesai. Kamu tahu sendiri aku ada kontrak di sini sebagai karyawan tetap,” terang Vania logis. “Aku tidak pernah melakukan kesalahan. Performa kerjaku bagus.”
“Oh, sekarang kamu mau sombong padaku karena kamu pandai bekerja?” potong Rosa secepat kilat.
“Bukan begitu Rosa. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku masih layak bekerja di sini sebagai bawahanmu,” jelas Vania. “Aku bisa melakukan semua jenis pekerjaan.”
“Oh, benarkah?” timpal Rosa. “Pantas saja kamu bisa tidur dengan tunangan bos sekaligus sahabatmu ya?”
Hati Vania teriris mendengar sindiran sarkas dari Rosa. Dia menggigit bibirnya getir.
“Baiklah kalau kamu memaksa. Aku tidak akan menyuruhmu berhenti bekerja,” ucap Rosa. “Tapi, kamu harus melakukan liputan di daerah erupsi Gunung Merapi.”
“Apa katamu?” Vania terkaget mendengarnya.
“Kamu harus liputan di daerah erupsi Gunung Merapi,” ujar Rosa mengulangi pernyataannya. “Sekarang status Merapi kembali ke titip siaga. Ada beberapa guncangan dan letupan. Ini berita yang tak boleh dilewatkan. Semua orang pasti akan melihat berita ini.”
“Tapi, liputan bencana kan untuk reporter laki-laki? Semuanya sudah ditulis dalam standar operasional kerja perusahaan,” tutur Vania mengingatkan Rosa.
“Kamu sudah melewati norma kewajaran sosial dengan menjadi selingkuhan tunanganku. Apa orang sepertimu layak mendapatkan aturan sesuai standar operasional kerja perusahaan?” timpal Rosa dengan senyuman menyindir. “BIG NO!”
“Tapi—“
“Terima kalau mau kerja di sini. Kalau tidak mau, silakan ajukan surat resign di mejaku siang ini. Aku tunggu,” putus Rosa tanpa banyak kata.
