HANYA WANITA SIMPANAN
Vania melongo karena terlalu kaget dengan pernyataan Rosa. Tubuhnya gemetaran hebat dan kaku.
Rosa melangkah mendekati Vania. Dia menarik tangan Vania hingga secara otomatis Vania ikut tertarik dan nyaris jatuh menubruk kursi yang ada di sampingnya.
“Rosa! Jangan kasar kamu!” teriak Dio marah. Dia menghampiri Vania dan memeluknya. Pandangannya menatap cemas Vania. “Vania, kamu baik-baik saja, kan?”
“Hah, kamu benar-benar mencintai perempuan murahan seperti dia ya?” ucap Rosa kecewa. “Padahal, kita sudah bertunangan. Tapi, kamu malah memilih berkencan dan tidur bersama dia! Apa kamu tidak khawatir akan sesuatu?”
Dio memicingkan pandangan tajam pada Rosa. “Cukup, Rosa! Kamu pikir trik murahan seperti ini akan membuatku semakin bersimpati padamu?” balas Dio. “Aku tidak mencintaimu. Ini hanya pertunangan keluarga saja. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menikahimu!”
“Mau pertunangan keluarga atau bukan, kamu harusnya tahu cara menghargaiku dan keluargaku!” tandas Rosa. “Kamu benar-benar pecundang lemah! Kamu hanya bisa lari dari kenyataan dan menikmati cinta palsumu bersama perempuan seperti itu. Memalukan!”
Orang-orang yang ada di dalam kafe menatap ke arah Vania, Dio, dan Rosa. Mereka berbisik bergosip. Sebagian besar menggunakan ponselnya untuk memotret dan merekam pertengkaran yang terjadi.
Dio menyadari hal itu. Dia langsung merangkul tubuh Vania dan mengambil tas Vania. “Ayo kita pergi,” ajak Dio. Dia menggiring Vania meninggalkan Rosa.
“Minggir!” Vania mendorong Dio menjauh. Dia menatap kecewa pada pria itu.
Vania menatap cincin pemberian Dio. Cincin itu masih lingkar di jari manisnya. Seharusnya dia merasa bahagia melihat cincin itu. Nyatanya, dia malah muak dan marah.
Secepatnya Vania melepaskan cincin itu. Dia melemparnya tepat di muka Dio. “Kita putus!” pekik Vania frustasi. Dia melangkah cepat keluar dari kafe itu. Rasa malu dan marah menghantui dirinya.
Vania bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia langsung mengurung diri di kamar.
Make up di wajahnya luntur terkena tangisannya yang sudah mengalir selama satu jam. Tangan Vania meraih tisu. Dia menyeka air matanya yang tak bisa berhenti mengalir itu.
Pengkhiatan yang luar biasa. Vania tak menyangka dirinya akan menjadi korban cinta palsu Dio.
Pikiran Vania kembali membayangkan semua momen manis saat bersama dengan Dio. Tak pernah sekali pun Dio tampak mencurigakan. Pria itu selalu dipenuh rasa cinta tiap bersama Vania
Vania pikir dia adalah segalanya bagi Dio. Bahkan, dia sudah memikirkan rencana pernikahannya dengan Dio yang mungkin bisa dilakukan tahun depan. Semuanya sudah terancang indah dan sempurna di pikiran Vania. Sayangnya, semuanya sudah hancur sekarang.
Vania kecewa mengetahui fakta bahwa Dio sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain. kekecewaannya semakin menumpuk ketika dia sadar bahwa dia adalah selingkuhan Dio. Ya, itu adalah fakta yang sangat memalukan.
Meskipun dulu Vania pernah menjadi seorang sugar baby, kini dia sudah bertobat sepenuhnya. Dia tak pernah sekalipun menjual dirinya pada para pria tua. Dia bercinta dengan Dio karena dia memang cinta pada Dio.
Ketika Vania sudah bersikap tulus pada seorang pria, kini harapan Vania malah terhempaskan dengan begitu mudah.
“Apa sebenarnya salahku? Kenapa nasibku seburuk ini?” ratap Vania dengan penuh kesedihan.
Lara hatinya masih ada. Semakin lama semakin membuncah. Vania berteriak dan memaki Dio sambil menghadap ke arah cermin lemari di kamar.
Setelah kelelahan, Vania berbaring di kasur. Dia memeluk gulingnya. Wajahnya menatap ke arah cermin lemari.
Vania bisa melihat betapa mengenaskannya dirinya. Dia sudah mempercayai sesuatu yang fana.
Dengan langkah gontai, Vania ke kamar mandi. Dia mengguyur dirinya di bawah shower selama hampir satu jam. Dia berharap semua yang dialami bisa hilang. Dia ingin hal buruk hari ini sirna dibawa aliran air shower.
Usai itu, Vania mengenakan piyama. Dia memilih tidur. Siapa tahu saat terbangun, semuanya hanya mimpi saja.
Saat malam hari, Vania baru terbangun. Dia malas untuk turun dari kasur. Namun, perutnya terasa sangat lapar. Dia sadar bahwa hari ini dia belum makan apapun selain kopi dan roti.
Vania mengambil ponselnya. Dia tak ada tenaga untuk memasak. Dia memilih memesan makanan online.
Vania menunggu sambil mengecek pesan dari Dio dan Rosa. Dia mendapat makian dari Rosa. Makian yang membuat Vania merasa semakin malu dan tak mau untuk masuk kerja lagi. Di sisi lain, Dio meminta Vania untuk memaafkannya. Dia bahkan sudah berada di depan rumah Vania sejak sore tadi.
“Eh? Sejak sore?” desis Vania tersadar. Dia bingung harus melakkukan apa. Jika dia membukakan pintu untuk Dio, bukankah artinya dia memang seorang selingkuhan?
Meski perasaannya berseteru, Vania akhirnya melangkah keluar rumah. Dia mengintip dari tirai kaca jendela di ruang tamu.
Di sana, tampak Dio masih duduk menunggunya. Pria itu tertidur di kursi teras.
Biasanya Vania akan luluh saat melihat Dio bertingkah seperti itu. Dio yang memang sebenarnya manis sifatnya memang susah untuk ditolak. Ditambah lagi, Dio memang tahu cara menghargai seorang perempuan. Tak pernah sekalipun, Dio berkata kasar pada Vania. Karena itulah, Vania sangat senang berpacaran dengan Dio hingga rela tidur dengan Dio.
Namun, sekarang Vania sangat kecewa. Dio sudah berbohong padanya. Gara-gara Dio, Rosa marah besar pada Vania. Sekarang Vania tak tahu harus bagaimana saat Senin depan nanti.
Suara motor ojek online terdengar. Tanda bahwa makanan pesanan Vania tiba.
Vania terpaksa melangkah keluar. Jika dia tidak mengambilnya, dia akan mengalami kerugian. Vania tidak suka merugi. Apalagi, dia harus menabung banyak demi cicilan rumah yang masih tujuh tahun itu.
Buru-buru Vania membuka pintu. Dia melangkah keluar menghampir ojek online. Dia mengambil makanan pesanannya.
“Makasih, Pak,” ucap Vania. Dia melangkah menuju pintu rumahnya.
Sayangnya, Dio sudah terbangun. Pria itu langsung buru-buru menghadang langkah Vania.
“Babe, kita harus bicara,” ujar Dio. “Aku tidak mau putus darimu.”
“Minggir! Aku muak denganmu! Kamu pembohong besar!” balas Vania setengah berteriak. Namun, karena lapar, suara Vania nyaris tak terdengar.
“Vania, kamu sakit?” tanya Dio cemas. “Wajahmu pucat.”
“Aku sudah sakit hati sejak tahu kalau aku ini hanya selingkuhanmu, Dio!” timpal Vania galak. “Puas kamu? Kamu sudah buat aku malu di depan banyak orang. Aku kira aku ini satu-satunya buatmu tapi aku malah selingkuhanmu saja! Dosaku ke kamu apa Dio? Kamu tega sekali buat aku jadi selingkuhanmu!”
“Vania, aku minta maaf. Aku tidak ada niatan buruk. Aku sungguh-sungguh serius soal ingin menikahimu. Cintaku hanya untukmu, Vania,” terang Dio.
“Cinta katamu? Bullshit!” maki Vania. Dia kembali terguncang karena ucapan Dio yang tidak masuk akal itu. “Kalau kamu cinta sama aku, kamu pasti akan memperlakukanku dengan baik. Setidaknya kamu tidak akan mengajakku berpacaran dan menjadikanku selingkuhanmu!”
“Vania, aku mencintaimu. Hanya kamu yang aku cintai,” tutur Dio. “Aku terpaksa bertunangan dengan Rosa karena mama Rosa adalah sahabat mamaku. Mamaku sedang sakit dan dia memintaku menikah dengan Rosa agar bisa memenuhi janjinya pada mamanya Rosa.”
“Kamu pikir aku akan percaya semua itu?” timpal Vania mengejek. “Dio, aku sudah dewasa. Jangan bohongi aku lagi! Cukup sekali saja kamu membohongiku. Aku tidak mau terpuruk lagi karena ulahmu!”
“Vania, aku tidak berbohong. Kamu bisa mengecek rumah sakit di mana mamaku dirawat,” terang Dio. “Malam ini aku bisa mengantarmu menemui mamaku kalau kamu mau.”
Vania menatap curiga Dio. Dia ingin sekali bertemu mama Dio. Namun, perutnya malah berbunyi. Tanda bahwa dia tak bisa menahan rasa laparnya lagi.
“Kamu lapar?” celetuk Dio. “Ayo makan. Aku bawakan banyak makanan buatmu.”
“Nggak perlu! Aku sudah beli,” Vania menunjukkan makanan yang baru saja dia pesan.
“Aku sudah beli banyak. Ayo habiskan,” balas Dio. Dia menggandeng Vania dan mengambil paper bag jumbo yang berisi makanan. Lantas, dia mengajak Vania masuk ke dalam rumah.
Dio mengambil piring dan mangkok. Dia mengurusi Vania dengan baik. Dia benar-benar seorang pasangan yang manis. Itulah yang terpikirkan oleh Vania.
“Makanlah. Setelah itu, kita bisa bicara lagi,” tutur Dio lembut. “Aku juga lapar. Kita makan bareng ya? Rencananya kan kita kencan hari ini.”
“Kita sudah putus,” ujar Vania ketus. “Pulang saja setelah makan. Tidak ada hal yang perlu kita bahas sekarang.”
Vania mengambil sendoknya. Dia makan dengan lahap.
Anehnya, Dio tak banyak makan. Pria itu lebih memilih diam dan melayani Vania dengan baik.
Perut Vania benar-benar penuh. Kini dirinya tak lagi pusing dan lemas. Energinya sudah kembali seperti semua.
“Ini puding buah kesukaanmu,” Dio memberikan makanan penutup untuk Vania.
“Kamu tidak ada rencana pergi sekarang?” balas Vania. “Aku sudah mengusirmu berulang kali.”
“Aku tidak berencana pergi. Aku ingin meyakinkanmu bahwa aku tulus mencintaimu, Vania,” terang Dio.
“Kalau tulus, kamu harus putuskan pertunanganmu dengan Rosa. Bersikaplah yang adil, Dio! Aku ini punya perasaan! Kamu pikir aku tidak tertekan sekarang? Bagaimana anggapan Rosa tentangku? Aku malu jika harus bertemu Rosa. Dia atasanku!” oceh Vania mengeluarkan unek-uneknya.
“Vania, kamu bisa keluar dari pekerjaanmu,” ucap Dio. Dia mencoba memberikan alternatif solusi. “Kamu bisa bekerja di perusahaanku. Sebenarnya aku pimpinan perusahaan. Aku bisa dengan mudah memberikanmu posisi sebagai asistenku.”
“Tapi, aku tetap jadi selingkuhanmu? Gila kamu!” bentak Vania tak setuju.
“Beri aku waktu satu tahun, Vania. Dalam satu tahun ini, akan aku selesaikan semuanya. Setelah itu, kita bisa menikah. Please? Jangan putusin aku? Cintaku hanya untukmu Vania?” Dio meraih jemari tangan Vania dan menggenggamnya erat. Dia mencium jemari tangan Vania. Pandangannya memelas menatap Vania. Dia berharap Vania mau mengabulkan permintaannya itu.
