Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

DOUBLE DATE

“Dio, kenapa dia bersikap aneh?” desis Vania tak paham.

“Vania?” panggil salah seorang teman Vania.

“Iya,” sahut Vania. Dia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku blazernya. Setelah itu, dia melangkah kembali ke dalam ruangan dan menyelesaikan sisa pekerjaannya di kantor hari ini.

Malam harinya Vania menikmati malamnya dengan berendam di dalam bathup rumah barunya. Dia senang karena akhirnya bisa mengumpulkan uang dan membeli rumah impiannya. Sebuah rumah mungil dan sederhana di kawasan kota Jogjakarta. Rumah yang cocok untuk wanita karir yang hanya ingin menikmati hidup seperti Vania.

Vania mengambil gelas bundarnya yang berisi jus mangga. Tadi dia membeli jus mangga saat perjalanan pulang ke rumah.

Tangan Vania meraih ponselnya. Dia menghitung sisa tagihan yang harus dia bayarkan.

“Hm, masih perlu tujuh tahun lagi buat lunasi semuanya. Tapi, cukuplah. Aku nggak mau hidup terlunta-lunta di masa tua,” tekad Vania bulat.

Vania mengingat masa lalunya. Dulu kehidupannya sangat suram. Papanya terkena skandal kasus korupsi kala itu. Semua aset berharga milik keluarganya disita.

Mama Vania sangat stres menerima kenyataan itu. Akhirnya, Mama Vania malah terkena depresi dan memilih bunuh diri.

Tak ada kerabat yang mau merawat Vania. Satu-satunya peninggalan orang tuanya hanyalah sisa buku tabungan dan rumah kontrakan yang hanya bisa Vania huni sampai Vania lulus SMA.

Di saat itulah, Vania akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang sugar baby. Dia masih tak terbiasa dengan kehidupan miskin karena orang tuanya terbiasa memanjakannya. Vania pun tak mau hidup susah. Pilihan paling mudah bagi Vania adalah menjadi seorang sugar baby. Dia rela menggadaikan keperawanannya untuk para pria tua yang haus belaian wanita muda.

Selama beberapa tahun, Vania menjalani kehidupan ganda. Saat siang hari dia menjadi seorang pelajar biasa yang pendiam dan tak memiliki teman dekat. Di saat malam hari, dia berdandan cantik dan menjadi wanita penghibur untuk para pria tua yang mau memberinya banyak uang.

Vania tak pernah menyesali hal itu. Berkat pekerjaan itu, dia bisa tetap sekolah di salah satu sekolah elit di Jogja dan mengambil kuliah di kampus elit.

Namun, semakin bertambah usia, Vania berpikir tak mungkin baginya untuk tetap bekerja sebagai sugar baby. Apalagi dia sudah akan lulus kuliah.

Vania merancang kembali rencana kehidupannya. Dia mulai ikut magang di perusahaan dan memutuskan hubungannya dengan sugar daddy-nya.

Saat lulus, Vania sudah bekerja. Sebuah pekerjaan baru yang tentunya berat jika dibandingkan dengan menjadi seorang sugar baby. Akan tetapi, Vania tidak menyerah. Dia ingin memiliki pekerjaan nyata dan hidup mandiri. Dengan begitu, dia tak perlu menyusahkan orang lain.

Pandangan Vania menatap cincin bermata sapphire di jari manisnya. Dia mengulas senyuman simpul. Baru kali ini Vania berpikir untuk serius menjalani sebuah hubungan romansa. Padahal, dia sempat berpikir untuk bermain-main saja dengan Dio sebelumnya. Nyatanya, Dio malah melamar Vania pagi ini. Vania pun mengiyakan lamaran Dio tanpa berpikir panjang.

“Sepertinya aku sudah gila,” decak Vania.

Ada sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Vania. Tampak nama Dio berada di sana. “Vania, aku di depan rumahmu. Bukakan pintu untukku,” pinta Dio lewat pesan itu.

Vania mengulas senyuman lega. Pikiran negatifnya tentang Dio perlahan sirna. “Ya, mungkin memang benar bahwa Dio kehilangan sinyal saat menerima telepon dariku,” tutur Vania.

Namun, Vania sengaja tak membalas pesan Dio. Dia ingin Dio merasakan perasaannya siang tadi. Dia membiarkan Dio menunggunya tanpa kabar. Dengan begitu, situasi akan menjadi impas.

Sekitar satu jam kemudian, Vania membukakan pintu rumahnya untuk Dio. “Dio,” panggil Vania dengan senyuman manisnya. Dia melambaikan tangannya pada pria itu.

“Vania!” seru Dio. Dia segera bangun dari duduknya lantas berlari kecil menghampiri Vania. “Lama sekali kamu membukakan pintu untukku?”

Dio tampak memprotes sikap Vania. Namun, Vania memilih bersikap cuek.

“Masuk,” suruh Vania.

Dio menghela napas kesal. Namun, dia tetap melangkah ke dalam rumah Vania.

Vania mengunci pintu rumah. Dia melihat Dio melangkah ke dapur dan menaruh makanan bawaannya di piring.

“Aku beli makanan untukmu,” ujar Dio. Dia tersenyum lebar dan menyajikan semuanya di atas meja.

Vania duduk. Dia mengambil salah satu kue manis yang dibawa Dio dan memakannya. Rasanya enak. Ada perpaduan rasa pandan dan cokelat.

“Kamu beli di mana?” tanya Vania.

“Kamu suka? Aku bisa belikan tiap malam untukmu,” terang Dio. Dia duduk di samping Vania. Tangan Dio merangkul tubuh Vania. Dia mencium pipi Vania dengan mesra.

“Wangi sekali kamu, Sayangku,” puji Dio. Semerbak aroma peach menguar dari tubuh Vania. Dio mabuk kepayang usai menciumnya.

“Aku baru selesai mandi,” tutur Vania. Dia masih lanjut makan. Mendadak perutnya diserang rasa lapar.

“Habis makan, kita bisa lanjut ke kasur, kan?” kekeh Dio menggoda kekasihnya itu.

Vania memasukkan kue ke mulut Dio. “Aku harus mengedit pekerjaanku. Malam ini tidak ada seks untukmu," tolak Vania secara blak-blakan.

Dio buru-buru mengunyah dan menelan makanan di mulutnya. Dia mengambil gelas air dan meminumnya. “Kenapa begitu?” balas Dio tak terima.

“Aku sibuk, Dio. Sebentar lagi akhir bulan. Aku harus menyelesaikan sisa deadline pekerjaanku agar aku punya waktu untuk bermesraan denganmu,” jelas Vania. “Bukannya kamu pengen kita bermalam beberapa hari di vila tepi pantai?”

“Ah, benar juga. Aku baru ingat,” sahut Dio sambil menepuk jidatnya.

Vania mengulas senyuman tipis. “Kamu mudah lupa dengan rencana-rencana kita. Apa pekerjaanmu sedang sibuk juga?” tanya Vania.

“Lumayan,” ucap Dio singkat.

“Oh ya soal siang tadi, kamu mau tidak ikut double date dengan temanku?” tanya Vania lagi.

“Kenapa harus double date?” balas Dio malas-malasan. “Aku tidak suka kencan seperti itu.”

“Ayolah, Dio? Temanku sangat ingin bertemu denganmu,” bujuk Vania. “Mau ya?”

Dio tak langsung menjawab. Dia menatap Vania cukup lama.

Vania masih terus membujuk Dio. Dia tidak ingin mengecewakan Rosa. Apalagi, Rosa adalah teman terbaiknya di kantor.

“Baiklah. Kapan?” tanya Dio.

“Weekend ini. Siang hari di kafe,” jawab Vania dengan riang. Dia memeluk tubuh Dio dengan erat. “Makasih ya, Babe. I love you.”

“Kiss me, then?”

“Alright,” sahut Vania. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Dio. Bibir Vania memagut bibir Dio dengan mesra. Dia mencium dan melumat bibir pria itu dengan penuh hasrat.

***

Tepat di hari Sabtu pagi, Vania sudah bersiap diri. Dia memilih pakaiannya berupa dress dengan motif bunga sakura. Dia memoleskan lipstik warna merah menyala. Senyuman Vania tersungging manis di wajah.

“Sempurna,” ujar Vania dengan senyuman lebarnya.

Vania melihat jam tangannya. Sekarang sudah pukul 11 siang. Dia berencana double date dengan Rosa jam 12 siang.

Vania segera keluar dari rumah. Dia mengendarai mobil kantor yang menjadi fasilitas untuknya selama bekerja dan mengemudikannya ke kafe.

Sesampainya di kafe, Vania menatap heran Rosa. Tampak Rosa duduk sendirian di sana.

Vania melangkah menghampirinya. “Rosa!” seru Vania riang.

“Oh, Vania,” balas Rosa terkaget. Wajah Rosa tampak sendu.

“Kenapa? Kok sedih? Mana pacarmu?” tanya Vania. Dia duduk di depan Rosa.

Rosa menghela napas sedih. “Pacarku bilang ada pekerjaan mendadak. Dia tidak bisa ikut double date ini,” terang Rosa dengan wajah nyaris ingin menangis.

“Astaga, kenapa mendadak sekali?” balas Vania sedih.

“Entahlah. Dia memang punya bisnis dan sedang bagus-bagusnya,” terang Rosa.

“Calon pimpinan perusahaan ya?” tebak Vania.

Rosa menganggukkan kepala. “Kami sudah lama dijodohkan. Orang tua kami saling mengenal,” tutur Rosa. “Pekerjaan dia bagus dan aku menyukai hal mapan seperti itu.”

“Tapi, dia sibuk bekerja,” ucap Vania kasihan.

“Tidak masalah. Aku harus menjadi pasangan yang pengertian,” tutur Rosa.

“Berarti double date kita batal dong ini?” tanya Vania memastikan.

Rosa menganggukkan kepala. “Nanti aku buat lagi deh. Aku pastiin tunanganku bisa datang,” terang Rosa. “Aku pamit sekarang ya, Vania. Kamu lanjut kencan tanpa aku saja.”

“Iya, hati-hati, Rosa,” tutur Vania.

Hati Vania sedikit sedih melihat Rosa pergi dari kafe secepat ini. Namun, dia tak bisa memaksa Rosa untuk tetap bersama dengannya. Dia tak ingin Rosa menjadi orang ketiga dalam kencannya dengan Dio.

Untungnya, tak berapa lama, Dio datang. Pria itu tiba dengan membawakan buket mawar yang semerbak harum baunya.

“Ini untukmu,” ucap Dio dengan senyuman lebar.

Vania menerima buket mawar merah itu dengan hati bahagia. “Wah, makasih ya, Babe,” Vanie merangkul dan mencium kedua pipi Dio.

Dio duduk di sisi Vania. “Mana temanmu? Telat?” tanya Dio penasaran. Seingatnya, teman Vania-lah yang memaksa untuk mengadakan double date ini.

Vania menghela napas sedih. “Pacar Rosa tidak bisa datang. Dia sudah pulang duluan tadi,” terang Vania.

“Siapa bilang aku sudah pulang duluan?” timpal Rosa dari belakang.

Vania dan Dio sama-sama terkaget mendengar suara Rosa. Keduanya menoleh ke arah Rosa. Tampak Rosa menatap tajam ke arah Vania dan Dio.

“Ro-Rosa, kenapa balik lagi?” tanya Vania polos. “Ada barangmu yang ketinggalan?”

Rosa menyunggingkan senyuman jahat di wajahnya. “Bukan barangku yang ketinggalan tapi pacarku yang lebih memilihmu dibandingkan aku!” balas Rosa dengan penuh amarah. “Tega sekali kamu, Vania. Kamu sudah berpacaran tiga bulan bersama pacarku!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel