Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sandra Bohong

Sandra tersenyum lirih mendengarnya. Ia kemudian menghela napasnya dengan panjang dan mencari menu makanan yang bisa dia makan di malam itu. 

“Kenapa diam?” tanya Gerald penasaran. 

Sandra menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku sedang mencari menu makan dulu.” 

Gerald menelengkan kepalanya seraya menatap Sandra dengan tatapan lekatnya. “Kamu ... tidak mau bertanya, siapa perempuan itu?” tanyanya kemudian. 

Sandra menggeleng pelan. ‘Tidak perlu tahu. Kamu hanya bertanggung jawab padaku alih-alih benih yang kamu tanam di rahimku akan tumbuh. Setelah itu, tidak perlu lagi ada yang harus kamu lakukan padaku. Kamu hanya mencintainya, tidak akan pernah terbagi dengan siapa pun termasuk aku jikalau nanti aku harus mengandung bayi kamu,’ ucapnya dalam hati. 

Sandra tidak ingin berharap banyak kepada lelaki itu. Mencintainya adalah satu kesalahan besar yang nantinya hanya akan membuatnya makan hati, bertepuk sebelah tangan, bahkan tidak dianggap ada.

“Bagaimana kalau ternyata perempuan itu adalah kamu?” 

Sandra lantas mengadahkan kepalanya dengan cepat kepada lelaki itu. Ia kemudian tersenyum lirih seraya menatapnya dengan sayu. 

“Jangan berikan harapan palsu, Gerald. Yang masih single dan juga lebih cantik dariku masih banyak. Jangan ingkari janjimu hanya karena satu kesalahan yang sudah kita lakukan. Aku tidak mau merusak hubungan kalian.” 

Gerald lantas terkekeh mendengarnya. “Kalau bisa dibilang, akulah yang merusak hubungan kamu dengan suami kamu. Betul begitu?” 

Sandra mengendikan bahunya. Sembari menunggu pesanan selesai, keduanya hanya saling tatap. Sandra masih diam, tidak menjawab apa pun kepada lelaki itu. 

“Harusnya kamu tanya pada diri kamu sendiri. Kenapa aku melakukan semuanya. Kenapa aku menjadi semakin dekat setelah kejadian malam itu. Kamu … tidak ingin menanyakan hal itu?” 

Gerald menatap Sandra dengan tatapan yang sulit diartikan oleh perempuan itu. Sandra kemudian menelan saliva dengan pelan dan menghela napasnya dengan panjang. 

“Karena kamu mengkhawatirkan aku hamil. Kamu mengkhawatirkan benih itu tumbuh. Tidak lebih dari itu, kamu hanya ingin bertanggung jawab.” 

Gerald mengambil minuman yang sudah dibawakan oleh pelayan di sana. “Sandra, Sandra.” Gerald geleng-geleng kepala kemudian menyeruput es jeruknya itu. 

“Kenapa?” tanyanya kemudian. “Ada yang salah, dengan ucapanku tadi?” 

Gerald menggelengkan kepalanya. “Jangan belanja banyak-banyak. Nanti suamimu curiga, kenapa banyak stok makanan di rumah. Tadinya aku mau ajak kamu jadi bandel. Tapi, aku masih takut Papa.” Gerald menerbitkan cengiran kepada perempuan itu. 

“Papa kamu … galak?” 

Gerald mengendikan bahunya. “Nggak. Tapi, kalau ada satu kesalahan yang buat dia murka, semuanya pasti kena imbasnya. Kecuali Mommy. Papa hanya tunduk padanya.” 

“Suami takut istri, yaa.” 

Geral tertawa sembari menganggukkan kepalanya. “Iya, bisa dibilang seperti itu,” ucapnya seraya mentap wajah Sandra. 

“Mommy punya sifat keras kepala, tidak mau dikekang tapi suka mengekang. Ada satu pesan masuk di HP Papa dan nggak ada namanya, siap-siap aja Papa kena sidang tujuh hari tujuh malam.” 

Gerald menceritakan betapa ganasnya Kayla kepada suaminya itu. Hanya berlaku pada Jason, tidak dengan ketiga anaknya. Kepada anaknya, hanya kelembutan dan kasih sayang yang akan dia berikan. 

Sandra mengulas senyumnya. “Kamu beruntung, punya mama sambung yang baik hati dan penyayang.” 

Gerald menganggukkan kepalanya. “Lalu, kamu mau nggak, jadi menantunya Mommy?” 

Sandra lantas menolehkan kepalanya dengan cepat. “Heuh?” tanyanya dengan mata membola. 

Gerald terkekeh melihatnya. “Aku akan bantu kamu untuk keluar dari siksaan suami kamu itu. Jangan pikirkan apa pun. Everything will be fine!” 

Sandra menatap Gerald dengan mata berkaca-kaca. Ke mana lagi, dia mencari pria baik seperti Gerald kalau bukan lelaki itu sendiri. 

“Tapi, Gerald ….”

“Masih tidak enak dengan wanita yang aku cinta? Sudah aku katakan, perempuan itu adalah kamu!” Dengan tegas, lelaki itu memberi tahu wanita yang dia cintai itu. 

“Heuuh? Ta—tapi, Gerald. Bagaimana mungkin? Kamu bohong, kan? Kamu … kamu hanya tidak ingin aku terus menerus merasa bersalah, kan?” 

Gerald mengembungkan pipinya seraya menghela napasnya dengan pelan. Matanya kemudian menatap Sandra yang tengah menatap makanan yang sudah tersedia di depannya itu. 

“Makan dulu, Sandra. Jangan pikirkan ucapanku tadi. Aku tahu, perutmu sudah lapar. Setidaknya, aku bisa memberi kamu makan untuk kedua kalinya. Sebagai bentuk tanggung jawabku untuk kamu.” 

Gerald menerbitkan senyumnya kemudian memotong steak lantaran ia pun sudah lapar. 

Tiga puluh menit berlalu. Gerald mengantar Sandra membeli beberapa bahan pokok makanan di supermarket. Masih saling diam. Sandra masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gerald kepadanya. 

Mencintainya? Bagaimana bisa, sementara dirinya hanyalah wanita biasa. Menikah dengan pria yang ternyata hanya untuk dijadikan sebagai sumber uangnya, mengunci dirinya atas nama utang orang tuanya yang belum dilunasi kepada keluarga Gery. 

“Sudah?” tanya Gelard kemudian. 

Sandra menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sesuai dengan perintah Gerald, perempuan itu hanya membeli beberapa bahan pangan saja agar Gery tidak mencurigainya. 

Gerald mengambil kartu debit miliknya dan membayar semua makanan yang dibeli oleh perempuan itu. 

“Gerald. Uang yang kamu kirim ke rekeningku masih ada.” 

“Aku tahu. Itu untuk simpanan kamu.” Gerald kembali mengulas senyumnya kemudian membawakan handbag itu lalu keluar dari supermarket tersebut. 

“Gery, tidak pernah menghubungi kamu? Sudah jam sepuluh, dan kamu tidak dicari olehnya?” tanya Gerald ingin tahu. 

Sandra menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku tidak terlalu takut harus pulang jam berapa. Tapi, kalau diantar oleh laki-laki, aku tidak yakin jika aku akan baik-baik saja.” 

Gerald menghela napas kasar. “Aku juga takut, kalau kamu pulang menggunakan taksi. Tidak masalah. Aku akan menurunkan kamu seratus meter dari rumah kamu. Oke?” 

Sandra menghela napasnya dengan pelan. “Semoga Gery belum pulang.” 

Gerald mengangguk. “Don’t worry. Suami kamu lagi senang-senang, dengan uang yang sudah dia ambil dari dompetmu. Aku akan mencari bukti perselingkuhan suami kamu itu.” 

Sandra tersenyum lirih. “Terima kasih, atas bantuannya.” 

“Sama-sama. Jangan sungkan untuk meminta apa pun padaku. Meskipun kamu tidak percaya, kalau wanita itu adalah kamu, it’s oke. Aku tidak akan memaksa kamu untuk percaya. Yang penting saat ini, aku sudah mengakui semuanya.” 

Sandra hanya diam. Masih belum yakin jika Gerald mencintainya dari dulu hingga kini. Tidak ada yang istimewa dari dirinya, apa yang membuat Gerald jatuh hati kepadanya. Ia hanya wanita biasa yang kebetulan kenal dengan Gerald sejak mereka duduk di bangku sekolah. 

Sudah tiba di rumah. Sandra bergegas masuk ke dalam rumahnya sembari membawa kantong belanja. 

“Sudah hampir jam sebelas. Syukurlah, kalau dia tidak pulang malam ini. Setidaknya aku tidak kena pukulan lagi olehnya,” gumamnya seraya memasukan makanan beku ke dalam frezzer. 

Brak! 

Namun, baru saja Sandra menghela napas lega, suara langkah kaki dengan lebar itu masuk kemudian menghampirinya. 

Sorot mata tajam itu membuat Sandra ketakutan. Apa yang akan dilakukan oleh pria itu kepadanya. 

Plak! 

“Aahh!” Sandra memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan keras dari pria itu. “Apa lagi, Mas? Aku salah apa lagi, huh?” pekik Sandra dengan kesabaran yang sudah habis. 

“Kamu bilang, mau ke pesta ulang tahun kampus. Tapi, kamu malah pergi dengan pria ini! Siapa dia, Sandra?” teriaknya seraya memberikan sebuah foto bukti, Sandra dibawa Gerald masuk ke dalam mobil lelaki itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel