Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Boleh dicoba lagi?

Sandra menghela napasnya setelahnya ia mengambil foto tersebut. Di malam ulang tahun itu, seseorang yang sudah menjebaknya hingga harus tidur dengan Gerald dijadikan alat untuk membuat Gery semakin geram padanya. 

“Dia mahasiswa di kampus. Kita pernah bertemu dengannya lima tahun yang lalu saat memberikan undangan di sekolah. Kamu tidak ingat? Sebagai murid yang hormat pada gurunya, apakah tidak diperbolehkan, dia mengantar aku pulang?” Sandra bertanya dengan jantung yang berdegup dengan kencang. 

“Kamu sendiri, dapat dari mana … foto itu? Kayak sengaja banget, ingin buat aku selalu salah di mata kamu. Aku ulangi sekali lagi, Mas. Ceraikan aku! Jangan mencari alasan untuk terus menyiksaku. Bukti itu, silakan kamu jadikan untuk di meja sidang. Kalau kamu tidak ingin dipermalukan oleh keluarganya!” 

Gery menatap tajam wajah Sandra. “Mulai berani kamu, yaa!” Sekali lagi, lelaki itu hendak memukul Sandra. Namun, dering ponselnya menyelamatkan Sandra dari pukulan keras tangan kekar itu. 

Sandra memejamkan matanya sekejap seraya menyibakan rambutnya dengan kedua tangannya. Kemudian masuk ke dalam kamar dengan langkah tertatih. 

Tidur meringkuk sembari memeluk kedua lutut kakinya. Perasaan campur aduk, sakit hati, emosi, dan menginginkan pisah dengan Gery semakin menjadi setelah hadirnya Gerald dalam hidupnya. 

“Kalau memang akulah orang yang kamu cinta, bisakah kamu selamatkan aku dari siksaan hidup yang sungguh membuatku tidak berdaya ini, Gerald. Kamu baik, pria tulus sepertimu seharusnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Tapi, aku pun menginginkan kamu,” lirih Sandra dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. 

“Siapa aku? Berharap banyak pada pria itu. Dia tidak mencintaimu, Sandra. Dia hanya bertanggung jawab alih-alih kamu akan hamil suatu hari nanti.” Sandra menelan saliva dengan pelan. 

Hari sudah malam. Waktu sudah menunjuk angka dua belas malam. Sandra harus tidur karena masih banyak hal yang harus dia lakukan selain memikirkan perasaan Gerald, keinginannya untuk berpisah dengan Gery. 

**

Satu minggu berlalu. Sudah satu minggu pula, Sandra selalu mendapat perhatian banyak dari Gerald. Dia lakukan agar Sandra segera percaya jika wanita yang dibahas oleh semua orang adalah dirinya. Wanita yang sudah berhasil membuat Gerald enggan untuk mencintai perempuan lain selain dirinya. 

“Morning, Mommy.” Gerald mencium pipi sang mama yang tengah mengolesi selai di atas roti atas permintaan sang suami. 

“Morning, anak handsome. Hari ini, pulang jam berapa?” tanya Kayla kemudian. 

“Seperti biasa, jam lima. Kenapa, Mom? Nanti malam, aku mau ketemuan sama Nicko. Ada yang ingin dia bahas katanya.” 

“Ciee. Yang makin akrab sama calon ipar. Semalam kamu habis dari mana?” 

“Makan di luar.” Gerald menatap Kayla kemudian mata itu melirik ke kanan dan ke kiri. Mencari keberadaan sang papa. 

“Ada apa sih?” tanya Kayla kepada anaknya itu. Ia penasaran lantaran melihat gerak-gerik mata Gerald yang tengah mencari keberadaan orang di sekitaran sana. 

Gerald menatap mamanya lagi. “Mom. Sandra ….”

“Kenapa dengan Sandra? Jangan buat masalah, Gerald. Kamu tahu kan, kamu masih kuliah. Papa mau bantu kamu kalau kamu sudah lulus, Gerald.”

“Mom. Kalau harus nunggu setahun, kelamaan.” Gerald menghela napasnya dengan pelan. “Dia kerap disiksa oleh suaminya dan sekarang dia jadi tulang punggung, mencari nafkah untuk memuaskan gaya hidup Gery yang nggak tahu dibuat apa,” ucapnya menjelaskan.

“What?! Kok bisa? Emangnya suaminya nggak kerja? Bukannya dia pemilik wahana kolam renang itu? Pertama kali kamu kenal dekat dengan Sandra.” Kayla tampak terkejut mendengar penuturan anaknya itu. 

“Itulah, Mom. Rupanya, sudah tiga tahun ini, Sandra dijadikan kacung oleh suaminya. Dia nggak kerja, hanya Sandra saja yang kerja. Jadi dosen di kampus. Dan … dia pengen cerai dengan suaminya.” 

“Yaa jelas lah, Gerald. Perempuan mana, yang mau dijadikan kacung oleh suaminya sendiri. Kalau itu sih … coba Mommy bicarakan lagi sama papa kamu, yaa. Semoga dia mau bantu kamu. Apakah si Gery ini … punya perempuan lain?” 

Gerald mengangguk dengan semangat. “Katanya, sudah tiga bulan ini mereka pisah ranjang. Gery sudah tidak pernah menyentuhnya lagi.” 

Kayla mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan anaknya itu. “Kok kamu tahu … sampai hal privasi begitu, kamu tahu?” tanyanya penuh curiga. 

Gerald menelan salivanya seraya menatap sang mama. 

“Gerald. Jangan bilang ….”

“Mom! Itu nggak sengaja, sumpah!” 

Kayla menganga. Kemudian menghela napasnya dengan panjang seraya menatap anaknya yang sudah ketakutan akan tatapan mamanya itu. 

“Lanjutkan, Gerald!” 

“Haaah?!” 

Kayla menghela napasnya lagi. “Kenapa kamu melakukan itu? Bukan lanjutkan bercinta dengan dia! Enak saja.” Kayla menyunggingkan bibirnya.

“Ooh!” ucapnya pelan. “Nggak sengaja Mom, sumpah. Aku nggak pernah berniat untuk melakukan it—“

“Kalau begitu ceritanya, kamu yang akan dituntut, Gerald. Semoga saja tidak hamil,” ucapnya dengan pelan. Ia kemudian memijat keningnya seraya menatap Gerald yang tengah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. 

“Itu, yang kamu pikirkan?” tanya Kayla kemudian. 

Gerald mengangguk pelan. Kayla memejamkan matanya sekejap kemudian menghela napasnya lagi. 

“Tapi, Ger. Lima tahun nikah sama Gery aja dia nggak hamil, lho.” 

“Karena dijaga, Mom. Tiga bulan itu, karena Gery udah nggak pernah sentuh dia, udah nggak pernah dijaga lagi.” 

Semakin lemas lah tubuh Kayla. “Mommy pikir, karena ada gangguan. Ternyata emang dijaga.” 

“Sorry, Mom. Kejadiannya di pesta ulang tahun kampus minggu lalu. Saat itu kondisinya lagi genting. Ada yang jebak dia dengan memasukan obat perangsang ke minumannya. Karena kami sudah saling kenal dari dulu, dia hanya percaya ke aku. Dan akhirnya … you know lah!” Gerald menggaruk belakang kepalanya seraya melenguh pelan. 

“Patut dicurigai. Kalau bukan dari pihak kamu, berarti di pihak Sandra.” Kayla kemudian menatap sang anak dengan tatapan lekatnya. “Bukan kamu kan, yang sengaja jebak dia?” 

Gerald menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Secinta-cintanya aku ke dia, bukan berarti harus melakukan hal gila itu, Mom. Kalau memang mau, yaa tinggal bilang aja. Ngapain harus dijebak!” 

Kayla tersenyum miris. “Seneng, karena Sandra minta bantuan kamu?” 

Gerald mengendikan bahunya. “Mom, please. Bantuin aku, kali ini aja. Apa pun Papa minta, aku akan lakukan deh. Yang penting Papa mau bantu Sandra buat pisah dengan suaminya,” pintanya memohon dengan memasang wajah melasnya. 

“Hanya di malam itu saja? Tidak kamu lanjut lagi? Soalnya, waktu Mommy goda papa kamu, setelah itu lanjut lagi sampai Mommy hamil.” 

Gerald menggeleng lagi. “Nggak. Hanya malam itu saja.”

Kayla menatap dengan menelengkan kepalanya. “Enak, yaa?” 

“Apaan sih! Nggak usah ngeledek!” 

Kayla tertawa pelan. “Nggak kayak papa kamu, kan? Dia kan maniak. Kamu, kayak gitu juga nggak?” 

Gerald menggeleng pelan. “Boleh dicoba lagi nggak, yaa?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel