Akan Kunikahi
“SANDRAA!” Suara pekikan keluar dari mulut pria yang baru saja pulang dengan wajah telernya.
Perempuan itu tersentak lantaran terkejut dengan suara teriakan dari suaminya itu. Bergegas perempuan itu masuk ke dalam kamarnya menghampiri Gery yang berteriak memanggil namanya.
“Ada apa, Mas?” tanyanya dengan raut wajah paniknya.
Mata itu menatap tajam wajah Sandra hingga membuatnya ketakutan. Dompet milik perempuan itu dilempar dengan keras ke arah wajah sang istri hingga membuat Sandra merintih kesakitan.
“Uang dari mana itu, Sandra? Jual diri kamu, huh?!” teriaknya lagi.
Sandra menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak, Mas. Astaga. Kenapa mulutmu tajam sekali. Aku tidak pernah menjual diri hanya untuk mendapatkan uang.”
“Jangan bohong! Lalu, uang dari mana ini, huh? Kamu tidak punya pekerjaan sampingan selain jadi dosen. Tidak mungkin kalau kamu tidak jual diri! Lima juta ini, Sandra. Lima juta!” pekiknya lagi.
Dia mencacinya. Namun, uang itu ia ambil juga. Munafik, adalah satu kata yang pantas diucapkan oleh Sandra kepada suami tempramennya itu.
“Mau kamu apa sih, Mas? Aku kerja banting tulang, cari anak-anak yang ingin les private demi mendapatkan uang lebih. Tapi, kamu selalu menganggapku rendah. Aku sudah bilang berkali-kali pada kamu. Ceraikan aku, jika kamu sudah tidak menginginkan—“
Plak!
Bukan permintaan maaf yang diucapkan Gery. Melainkan sebuah tamparan melayang keras pada pipi perempuan itu.
Ia kemudian merintih. Menangis dalam diam seraya memegang pipinya yang panas akibat tamparan keras dari suaminya itu.
“Cerai? Bayar utang orang tuamu dan juga biaya hidup yang sudah aku keluarkan, Sandra!” pekiknya lagi.
Sandra kemudian mengadahkan wajahnya. Menatap nanar suaminya. “Berapa? Berapa uang yang harus aku bayarkan, huh?”
Gery tertawa campah kemudian mengusap ujung hidungnya. “Seperti mampu saja. Utang orang tuamu sudah lima belas tahun tidak dibayar. Bunganya pun sudah berjalan dan kamu tidak akan mampu membayarnya.”
“Katakan saja. Berapa, uang yang harus aku bayarkan!” ucapnya sekali lagi.
Gery menghela napas kasar. “Lima ratus miliar. Silakan cari uang sampai ke ujung dunia supaya kamu mendapatkan uang sebanyak itu!” ucapnya kemudian menyingkirkan tubuh Sandra lalu keluar dari kamar perempuan itu.
Pergi kembali setelah merampas uang milik Sandra yang diberikan oleh Gerald tadi siang. Sementara Sandra masih menganga mendengar permintaan Gery. Agar memberinya uang sebesar lima ratus miliar untuk membebaskan dia dari siksaan lelaki itu.
“Dari mana uang sebanyak itu. Sampai mati pun aku tidak akan mendapatkannya,” rintihnya kemudian duduk di tepi tempat tidur. Menangis lagi sembari memeluk kedua lututnya.
“Kenapa kalian jahat sekali. Kalian yang berutang, kenapa aku yang tersiksa,” lirihnya pelan. Dadanya terasa sesak. Nasib sial yang dia alami begitu menyiksa dirinya.
Mencari uang sebanyak itu agar terbebas dari siksaan Gery bukanlah hal yang mudah. Sandra hanya pasrah. Jikalau memang dirinya ditakdirkan hanya untuk hidup melarat, biar saja.
Waktu sudah menunjuk angka delapan malam. Stok beras dan sembako lainnya sudah habis. Sandra tidak bisa memasak di malam itu. Sementara perutnya sudah keroncongan. Uang diberikan Gerald kepadanya pun sudah habis diambil Gery yang kini sudah menghilang lagi.
Sandra lantas keluar dari rumahnya. Pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan untuk stok di rumahnya.
“Mau ke mana?”
Suara berat itu mengagetkan Sandra yang tengah berjalan menyusuri trotoar. Kemudian Gerald keluar dari mobilnya dan menghampiri perempuan itu.
“Gerald. Ngapain kamu di sini?” tanyanya sembari menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Khawatir ada Gery melihatnya.
“Mau ke mana? Aku antar deh. Gery nggak ada di rumah, kan? Tadi aku lihat dia dijemput cewek. Nggak tau pasti dia siapa, tapi kayaknya ... aku nggak mau berasumsi yang aneh-aneh.” Gerald menerbitkan senyumnya.
Ia kemudian menarik tangan perempuan itu membawanya masuk ke dalam mobilnya.
“Aku tanya sekali lagi. Mau ke mana?” tanya Gerald setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
“Ke supermarket. Sembako di rumah sudah habis,” ucapnya pelan. Perut itu kembali berbunyi hingga membuatnya tak mampu untuk mengadahkan kepalanya.
Gerald terkekeh sembari geleng-geleng kepala. “Pantas saja tubuhmu kurus kering, Sandra. Jarang makan rupanya. Bukan hanya itu saja. Tapi juga batin, hidup di sarang hantu. Kita makan malam dulu, kebetulan aku juga belum makan.”
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Gerald menyunggingkan senyum seraya melajukan mobilnya. “Habis nangis? Mata kamu sembab. Diapakan lagi, sama suami kamu itu?”
Sandra menghela napasnya. “Dituduh jual diri karena ada uang di dompetku,” ucapnya pelan.
Gerald terdiam. Maksud hati ingin menolongnya, Sandra malah mendapat tuduhan yang cukup mengerikan.
“Sorry, Sandra. Aku nggak bermaksud unt—“
“Tidak masalah, Gerald. Toh! Memang sebenarnya aku sudah menyerahkan tubuhku ke kamu malam itu.” Sandra menyela ucapan Gerald.
“Tapi, bukan berarti kamu menjualnya. Kejadian itu tidak sengaja. Kalau menjualnya memang karena niat ingin menjual diri. Kamu bukan perempuan seperti itu. Tidak pantas merendahkan diri hanya karena sudah tidur dengan pria lain!” tegas Gerald agar Sandra tidak salah paham.
“Bukan ingin kita, kejadian di malam itu. Bahkan, aku pun tidak ingin mengganggu rumah tangga kamu. Jelas-jelas aku bukan pria seperti itu.” Gerald menatap Sandra dengan lekat.
Sandra menganggukkan kepalanya. “Ya. Kamu tidak pernah berniat menyentuhku. Itu hanya kesalahan yang tidak disengaja kita lakukan. Aku tidak akan menyalahkanmu. Maaf, sudah membuat kamu merasa bersalah.
“Seharusnya, bercinta untuk pertama kalinya itu kamu berikan pada wanita yang kamu cintai selama ini. Bukankah rumor itu benar? Kamu tidak akan mencintai wanita manapun, selain wanita yang sudah berhasil membuat kamu mati rasa?”
Gerald tersenyum campah. Ia kemudian memarkirkan mobilnya tepat di resto yang tak jauh dari supermarket.
“Gerald. Kenapa diam? Maafkan aku karena sud—“
“Jangan minta maaf terus, Sandra. Itu murni bukan kesalahan kamu. Daripada minta maaf terus, mending kamu cari tahu orang yang sudah menjebak kamu. Siapa dia, tujuannya apa menjebak kamu, dan lain sebagainya.” Gerald membuka sabuk pengamannya kemudian turun dari mobilnya.
Diikuti Sandra yang masih saja kaku berada di dekat lelaki itu. Terlebih, ia tidak ingin wanita yang dicintai Gerald itu salah paham kepadanya.
“Aku tahu, dia siapa. Yang kamu sebutkan tadi juga aku tahu. Alasan Gery tidak ingin menyentuhku karena dia sudah punya yang baru. Hanya saja, dia enggan untuk menceraikan aku karena perempuan itu tidak menghasilkan uang.”
Gerald manggut-manggut. “Cari bukti saja. Laporkan ke polisi, kamu pasti akan menang di pengadilan.”
“Heuuuh? Memangnya bisa? “ tanyanya seraya mengikuti lelaki itu masuk ke dalam resto.
“Gerald. Memangnya bisa, kalau buktinya nyata?” tanya Sandra lagi setelah keduanya duduk.
Gerald mengangguk. “Of course! Bisa banget. Tapi, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu.”
“Apa?” tanyanya kemudian.
Gerald menghela napasnya dengan panjang. “Sudah tidak cinta, pada suami kamu itu?”
Sandra menggeleng pelan. “Dari dulu, hingga sekarang.”
Gerald manggut-manggut lagi. “Baguslah. Kalau kamu ingin cerai dengannya, aku bisa bantu kamu. Anything for you!” ucapnya kemudian menerbitkan senyumnya dengan lebar.
Sandra tersenyum lirih. “Thank you. Tapi, kenapa kamu mau membantuku? Hanya karena kita sudah tidur?”
Gerald menggeleng pelan.
“Kalau wanita itu tahu kamu membantuku, nanti salah paham ... apa yang akan kamu lakukan?”
Gerald terkekeh mendengar pertanyaan perempuan itu. Ia kemudian menatap Sandra dengan amat lekat. “Akan kunikahi, perempuan cantik dan baik hati yang hingga kini masih bersarang di sini,” ucapnya seraya memegang dadanya.
