Bab 14
Bab 14 Sikap Tegas
Para staff yang tadi udah di pesenin buat nungguin naira sudah pada ngumpul termasuk General Manager yang dari tadi di cariin sama naira, naira hanya menggunkan baju casual kayak mau main gitu, kaos warna baby blue yang di padu padankan dengan rok trendy se lutut yang enggak ketat ala princess gitu yang makin kelihatan cantik, Fian hanya melongo dan berkata cantik dalam hati, karena dia baru pertama ngelihat naira pakai pakaian kek gitu, kalo pass keluar jalan kemarin dia pake celana jeans gitu (padahal yang dia temui raina, yang emang jarang banget pake rok), kalo pass pake pakaian kerja emang baik raina ataupun naira perbedaanya hanya di aksesories yang dia pake, tapi sama sama pake celana bahan, gak pernah pake rok.
“ke ruang meeting aja ya, mau ada yang saya bicarakan, sekalian Fina dipanggil ya, biar dia tau sekalian” kata naira ke ibu maria, dan kemudian mereka semua pergi keruang meeting.
“selamat malam semua, maaf ya mengganggu waktu istirahatnya ya” sapa naira kepada semua yang hadir
“seperti yang semua tahu, saya kesini tanpa pemberitahuan,. Karena ada satu dan dua hal yang harus saya kerjakan di sini, ibu maria bisa jelaskan apa yang terjadi, biar mereka semua tahu permasalahannya kayak gimna?” naira memberikan waktu ke ibu maria untuk menjelaskan. Ya itulah seorang pemimpin yang ambisi dan tidak mau disalahkan, dia menjelasakan duduk permasalahan tapi tidak menjelaskan yang Liha resign tanpa ada keterangan yang harus ditanggung. Ibarat kata di membantu meloloskan seorang maling.
Naira hanya mendengarkan penjelasan yang disampaikan maria, tapi yang sesungguhnya dia sudah tau duduk permasalahannya kayak gimana, karena sebelumnya dia sudah mendengarkan dari Fina dan pak dibyo.
“oke kalo begitu, saya Tanya sekarang, siapa yang selama seminggu ini sudah komunikasi dengan Liha?” Tanya naira dengan tegas “jawab aja, saya tidak akan marah” karena melihat semuanya bungkam termasuk jannah dan maria.
“saya bu, 2hari yang lalu saya telfon mbak Liha buat menanyakan keberadaan stempel tersebut” hanya dijawab anggukan dan naira memerintah kan untuk meneruskan penjelasan Fina. “Stempel itu dibawa pak inin bu” jelas fina sambil takut karena di ruangan itu juga ada Inin sales marketing kesayangan maria.
“apakah ibu maria tau kalo stempel itu dibawa sama dia? Apakah ibu sudah menanyakan ke Inin ? kenapa stempel bisa dibawa Inin, apa dia juga akan melakukan kejahatan yang sama? Ya itu sudah pasti megarah ke situ” bentak naira sambil nunjuk ke Inin, dan memepersilahkan maria menanyakan ke Inin dengan jujur
Maria otomatis naik pitam, emosi yang tak tertahankan, karena merasa di permalukan di ruang meeting, dan jawaban yang diberikan inin adalah stempel di titipkan ke Manager Sales yang dulu untuk menghilangkan jejak.
“ini kepintaran kalian berdua selama ini, kenapa tidak diselidiki dari awal, harusnya kalian selidiki sampai akarnya, saya gak mau tau, silahkan pak dibyo inin dan ajak satu security kerumah dia buat ambil stempel sekarang juga, saya gak mau tau kalian akan balik sampai sini jam berapa, saya akan tungguin, untuk sales yang lainnya silahkan pulang, kalian tidak bisa masuk office untuk ambil barang, office itu akan saya segel sampai permasalahan ini selesai, jika kalian ada jadwal kerja silahkan salescall” tegas naira kemudian membubarkan ruang meeting sementara, karena Inin dan dibyo sedang keluar mengambil stempel, jannah, Fian dan Fina masih melanjutkan membackup semua computer yang ada di office sales.
“Minta tolong masakin nasi goreng sama apalah buat mereka makan, udah waktunya makan malam juga” perintah naira ke staff kitchen yang bertugas, meskipun tegas kayak gitu naira tetap memberikan haknya mereka, kemudian naira berlalu keluar resort sebentar untuk ke supermarket mencari camilan buat staffnya yang lembur itu.
“Inin silahkan pulang, dan besok kamu diliburkan sampai di infokan ke pak dibyo kapan kamu masuk,.. kemudian naira beserta mariadan dibyo masuk office sales, untuk bantuin mereka mengecek computer, stempel tadi diberikan ke HRD untuk disimpan,.. mereka kerja sambil makan malam dan memakan camilan yang dibelikan naira,. Mereka tanpa sungkan sudah berganti sandal, ada yang sudah ganti baju juga, bagi naira yang penting mereka nyaman.
Jam sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari, naira menyudah I pengecekan itu sementara, dan menyuruh mereka untuk istirahat, karena dia juga butuh istirahat “untuk besok masuk jam 10.00 aja ya, istirahatlah sebentar, besok kita lanjutkan lagi” kemudian mereka bubar masuk ke kamar yang sudah disiapkan receptionist untuk mereka, dan tetap sales office masih disegel.
