01.10 Story A10
"Kak Teo." Panggil Kila yang langsung dapat menemukan sosok pria yang bersandar tenang pada sebuah mobil saat dirinya baru keluar dari mobilnya. Dengan riang gadis itu berlari kecil menghampiri Matheo yang menantinya dekat sebuah Scirocco putih yang tadi disandarinya.
"Kila, apa kabar?" Sapa Matheo.
“Baik kak. Kakak sehat?” tanya gadis itu yang dibalas anggukan oleh pria yang ditanya, "Kakak udah dari tadi?" Tanya Shakila.
"Lumayan sekitar sepuluh menit." Jelas Matheo, "Varo udah selesai, sekarang lagi nunggu Shani katanya baru mau selesai."
Shakila mengangguk, "Hari ini ngga apa apa kan Kila ikut, kak?"
"Ya ngga apa apa lah." Kata Matheo, "Makin banyak orang, makin seru buat Shani belajar."
"Nanti mau kemana?"
Matheo menggeleng, "Kakak belum tau, Shani biasanya ngomong mau kemananya dadakan."
"Shani pasti bilang pengen makan es krim dan kue."
Matheo menyeringai lebar "Shani suka banget makanan manis, ya."
Shakila mengangguk, "Waktu Kila kecil, mama sering sekali buatin es krim atau puding saat Kila dan Shani susah makan." Kenangnya, sedih.
Matheo sedikit terbawa suasana hati pilu Shakila. "Kalian beruntung ya, kakak dan Varo malah cuma inget rasanya masakan Bi Aci." Katanya, "Masakan bunda tuh, ugh. . ." Lanjutnya seraya memasang wajah seolah dirinya merasakan sakit diseluruh tubuhnya.
Shakila tersenyum geli, "Tante Aya ngga bisa masak ya, kak?"
"Jago sih." Kata Matheo, "Tapi lebih jago ngga masak." Lanjutnya menyeringai lebar.
Shakila turut tertawa dengan gelinya, lalu matanya menangkap wajah wajah yang dikenalnya, berjalan beriringan disertai celoteh bersahutan dan tawa yang hanya dapat dilihat tanpa bisa didengar. Sementara di belakang keduanya pria pria berkulit pucat mengekori dengan ekspresi seru yang sama.
Jika mereka berjalan seperti itu ditempat lain seperti misalkan di sekolah Shakila, kelima orang itu akan jadi pusat perhatian yang mencolok mata. Wajah tampan keempat pria itu dengan tubuh tubuh jangkung yang mengandung sifat menawan mereka masing masing dan kecantikan Shanea jadi pusatnya, sedikit terlihat menyilaukan.
"Mereka itu." Gumam Matheo, yang rupanya juga menyadari langkah mendekatnya Varo "Mungkin memang udah sepantasnya mereka disini." Lanjutnya.
"Kenapa, kak?" Tanya Shakila.
Matheo menggelengkan kepalanya, "Ngga. Itu tuh Shani sama Varo udah pada kesini."
"Iya." Kata Shakila.
Ada rasa aneh di hatinya melihat cara Matheo memandangi kedatangan orang orang itu ke dekat mereka. Anehnya, Shanea terlalu bagus untuk dilihat saat ini, meski anak itu masih belia, tapi wajahnya jelas tak memiliki kecantikan bocah. Mamanya pun dulu seingatnya sangat cantik, hampir tak bisa dijelaskan bagaimana mengungkapkan kecantikan itu. Apalagi papa mereka yang bahkan sampai sekarang masih mampu membuat kuping rekan rekan perempuannya memerah saat bersapa. Keelokan mereka, dipadu padan dan dipantaskan dalam sosok Shanea seutuhnya. Dan tampaknya Matheo pun tak bisa melepas pandangannya.
"It's seem your bro been here." Samar terdengar dari jarak beberapa meter seorang pria berambut tembaga yang berjalan paling dekat dengan Varo memberi tahu hingga keempat lainnya menoleh bersama.
Matheo melambaikan tangan kirinya yang dibalas serempak oleh kelimanya.
"See you on Monday, buddy." Kata pria lain yang memiliki badan paling tinggi, "And you, lets hang out with us next time, ok!" Lanjutnya pada Shanea yang tampak mengiyakan.
Lalu setelahnya ketiga pria asing itu bertukar pelukan singkat dengan Revaro dan Shanea sebelum melambaikan tangan sekali lagi pada Matheo dan melangkah ke arah lain yang tak diambil Revaro dan Shanea.
"Kak Teo lama nunggu?" Shanea bergelayut manja di tangan Matheo yang nampak tak keberatan dengan sikap gadis itu.
Pemuda itu menggeleng, "Ngga, tadi begitu kakak nyampe, Kila dateng, terus kalian." Jelasnya.
"Kila dateng juga, kesini sama siapa?" Tanya Revaro.
"Sama pak Yadi, papa kan masih belum bolehin kita pergi pergi sendiri."
"Iya. Sebel kan kak. Padahal kak Kila udah belajar nyetir dan tahun ini udah boleh punya SIM. Tapi papa masih aja belum bolehin pergi sendiri. Harus aja diantar pak Yadi." Celoteh Shanea.
Matheo tersenyum. "Varo juga belum boleh tuh, dan kakak juga baru diijinin pergi tanpa pak Ali itu waktu kelas tiga esema. Iya kan Ro?"
Revaro mengangguk setuju, "Sabar aja, setahun lagi kan." Katanya pada Shakila. "By the way. Where you wanna go now?" Tanyanya pada Shanea.
Gadis yang ditanya itu menggeleng pelan. "Shani bosen dirumah terus. Tapi ngga tau juga pengen kemana. Udah mulai bosenin."
"Kalo kerumah kita aja, mau?" Tawar Revaro, “Gimana kak?” lanjutnya pada kakaknya.
"Kakak sih boleh aja." Kata Matheo, "Tapi memang Shani sama Kila mau?" Tanyanya. "Shani kan tadi bilang bosen di rumah aja."
"Kalo ke rumah kakak, Shani mau." Kata Shanea penuh semangat.
"Tapi ntar ngerepotin?" Kata Shakila.
"Ya ngga lah. Repot gimana sih." Bantah Revaro, "Cuma rumah kita agak jauh. Ngga apa apa?"
"Ngga apa apa." Kata Shanea lagi, "Ayo, Shani mau kesana. Nanti Shani bilang papa biar pulangnya nanti papa jemput." Lanjutnya seraya menarik lengan Matheo dan menggiringnya ke mobil.
Shakila dan Revaro mengikuti, memasuki mobil saat Matheo masuk bangku pengemudi dan Shakila duduk dibelakangnya. Revaro duduk disamping kakaknya dan Shakila bersama adiknya. Matheo tak membuang waktu untuk segera meninggalkan sekolah adiknya, seperti Shanea yang langsung merayu papanya dan Revaro juga memberi tahu ibunya tentang rencana kedatangan mereka. Senyum hangat menghiasi wajah ketiganya, hanya Shakila yang sedikit merasa kecut karena adiknya yang begitu melekat manja pada Matheo.
Butuh lebih dari tiga puluh menit hingga Matheo menghentikan mobilnya di sebuah garasi rumah super besar yang menyambut mereka dengan hangat setelah perjalanan panjang penuh tanjakan dan belokan. Kedua gadis di mobil tak pernah mengira sama sekali akan eksistensi jalan jalan yang sejak tadi mereka lalui.
"Rumah kakak besar banget." Kata Shanea saat keempatnya beranjak meninggalkan mobil.
"Soalnya rumah ini nyatu sama kantor." Jelas Revaro.
"Kantor siapa?" Tanya Shanea lagi.
"Bunda dan rekan rekan bunda."
Shanea sejenak merenung, "Bunda kakak, gimana?" Tanyanya kikuk.
Revaro tersenyum, tangannya mengusap usap acak kepala gadis itu, membuat rambut panjangnya sedikit berantakan di puncak ubun ubunnya.
"Nanti ketemu di dalem yuk, bunda udah nungguin." Jelas Matheo kini seraya mengulurkan tangannya untuk menggandeng bocah itu memasuki rumah, "Ayo Kila." Ajaknya pada Shakila juga.
Rumah itu sangat besar, pikir Shakila, sungguh terlalu besar untuk ukuran rumah tinggal tiga orang. Bahkan, letak rumahnya pun tak terlalu umum meski dikatakan kompleks hunian, lebih cocok untuk jadi lokasi rumah singgah atau cottage untuk berlibur. Bahkan konsep rumah ini sendiri lebih tepat dikatakan Villa daripada rumah tinggal atau kantor seperti yang dikatakan Revaro sebelumnya. Dan pastinya, tak ada satupun teman teman lama mereka tahu, anak macam apa Revaro selama ini.
Anak itu tak pernah menunjukan seberapa kayanya dia selama tiga tahun satu sekolah. Hanya disaat terakhir kakak dan ibunya datang untuk pengambilan berkas ijazah dengan mengendarai sebuah Bentley Convertible yang menyilaukan mata orang orang yang melihat, dan Shakila ketahui belakangan nama dan harganya tak umum dinegara ini sama sekali. Dan rupanya, dua jenis mobil lainnya yang sekilas dilihat terparkir bersama mobil yang sempat dikenalnya pun bukan mobil yang pernah dia jumpai sebelumnya. Mungkin nanti dia akan mencarinya di google.
"Udah pada nyampe nih." Sambut nyonya rumah saat dua pasang anak itu memasuki rumah. “
Shanea sedikit tercengang melihat sosok yang sudah pasti bunda guru privat dan kakak seniornya itu. Kecuali bentuk wajah dan postur yang menjiplak Matheo, parasnya sungguh duplikasi Revaro. Kesan kehadirannya serupa keberadaan papa, tapi penampilannya malah lebih cocok untuk jadi kakak Matheo dan Revaro ketimbang jadi ibunya.
"Bunda mau pergi?" Tanya Matheo yang pertama kali disambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan pipi singkat.
Sekarang mereka terlihat seperti pasangan kekasih daripada ibu dan anak.
"Iya sayang. Bunda mendadak harus ikut meeting." Jelas bunda pada Matheo meski kini Revaro yang dipeluk dan diciumnya. "Halo sayang, lama ngga ketemu. Apa kabar?" Sapa hangat nyonya rumah pada Shakila yang diberikan pelukan yang sama.
"Baik tante, makasih. Maaf kita ganggu." Kata Shakila.
"Ngga ganggu, kok. Anggap aja rumah sendiri." Kata nyonya rumah itu lagi, "Dan ini pasti murid cantiknya kak Teo." Lanjutnya pada Shanea yang tiba tiba gugup saat pelukan yang tak berbeda dia terima.
"Shanea, bunda." Kata Shanea, kikuk dan spontan. Setelahnya anak itu memasang tampang menyesal untuk spontanitasnya dan malu karenanya.
Cahaya tersenyum, memaklumi dan tak berkeberatan. "Maaf ya, cantik. Kalian udah jauh jauh kesini tapi bunda harus pergi." Katanya dengan jemarinya yang lembut membelai pipi Shanea. “Shanea sering sering dong main kesini sama kak Teo. Kila juga.” Tawar bunda. Kedua gadis kakak beradik itu hanya tersenyum.
"Bunda perginya lama?" Tanya Revaro.
"Mudah mudahan ngga, jadi nanti bunda bisa temenin juga tamu tamu kita." Kata bunda lagi, "Kakak in charge ya, jaga adik adiknya." Pesannya, "Tadi bunda udah minta bi Aci buat siapkan makanan, ngga boleh ada yang kelaparan karena terlalu serius belajar."
Matheo tertawa kecil, "Iya bun, kakak jamin aman."
"Dan bunda pinjem mobilnya ya kak. Biar ngga harus manasin, repot. Pak Ali lagi dibawa sama om Dede soalnya." Pinta bunda, Matheo mengangguk cepat. "Oke ya sayang, selamat belajar semuanya." Lanjutnya lalu berlalu dengan langkah seanggun tarian. Shanea masih tercengang dengan gigitan iri dalam hatinya.
