Chapter 9
"Iya kak kan tadi kak Zala dah bilang, Dulu Allen adalah tetanggaku sekaligus sahabatku, sayangnya takdir memisahkan kami. Aku terpaksa melanjutkan kuliahku ke Jakarta dan Allen yang saat itu mau naik ke kelas 8, setelah itu kami putus komunikasi itu karena aku gak punya ponsel" jelas Zala, Anissia dan Desta hanya mengangguk mengerti.
Sekarang otak cantik mereka sudah bisa mencerna situasi, pantas saja Allen dan Zala melupakan mereka. Jika Anissia dan Desta ada di posisi mereka pun akan melakukan hal sama, karena keduanya terpisah bukan dalam waktu sehari atau dua hari.
"Jadi Len, selama Kakak pergi apa yang terjadi? Kamu masih komunikasi kan sama nagasari?" Tanya Zala penasaran, Allen menghela nafas pelan.
"Nagasari?" Beo Anissia, Zala mengangguk cepat.
"Iya, dia jika sahabat aku dan Allen. Sebenarnya nagasari itu bukan nama aslinya sih, tapi kita manggilnya gitu karena dia punya tato naga dan dia itu manis walau kulitnya putih. Jadi karena itu kami manggil dia nagasari" jelas Zala. Anissia mengangguk mengerti.
"jadi apa kamu mau cerita sama kakak apa yang terjadi setelah kakak pergi?" Tanya Zala lagi, dia penasaran.
"Hemz, setelah kakak pergi gak berselang beberapa tahun aku juga pergi kak. Ya sebenarnya aku gak mau pergi ninggalin nagasari, aku hancur melihat wajah sedihnya tapi mau gimana lagi. Mama pas itu udah jemput aku dan mau tak mau aku harus pergi,
setelah itu aku dan nagasari hilang kontak tapi kabar-kabarnya sih dia ada di Jakarta buat kuliah. Kakak kan tau gimana pinter itu bocah, aku gak tau pasti sih di mana dia kuliah tapi yang jelas di universitas swasta" jawab Allen panjang, dia menceritakan apa yang dia tau.
Zala menghela nafas pelan, sedangkan Allen mulai terisak. Terlintas jelas wajah sedih sahabatnya saat itu, hatinya tak kuasa menahan rasa sakitnya. Anissia langsung meraih
tubuh Allen dan membawanya dalam dekapannya, dia merasa sakit saat melihat Allen hancur seperti ini sedangkan Desta menatap iba Allen lalu melirik Zala yang hanya diam saja.
Namun dia tau jika singa kecilnya itu tak kalah hancur seperti Allen, mengingat dia begitu menyayangi dua orang yang begitu berarti untuknya.
"Kamu gak apa-apa?" Bisik Desta sambil menggenggam tangan zala lembut dan mengelus punggung tangan singa kecilnya itu.
Zala tersenyum lembut.
"Aku gak papa kok, aku hanya mikir aja. Dimana bocah yang satu itu kuliah, semoga saja waktu cepat-cepat mempertemukan kami lagi aku udah kangen sama dia" ucap Zala sambil tersenyum agar wanitanya tidak khawatir tentang dirinya.
"Dimana pun nagasari kalian aku yakin kalian bertiga akan di persatukan kembali, tapi ngomong-ngomong kamu gak pernah cerita tentang Allen sama aku?" Ujar Desta lalu menatap Zala dengan tatapan menyelidik.
Dia sedikit aneh kenapa Zala tidak pernah cerita prihal Allen padanya padahal mereka sangat dekat, Zala menyengir kuda lalu terkekeh.
"Lupa, kamu tau kan kalau aku ini pelupa. Apalagi banyak hal yang mengganggu otakku, maklumlah. Untung-untung aja masih inget rupa Allen hahahaha" jawab Zala sambil
menertawakan dirinya sendiri yang tak pernah bisa mengingat sesuatu jika belum melihatnya.
Allen tersenyum penuh arti dan menggelengkan kepalanya.
"Dia emang gitu kak Desta, otaknya suka gak singkron untuk beberapa hal apalagi yang udah lama banget" ucap Allen memojokkan Zala, namun Zala hanya tertawa karena memang begitu kenyataannya.
Namun sedetik kemudian Zala sadar jika kini Allen tengah bermanja-manja dengan Anissia, secara yang dia tau dunia Allen dan Anissia itu jauh berbeda bagaimana bisa mereka bisa sangat dekat begini apa ada yang dia lewatkan.
"Len, kok kamu manja gitu sama kak Anis?" Tanya Zala penasaran karena Allen itu tipe orang yang pemilih.
Zala dan nagasari yang sudah sama-sama bertahun-tahun belum tentu Allen akan semanja saat Allen bersama Anissia, diantara mereka bertiga hanya nagasari yang paling manja. Allen menatap Zala bingung, lah emang kenapa? Emangnya ada undang-undang yang ngelarang dia buat manja-manja sama pacarnya sendiri.
Beruang kutub itu tidak menyadari satu hal, atau mungkin dia lupa jika dia itu risih kalau di sentuh apalagi di peluk seperti sekarang mungkin karena dia terlalu nyaman dalam dekapan Anissia.
"Emangnya kenapa kalau dia manja-manja sama aku Zala, kan Allen itu pacar aku" Tanya Anissia juga bingung.
Sontak Zala tersentak kaget, bukan cuman kaget malah syok. Oh God jangan bilang kalau sekarang Allen malah jadi lesbi karena masalalunya, hal itu membuat Zala sedih dan
merasa bersalah.
"WHAT!" pekik Zala spontan,
"Bagaimana bisa kak pacaran sama Allen, please kak. Kakak boleh pacaran sama siapapun tapi tolong jangan sama Allen, aku gak mau dia terjebak dalam dunia yang gak pernah dia
bayangkan sama sekali" ucap Zala dengan nada sendu, Anissia paham maksud zala namun dia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa.
"Maafkan aku Zala, aku gak bisa. Bukan mauku atau Allen terikat seperti ini, ini karena takdir kami berdua" jawab Anissia merasa bersalah, dia tau dia egois tapi dia tidak mau hal paling berharga dalam hidupnya hilang begitu saja.
Sedangkan Allen menatap sendu Zala, dia tau. Dia tau jika Zala terluka saat ini, wanita itu begitu menyayangi dirinya dan begitu memerhatikan masa depannya tapi dia tak berdaya.
"Maaf kak, aku juga gak bisa. Aku udah ngambil hal paling berharga dalam hidup kak Anis, mama, papa dan semua keluarga aku juga udah tau tentang hal ini" ujar Allen pelan, Zala hanya diam mencoba mencerna apa yang Allen katakan. Tapi nihil tiba-tiba otaknya eror mendadak, dia butuh kejelasan saat ini tolong siapapun katakan apa yang sebenarnya terjadi. Lain halnya dengan Desta, walau sedikit kaget
mendengar jika Allen merenggut hal yang paling berharga bagi Anissia namun dia paham.
Dia balik itu semua pasti ada sesuatu alasan kenapa itu semua terjadi. Zala menghela nafas pelan, dia mencoba tegar dan menerima semua kenyataan yang ada.
"Aku bingung harus bagaimana tapi aku harap apa yang kalian putuskan gak berdampak buruk pada kehidupan masing-masing" unjar zala datar, entah dia tidak tau harus berbicara dengan nada apa karena hatinya sedang kacau.
Namun tiba-tiba saja suasana mendadak hening, tidak ada satu dari dari mereka yang buka suara setelah zala. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, terutama
Allen. Dia cukup terpukul karena Zala terlihat kecewa, hal yang paling dia benci adalah melihat wajah Zala terlihat sedu. Baginya Zala adalah segalanya, dia menuntunnya kearah
yang lebih baik. Bahkan dia terlepas dari pergaulan bebas, Zala dan kata-kata bijaknya membuat matanya yang di butakan kesedihan yanh membelenggu setelah perceraian
orang tuanya terbuka lebar, Zala mengajarkan bahwa ada hal yang lebih baik jadi pelampiasan amarahnya.
Itulah kenapa sekarang sifatnya acuh tak acuh, dia sudah terbiasa tidak memperdulikan sekitarnya yang akan membuatnya terluka. Tiba-tiba saja Allen tersentak karena ada sesosok tangan yang menggenggam tangannya, sontak dia mendongak melihat siapa
pemilik tangan hangat itu.
Zala tersenyum lembut, dia tau jika Allen sangat merasa bersalah dan itu akan membuat Allen tertekan. Zala tidak mau Allen memikirkan hal yang akan membuatnya semakin tersiksa sendiri.
"Jangan merasa bersalah, kakak akan mendukung apapun yang kamu putuskan. Kalau ada apa-apa cerita aja sama kakak ya, karena sekarang kita bukan dua orang asing yang saling mengangkui jika kita saudara tapi dua orang yang menikahi dua bersaudara" ucap Zala penuh kelembutan dan kehangatan.
Desta tersenyum senang, dia selalu suka dengan sosok Zala yang selalu mampu membuat seseorang orang lebih baik dengan kata-katanya. Dia bangga, sangat bangga memiliki
Zala walau perjalanan cinta mereka tak semudah membalikkan telapak tangan.
Keduanya pernah hampir berpisah karena kesalahpahaman, saat itu Zala baru wisuda dan Desta tanpa sengaja melihat Zala jalan bersama seorang laki-laki.
Desta kaget karena tiba-tiba pria itu mencium Zala padahal kenyataannya pria itu hanya membantu Zala mengambil bukunya yang jatuh dan hampir masuk got namun dari sudut
pandang Desta malah terlihat berciuman. Karena itu mereka tidak saling bicara selama dua Minggu lebih, saat itu Zala merasa seperti di neraka. Walau Desta tidak pergi dari rumah tapi dia merasa jika wanita itu sama sekali tidak ada, Desta pergi pagi pulang
malam hari. Zala terus berusaha menjelaskan bahwa Desta salah paham namun wanita itu sangat keras kepala, entah kenapa semua anggota keluarga Desta itu rata-rata keras
kepala hal itu membuat Zala kesal.
Beruntung Zala bisa mengatasinya, walau keduanya harus mengencangkan urat leher mereka, Zala terus mencoba menjelaskan semuanya. Dengan sabar singa kecil itu mencoba mengimbangi Desta yang di kuasai oleh emosinya.
Saat itu Zala terlihat sangat dewasa, dia berusaha tidak tersurut emosi dan mengalah dia pikir percuma juga dia harus bersikeras malah makin memperumit masalah. Setelah
perdebatan panjang akhirnya Desta luluh, wanita itu akhirnya percaya apa yang Zala katakan setelah pria yang di kambing hitamkan dia seret dan menjelaskan semuanya. Jika Desta terlihat kagum dengan sosok Zala lain halnya dengan Allen mencoba mencerna ucapan Zala, dia tidak mengerti sama sekali.
"Dua orang asing yang menikahi dua bersaudara? Apa sih maksudnya?" Tanya Allen bingung, otaknya tiba-tiba eror mendadak. Zala tersenyum
"Nanti di jelasin kok sama kak Anis, sekarang kakak mau pulang dulu. Ya sayang, kita pulang. kita harus istirahat" jawab Zala sok misterius padahal dalam hatinya dia tertawaterbahak-bahak, dia sangat suka membuat Allen bingung sekaligus penasaran.
Ah dia jadi ingat masa lalu, Desta menganggukan kepalanya lalu tersenyum. Jujur sekarang dia butuh istirahat, badannya terasa remuk. Seharusnya dia tidak memaksakan
diri datang ke aparteman Anissia, dia seharusnya lebih dulu istirahat. Dia terlalu senang mendengar Anissia ada di Indonesia dan melupakan jika sekarang dia punya tanggung
jawab lain, sekarang dia khawatir bagaimana jika Zala atau Rara sakit.
Rasanya dia tak punya semangat untuk melakukan apapun, Karena mereka lah yang selama ini jadi alasannya untuk selalu tetap semangat meski banyak hal yang akhir-akhir ini membuatnya stres. Ngomong-ngomong soal Zala, saat ini umurnya sudah 22 tahun
dan dia adalah seorang CEO di perusahaan ayahnya. Selesai kuliah dia di beri tanggung jawab untuk mengelola kembali perusahaan ayahnya yang saat ini hampir hancur karena ulah orang-orang yang telah bertanggung jawab.
Untungnya mertua dan Desta selalu mendukung dan memberikan bantuan mereka, Zala tidak akan mencapai kesuksesan seperti sekarang jika bukan campur tangan mereka mengingat jika dirinya buta akan dunia bisnis. Sedangkan Desta sendiri saat ini umurnya sama seperti Anissia 26 tahun, begitu juga Rara yang kini sudah 4 tahun lebih. Kedatangan Rara memang suatu anugerah yang paling terindah, apalagi sekarang Desta
tengah hamil 1 Minggu.
Jangan di tanya bagaimana wanita itu bisa hamil, tentu saja karena mereka ikut program bayi tabung. Hal itu begitu membuat Zala sangat senang dan antusias, Zala terlihat sangat
positif bahkan kadang membuat Desta risih sendiri tapi dia tau singa kecilnya itu tidak mau jika dirinya terluka. Namun di lain sisi Zala pun sangat sedih, karena dia tidak bisa
hamil seperti Desta. Padahal dia sangat ingin merasakannya, namun kenyataannya berlainan dengan kehendak hati.
Saat umurnya masih terbilang belia dia mengalami kecelakaan, saat itu kedua
orangtuanya masih bersama. Ada benturan sangat keras di sengkalannya, akibatnya membuat luka fatal di rahimnya. Dengan sangat terpaksa rahimnya di angkat jika tidak
dia akan mengalami efeksi dan mengancam hidupnya, tentu baik Farah atau Deni menyembunyikan fakta miris itu.
Namun sebuah rahasia tak selamanya bisa di sembunyikan, akhirnya semua terkuak saat dia kuliah semester akhir. Dia mengutarakan keinginannya untuk hamil dan itu membuat Farah menangis pilu, awalnya Zala bingung akan reaksi ibunya. Namun setelah wanita
paru baya itu menceritakan semua apa yang sebenarnya terjadi, hal itu membuat Zala hancur. Namun Desta dengan gigihnya membuat Zala seperti semula, dia tidak akan membiarkan singa kecilnya larut dalam kesedihan.
