Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 8

sedangkan dengan Allen yang kini ngengobrak-abrik kulkas, namun yang dia cari masih tidak bisa dia temukan. Niat awalnya tadi sih cuman mau minum tapi pas inget kalau dia

punya coklat oleh-oleh Rudi dari Jepang, dia ingin mencicipinya tapi entah kenapa dia tidak menemukan coklat itu di mana pun.

Padahal seingatnya dia menyimpannya di kulkas, tapi kenapa sekarang tidak ada. Allen berdecak kesal, padahal dia belum makan sama sekali itu coklat yang Rudi bawa dari Jepang. Dia menutup kulkas kasar dan berjalan dengan wajah cemberut menghampiri

Anissia.

"Kak, kakak makan coklat aku ya?" Tanya Allen langsung tanpa perduli jika Anissia sedang bergosip ria dengan Desta.

Sontak mendengar suara Allen, Anissia menoleh kearah Allen dan menatapnya bingung karena dia tidak mendengar apa yang beruang kutub itu katakan.

"Kamu tadi nanya apa?" Bukannya menjawab Anissia malah berbalik bertanya.

Allen berdecak kesal, lalu menatap Anissia datar.

"Itu loh coklat yang ada di kulkas, yang rasa green tea kemana kok aku cari gak ada?" Tanya Allen sekali lagi, Anissia menghela nafas pelan.

"Coklat itu udah aku makan" jawab Anissia, Allen melongo.

"Kakak kok gitu sih, aku tuh belum nyoba sama sekali tau itu coklatnya. Yang di kasih siapa yang dimakan siapa" celetuk Allen kesal, Anissia terkekeh kecil melihat wajah Allen

yang lucu.

Sekarang dia mirip pinguin daripada beruang kutub, lihat saja bibit itu monyong kayak paruh pinguin. Sedangkan Desta hanya diam dan bergelut dengan pikirannya, dia

bertanya-tanya siapa Allen.

Ya, Desta belum tau prihal Allen karena Anissia belum menceritakan hal itu pada Desta, tadinya sih dia mau cerita tapi keburu di potong sama Allen yang nanya tentang coklatnya. Mungkin saja sepupunya itu kebingungan sendiri karena setau dia Anissia tidak tertarik pada berondong seperti Allen, setiap pacar wanitanya selalu di atas atau

setara dengan dia. Anissia menarik lembut Allen agar dia duduk di sampingnya, bak ibu yang membujuk anaknya Anissia mengelus lembut kepala Allen sedangkan Allen hanya

diam saja dia masih kesal.

"Udah jangan ngambek, nanti aku ganti deh coklatnya" bujuk Anissia, Allen melirik Anissia dan menahan senyum.

"Beneran? Tapi aku mau yang dari Jepang asli jangan tipu, aku gak mau coklat yang di beli di Indonesia karena udah bosen makannya" ujar Allen antusias, Anissia mengangguk dan

tersenyum.

Karena baginya itu hal mudah, bahkan dia bisa membeli pabriknya bila perlu. Melihat Anissia mengangguk sontak membuat Allen senang bukan main.

"Serasa dunia milik berdua, gue mah cuman ngontrak" celetuk Desta menyindir Anissia yang melupakan kehadiran, sedangkan wanita itu terkekeh mendengar sindiran Desta.

"Maaf Des, bukannya ngelupain Lo tapi ini bocah kalau ngambek bikin puyeng" ujar Anissia.

Desta terkekeh, dia paham dengan keadaan Anissia karena dia dulu juga begitu saat Zala ngambek. Nasib punya pasangan bocah.

"Tapi ngomong-ngomong Lo belum kenalin ini bocah siapa?, Gue kan kepo" tanya Desta dan sedikit menggoda Anissia. Wanita itu malah terkekeh kecil.

"Ah, ini Allen pacar gue. Jangan tanya kenapa gue berubah haluan, ceritanya panjang nanti pasti gue ceritain kok" jawab Anissia,

"Ya wajib ya, awas kalau gak Lo ceritain. Mandul tujuh turunan Lo" ancam Desta, Anissia terkekeh mendengar ancaman sepupunya itu.

Sedangkan Allen terlihat asik memainkan ponselnya, namun langsung di rampas oleh Anissia. Allen ingin proses tapi melihat tatapan tajam Anissia membuat mulutnya bungkam, sedangkan Desta menahan tawanya karena melihat ekspresi Allen yang lucu.

"Gak sopan kalau ada tamu malah asik sendiri, gih sapa" ujar Anissia dingin, Allen hanya mengangguk patuh.

Dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Desta yang tak jauh darinya, dia mencium punggung tangan wanita yang seumur dengan Anissia itu. Desta tersenyum lembut, sikapnya sama Persis dengan Zala saat umurnya masih belasan tahun jadi pengen

bawa pulang tapi takut di gorok sama pawangnya. Allen pun kembali duduk di tempatnya yang semula.

"Nama kamu siapa? Masih sekolah?" Tanya Desta kepo

"Allen kak, saya kuliah kak" jawab Allen sopan, Desta mengangguk.

"Jurusan apa? Kuliah di mana?" Tanya Desta lagi, Anissia memutar matanya jenah.

"Lo kayak wartawan deh Des, nanya detail Amet sekalian aja Lo tanya berapa nomor sandalnya" celetuk Anissia menyindir, Desta terlihat acuh dia sudah bisa di gituin sama

sepupu laknatnya itu.

Allen tersenyum melihat tingkah Anissia dan Desta.

"Jurusan ekonomi, saya kuliah di universitas milik kak Anis kak" jawab Allen. Desta mengangguk paham.

Jika ketiga wanita itu sibuk berbincang-bincang, lain halnya dengan Zala yang sibuk merubah posisinya menjadi nyaman entah kenapa sedari tadi dia merasa panas alhasil dia mirip seperti ikan asin yang di goreng harus di bolak balik. Karena frustasi tidak kunjung menemukan posisi nyaman dia langsung duduk, dengan wajah yang suram dia menoleh kearah Desta yang kini tengah ngobrol.

Namun tiba-tiba matanya menyipit saat melihat satu orang yang terlihat asing namun terasa familiar, dia mencoba mengingat-ngingat lagi siapa yang memiliki wajah yang sama seperti itu. Hingga akhirnya satu nama terlintas di otaknya.

"ALLEN" pekik Zala sontak membuat ketiga wanita itu menoleh, sedangkan Rara masih terlelap di terlalu lelah jadi apapun gangguannya tidak akan membuatnya bangun.

Sama halnya dengan Zala, Allen juga merasakan hal sama. Wajah Zala terlihat asing namun juga rasa familiar, Zala beranjak dari duduknya bergabung bersama ketiga wanita itu.

"Kalian saling kenal?" Tanya Desta bingung.

Zala mengangguk cepat.

"Tentu saja kenal" jawab Zala cepat, Allen masih menatap Zala bingung.

"Kamu gak inget sama Kakak dek, ye kelamaan di Jakarta bikin daya inget kamu berkurang. Aku Gazala, Vallenia" ujar zala, Allen terlihat tersentak sekarang dia bisa ingat siapa yang kini berdiri di hadapannya.

Sontak Allen langsung berhambur ke pelukan zala, tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. Dia rindu sangat rindu, hingga terasa sesak.

"Aku rindu kakak hiks..." Bisik Allen sambil terisak.

"Kakak juga rindu kamu kok, udah jangan cengeng gitu." Ucap Zala lembut lalu membuat jarak antara keduanya.

Zala menatap lekat Allen, lalu menghapus air mata Allen. Sedangkan Desta dan Anissia masih bingung dengan apa yang mereka lihat sekarang, sepertinya mereka butuh

penjelasan dari kedua orang yang kini saling menatap penuh kerinduan. Baik Allen maupun Zala tak berniat memberikan penjelasan apapun pada kedua wanita mereka, keduanya larut dalam kerinduan yang telah lama mereka pendam sekian lama. Tiga belas tahun bukan waktu yang pendek untuk keduanya, apalagi mereka sangat dekat dan saling melengkapi satu sama lain.

Ya, Allen dan Zala adalah dua sahabat yang selama ini terpisah oleh jarak. Mereka dekat karena Allen adalah tetangganya dulu, saat itu Allen mereka masih terbilang belia dan Zala sudah beranjak remaja. Tentu saja, karena perbedaan umur keduanya cukup jauh

yaitu lima tahun. Namun tidak membuat mereka merasa bahwa perbedaan itu menjadi penghalang membuat mereka dekat, apalagi problem hidup keduanya tak jauh berbeda membuat mereka merasa nyaman.

Dulu mereka selalu bersama kemana pun dan dimana pun, jika Zala sedang latihan di sanggar maka Allen akan setia menunggu sambil menonton Zala dan temen-temen sanggarnya menari. Begitupun sebaliknya, mereka seperti saudara meski tak sedarah.

Banyak kenangan yang mereka ciptakan hingga membuat mereka tak bisa melupakan satu sama lain.

Namun sayangnya takdir memisahkan keduanya, Zala harus pergi untuk melanjutkan pendidikannya ke Jakarta. Yab, saat itu Laila kakak dari ayah kandung menjemput dirinya, ah lebih tepatnya utusan dari wanita itu. Mau tak mau Zala harus pergi meninggalkan Allen dan juga satu orang yang juga orang yang sangat dekat dengan

keduanya, mereka sering memanggilnya nagasari. Itu karena dia memiliki tato naga yang sangat besar di tubuhnya, padahal dia wanita. Baik Allen maupun Zala tak pernah mengerti dengan hal itu, bagaimana bisa seorang anak kecil sudah memiliki tato entah munculnya dari mana.

Karena sang pemilik badan pun tidak tau dari mana munculnya, hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan bahkan bulan pun berganti tahun tiga sahabat itu tak kunjung di pertemukan oleh takdir. Malah mereka tercerai berai, saat SMA Allen harus terpisah pergi

juga meninggalkan sahabatnya yang sangat dia sayangi. Allen terpaksa harus ikut bersama ibunya ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di sana, sedangkan nagasari masih berada di tempat yang sama bersama kenangan-kenangan mereka.

Walau dia sudah memiliki teman yang baru tidak membuat dia lupa akan dua sosok yang begitu berarti baginya, sosok Zala yang mirip seperti seorang kakak dan Allen sosok sahabat yang selalu ada di sampingnya walau dia sendiri pun sama terlukanya. Ketiganya saling lengkapi satu sama lain, namun lagi-lagi takdir mempermainkan ketiganya.

Problem hidup yang selalu rumit dan kritis membuat mereka lupa, mereka terlalu sibuk menghadapi masalah masing-masing dan kini mereka di pertemuan lagi.

Entah takdir atau bagaimana namun Allen dan Zala sangat senang sekarang, mereka bisa berkumpul kembali dan satu kenyataan yang mereka belum ketahui jika keduanya akan

menjadi saudara dalam ikatan yang sebenarnya.

"Apa kalian akan terus bernostalgia dan melepas rindu, sedangkan kami berdua kalian lupakan" ujar Desta membuat keduanya tersadar jika dunia bukan hanya mereka berdua daja.

Zala menyengir kuda sedangkan Allen menunduk sedikit merasa bersalah karena mengabaikan dua wanita cantik yang kini melipat tangan mereka di dada.

"Maaf sayang, karena terlalu senang jadi lupa kalau kita gak berdua doang" ucap Zala meminta maaf pada istrinya, Desta menghela nafas pelan.

"So, kalian saling kenal?" Tanya Anissia penasaran.

Allen dan Zala secara serentak mengangguk.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel