Chapter 10
Kini Allen sedang berjalan santai di koridor kamusnya tentu saja bersama
temannya Rudi dan Karin, kedua orang itu sibuk bergosip ria tentang fashion
terbaru dari beberapa pakaian.Ya, jangan salah walau Rudi itu cowok tapi dia itu begitu memerhatikan merek baju yang dia kenakan begitu juga Karin tapi itu tidak berlaku bagi Allen, baginya semua baju itu sama yang terpenting nyaman di pakai itu saja.
Namun tiba-tiba Brukkkkk.. tubuhnya menghantam sesuatu yang cukup keras, tentu saja karena dia menabrak tumpukan buku. Untungnya dia tidak berakhir di lantai seperti buku-buku tebal yang kini berserakan di lantai, spontan Allen membantu membereskan dan menyusun kembali buku itu.
"Maaf, saya gak sengaja" ujar Allen meminta maaf, dia merasa bersalah atas apa yang dia perbuat.
Orang yang dia tabrak tersenyum canggung entah kenapa pria itu terlihat tidak nyaman, padahal Allen tidak melakukan apapun. Tentu saja karena pria itu tak pernah di perlakukan sebaik ini, biasanya yang dia dapatkan hanya cemooh saja.
"Gak papa kok, saya juga jalannya gak liat-liat" jawab pria itu, Allen menghela nafas lega lalu tersenyum.
"Kalau begitu sebagai gantinya saya bantu bawa buku-bukunya" pinta Allen, tentu saja di tolak oleh pria itu.
"Gak usah gak apa-apa, saya gak mau ngerepotin" tolak pria itu, namun Allen masih bersikeras untuk menolong.
"Gak apa-apa kok, saya gak di reportin dan merasa di repotkan" ujar Allen, pria itu menghela nafas lelah.
Dia pikir percuma saja melarang wanita di depannya, pasti akan berakhir sama. Pria itu pun mengangguk mengiyakan, tentu saja Allen tersenyum senang. Sedangkan Rudi dan Karin sudah hilang entah kemana, mungkin karena keasikan ngobrol jadi mereka tidak
sadar jika ada satu yang kurang dari mereka.
Namun Allen tidak mempermasalahkan hal itu, dia bukan anak kecil atau mahasiswa baru yang akan tersesat di kampusnya sendiri. Allen membantu pria itu membawa buku-buku
tebal itu ke perpustakaan, selama perjalanan mereka berbincang-bincang santai.
"Btw, dari tadi ngobrol panjang lebar kita gak tau nama satu sama lain ya. Nama gue Allen" ujar Allen memperkenalkan diri, sekarang mereka sedikit lebih santai dari tadi bahasa mereka pun terdengar lebih baik dari tadi yang kebanyakan canggung.
"Nama gw Aldo" jawab pria itu dengan senyum di bibirnya. Manis gumam Allen dalam hati. Mereka pun berbincang-bincang tentang beberapa hal, hanya sekedar basa-basi saja. Akhirnya mereka sampai di perpustakaan, Aldo
berterimakasih karena telah membantunya.
"Makasih udah bantuin" ujar Aldo, Allen tersenyum manis.
"Sama-sama" jawab Allen, sedangkan Aldo terdiam. Dia masih terpesona dengan senyum Allen yang menawan, entah kenapa jantungnya berdetak dengan kencangnya.
Untuk sejenak waktu terasa berhenti dan bayang-bayang senyum Allen terus berputar dalam otaknya, entah kenapa ada perasaan tidak rela jika dia tau kalau mereka akan berpisah. Dia ingin selalu bersama Allen berbincang-bincang beberapa hal, sungguh dia
merasa nyaman bersama Allen. Entah kenapa dia merasa jika dia menyukai Allen, gadis yang sangat baik.
Mungkin penampilannya jauh dari kata sempurna, Allen terlihat sederhana bahkan Aldo yakin harga kaos yang di kenakan oleh Allen harganya hanya 25 ribu. Namun disitulah letak keistimewaan, dalam kesederhanaan itu Allen mampu membuat seseorang
terpesona dengan kebaikan dan keramahannya. Sedangkan Allen menatap bingung Aldo yang kini menatapnya dengan tatapan aneh, sedikit risih Allen memilih untuk pergi dia merasa jika semua sudah impas.
"Al, gue balik dulu ya. Sepuluh menit lagi kelas gue mau mulai" pamit Allen, Aldo hanya mengangguk tanpa ia sadari.
Allen terlihat acuh dengan sikap Aldo, dia pikir pria itu hanya sedang banyak pikiran atau hal lainnya. Dia tidak mau berpikir hal yang terlalu negatif, Allen berjalan menjauh Aldo yang masih saja diam. Tentu saja wanita itu ingin mencari dua bunglon yang hilang entah kemana, Allen mencari ke tempat-tempat yang sering mereka datangi.
Taman, kantin, perpustakaan bahkan kelas. Mungkin saja mereka sudah kembali ke kelas namun nihil, dari tadi batang hidung keduanya sama sekali tak terlihat bahkan bekas telapak kaki mereka saja tak ada. Allen mengaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu melirik
sekitar mencari Rudi dan Karin.
"Kemana dah tuh dua bocah" gumamnya bingung.
Padahal mereka berpisah tidaklah lama hanya beberapa menit saja dan kampusnya tidak seluas benua Asia, bagaimana bisa dia tidak bisa menemukan dua cebong itu. Apa mereka sembunyi di semak-semak? Etdah mau apa dah mereka sembunyi disana, mau main petak umpet? Ya kali. Masa kecil mereka kan bahagia banget, tiap hari main tanah pikir Allen.
Disisi lain Rudi dan Karin juga mencari Allen, mereka mencari ke tempat yang sangat senang Allen datangi. Jadi mereka saling mencari jadi pantas saja mereka tidak bisa menemukan satu sama lain, akhirnya Rudi dan Karin kembali ke kelas begitu juga Allen.
Ketiga orang itu terlihat capek, tentu saja mereka terlihat seperti anak kecil yang main kejar tangkap dimana anak yang satu bertugas mengangkap temannya untuk menggantikan diri sedangkan anak lainnya bersembunyi agar tidak tertangkap.
Jika anak yang bertugas menangkap mencari mereka yang bersembunyi di arah kiri maka yang bersembunyi akan berpindah tempat kearah kanan begitu seterusnya, intinya mereka tidak boleh bertemu atau tertangkap. Tiba-tiba saja Rudi dan Karin berhenti begitu namun tidak dengan allen dia meneruskan langkahnya masuk ke kelasnya, lain
halnya dengan kedua temennya yang kini menatap tidak suka seorang pria yang kini memamerkan senyum menyebalkan miliknya.
"Apa gerangan mahasiswa sok keren ada di sini?" Tanya Karin dengan nada ketus, di iringi oleh kedua lengannya yang kini terlipat indah di dadanya.
Sedangkan Rudi memasukkan sepuluh jari jemarinya ke dua saku celananya, walau dia hanya diam namun tatapan membunuh tersirat jelas dari matanya. Lainnya dengan pria di depan mereka, dia tersenyum meremeh. Ingin sekali mereka mengorok leher pria itu
atau menghancurkan wajah sok tampannya.
"Gue cuman mau nemuin Allen, bukan mau melayani orang-orang konyol seperti kalian"jawab pria itu dengan angkuhnya.
"Emangnya Allen mau di temui sama Lo?" Tanya Karin sinis.
"Entahlah tapi sepertinya mau, mana mungkin wanita itu menolak pesona gue" jawab pria itu dengan wajah bangga ingin sekali Karin dan Rudi memuntahkan semua isi perut
mereka dan melemparnya pada pria di depan mereka.
Nama pria itu adalah sandi, mahasiswa jurusan teknik elektro dari salah satu universitas negeri di Jakarta, dia mahasiswa dengan segudang prestasi. Sayangnya dia tak sepiawai itu, dia terlalu percaya diri dan berbangga diri bisa mendapatkan apa yang dia mau
termasuk Allen. Sungguh malang, nyatanya mimpi yang selalu dia angankan setiap tidurnya harus hancur begitu saja. Tentu saja karena sekarang Allen sudah memiliki pemilik, walau pun peristiwa mengerikan itu tidak terjadi pun Allen masih akan menolak.
Sikap angkuh sandi selalu mampu membuat Allan tidak suka, namun entah kenapa jika itu Anissia dia malah tak berkutik. Bisa saja dia berakhir seperti sandi, mendapatkan
sebongkah es dari nada bicara Allen yang dingin. Mungkin itu karena Allen memiliki sebuah pertanggungjawaban atau mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia selalu bersikap penurut pada Anissia, walau pada kenyataannya tidak selalu.
Itu karena Allen berusaha melawan dirinya sendiri, otaknya selalu berpikir jika apa yang dia lakukan bersama Anissia adalah sebuah kesalahan pada kenyataannya yang salah itu bukan fakta yang ada namun dirinya. Dia terlihat gila dan juga sudah frustasi memikirkan hidupnya yang kini hancur, impiannya dan juga harapan yang dia tanamkan dalam hati kini musnah.
Tak ada pria tampan yang selalu jadi pelindungnya, tak ada yang menjadi imamnya dan tak ada yang selalu menuntunnya dengan lengan kokoh. Hanya ada wanita berparas
cantik, dengan segala kesempurnaan yang dia punya dan juga tangan halus yang tak pernah melakukan hal yang berat-berat. Sebenarnya apa kejahatan yang dia lakukan hingga dia terjerat bersama dengan seorang wanita, sungguh tidak pernah terpikirkan
olehnya bahkan berharap pun tidak.
Jujur dia ingin lari tapi apa dayanya dia tidak bisa walau dia mau, biarkan saja waktu yang menjawab semuanya.
