Chapter 7
Seminggu kemudian.....
Tak ada yang berubah, semua masih sama saja seperti saat pertama kalinya mereka bertemu. Lebih tepatnya Allen yang masih bersikap dingin dan cuek pada Anissia padahal wanita berusaha bersikap hangat dan akrap pada Allen, namun Allen malah mengacuhkan Anissia.
Dia lebih tertarik membaca novel miliknya, lebih tepatnya dia sedang menghibur dirinya sendiri karena akhir-akhir ini dia merasa stres karena tugas dan hidupnya. Dia sebenarnya tak bermaksud mengacuhkan Anissia, dia masih belum bisa menerima
kenyataan yang ada. Semua terlalu mendadak, walau dia lari pun tak membuatnya lepas dari jerat tanggung jawab. Seperti hari ini, walau keduanya tidak ada aktivitas namun tidak ada yang berniat mencairkan suasana yang mulai membeku.
Anissia sendiri sudah lelah membuat semua terlihat nyaman dan biasa saja, dia pikir percuma saja karena Allen masih belum menerima kehadirannya. Entah sampai kapan mereka begini dia tidak tau, yang jelas dia mulai jenah dan lelah sendiri. Sikap Allen
sungguh membuatnya sakit hati, padahal Anissia menerima bocah itu dengan segenap hatinya. Bahkan dia mulai tertarik dengan Allen, beruang kutub itu seakan punya daya
tarik sendiri padahal sikapnya selama seminggu ini tidak bisa di katakan baik.
Aura yang selalu dia pancarkan selalu membuatnya beku, tapi entah kenapa dia menyukai hal itu. Anissia semakin ingin mengenal Allen lebih dalam lagi, apalagi sikap acuh tak acuh yang selalu Allen perlihatkan membuat Anissia ingin tau kenapa beruang kutub itu sama sekali tidak tertarik padahal banyak orang di luar di sana menginginkan posisi Allen.
Yaitu menjadi bagian terpenting dalam hidup Anissia, bagi wanita atau pun pria.
Bagaimana tidak, Anissia itu sempurna. Dia punya segalanya, kecantikan, kekuasaan, dan kekayaan. Membuat dia bersikap angkuh dan juga arogan, apa yang dia mau harus dia
dapatkan tapi sekarang dia mulai sadar.
Jika tidak semua orang menginginkan dirinya menjadi bagian terpenting dalam hidup seseorang, entah kenapa itu menjadi tamparan keras bagi Anissia jika tak semua bisa dia
dapatkan tapi dengan usaha dia yakin dia bisa. Mungkin dia harus lebih keras lagi mendekati Allen, jika dengan cara lembut tak bisa maka dia harus memakai cara kasar.
Sudah cukup dia menunggu Allen menerimanya, dia jenah dan lelah.
"Allen" panggilnya dengan nada dingin, sedangkan Allen terlihat anteng duduk di sofa single dengan novel di tangannya.
Beruang kutub itu melirik Anissia yang kini ada di depannya, lalu kembali fokus pada novelnya. Sontak membuat Anissia geram, dia merampas paksa novel Allen membuat beruang kutub itu kesal.
"Apa sih masalah kamu" pekik Allen jengkel dengan sikap Anissia, sedangkan wanita itu melipat tangannya dan menatap Allen dengan tatapan tajam.
"Seharusnya aku yang nanya begitu, apa masalah kamu hingga selama kita satu atap kamu bersikap dingin Hem" ujar Anissia penuh penekanan.
"Aku gak ada masalah, please balikin novel ku" jawab Allen dengan nada memohon, dia tidak ingin memperburuk keadaan.
"Terus kenapa kamu bersikap seolah gak ada orang yang tinggal sama kamu, sudah cukup ya aku sabar selama seminggu ini. Sekarang jawab aku apa mau kamu?" ucap Anissia lengkap dengan tatapan membunuh yang mampu membuat Allen merasa terintimidasi.
Allen menghela nafas pelan lalu menatap Anissia sendu, dia tidak tau lagi harus bagaimana lagi.
"Oke, aku minta maaf kalau aku selama ini mengacuhkan kamu. Tapi itu memang sifatku kalau lagi stres, semua yang terjadi sama aku beberapa hari ini membuat aku pusing."
Jawab Allen dengan nada rendah dan sedikit gemetar karena frustasi.
Dia tidak terbiasa mengatakan apa yang di otaknya, dia tidak terbiasa di tatap seintens saat ini sungguh dia tidak mampu. Anissia merasa bersalah karena telah membuat Allen begini, wanita itu melangkah mendekati Allen yang kini berdiri di depannya. Hal yang
bisa dia lakukan hanya memeluk beruang kutub itu, sedangkan Allen tersentak dengan sikap Anissia belum ada yang bersikap begini padanya bahkan sekalipun itu orang tua
Allen sendiri.
Hangat dan nyaman itu yang dia rasakan, dia tidak pernah di sentuh seintens ini. Karena dia merasa risih, entah penyakit atau bagaimana dia memang tidak suka di sentuh barang
itu seujung kuku. Bahkan jika itu ibu dan ayahnya, dia langsung menepisnya. Dia merasa geli dan tidak nyaman tapi sekarang dia sama sekali tidak merasakan apapun selain hangat dan nyaman.
"Tapi jangan mengacuhkan orang sekitarmu Allen, itu gak sopan" bisik Anissia.
"Tapi selama ini gak ada yang protes kok" jawab Allen itu karena dia sering melakukan hal itu.
Entah apa mungkin tidak ada yang perduli atau memang tidak ada yang menyadari apa isi kepalanya, Anissia tersenyum miris. Jadi selama ini Allen menanggung semua bebannya sendiri, dia melampiaskan semuanya pada hobinya.
Anissia melepaskan pelukannya dan membawa Allen ke sofa yang cukup untuk mereka duduki, kini keduanya duduk di kursi empuk itu. Anissia mengurung wajah Allen dengan
kedua telapak tangannya, manik birunya menatap dalam manik coklat milik Allen. Ada banyak luka yang dia lihat disana, luka yang tak bisa Allen perlihatkan dengan orang lain
karena dia yang tau. Bukan cuman itu, dia juga melihat rasa sepi dan keputusasaan disana. Kekecewaan yang dia pendam membuat semua menjadi terasa rumit untuk Allen,
tanpa sadar mata Anissia berair.
Hal itu membuat Allen panik, dia pikir dia telah membuat Anissia terluka. Dia hanya bisa bergumam beribu kata maaf, namun Anissia malah makin menangis.
"Maaf, maaf aku melukaimu. Sungguh aku gak bermaksud" ujar Allen dengan perasaan bersalah, anissia menggelengkan kepalanya sambil terisak.
"Gak, aku nangis bukan karena kamu. Sudahlah yang terpenting tolong hargai aku, kita tinggal satu rumah Allen. Bersikaplah kalau kamu gak tinggal sendirian" ucap Anissia,
wanita itu mengatakan semua yang menumpuk di hatinya.
Allen hanya mengangguk paham, sebenarnya dia juga tidak mau tapi semua yang ada di kepalanya membuat dia lupa jika ada seseorang yang ingin di anggap ada.
"Tapi kakak jangan nangis lagi" ucap Allen setengah berbisik, untuk pertama kalinya Allen berbicara dengan nada yang berbeda.
Biasanya dia akan berbicara dengan satu jenis nada yaitu datar dan sekarang dia terlihat lebih berekspresi. Entah kenapa Anissia berpikir mungkin dengan dia sering menangis begini akan membuat Allen seperti sekarang, tapi masa iya dia harus menangis terus menerus di sangka gila nanti ah sudahlah yang terpenting sekarang mereka sedikit lebih terbuka. Anissia hanya mengangguk kecil lalu memeluk Allen kembali, Allen hanya diam
dan menikmati kehangatan Anissia dan juga menghirup takut aroma tubuh wanita itu yang mulai dia sukai.
Ting.....Tong....Ting....Tong...
Tiba-tiba saja terdengar suara bel pintu, Anissia melepaskan pelukannya membuat Allen mendesah kesal. Kenapa saat dia lagi asyik-asyiknya ada saja yang membuatnya kesal, ingin sekali dia mencincang orang yang membuat wanitanya pergi eh. Ah sial efek pelukan tadi membuat otaknya eror, seharusnya mereka tidak seintim itu tapi dia mau lagi di peluk.
Huaaa…….. dia bingung sendiri kan sekarang, ah sudahlah sekarang di butuh minum.
Allen pun beranjak dari sofa berjalan menuju dapur, tenggorokannya sekarang butuh air karena terasa kering. Sedangkan Anissia berjalan menuju pintu dengan perasaan sedikit
kesal juga, padahal dia sedang menikmati kebersamaannya dengan Allen tapi harus di ganggu oleh seseorang yang dengan rajinnya memencet bel pintu alpartemannya.
"Iya, iya bisa sabar gak sih." Ujarnya jengkel.
Dengan malas dia membuka pintu itu, namun sedetik kemudian matanya membulat saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Orang yang selalu dia rindukan, tanpa Anissia sadari jika kini dia memeluk tubuh orang yang begitu dia rindukan.
"Gue rindu banget sama Lo Des" gumam Anissia.
"Gue juga sama kali, denger Lo ada di Indonesia dari om Paul gue langsung otw kesini tau
gak." Jawab Desta dengan senyum di wajahnya. Yab Desta, jika kalian membaca cerita jodoh Pemberian Ayah kalian akan tau siapa wanita ini.
"Oh ya, emang Lo habis dari mana aja. Kok Lo baru kesini sekarang, Lo tau gue tuh udah satu Minggu disini" unjar Anissia sedikit kecewa karena Desta baru mengunjunginya sekarang.
Wanita itu menyengir kuda dan memasang wajah melas, Anissia memutar matanya jenah.
"Sorry, gue habis liburan ke pulau Jeju sama Zala dan Rara." Jawab Desta sedikit bersalah.
Kedua wanita bersaudara itu terlihat asik berbincang-bincang di depan pintu tanpa menghiraukan satu orang yang kini terlihat lelah dan karena dia menggendong satu manusia kecil. Belum lagi dari tadi dia belum istirahat sama sekali, ingin sekali dia
mencincang dua sejoli tukang rupi yang kini mengoceh-ngoceh tidak jelas.
"Kalau mau ngobrol di dalem aja, Rara dan aku butuh istirahat nih kalau gak jadi pulang setidaknya jangan bikin aku kayak patung begini" tungkas Zala dengan nada kesal bercampur lelah.
Desta merasa bersalah telah mengabaikan singa kecilnya, itu karena dia terlalu rindu dengan sepupunya plus solipnya.
Sedangkan Anissia terkekeh lalu mempersilahkan kedua orang itu masuk, bak rumah sendiri Zala masuk begitu mengambil bantal sofa yang empuk dan membaringkan Rara
di karpet tebal tidak jauh dari sofa sedangkan dirinya sendiri mengapar tak perduli jika kepalanya tak beralas dia butuh berbaring saat ini. Lain halnya dengan Desta yang kini menghela nafas pelan, melihat Rara yang di tidurkan di karpet. Nyaman sih nyaman apa itu menjamin kalau karpet itu tak mempunyai makhluk kecil yang bisa melukai kulit rapuh rara.
"Kamu kebiasaan deh Zala, masa iya Rara kamu baringin disana nanti kulitnya merah-merah kalau kamu sih gak papa gak bakal ngaruh juga" omel Desta, Zala yang tak mau berdebat dengan istrinya bangkit dari tidurnya.
Dia mengangkat Rara ke sofa dan membaringkannya disana, setelah itu dia kembali lagi berbaring sedangkan Desta terlihat kembali berbincang-bincang dengan Anissia.
