Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 6

"ngelamun aja dari tadi Lo Len?" Tanya Karin membuat Allen tersadar, entah berapa lama dia duduk dan menatap kosong kedepan.

"Hooh, sampai-sampai makanan Lo terabaikan. Mending kasih gue" sambung Rudi dengan wajah minta tabol.

"Itu sih maunya Lo nyet" ketus Karin, Rudi malah terkekeh.

"Mikirin apa sih?" Tanya Rudi penasaran, Karin menatap intens Allen membaca apa yang ada di kepala bocah itu.

Tapi nihil raut wajah Allen terlalu datar dan misterius untuk dia baca padahal dia berbakat membaca isi hati orang dari raut wajah, sialnya hanya Allen yang tak bisa dia baca.

"Gue tinggal satu rumah sama kak Anis" jawab Allen membuat Karin tersedak minuman yang dia minum, sedangkan Rudi melongo.Pria itu sudah tau prihal Allen yang tak sengaja meniduri wanita dan sialnya wanita itu

adalah orang yang sangat di kenal jadi dia sedikit khawatir dengan Allen yang tak biasa dengan dunia seperti itu

"Kok bisa? Bukannya kalian belum nikah ya?" Tanya Karin tidak mengerti, Allen menghela nafas pelan lalu menggelengkan kepalanya.

"Gue gak tau, dia hanya bilang kalau dia gak mau gue lepas dari pengawasannya" jawab Allen, Karin dan Rudi mengangguk paham.

"Dia cuman gak mau Lo lari dari tanggung jawab, kalau gue jadi kak Anis juga gitu. Apalagi Lo itu banyak yang suka" ujar Karin satu pendapat dengan Anissia.

"Lo harus ngerti itu, lagian apa Masalahnya coba kalian tinggal satu atap toh Lo gak bakal hilaf juga kan" sambung Rudi, Allen hanya diam saja.

Entah kenapa dia merasa ragu akan hal itu, dia merasa ragu dengan kenormalannya sebagai wanita. Oh God, wanita sialan itu membuat dia gila.

"Sudah jangan di jadiin beban pikiran, jalani aja apa yang ada. Gue yakin perlahan-lahan Lo bakal terima keberadaan kak Anis. Walau Lo gak ada rasa lebih kayak gue ke Riko yang

seenggaknya Lo anggap dia sebagai apa kek agar hubungan kalian sedikit lebih baik gak kayak gini" ucap Rudi panjang, dia ingin Allen mengerti kalau yang dia hadapi jangan sampai membuatnya stres.

"Gue satu pendapat sama Rudi, Lo harus bisa Nerima kak Anis. Mau gak mau Lo harus buat diri Lo terbiasa sama dia, gue yakin Lo bisa" timpal Karin, Allen hanya diam dan

tersenyum.

Lalu mereka membicarakan tentang tugas, setidaknya mereka harus memenuhi otak Allen dengan tugas-tugas yang sudah menumpuk. Tanpa terasa jika sudah sore dan Allen

sudah menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa yang baik, kini dia berdiri di halte bus berniat untuk pulang. Sebenarnya dia tidak menunggu bus mainkan taksi, dia tidak tau harus naik apa ke aparteman Anissia karena dia hanya tau di mana alamatnya saja dan itu juga dia tulis di kertas agar tidak lupa.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya dia dapat juga, tanpa banyak bicara dia langsung masuk kedalam taksi dan memberikan alamat itu pada supir selebihnya dia serahkan pada sang supir membawanya kemana. Akhirnya mereka berhenti di sebuah gedung megah nan mewah, Allen turun dari taksi, lalu membayar ongkosnya. Sebenarnya dia sedikit menyesal karena naik taksi.

Kenapa dia menyesal? ya karena mengurung dirinya terus menerus dulu, seharusnya dulu dia ikut saja bersama Karin dan Rudi menjelajahi Jakarta agar dia tau bagaimana seluk beluk ibu kota ini.

Jadi dia bisa tau kemana dia akan pergi, kalau begini kan dia yang repot. Padahal dia punya kendaraan tapi tidak bisa dia pakai, keluh Allen dalam hati. Dengan gontai dia masuk kenapa gedung itu dan menuju lift, dia menekan tombol lima agar lift yang dia naikin membawanya naik ke tempat yang dia tuju.

Ting...

Pintu lift terbuka dan Allen berjalan keluar menuju kamar Anissia, Allen celingak-celinguk mencari kamar yang di maksud Anissia pagi tadi. Tidak terlalu susah mencarinya karena di kamarnya hanya ada tiga saja dan kamar mereka berada di tengah-

tengah, tanpa banyak bicara dia langsung masuk. Dia membuka sepatunya sembarang, melempar tas miliknya ke sofa lalu menghempaskan tubuhnya di benda empuk itu, dia

sangat lelah hari ini tugas-tugas mereka yang menumpuk membuatnya harus memotong waktu istirahat keduanya hanya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya itu.

Bahkan tadi dia masih belum selesai tapi tugas itu masih cukup lama untuk di serahkan ke dosen, tapi Allen ingin semua selesai dengan cepat agar dia tidak perlu repot lagi mengerjakannya dan bisa mengerjakan tugas lainnya lagi. Entah karena lelah atau

bagaimana dia malah terlelap, sedangkan Anissia masih bergelut dengan dokumen-dokumen yang membuatnya pusing.

Hari pertamanya kerja cukup menguras emosinya karena semua karyawannya bekerja tidak sesuai yang dia harapkan, pantas saja selama ini perusahaannya yang ada disini selalu saja hanya sedikit mendapatkan keuntungan. Dia mendesah lega karena semua

pekerjaannya telah selesai, dia melirik jam tangannya yang melingkar indah di pergelangan tangan.

"Beberapa menit lagi makan malam" gumamnya sambil berjalan keluar, dia berjalan dengan anggunnya meninggalkan kantornya.

Dia harus pulang cepat namun sebelum itu dia membeli beberapa makan di restoran, tentu saja di bungkus karena tidak mungkin dia membiarkan Allen kelaparan sekarang bocah itu tanggung jawabnya. Sesampainya di aparteman, dia tersentak melihat apartemannya berantakan. Dia menghela nafas lelah, di raihnya sepatu milik Allen dan

meletakannya di rak sepatu.

Sekarang dia seperti seorang ibu yang membereskan kekacauan yang anaknya buat, setelah itu dia menuju dapur memindahkan makanan yang dia beli ke dalam piring lalu menatanya rapi di meja makan. Lalu setelah itu mencari keberadaan Allen, dia yakin

bocah itu ada di rumah karena dia sangat tau jika bocah itu memiliki banyak tugas karena seharian Anissia mengawasi Allen dari komputernya yang ada di kantornya.

Komputer itu tersambung langsung ke cctv yang ada di kampus miliknya, sebenarnya dulu itu untuk mengawasi dosen-dosen dan menilai yang mana yang baik dan cermat dalam mengajar tapi sekarang dia lebih perduli pada gerak gerik Allen dari pada

memerhatikan hal tidak penting. Setelah celingak-celinguk kesana kemari, akhirnya Anissia menemukan Allen yang kini terkapar di sofa. Dia berjalan mendekati Allen, bocah

itu kini terlihat damai sayangnya sekarang jam makan malam dia tidak mau Allen sakit karena telat makan.

Anissia menggoyang-goyangkan tubuh Allen agar bocah itu bangun, sedangkan Allen merasa terganggu mengeliat dan berdehem.

"Allen bangun, ayo makan dulu nanti lanjut lagi tidurnya" ujar Anissia lembut.

Sayangnya Allen lagi-lagi hanya berdehem sambil menutup matanya, Anissia terlihat kesal dengan sikap Allen. Dengan kasar dia menarik tubuh Allen, sontak membuat Allen

tersentak tapi matanya masih terpejam. Anissia berdecak kesal melihat Allen lagi-lagi berbaring di sofa, dia sudah kehabisan akal untuk membangunkan Allen. Namun sedetik

kemudian terlibat satu ide walau agak gila tapi cara ini selalu ampuh untuk

membangunkan orang yang susah tidur, tanpa aba-aba Anissia mencium bibir Allen dan melumatnya lembut. Ini pertama kalinya dia mencium bibir Allen tanpa pengaruh alkohol, rasanya manis. Sedangkan Allen hanya diam saja, melihat Allen sama sekali tidak

merespon membuat Anissia gemas.

Dia menggigit kecil bibir bawah Allen membuat Allen mendesah kecil, lalu membuka matanya.

"Biarkan aku tidur kak, aku ngantuk" gumam Allen dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Gak, kamu harus bangun dan makan. Jangan di biasakan makan telat" tegas Anissia, Allen hanya berdehem.

Lalu bangkit dari tidurnya, dia tidak mau berdebat dengan Anissia. Sedangkan Anissia tersenyum senang.

"Cuci dulu muka kamu sana, jorok tau kalau langsung makan" perintah Anissia lagi-lagi Allen hanya berdehem dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Anissia.

Setelah selesai mencuci wajahnya, dia pun berjalan menuju meja makan. Terlihat di sana Anissia sudah duduk manis, Allen meraih kursi kosong dan duduk di sana.

Mengisi piring kosongnya dengan nasi juga lauk pauk, dalam diam keduanya menyantap makanan mereka.

"Aku merasa kita di jebak malam itu" ujar Allen memecah keheningan, Anissia mendongkak kepalanya kearah Allen yang kini ada di depannya.

"Bagaimana bisa kamu berpikir begitu?, Sudah jelas-jelas bukan kalau kamu mabuk dan meniduri ku" jawab Anissia, Allen menghela nafas pelan.

"Itulah yang akar permasalahannya, aku menemukan minuman itu di dapur dekat botol air mineral yang sudah kosong. Mangkanya aku pikir itu air putih, tanpa berpikir panjang

aku minum" ujar Allen mengeluarkan apa yang ada di otaknya, Anissia hanya diam dia pikir benar juga.

Kalau cangkir yang di minum Allen itu berisi alkohol kenapa ada di dapur dan dekat botol air mineral dan seingatnya dirumahnya tidak menyediakan alkohol, kenapa dia baru sadar sekarang.

"Kalau benar begitu, apa yang mau kamu lakukan? Mau lepas dari tanggung jawabmu?" Tanya Anissia bertubi-tubi.

"Gak, aku hanya ingin tau apa alasan orang itu melakukan hal konyol itu." Jawab Allen sadar jika dia memang tak mungkin lagi lepas lagi dari cengkraman Anissia.

Hening!

Cukup lama keduanya bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.

"Kenapa baru kemaren kamu meminta pertanggungjawabanku, bukan kah peristiwa itu seminggu yang lalu?" Tanya Allen menghancurkan kesunyian.

"Aku butuh waktu menemukanmu, aku hanya tau wajahmu. Lalu kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja waktu itu?" Jawab Anissia lalu berbalik bertanya.

"Aku kan sudah menjelaskan, pagi itu aku panik karena telat ngampus. Kalau aku panik gak bakal memperdulikan apapun, maaf karena merenggut keperawanan kamu" jelas

Allen dan dia sangat merasa bersalah akan hal itu.Anissia menghela nafas pelan.

"Sudahlah, itu sudah terjadi. Kata maafmu gak akan bisa mengembalikan apa yang sudah kamu renggut, aku hanya butuh pertanggungjawaban kamu bukan kata maafmu" tegas

Anissia jenah karena Allen terus meminta maaf.Allen mendesah, dia sangat menyesal karena peristiwa itu. Dia merasa jika Tuhan terus

menghukumnya dengan berbagai luka yang tergores di hatinya, jika saja dia bisa mengeluh mungkin dia sudah memaki dan membentak tuhan.

Tapi apa dayanya, dia hanya seorang hamba dan manusia. Tak punya kuasa untuk sekedar mengeluh, meminta pun berpikir dua kali apa yang dia pinta akan di kabulkan setelah semua yang dia lewatkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel