Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 5

Allen menadahkan kepalanya ke atas, tatapannya lurus ke langit-langit kamarnya. Ya, wanita itu kini ada di kamarnya, sendiri tentunya. Entah kenapa dia begitu betah menatap

langit-langit kamarnya, padahal tidak ada yang spesial. Namun sedetik kemudian dia menutup matanya perlahan, sebenarnya dia ingin tidur tapi masih banyak tugas yang

belum dia selesaikan.

Sekarang dia sedang duduk di meja belajarnya dengan tugas-tugas yang tak kunjung selesai, sumpah demi apapun dia pengen banget teriak tapi nanti di katain orang gila. Dia menghela nafas lelah dan mengusap kasar wajahnya, diliriknya jam. Untungnya masih

sore jadi dia masih banyak waktu untuk menyesuaikan tugasnya.

"Kapan ini selesai dah, palak gue udah mumet nih." Gumamnya frustasi.

Rasanya dia ingin mati saja, semua hal yang ada di kepalanya membuatnya pusing. Belum tentang hidupnya yang sial, bagaimana bisa dia meniduri wanita sangat tidak masuk akal

sehatnya. Kalau cowok sih wajar-wajar aja, nah ini cewek Huhh….. rasanya itu mustahil.

Tapi itulah kenyataannya, kenyataan yang sampai sekarang belum bisa dia terima.

Ingin dia lari tapi kemana?, Walau pun dia lari apa hidupnya akan tenang seperti sebelumnya apalagi dia sudah menghancurkan masa depan orang lain. Ah sial! kenapa hidupnya begitu pelik, rasanya semua terlalu berat untuk dia tanggung. Allen menghela

nafas pelan lalu mengubah posisinya, sekarang dia duduk sambil menatap laptop miliknya yang masih menyala. Saat sekarang fokus dengan labtopnya tiba-tiba ponselnya berdering, dia meraih ponselnya lalu menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang

menelponnya karena dia terlalu fokus pada tugasnya. Lalu menempelkan ponsel tersebut di terlinganya, terdengar suara seseorang di semberang.

“Halo.”

“Halo, besok kemasi semua barang-barang kamu. Aku mau kamu pindah ke apartemenku”

“Maaf ini siapa?, Lalu untuk apa nyuruh gue pindah. Situ siapa dah!”

“Apa kamu gak nyimpen nomorku dan apaan bahasa kamu itu, aku udah bilang kan kalau ngomong sama aku itu pakek aku kamu.”

“Dih, kenal aja gak! Apalagi nyimpen nomor situ?, Situ waras kah? udah gue sibuk Njir.”

“Kamu gak tau siapa aku?, Aku cewek yang kamu rengut paksa perawannya. Kalau otak kamu masih berfungsi dengan baik kamu pasti ingat denganku!”

.......

“Kenapa diam?, Udah inget……….

……..Aku gak mau tau besok pas aku jemput kamu udah berkemas, aku ingin kita tinggal serumah. Aku udah ngomong sama orang tua kamu dan mereka udah ngizinin. Ah satu lagi

aku gak mau kamu pakek Lo gue lagi, kalau masih liat saja akibatnya!”

Tut.....Tut....Tut....

Setelah telepon di matikan, Allen diam , Mampus pikirnya. Grrrrrh….. Semua ini

membuatnya gila, bagaimana bisa serigala betina itu memutuskan hal seenaknya.

Kalau dia hilaf lagi bagaimana? Eh, nah kan sekarang aja otaknya sudah kemana-mana apalagi nanti, kalau suudah tinggal satu rumah bisa-bisa masuk rumah sakit jiwa dia. Dan

tadi apa-apaan, kenapa wanita itu begitu menyeramkan, apa dia tahan hidup satu rumah dengan wanita itu. Belum apa-apa sudah membuat bulu kuduk merinding, bagaimana

kalau sudah lama bisa-bisa mati dia, kenapa sekarang dia jadi lebay sudahlah persetanan dengan itu dia pusing. Lebih baik melanjutkan pekerjaannya dari pada pusing

memikirkan hal yang tidak jelas pikir Allen, dia pun kembali bergelut dengan labtopnya lalu meletakkan kembali ponselnya.

******

Sebuah mobil sedan hitam berjalan memecah jalan raya yang kini terlihat cukup ramai, namun tidak terjadi kamacetan tentu saja karena sekarang Jakarta sudah cukup teratur

namun walau pun begitu masih saja ada kemacetan di beberapa tempat dan jam-jam tertentu. Dan bukan sekarang, di dalam mobil itu ada dua wanita yang berbeda umur dan generasi juga pendapat tentang suatu hal namun entah kenapa takdir malah mengikat

mereka dengan tali tak kasat mata membuat salah satu dari mereka merasa sesak. Dia ingin lepas malah semakin terjerat dan berakhir pilu, beberapa menit yang lalu keduanya

terlibat perdebatan yang berujung kekerasan.

"Aku kan sudah bilang semalam kalau kamu harus tinggal sama aku, apa kamu gak Inget apa yang kamu lakuin sama aku" tegas wanita berwajah angkuh yang kini duduk di kursi

pengemudi.

Sedangkan wanita yang kini duduk di kursi penumpang yang ada di sampingnya menghela nafas lelah, dia memilih untuk diam seribu bahasa dan menatap keluar jendela.

"Kamu denger gak sih aku ngomong apa?, Apa di luar lebih menarik untuk kamu liat dari

pada aku Allen" tanya Anissia dengan nada geram.

kedua wanita tersebut adalah Allen dan Anissia, beberapa menit yang lalu Anissia menjemput Allen di apartemannya, sesuai dengan apa yang dia bilang semalam dia akan

menjemput Allen. Sedangkan Allen, dia sama sekali belum berkemas satu pun barang.

Semalam dia begadang gara-gara tugasnya, dia sudah bilang kalau dia sibuk gak ada waktu untuk berkemas namun Anissia seakan tuli.

Dia tidak mau mendengar apapun alasan yang Allen berikan, baginya Allen menolaknya secara halus. Cukup lama mereka berdebat di dalam aparteman Allen, bahkan pipi Allen

sudah merasakan pedasnya lima jari Anissia. Salahkan saja mulutnya yang tak bisa dikontrol sama sekali, dia malah menghujat Anissia dengan kata-kata kotor. Jujur dia merasa bersalah karena telah mengatakan Anissia jalang, sehingga wanita itu jadi gelap

mata dan menampar Allen untuk kedua kalinya.

Sakit sih tapi dia pantas untuk itu.

Dengan malas Allen memalingkan wajahnya kearah Anissia, wanita itu terlihat fokus ke jalanan.

"Apalagi sih, udah deh jangan ngomel-ngomel kayak emak-emak. Perasaan gue salah mulu dah" ucap Allen datar, sontak Anissia memalingkan wajahnya kearah allen dan menatap tajam.

Mampus!, Salah ngomong pasti gue pekik Allen dalam hati.

"Udah ratusan kali aku bilang jangan pakek LO GUE kalau ngomong sama aku, kuping kamu gak bermasalah kan?. Ya jelas kamu salah, kamu udah buat aku kesal terus ngatain orang jalang. Aku jadi jalang juga karena kamu, kamu pikir siapa yang nidurin aku hah?

Siapa bangsat!" Omel Anissia panjang lebar.

Sudah, Kalau gini mah Allen diem wae, percuma juga di jawab makin panjang urusan.

Heran deh kenapa cewek itu suka banget ngomel-ngomel, yang lalu malah di ungkit-ungkit berasa bener Mulu keluh Allen dalam hati.

Padahal dia juga cewek tapi dia emang beda sih. Dia tuh tipe cewek yang kalem walau pun emosi dia tetap tenang bahkan dia jarang main tangan, tapi inget jangan bikin dia

gelap mata bisa-bisa nyawa kalian akan melayang. Cukup lama Anissia mengomel-ngomel tidak jelas akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti, dengan cepat Allen keluar dari mobil sedan yang dia tumpangi begitu juga Anissia.

"Aku ngampus dulu, kalau udah pulang aku telpon" pamit Allen dengan nada malas, Anissia mengangguk paham.

"Yaudah belajar yang bener, jangan menel-menel sama cowok atau cewek. Awas kalau genit, jangan kira kamu bisa lolos dari pengawasan aku. Asal kamu tau ini universitas punya aku" jawab Anissia, serta memperingatkan Allen agar wanita itu tidak berulah.

Allen hanya berdehem, sebenarnya dia kaget tapi yasudahlah. Allen pun melangkah masuk kedalam gedung kampusnya sedangkan Anissia kembali masuk ke dalam mobilnya, dia harus ke apartemannya mengambil dokumen yang dia tinggalkan.

Sedangkan barang-barang Allen sudah di bawa oleh orang suruhannya ke apartemannya beberapa jam yang lalu, dia tadi hanya mengantar Allen pergi ke kampus.

Wanita itu sedikit kesal dengan sikap Allen, bocah itu begitu menyebalkan dan pemalas.

Bagaimana bisa jam tujuh dia baru bangun padahal tiga puluh menit lagi dia harus ke kampus. Mana tadi dia jorok banget tidurnya pakek ngiler segala, huhhh begini saja sudah

menguras emosinya bagaimana kalau mereka tinggal serumah Mungkin tiap hari Anissia mengomel-ngomel tidak jelas.

Inilah kenapa dia tidak suka pacaran sama bocah ingusan, mereka sangat susah di atur dan tidak dewasa apalagi orangnya jorok seperti Allen, sudah bisa gila dia. Belum lagi sifat Allen yang tidak banyak bicara itu, sangat jauh dari tipe Anissia. Wanita itu memang sangat anti dengan orang seperti Allen, dia tidak suka dengan orang yang sulit

berekspresi karena dia tidak pernah bisa menebak apa yang ada di kepala mereka.

Kenapa takdir mengikat mereka berdua. Kenapa harus Allen coba, kenapa gak orang lain saja. Mengingat semua hal tentang Allen yang di ceritakan oleh Aminah membuat Anissia ragu, dia ragu namun dia tidak bisa melepaskan Allen begitu saja. Bocah itu kesenangan jika di lepaskan begitu saja, sudahlah jika memikirkan bocah itu membuatnya pusing lebih baik dia ke kantor saja karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaannya yang ada di Indonesia.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel