Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 13

"kamu mau keluar atau tetap disini?" Tanya Anissia pada Allen yang kini duduk di sampingnya dengan bibir manyun.

Bocah itu terlihat kesal karena acara bermalas-malasannya terganggu karena Anissia mengajak Allen ke perusahaannya, ya sekedar untuk melihat-lihat dari pada itu bocah

molor di apartemen kan?. Allen mendesah kesal lalu keluar dari mobil, saat ini bocah itu hanya mengenakan baju kaos lengan pendek warna biru laut dengan celana kasual panjang warna coklat dan hanya mengenakan sandal jepit.

Rambut sepunggung miliknya di ikat setengah, sedangkan wajahnya di rias seadanya saja. Dia hanya menggunakan bedak bayi dan pelembab bibir saja, serta menyemprotkan sedikit parfum di tubuhnya. Dari segi penampilan dia terlihat sangat buruk apalagi

sekarang dia lagi ada di perusahaan besar, salahkan saja Anissia yang memaksanya untuk ikut padahal dia sudah menolak Huhh benar-benar menyebalkan.

Sedangkan Anissia sama sekali tidak masalah dengan penampilan Allen, dia pikir apapun yang di kenakan bocah itu terlihat sangat keren dan pas. Sekarang keduanya berjalan beriringan, Allen memilih mengekori Anissia sambil memakan snek dengan santainya.

Namun saat memasuki gedung megah itu, banyak pasang mata yang menatapnya aneh.

Saat dia ambang pintu tiba-tiba saja pria berseragam menghentikan langkahnya.

"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu" tanya salah satu pria yang mencegatnya.

"Gak ada" jawab Allen singkat lalu melangkah pergi namun lagi-lagi di cegat para pria berseragam itu membuat Allen mendesah kesal.

Padahal moodnya belum membaik tapi sudah di suguhkan dengan hal menyebalkan seperti ini dan lagi snek miliknya habis lagi, benar-benar sial upatnya.

"Apa sih, dari tadi ngehalangin jalan gue Mulu. Bikin kesel aja" keluh Allen kesal.

"Maaf nona, anda tidak boleh masuk" seru para pria berseragam itu, Allen mengangkat satu alisnya lalu menghela nafas kasar lalu memanyunkan bibirnya.

"Kalau gue gak di paksa, gak bakal dah gue kesini mending molor di apartemen"gumam Allen pelan.

"Terserah kalian" celetuk Allen datar lalu berlari mengejar Anissia, dia tidak mau

moodnya bertambah hancur karena pria-pria bodoh itu.

Saat berhasil mengejar Anissia, bocah itu langsung memeluk lengan Anissia, membuat para pria itu tambah bingung namun mereka hanya membiarkan Allen begitu saja.

Mungkin saja bocah itu salah satu anggota keluarga bos mereka, sedangkan para karyawan hanya menatap keduanya sambil menerka-nerka siapa yang kini memeluk

lengan bos mereka dengan manja.

Lain halnya dengan Anissia yang bingung dengan sikap Allen yang tiba-tiba saja manja.

"Kamu kenapa?" Tanya wanita itu, Allen mendesah pelan lalu menggelengkan kepalanya.

"Kakak beli coklat kan tadi?" Tanya Allen, yab sebelum ke kantor Anissia memang sempat ke Indomart.

Wanita itu membeli beberapa cemilan dan coklat untuk Allen, agar bocah itu diem dan gak ngerengek minta pulang dengan alasan konyol.

"Iya, emangnya kenapa sayang?" Jawab Anissia lalu berbalik bertanya, Allen tersenyum senang lalu melepaskan pelukannya.

"Aku mau coklat" ucap Allen dengan nada manja, Anissia terkekeh kecil.

Wanita itu meraih coklat yang ada di tasnya lalu memberikannya pada Allen, sedangkan Allen langsung mengambil coklat itu dengan semangat. Anissia terkekeh melihat bocah itu begitu senang hanya karena di beri coklat, dasar bocah pikir Anissia. Namun tiba-tiba saja seorang wanita cantik menghampiri mereka, membuat langkah mereka terhenti.

"Selamat pagi buk, Pak William ingin bertemu dengan Anda. Beliau sudah menunggu di ruang metting" seru wanita itu, Anissia mendesah pelan dan menatap datar sekretarisnya.

"Sudah berapa lama dia disini?" Tanya Anissia.

"Dari jam 7, beliau ingin membicarakan proyek yang mereka ajukan kemarin" jawab Vithaloca, Anissia hanya mengangguk.

"Len, kamu sama mbak ini dulu ya. Aku ada urusan bentar, Vitha tolong kamu jaga anak ini dulu. Jangan khawatir dengan pekerjaan kamu, hari ini kamu bebas tugaskan" pinta Anissia, Allen hanya mengangguk patuh begitu juga Vithaloca.

Bagaimana bisa dia menolak permintaan bosnya sendiri bukan? Lagian menjaga Allen apa susahnya pikir wanita itu, toh Allen itu bukan anak kecil yang makan harus di suapi

atau sejenisnya. Dia sudah sangat dewasa untuk melakukan semua hal dengan sendiri, Anissia tersenyum kecil lalu mengecup singkat bibir Allen.

"Aku pergi dulu, jangan nakal" pamit Anissia, Allen tersenyum manis.

"Siap laksanakan" jawab bocah itu, Anissia terkekeh melihat tingkah Allen lalu pergi meninggalkan Allen dan sekretarisnya.

Wanita itu pergi menuju ruang metting, sebelum itu dia menelpon asistennya agar mengambil dokumen penting di atas meja kerjanya. Dengan malas dia masuk ke ruang meeting, disana sudah ada pria yang umurnya tidak jauh berbeda dari dirinya.

"Selamat pagi tuan William" sapa Anissia dengan nada sopan, pria itu tersenyum penuh arti saat melihat Anissia masuk sendirian.

"Selamat pagi juga honey" jawab William dengan nada menggoda, Anissia memutar matanya jenah.

"Tumben jam segini baru masuk?, Biasanya jam 7 udah stay di kantor?" Tanya pria itu.

"Terserah saya, ini perusahaan saya dan saya bisa kapanpun datang dan pergi sesuka saya" jawab Anissia dengan ketus, pria itu terkekeh.

"Jadi bagaimana dengan proyek yang saya ajukan kemarin?" Tanya pria itu mengalihkan pembicaraan.

"Saya belum membacanya, jadi saya belum bisa mengambil keputusan." Jawab Anissia datar, pria itu mendesah pelan.

Namun tiba-tiba, seorang pria masuk dengan sebuah mab di tangannya. Pria itu menghampiri Anissia lalu menyerahkan mab tersebut.

"Ini dokumen yang anda minta buk" seru pria itu, Anissia hanya mengangguk lalu meraih mab tersebut dan membukanya serta membaca isinya dengan seksama.

Sedangkan William menatap Anissia penuh harap, karena dokumen yang Anissia baca adalah proposal proyek yang dia ajukan kemarin.

"Apa menurut anda proyek ini akan menghasilkan keuntungan besar?" Tanya Anissia tanpa mengalihkan fokusnya.

"Tentu saja, anda tidak perlu khawatir akan kecewa. Proyek ini akan menghasilkan keuntungan yang besar, anda cukup menyuntikkan dana saja" jawab William dengan nada penuh percaya diri.

"Bagaimana menurut kamu Apolo, apa proyek ini menguntungkan untuk kita?" Tanya Anissia apa asistennya.

"Menurut saya proyek ini hanya membebani perusahaan kita saja, apalagi keuntungan tahun ini sama sekali belum bisa menutupi kerugian tahun kemarin akibat korupsi

manajer keuangan" jawab Apolo.

"See, anda sudah mendapatkan jawaban saya tuan William. Saya sibuk dan jangan membuang waktu datang kemari hanya mengajukan proposal yang banyak cacat seperti ini" ujar Anissia dengan nada tegas, William mendesah Kecewa.

Padahal menurutnya proyek itu sudah sempurna, namun sepertinya dia lupa jika yang sedang dia hadapi adalah pembisnis dengan ketelitian dan kedisiplinan tinggi.

"Tolong pikirkan lagi, saya yakin sangat yakin jika proyek ini menghasilkan keuntungan besar untuk perusahaan kita" bujuk William, berharap jika Anissia berubah pikiran.

"Sebaiknya anda kembali ke kantor anda, saya sibuk terimakasih" ujar Anissia datar lalu langsung pergi begitu saja tanpa menunggu respon dari William.

Sedangkan pria itu berusaha mengejar Anissia dan membujuk wanita agar mau menyuntikkan sedikit dana karena dia yakin sekali jika proyek itu akan berhasil. Namun langkah di cegat oleh Apolo, asisten sekaligus tangan kanan Anissia.

Lain halnya dengan Allen yang kini terlihat menikmati tournya di perusahaan milik Anissia, ada banyak yang dia lihat dan pelajari disini. Namun tiba-tiba saja matanya

menangkap sosok yang dia kenal, orang itu terlihat fokus dengan komputer yang ada di depannya sesekali berbincang-bincang dengan rekan kerjanya yang ada di sampingnya. Entah apa yang mereka bicarakan, Allen tidak tau.

"Bang Jino" pekik Allen sambil berjalan mendekati pria yang dia maksud, sedangkan pemilik nama langsung menoleh.

"Allen" pekik pria itu kaget, sedangkan Allen langsung berhambur memeluk pria itu tanpa perduli jika ada yang menatapnya dengan tajam.

"Aku kangen Abang" lirih Allen, jino tersenyum.

"Abang juga" jawab Jino sambil melepaskan pelukannya membuat jarak antara keduanya.

"Kamu gimana kabarnya?" Tanya jino

"Aku baik kok, kalau Abang?. Sejak Abang nikah, Abang udah sombong sama aku gak ngechat lagi kan jadi sepi hp ku" jawab Allen jujur, Jino terkekeh geli melihat wajah cemberut Allen.

"Abang sibuk, musti kerja terus ngurus anak jadi gak ada Waktu buat santai-santai" jelas jino, Allen memutar matanya malas.

"Yaya, sih Abang emang gila kerja" celetuk Allen datar, jino tertawa kecil melihat respon Allen.

"Kok kamu ada disini?" Tanya jino bingung, ya karena perusahaan yang menaunginya sangat ketat dan tidak sembarangan orang bisa masuk kedalam gedung.

"Gak ada, cuman liat-liat doang" jawab Allen, pria itu menaikkan alisnya bingung lalu menatap vithaloca berharap jika wanita itu menjelaskan sesuatu padanya.

Sialnya wanita itu juga tidak tau apapun tentang Allen dan kenapa bisa bocah itu berada di sini, yang dia tau kalau dia hari ini di bebas tugaskan dan beralih profesi menjadi baby sitter itu aja.

"Jangan menatap saya seperti itu, saya tidak tau apa-apa" seru vithaloca seakan tau isi kepala jino.

"Kenapa anak ini ada disini?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana, sontak membuat ketiganya kaget.

"Dan jino, apa disini kamu di gaji untuk mengobrol hah?" Timpal wanita itu dengan nada dingin, sontak membuat bulu kuduk ketiganya berdiri terutama jino.

Pria itu benar-benar ciut jika berhadapan dengan bosnya, di rumah aja galak apalagi disini.

"Maaf buk" lirih jino dan langsung kembali mengerjakan pekerjaannya.

"Maaf buk, saya tidak tau. Saya cuman di tugaskan oleh direktur utama untuk menemani gadis ini" jawab vithaloca dengan nada sopan.

"Apa dia datang bersama mrs.paul?" Tanya yulan, wanita itu adalah manajer HRD.

"Iya buk" jawab Vithaloca, yulan hanya mengangguk samar lalu menatap Allen intens dari kepala hingga kaki.

Tentu saja itu membuat Allen merasa risih.

"Apa kamu anggota keluarga mrs. Paul?" Tanya yulan penasaran, Allen menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Bukan" jawab Allen singkat, sontak membuat tatapan yulan berubah.

"Kamu kenal dengan jino?" Tanya wanita itu lagi.

"Iya kenal, dia mantan terindah saya. Kalau bukan karena agama dan orang tuanya Mungkin kami masih bersama dan dia gak bakal nikah sama wanita yang di jodohkan orang tuanya" jawab Allen jujur, bahkan terlampau jujur.

"Kamu tau siapa wanita yang di jodohkan orang tuanya?" Tanya yulan lagi, Allen langsung menggelengkan kepalanya.

"Gak, saya gak tau. Pas bang Jino nikah, dia gak ngundang aku kan lumayan kalau ngundang bisa makan gratis" jawab Allen dengan penuh percaya diri, tentu saja baginya

tidak ada alasan untuk membenci pria itu karena keduanya berpisah secara baik-baik.

Sedangkan jino hanya diam dan menyimak saja, dia tidak ingin memperkeruh suasana.

Ini saja sudah mencekiknya apalagi kalau dia buka suara, yab yulan adalah wanita yang di jodohkan orang tua pria itu. Sekarang mereka memiliki dua anak, pernikahan mereka cukup harmonis dan bahagia namun kadang pria itu merindukan sosok Allen yang

menurutnya lebih baik ketimbang yulan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel