Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 14

Yulan menatap intens Allen, wanita itu benar-benar bingung dengan gadis itu. Apa dia tidak sadar dengan aura tidak suka yang dia pancarkan?, Kenapa gadis itu malah terlihat biasa saja dan bersikap seperti orang tak berdosa sama sekali. Sedangkan Allen yang di

tatap intens merasa salah tingkah.

"Kenapa ibu natap saya seperti itu?" Tanya Allen tidak tahan lagi, yulan hanya menghela nafas pelan lalu berjalan kembali ke mejanya.

Aneh pikir Allen sambil mengangkat bahu acuh, fokusnya kembali ke jino yang kini fokus pada pekerjaannya. Cukup lama dia memerhatikan pria itu, sebenarnya dia hanya penasaran dengan apa yang pria itu kerjakan hingga lupa jika Allen masih ada di

sampingnya. Namun sedetik kemudian dia sadar jika masih banyak yang belum dia lihat, jadi dia memilih untuk pergi tanpa pamit. Entah lupa atau tidak ingin basa-basi, bocah itu benar-benar sulit untuk di tebak.

Jino mendesah Kecewa saat melihat Allen pergi, padahal dia berharap lebih lama bersama gadis itu tapi sayangnya pertemuan mereka bukan pada tempat yang baik untuk bernostalgia atau melepas rindu. Jujur rasa rindunya belum terobati, jika saja dulu Allen

mau berjuang mana mungkin dia terjebak bersama wanita angkuh dan sombong seperti yulan. Padahal wanita itu hanya menjabat sebagai manajer tapi lagunya seperti bos besar,

wanita itu tidak pernah tau cara menghormati suaminya sendiri.

Bahkan urusan rumah dan anak jino yang tanggung, sedangkan wanita itu malah bersantai ria padahal mereka sama-sama kerja dan satu perusahaan. Pria itu sudah muak dengan kehidupannya dan juga pernikahannya namun apa daya, dia tidak bisa egois

karena dia sudah memiliki anak juga dia sudah mencintai dan menyayangi wanita itu walau tak sepenuhnya karena nama Allen masih di hatinya dan menempati posisi teristimewa.

Bocah itu selalu bisa membuat dirinya di cintai oleh siapapun, cara dia menghargai orang mampu meluluhkan setiap hati dan selalu merasa nyaman. Sedangkan yulan menatap datar suaminya yang melihat kepergian Allen, dia bisa melihat pancaran cinta di mata

pria itu membuat hatinya sakit.

Dia sadar jika selama ini sikapnya tidaklah baik apalagi keduanya di satukan oleh sebuah perjodohan, namun apa dia harus menerima kenyataan jika suaminya masih mencintai orang lain? Entahlah, namun sebisa mungkin dia tidak membiarkan suaminya bertemu dengan bocah itu.

******

Vithaloca terkekeh kecil saat mendengar cerita Allen mengenai masa putih abu-abunya, bocah itu terlihat antusias sedangkan Vitha sendiri hanya menyimak apa yang bocah itu ceritakan.

"Udah jam makan siang, kamu gak laper Len?" Tanya Vithaloca sambil melihat kearah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Banget, tapi aku gak bawa uang" jawab Allen dengan wajah lesu, Vithaloca tersenyum.

"Gak papa, yuk makan. Mau di luar atau di kantin perusahaan?" Ucap Vithaloca

"Aku gak mau ngerepotin mbak, aku tunggu kak Anissia aja" tolak Allen secara halus, Vithaloca mendesah pelan lalu menggelengkan kepalanya.

Dasar keras kepala pikirnya.

"Mrs.Paul masih ada meeting dan baru selesai 20 menit lagi, yakin masih bisa nahan?" Bujuk Vithaloca.

Allen menghela nafas pelan, kalau dua puluh menit lagi itu artinya dia harus menunggu lebih lama lagi dan perutnya akan sakit pikirnya. Tapi dia juga gak mau merepotkan orang lain, ah kenapa makan saja di bikin pusing sih emang bego sih.

"Jangan banyak mikir lagi, ayo makan. Kamu gak mau kan Mrs. Paul marah karena kamu telat makan terus sakit" omel Vithaloca sambil menarik paksa Allen, Allen memutar matanya malas.

Kenapa semua wanita itu hobi banget ngomel-ngomel, telat makan semenit doang gak bakal mati kali orang puasa satu bulan aja masih sehat-sehat aja pikir Allen.

"Yayaya, tapi makan di kantin aja ya. Males aku makan di luar" pinta Allen, Vitha hanya mengangguk lalu menuntun Allen ke kantin perusahaan.

Untungnya mereka sudah ada di lantai yang sama dengan kantin perusahaan, jadi gak perlu deh repot-repot lagi naik lift lagi.Sesampainya di kantin mereka langsung di sambut dengan suara ricuh para karyawan, Vitha menuntun Allen ke satu meja kosong.

Lalu wanita itu pergi entah kemana meninggalkan Allen sendiri, bocah itu terlihat tidak nyaman karena banyak mata yang menatapnya aneh namun dia berusaha acuh toh gak bikin dia kenyang juga. Tidak berselang lama Vithaloca kembali sambil membawa

nampan yang berisi dua porsi makanan, lalu meletakkannya di meja lalu duduk di kursi kosong di depan Allen. Keduanya menyantap makanan mereka dengan tenang, hingga akhirnya ada satu yang membuat perhatian Allen teralihkan.

"Mereka lagi ngapain?" Gumam Allen membuat Vithaloca mendongakkan kepalanya dan menatap Allen, lalu mengikuti arah mata Allen.

"Mereka memang begitu, selalu bertingkah konyol." Jawab Vithaloca, Allen menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan makannya sambil menatap ke enam orang yang bertingkah konyol.

Itu membuatnya ingat dengan Zala dan juga naga sari, mereka selalu saja membuat hal-hal yang membuat suasana menjadi ramai.

"Semuanya, denger Alvin bakal nyanyi dan ngedance nih buat kita. Jadi nikmati pertunjukannya" teriak salah satu dari mereka, tentu saja hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Allen memicingkan matanya saat melihat pria bernama Alvin tersebut, namun sedetik kemudian dia tersentak karena dia kenal dengan pria tersebut. Allen menyeringai kecil lalu bangkit dari duduknya, tentu saja hal itu membuat Vitha bingung namun wanita itu

tidak ingin menahan Allen.

Mungkin saja bocah itu ingin melihat lebih dekat lagi pikirnya positif, sedangkan Allen terus berjalan mendekatinya Alvin yang tak lain senior yang sering dia goda dulu. Allen

sangat menyukai wajah merah pria tersebut, walau penampilan pria itu sudah berubah namun Allen masih bisa mengenalinya dengan baik.

Sedangkan Alvin sendiri sedang menyiapkan dirinya, tidak mudah baginya untuk tampil di depan umum seperti ini. Ah ini semua karena permainan sialan itu, jika saja dia tidak

ikut mungkin saja dia tidak akan berakhir seperti ini. Pria itu menarik nafas dalam lalu menghelanya pelan, lalu sedetik kemudian terdengar alunan nada tanpa lirik tentu saja karena dia yang akan bernyanyi.

Untungnya liriknya dia hapal, karena itu adalah salah satu lagi favoritnya. Pria itu cukup menyukai K-POP, yab lagu tersebut adalah milik salah satu boyband asal Korea Selatan

yaitu EXO dan judul nya LOVE SHOT dan dia juga cukup tau sedikit dancenya. Pria itu pun mulai bernyanyi dan menggerakkan tubuhnya sesuai ritme lagu, namun tiba-tiba saat dia

bagian rapper ada yang mengambil alih.

Itu cukup membuat Alvin tersentak kaget apalagi orang tersebut sangat piawai dalam bernyanyi dan ngedance, hal itu membuat Alvin minder dan melupakan hukumannya membiarkan Allen yang melakukannya. Namun sepertinya hal itu tidaklah gratis, dengan sengaja Allen merubah sedikit gerakannya. Tepatnya di bagian tengah lagu, bocah itu mengalungkan kedua tangannya di leher alvil dan menari dengan penuh gairah.

Gadis itu terlihat sangat seksi, apalagi suara bocah itu terdengar serak-serak basah membuat wajah pria itu memerah. Tentu saja hal itu membuat Allen ingin tertawa namun sebisa mungkin dia tahan karena lagunya belum selesai. Tapi sepertinya bukan Alvin saja yang terangsang namun seluruh pria yang melihat Allen, bocah itu memang punya pesona

yang kuat untuk menghipnotis siapa saja yang melihatnya dan menundukkannya tanpa perlawanan.

Allen melepaskan pelukannya saat bagian rapper, dia harus fokus mengucapkan lirik lagu dengan cepat. Namun tanpa sadar Allen mengangkat bajunya, membuat bagian perutnya

terlihat tentu hal itu membuat bocah itu tambah seksi dan wajah-wajah pria yang melihat itu tambah merah.

Termasuk jino yang juga ada di kantin, pria itu duduk bersama yulan yang kini menatap jijik Allen. Bocah itu benar-benar berubah menjadi jalang, padahal dia pikir Allen itu gadis yang polos namun sepertinya sekarang pemikirannya tentang bocah itu berubah dan membuat wanita itu tambah ingin menjauhkan suaminya dari Allen.

Bukan cuman yulan namun banyak wanita yang berpendapat sama seperti wanita itu, apalagi Alvin adalah salah satu pria yang banyak fansnya karena ketampanan pria itu.

Tapi juga ada yang kagum dan memuji Allen, tapi yang Allen perdulikan hanya wajah merah alvin. Hingga akhirnya tawa Allen pecah, dia benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama dan menyelesaikan lagunya. Sedangkan Alvin menatap bingung Allen, apalagi

setelah apa yang di lakukan Allen padanya.

"Hahahaha, Astaga Abang Tiger kok masih kayak dulu ya masih imut kalau merah gini" seru Allen sambil mencubit kedua pipi Alvin.

Tentu saja membuat para fans pria itu menatap Allen kesal, namun sepertinya tidak terlalu perduli akan hal itu. Sedangkan Alvin tertegun mendengar Allen memanggilnya Tiger karena hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya seperti itu dan itu karena hal konyol yang dia lakukan di masa lalu.

"Allen" pekiknya kaget, sedangkan Allen malah tertawa.

"Ya bang" jawab Allen santai, tanpa perduli dengan Alvin yang hampir serangan jantung.

Jujur penampilan Allen sekarang sangat berbeda dengan terakhir dia temui, dulu dia adalah teman Ghara namun karena dia harus sekolah ke luar negeri jadi mereka jarang bertemu apalagi sekarang mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing kecil

kemungkinan untuk punya waktu kumpul-kumpul kayak dulu. Belum lagi sekarang pria itu sudah punya tanggung jawab lebih yaitu ibunya, dua tahun yang lalu ayahnya meninggal dan itu artinya semua tanggungjawab harus dia pikul sendiri.

Apalagi banyak hutang yang melilit keluarganya membuat usaha mereka bangkrut dan jatuh miskin, belum lagi masih ada tiga adik lagi yang harus di sekolahkan jadi mau tak mau Alvin harus bekerja ekstra. Tidak ada waktu untuk bersantai atau sekedar

berpacaran, karena yang jadi prioritasnya adalah keluarganya.

Allen terkekeh melihat wajah cengo Alvin, tanpa izin bocah itu mengecup pipi pria itu tentu saja lagi-lagi rona merah di pipi pria itu muncul.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel