Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 12

Seorang gadis terlihat fokus pada labtopnya, bahkan dia tidak sadar jika pemilik kamar sudah berada di sampingnya dan melihat apa yang dia tonton.

"Gak baik loh nonton ginian, bisa ngerusak saraf otak" seru pemilik kamar sontak membuat gadis itu kaget dan langsung menutup labtop miliknya.

Anissia terkekeh kecil, lalu menggelengkan kepalanya.

"Kenapa di tutup? Aku udah liat kok dari tadi malah" timpal wanita itu, tentu saja itu membuat rona merah di pipi Allen.

Dia sangat malu karena tercyduk nonton video anu?, Seharusnya dia sadar kalau Anissia ada di kamar. Kalau udah gini kan jadi malu sendiri.

"Suka ya nonton gituan? Pantes malam itu kamu kayak orang pengalaman gitu, udah sering belajar toh" goda Anissia.

Allen hanya diam dan membenamkan wajahnya di kasur, bocah itu benar-benar malu sekarang.

"Hehehe, kenapa malu gitu? Wajar kok kan kamu udah dewasa. Tapi jangan keseringan"

ujar Anissia sambil terkekeh.

"Kakak gak marah?" Tanya Allen dengan wajah polos, Anissia tersenyum kecil.

"Ngapain marah?, Aku cuman ngingetin aja jangan keseringan aja nonton. Kalau ke rangsang gimana? Kan berabe" jawab Anissia.

"Ah aku kira kakak marah" ujar Allen, lalu bangkit dari tidurnya dan turun dari ranjang.

Anissia berdenyit dan menautkan alisnya bingung, karena tiba-tiba saja Allen bangkit dan turun dari ranjang.

"Mau kemana?" Tanya Anissia.

"Kamar mandi" jawab Allen singkat, membuat Anissia menyeringai.

"Mau di bantuin gak nuntasinnya" celetuk Anissia membuat Allen menoleh kearah wanita itu dan menatapnya bingung.

"Nuntasin? Emang apa yang mau di tuntasin?, Emang ke kamar mandi dapet nilai gitu kayak ujian?" Tanya allen polos, membuat Anissia menatap kesal bocah itu.

Sering nonton bokep tapi masih polos gitu, dasar bocah! Pikirnya.

"Ye, habis nonton gitu kamu gak ke rangsang gitu atau basah?" Jawab Anissia heran, tentu saja jawab Anissia tambah membuat Allen bingung.

"Kan cuman nonton bukan mandi musti basah, kakak mah aneh. Au ah, aku gak tau apa yang kakak maksud dengan kerangsang atau apalah. Aku ke kamar mandi karena pengen berak" ujar Allen jujur, yab dia emang mau berak.

Perutnya sudah melilit, tadi sih emang udah sakit tapi dia tahan karena penasaran sama video yang baru dia download tapi eh ke blabasan jadinya dia tonton semua dua puluh video porno yang dia download. Sedangkan Anissia hanya melongo, padahal tadi Allen udah nonton tiga video yang dia tau sih. Tapi kenapa gak ada reaksi?, Dia aja yang cuman liat agak berdenyut-denyut.

Tuh bocah sehatkan? Normal kan? Pikirnya.

"Kamu normal kan?" Celetuk Anissia, Allen menaikkan kedua alisnya.

"Au ah, kakak aneh banget sih. Aku mau berak dulu Bye" ujar Allen lalu langsung ngacir ke kamar mandi tanpa perduli dengan respon Anissia.

Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Allen, karena penasaran dengan isi labtop Allen. Awalnya sih biasa aja, hanya file-file buat tugas dan sejenisnya namun sedetik kemudian Anissia melongo melihat deretan video gak senonoh memenuhi labtop bocah itu.

"Eh, boset. Aku aja gak pernah nyimpen ginian segini banyaknya" gumam Anissia sambil menscroll deretan video yang bikin panas dingin.

Sedangkan Allen kini bernafas lega karena sudah menunaikan kewajibannya, bocah itu menautkan alisnya saat melihat Anissia yang terlihat fokus dengan labtop miliknya?

Tunggu dulu? Itu kan labtopnya? OMG!!!, Bagaimana sekarang? Ahhh aipku pekik Allen dalam hati.

"Apa yang kakak lihat?" Tanya Allen dengan bodohnya.

Sontak membuat Anissia yang tadinya terlihat fokus ke labtop milik Allen kini

mengdongkak kepalanya kearah Allen.

"Video ini udah kamu tonton semua?" Bukannya menjawab, wanita itu malah berbalik bertanya.

Dengan wajah polos, Allen malah mengangguk. Ah sial kenapa bocah itu malah bego, seharusnya dia tidak terlalu jujur.

Anissia hanya melongo, wanita itu benar-benar berpikir jika Allen itu tidak normal.

Bagaimana tidak, 20 video yang bikin gerah gak ada satu pun yang bikin Allen terlihat seperti orang yang sedang sange. Malah dia terlihat seperti biasa saja, apa bocah itu tidak punya nafsu atau sejenisnya kenapa dia tidak bereaksi saat menonton hal tidak senonoh itu.

Anis saja, satu video udah basah apalagi dua puluh video? Bisa-bisa crott dah.

"Terus kamu gak ngerasain apa-apa gitu?" Tanya Anissia lagi, Allen lagi-lagi

menggelengkan kepalanya dengan tampang polos.

"Ajaib" gumam Anissia, namun terdengar jelas di telinga Allen.

Bocah itu berdenyit bingung.

"Ajaib? Apanya yang ajaib?" Tanya Allen.

"Ya, video sebanyak ini kamu tonton tapi gak bereaksi apa-apa kan ajaib. Patut di pertanyakan itu" jawab Anissia, Allen hanya ber oh ria namun wajahnya terlihat cemberut.

"Apa yang perlu di pertanyakan? Kenormalanku?, Aku normal kok. Anu ku bereaksi kok, walau berdenyut doang. Aku masih waras ya, gak bakal mau aku colmek. Gila kali ngelakuin hal gitu kayak gak ada kerjaan aja" ujar Allen spontan, entah bocah itu sadar

atau tidak namun kalimat yang keluar dari mulutnya sangat frontal untuk ukuran dirinya.

Anissia hanya diam mencerna kata-kata tersebut, entah kenapa kalimat itu sangat susah di cerna oleh otaknya.

Namun sedetik kemudian wanita itu mendesah pelan lalu mendelete semua video latnat itu, dia gak mau Allen di racuni oleh hal seperti itu walau pada kenyataannya anak itu sudah termasuk candu video seperti itu hanya saja dia tidak terlalu parah dan bisa

mengendalikan dirinya. Ya, seperti yang kalian pikirin. Allen itu tampang dan

kelakuannya aja polos dan sok kalem tapi sebenarnya dia itu sangat nakal dan liar.

Bocah itu sangat pintar menyembunyikan sifat buruknya rapat-rapat hingga tidak ada satu pun orang yang tau jika bocah itu diam-diam menghanyutkan.

"Aku delete semua, gak marah kan?" Seru Anissia.

"Gak kok, hapus aja. Aku gak suka nonton apa yang sudah aku tonton" jawab Allen sambil berbaring lagi di ranjang.

Anissia hanya mengangguk saja.

"Jangan nonton ginian lagi" perintah Anissia, Allen mendesah pelan lalu

menyembunyikan wajahnya di pangkuan Anissia.

Entah sejak kapan bocah itu sudah menjadikan paha Anissia sebagai bantal.

"Kok diam?" Tanya Anissia yang bingung dengan Allen yang sedari tadi hanya diam.

"Aku gak tau caranya berhenti, itu kebiasaanku. Kalau aku ingin bakal aku tonton" jawab Allen dengan polosnya, Anissia mendesah pelan.

"Udah candu ya?, Nanti kita ke psikolog oke. Jangan nonton ginian lagi gak baik" ujar Anissia sambil mengelus lembut rambut Allen.

"Emang mau ngapain kesana?" Tanya Allen bingung, Anissia tersenyum lalu mengecup singkat bibir Allen.

"Otak kamu perlu di cuci, gak baik kalau candu hal begituan. Bikin otak rusak" jawab Anissia, Allen menatap Anissia dengan polosnya lalu mengangguk.

Dia tidak tau jika dia sudah candu hal gituan, yang dia tau jika dia ingin nonton aja dan harus terpenuhi.

"Kak" seru Allen.

"Iya, kenapa sayang?" Jawab Anissia masih mengelus lembut rambut Allen.

"Kapan kita nikah?" Tanya Allen, entah kenapa bocah itu tiba-tiba saja bertanya hal begitu.

"Emangnya kamu maunya kapan? Aku sih oke-oke." Jawab Anissia, Allen terlihat berpikir.

"Entah, aku nurut saja sama kakak toh sama aja kan" ujar Allen, Anissia menaikkan alisnya sebelah.

"Memangnya kamu udah Nerima aku?" Tanya Anissia, wanita itu sedikit penasaran dengan perasaan Allen padanya.

Allen bangkit dari tidurnya sambil mendesah pelan lalu duduk tepat di depannya Anissia, wanita itu cuman menatap bingung Allen.

"Apa selama ini aku terkesan menolak?, walau sekarang aku gak tau sama sekali dengan hatiku tapi aku nyaman sama kakak." Jawab Allen dengan nada serius, Anissia tersenyum

lembut.

"Gimana kalau pas libur semester?, Aku gak mau ganggu jadwal kuliah kamu" usul Anissia, Allen hanya mengangguk setuju.

"Iya terserah kakak aja, kan aku bilang aku nurut aja sama kakak" jawab Allen, Anissia terkekeh melihat wajah Allen yang terlihat sedikit kesal.

Keduanya pun larut dalam obrolan yang membahas tentang pernikahan mereka, ya walau hanya ada perasaan nyaman dan suka hadir di antara keduanya. Anissia tidak ingin menunda lagi, Allen itu terlalu alim dan polos. Walau penolakkan Allen terkesan halus

namun Anissia sadar kalau Allen itu tidak mau melakukan hal lebih selain ciuman sebelum ada ikatan yang bikin dia yakin. Itu cukup membuat Anissia kesal karena tidak mendapatkan sentuhan selama mereka tinggal bersama kecuali sebuah ciuman atau

kecupan itu pun selalu Anissia yang melakukannya.

Menyebalkan bukan? Tentu saja!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel