Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 11

Allen menghela nafas kesal, itu karena Rudi dan Karin tak masuk ke kelas. Bukan apa-apa dia merasa sepi saja, dia tidak terlalu dekat dengan temannya yang lain, itu membuat

Allen merasa canggung selama dua jam. Dengan perasaan dongkol dia berjalan menuju ke parkiran, dia berharap bisa menemukan dua tuyul itu dan menjitak kepala mereka satu persatu. Sesampainya di parkiran, dia langsung masuk ke mobil Anissia karena wanita memang sangat rajin menjemputnya.

Dengan wajah di tekuk di duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Anissia, sedangkan wanita menatap bingung Allen. Karena tidak biasanya wajahnya mendung walau rajang berekspresi.

"Kamu kenapa?" Tanya Anissia sambil menghidupkan mesin mobilnya lalu mengegas menjauhi kampusnya.

Allen menatap keluar, tidak berniat merespon apa yang Anissia tanyakan hal itu membuat Anissia kesal.

"Aku nanya kamu Allen, jadi jawab. Jangan kurang ajar gini sama yang lebih tua" celetuk Anissia dengan nada tegas dan menakutkan.

Allen menghela nafas pelan.

"Aku hanya sedang kesal, tadi Rudi sama Karin gak masuk kelas jadi aku ngerasa sepi itu aja. Udah puas jadi jangan ganggu aku, aku capek mau istirahat" jawab Allen menjelaskan

apa yang dia rasakan, Anissia tersenyum.

Dia senang Allen mau memberitahukan apa yang dia rasa, dia kira Allen akan bersikukuh tidak mau cerita dan endingnya dia dan Allen bertengkar namun sekarang jauh dari apa

yang dia pikirkan. Memang ya kehidupan nyata memang berbanding balik apa yang kita bayangkan, manusia memang sulit di tebak pikir Anissia lalu fokus ke jalanan.

Membiarkan Allen terlelap dalam tidurnya, dia merasa sangat lelah hari ini padahal dia tidak banyak beraktivitas.

Lebih tepatnya dia lebih banyak berpikir, berpikir tentang hubungannya dengan Anissia.

Jujur dia takut melangkah, dia takut gila karena jatuh cinta pada wanita yang jauh di atasnya. Dia takut senasib dengan Zala, pertemuannya dengan Zala beberapa hari yang lalu membukanya senang sekali syok. Bagaimana tidak, fakta bahwa dia menikah dengan seorang wanita mampu membuat kerja jantung Allen lebih cepat dari biasanya.

Walau Zala terpaksa menerima tetap saja endingnya tetap sama yaitu cinta, Allen takut berakhir sama seperti Zala. Dia takut merasakan keras dan kejamnya dunia lebih dari apa yang dia rasakan selama ini, dia takut tuhan mengecapnya sebagai hamba laknat. Jelas-jelas jika Tuhannya melarang keras berhubungan dengan sejenis, tapi sekarang dia malah terjebak dalam situasi yang mampu membawanya dalam kesesatan jiwa.

Dia sangat yakin jika endingnya akan sama saja, tapi apa dia siap menerima apapun yang terjadi nantinya. Biarlah waktu yang menjawapnya, yang jelas dia harus siap akan segala kemungkinan. Akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah gedung mewah, tentu saja itu adalah apartemen Anissia.

Wanita itu menoleh pada Allen yang masih terlelap, jujur dia sedikit ragu untuk membangunkan Allen melihat betapa pulasnya Allen tidur. Tapi tidak mungkin kan dia mengendong Allen sampai ke kamarnya, dia tidak cukup kuat untuk itu maklumlah faktor

umur. Sekarang Anissia sering ngos-ngosan kalau berjalan yang jaraknya cukup jauh, atau membawa sesuatu yang cukup berat.

"Allen, bangun Len kita udah sampek" seru Anissia sambil menggoyangkan tubuh allen agar wanita itu terganggu dan membuka matanya.

Allen berdehem dan berusaha membuka mata, sebenernya dia tidak terlalu terlelap itu karena otaknya terus berpikir bahwa walau matanya terpejam.

"Ayo turun" seru Anissia saat melihat Allen yang sudah membuka matanya.

Allen hanya mengangguk lalu ikut turun dari mobil, dia hanya mengekori Anissia dari belakang jujur dia sedikit bingung. Singkat cerita kini mereka sudah ada di dalam apartemen Anissia, sekarang Allen memilih untuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya.

Begitu juga dengan Anissia, namun wanita itu ingin mengganti pakaiannya. Di lepasnya kemeja yang dia kenakan dan di ganti baju kaos santai miliknya, lalu rok pendek miliknya

kini berubah jadi calana pendek selutut.

"Kamu mau makan apa hari ini?" Tanya Anissia basa basi, Allen membuka matanya yang sedari tadi tertutup.

Dia tidak mau melihat hal yang akan membuat wajahnya memerah, sayangnya mata sialannya malah tak ingin di tutup. Liat saja sekarang dia terang-terangan menikmati

pemandangan yang ada di depannya, dengan jelas dia melihat tubuh Anissia setengah telanjang. Kulit putihnya begitu menggiurkan, entah kenapa dia ingin menyentuhnya.

Walau dia tak dapat melihat yang ada di depan namun bisa dia pastikan itu akan sangat indah, oh God apa yang terjadi pada dirinya kenapa dia jadi gila begini.

"Apa yang kamu lihat?" Tanya Anissia membuat Allen tersentak, dia tidak sadar jika Anissia kini sudah selesai mengganti pakaiannya.

Dengan bodohnya Allen masih saja melihat kearah Anissia, sial. Wanita itu pasti memikir yang aneh-aneh walau pada kenyataannya dia memang melakukan hal aneh, yaitu mengagumi kemolekan tubuh Anissia. Alien hanya diam, dia tidak bisa berkata-kata

karena tiba-tiba bibirnya keluh. Belum lagi wajahnya yang tiba-tiba memerah, Allen memilih memalingkan wajahnya lalu pura-pura tidur.

Jujur dia malu, sangat malu.

Dengan iseng Anissia naik ke ranjang lalu merangkak naik keatas Allen, tentu saja Allen tau tapi entah kenapa dia hanya diam. Dia menikmati setiap kehangatan yang menerpa

tubuhnya, entah kenapa dia malah memalingkan wajahnya hingga wajah mereka saling bertemu.

manik mata Allen kini beradu dengan manik mata Anissia.

"Kak" seru Allen dengan nada serak, Anissia hanya berdehem.

"Jangan natap aku segitunya, aku deg-degan nih" ujar Allen jujur, yab memang

jantungnya sedari tadi berdetak kencang nih.

Anissia terkekeh, dia sudah tau apa yang di rasakan oleh Allen. Tentu saja dia wanita dewasa yang sudah tau apa yang terjadi di masa-masa Allen, dimana perasaan cinta berkobar dengan ganasnya.

"Biarkan saja, nikmati suaranya" jawab Anissia pelan, Allen hanya diam.

Bahkan saat bibir tipis Anissia mulai mengecup lehernya, dia hanya diam saja karena dia bingung harus apa. Ini pertama kalinya dia dalam posisi begini, belum lagi minimnya ilmu

tentang seks membuat dia tak berkutik sama sekali. Allen hanya bisa mengerang kecil, sensasi geli dan juga nikmat bercampur aduk dalam tubuhnya.

Namun otaknya sama sekali tidak searah dengan raganya, jiwanya memberontak. Dia mencoba menghentikan semuanya dengan segala kesadaran yang masih melekat pada raganya, entah kekuatan dari mana Allen mendorong paksa tubuh Anis. Lalu menatap wanita itu intens, wajah merah padam Allen kini beradu dengan wajah Anis yang tersenyum puas.

Walau dia cukup kecewa karena tidak bisa melakukan apa yang seharusnya, namun dia sadar jika mereka belum siap untuk hal itu terutama Allen.

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Allen dengan nafas memburu, Anissia tersenyum miring.

"Menurutmu?" Bukannya menjawab Anis malam berbalik bertanya, Allen menghela nafas lelah.

"Menjauh dari tubuhku, kamu berat" protes Allen sambil menyingkirkan tubuh besar milik Anissia.

Ya cukup besar untuk ukurannya, karena jujur saja dia merasa sedikit sesak karena di tindih oleh tubuh itu. Entah karena sentuhan Anis atau memang benar adanya karena

berat badan Anissia, entahlah yang jelas dia merasa risih jika wanita itu masih ada di atas tubuhnya. Mendengar hal itu sontak membuat Anis kesal, bibir seksinya kini maju

beberapa senti kedepan, hal itu membuat Allen terkekeh. Menggemaskan pikirnya, entah

apa yang dia pikirkan dia mengecup sekilas bibir itu.

Sontak membuat Anis kaget, matanya membulat sempurna bahkan hampir melongo.

Lagi-lagi Allen terkekeh, walau dia juga sedikit kaget namun dia suka sensasi lembut kenyal yang dia rasakan.

"Jangan manyun gitu, inget umur. Udah tua juga masih aja manyun kayak bocah" ledek Allen lengkap dengan senyum mengejek.

Plakkk…..

Satu tamparan kecil mendarat di pipi kiri Allen, tidak terlalu sakit namun cukup terasa perih.

"Kalau aku tua kenapa?, Seharusnya kamu tuh menghormati yang lebih tua dari pada kamu, bukannya malah meledek gitu" celetuk Anissia jengkel, bagaimana tidak. Dia sedikit sensitif jika menyangkut umur Allen memutar matanya jenah.

"Kalau kamu pengecualian, jika aku selalu menghormati kamu layaknya orang yang lebih tua dariku pada umumnya kamu gak bakal bisa menyentuhku bahkan saat kita sudah

menikah sekalipun" jawab Allen dengan santainya.

Anissia menautkan alisnya bingung, dia menatap lekat manik mata yang kini hanya berjalan sejengkal dari manuk matanya. Allen yang paham akan kebingungan Anissia pun menjelaskan apa yang dia sampaikan.

"Jika menghormati seseorang kita harus menjaga tingkah laku, itu artinya tidak ada ciuman atau sejenisnya" jelas Allen, Anissia terdiam namun sedetik kemudian dia terkekeh geli.

"Jadi kamu mau aku dan kamu melakukan hal intim begitu?" Goda Anissia, mambuat Allen tersentak lalu tiba-tiba wajahnya memerah.

Dia tersadar jika kalimat yang dia ucapkan memang mengandung makna yang ada di pikiran Anissia, namun entah kenapa dia berpikir itu adalah hal wajar mereka kan akan menikah jadi hal begitu sangat lumrah.

Namun tetap saja dia malu.

"B...bukankah kita akan menikah masa mirip ibu dan anak" ujar Allen pelan, Anissia terkekeh geli melihat wajah Allen yang memerah.

Anissia mengelus lembut pipi lembut nan putih milik Allen, lalu tersenyum manis.

"Kamu benar, akan sangat canggung jika itu terjadi" jawab Anissia lalu membaringkan tubuhnya di samping Allen dan memeluk tubuh yang cukup mungil untuknya.

Sedangkan kepalanya kini ada di dada Allen, merasakan detak jantung yang mulai tak seirama. Tentu saja itu karena sentuhan Anissia yang terasa tak biasa bagi Allen, walau pun begitu dia menyukainya.

Menyukai apa yang Anissia lakukan pada dirinya, mengecup, memeluk atau mungkin nanti menggaulinya rasanya bukan hal yang begitu dia benci. Dia juga tak mengerti kenapa tubuhnya merespon sangat baik jika orang yang menyentuhnya adalah Anissia,

yang jelas dia berharap jika hatinya akan menerima Anissia bukan cuman itu akal sehatnya juga harus begitu.

Karena pada dasarnya dia juga harus menerima Anissia dalam hidupnya, mau tak mau dan suka tak suka semua harus di paksa. Sebisa mungkin Allen membuat semua terasa nyaman untuknya, semoga apa yang di takdirkan untuknya adalah hal yang bisa membuatnya merasakan bahagia yang selama ini tertelan oleh luka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel