Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 9 Misi Penculikan

Citra masuk ke sebuah ruangan yang sangat sunyi, gelap, dan menyeramkan. Dengan penuh percaya diri dia mengetuk sebuah pintu berwarna hitam yang bertuliskan Dark. Tak lama kemudian terdengar suara tegas pria yang menyuruhnya untuk masuk. Citra pun akhirnya masuk ke dalam ruangan itu, dia tidak lupa menutup pintunya kembali. Pria itu memakai kacamata hitamnya, tubuhnya berbalutkan jubah hitam.

"Apa kau wanita yang butuh uang?" tanya pria itu.

"Ya, Tuan. Saya butuh uang," balas Cika.

"Aku akan memberimu uang. Apakah kau bisa menjalankan tugasmu dengan baik?" tanya pria itu.

"Tentu saja bisa, Tuan. Saya akan selesaikan tugas baik," balas Citra.

Pria itu mengambil sesuatu dari laci mejanya dan menyerahkan sebuah amplop pada Citra.

"Di dalam amplop ini ada uang 2 Milyar. Jika kau bisa membawa Bara Adhiyaksa kehadapan ku maka aku akan menambahkan lagi," ujar pria itu.

"Baiklah, Tuan. Saya akan kerjakan tugas ini dengan baik," ujar Citra.

"Kau boleh pergi," ujar pria itu.

Citra pun mengangguk lalu pergi dari hadapan pria itu.

"Bara Adhiyaksa. Kau tidak akan bisa lepas dariku," ujar pria itu.

Pria itu pun tersenyum menyeringai.

Di sisi lain...

Citra tampak senang karena mendapatkan banyak uang, dia akan bersenang-senang dengan temannya menggunakan uang itu.

"Sebaiknya aku cepat kembali dan melaksanakan tugas dari pria itu," ujar Citra.

Citra pun memutuskan untuk pergi.

***

Tak terasa hari sudah pagi dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi, Maura terbangun dan langsung keluar dari kamar Mita.

Maura memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan tiba-tiba dia berpapasan dengan Amilia.

"Kamu sudah bangun nak?" tanya Amilia.

"Iya, Bunda. Aku sudah bangun untuk mandi dan bersiap shalat subuh," balas Maura.

Amilia tersenyum dan mengusap rambut Maura.

"Mandilah. Bunda akan siapkan pakaian kamu," ucap Amilia.

Maura mengangguk lalu pergi.

"Saat berada didekatnya aku merasa ikatan batin yang sangat kuat," ujar Amilia.

Amilia pun tersenyum lalu pergi.

Kembali ke kamar...

Mita terbangun dari tidurnya dan menatap sebelahnya.

"Kemana kakak Maura?" tanya Mita.

Mita pun bangkit dan keluar untuk mencari Maura.

"Kakak Maura," panggil Mita dengan nada lembut.

Tak lama kemudian Amilia datang.

"Kamu kenapa sih pagi-pagi malah teriak-teriak?" tanya Amilia.

"Bunda liat Maura tidak?" tanya Mita, "Soalnya ketika aku bangun dia sudah tidak ada."

"Kakak kamu sedang mandi," balas Amilia dengan senyuman mengembang.

"Bunda bahagia ya ada Kakak Maura disini?" tanya Mita.

"Tentu saja, nak. Bunda sangatlah bahagia," balas Amilia.

"Ya sudah kamu juga mandi. Kita siap-siap shalat subuh berjamaah," lanjut Amilia.

"Baiklah, Bunda. Aku mau mandi dulu," ujar Mita.

Mita pun pergi dari hadapan sang Bunda.

"Sebaiknya aku segera menyiapkan bahan-bahan untuk memasak," ujar Amilia.

Amilia pun memutuskan untuk pergi ke dapur.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit, setelah shalat subuh berjamaah, Maura memutuskan untuk membantu Amilia.

"Bunda. Apa aku boleh membantumu?" tanya Maura.

"Tentu saja boleh, nak. Bunda jadi ada temennya," balas Amilia.

Amilia pun mulai memotong bawang, sementara Maura memotong ayam segar yang sudah terbebas dari bulu-bulu. Maura mencuci bersih ayam yang sudah di potongnya dan menyerahkan pada Amilia untuk dibaluri dengan tepung basah dan kering.

"Biar aku saja yang menggorengnya, Bunda."

Amilia mengangguk dan Maura pun mulai menggoreng ayam krispi itu sampai matang.

"Kamu lanjutkan dulu nak. Bunda mau menyiapkan piring dan gelasnya dahulu," ujar Amilia.

Amilia pun pergi sementara Maura sibuk menggoreng.

Di sisi lain...

~ Mansion ~

Pria itu tampak asik menyemprotkan parfum pada dadanya dan juga jas formal miliknya.

Pria itu mengambil ponselnya karena sejak tadi berdering.

"Ada apa kau meneleponku? Bukankah diriku sudah bilang jangan pernah lagi menghubungiku," ujar pria itu.

Pria itu langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan kasar dan penuh emosi.

"Wanita tua itu, benar-benar sangat menggangguku. Aku harus memberinya pelajaran berharga," ujar pria itu.

Pria itu memasang arloji ditangannya lalu mengambil tas kerja miliknya dan pergi dari kamarnya.

Sesampainya di Perusahaan...

Xavier langsung masuk ke dalam ruangan CEO dan menutup pintunya kembali.

"Pekerjaanku masih sangat menumpuk," ujar Xavier.

Xavier pun mulai memeriksa berkas-berkas miliknya dengan sangat teliti, lalu tiba-tiba pintu diketuk.

Xavier menghela nafas panjang.

"Masuk!" tegasnya.

Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan masuklah seorang pria yang seusia dengan bosnya.

"Tuan. Saya ingin memberikan kabar buruk," ujar pria itu.

"Kabar seperti apa?" tanya Xavier tampak serius.

"Tuan. Wanita bernama Citra itu telah kabur setelah Anda menyuruhnya untuk melakukan sebuah tugas penting," balas pria itu dengan nada ketakutan.

"Apa!" teriak Xavier dengan nada marah, membuat pria dihadapannya hampir terjungkal dan jatuh.

"Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi?" tanya Xavier.

"Saya juga bingung, Tuan. Anda tenang saja," ujar pria itu, "Saya akan meminta bantuan kepada anak buah yang aku miliki."

"Tidak perlu. Aku punya cara lain," ujar Xavier.

"Kau boleh pergi," lanjut Xavier.

Pria itu pun memutuskan untuk pergi.

"Aku akan meminta bantuan dari Marvin," ujar Xavier.

Xavier mengambil ponselnya dan menelpon Marvin.

"Halo, Xavier. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Marvin.

"Ya, Marvin. Apa kau bisa membantu diriku untuk mencari tahu siapa saja sahabat dari Citra wanita yang aku suruh dia malah kabur," balas Xavier.

"Licik sekali wanita itu. Kau harus memberikan dia pelajaran berharga," ujar Marvin.

"Kau mau membantuku?" tanya Xavier.

"Ya kau tenang saja. Fokus saja pada pekerjaanmu," balas Marvin.

Marvin memutuskan sambungan teleponnya.

"Semoga saja Marvin bisa menemukan informasi itu," ujar Xavier.

Xavier pun melanjutkan pekerjaannya dengan sangat fokus dan cekatan.

Di sisi lain...

Arion dan Maura berada dalam satu mobil, Amilia sengaja menyuruh putranya untuk mengantar Maura.

"Kamu tinggal di mana?" tanya Arion.

"Aku tinggal di Mansion Ayah dan Bunda," balas Maura.

Arion mengangguk dan tersenyum.

"Kamu di Mansion tinggal dengan siapa?" tanya Arion.

"Aku tinggal dengan Nenekku," balas Maura.

Saking asiknya berbicara tanpa sadar mereka telah sampai di Mansion milik Maura.

"Tuan sudah sampai," ujar Maura.

"Wah sudah sampai ya," ujar Arion.

Arion pun keluar dari mobil begitu pula dengan Maura.

Arion menatap sekeliling Mansion yang dipenuhi dengan bunga-bunga.

"Kamu penyuka bunga?" tanya Arion.

"Benar, Tuan. Saya suka sekali dengan bunga-bunga," balas Maura.

"Wah perempuan luar biasa," batin Arion.

"Kalau begitu saya pamit dahulu. Hari ini aku meliburkan dirimu," ujar Arion.

"Baiklah, Tuan. Terimakasih," ujar Maura.

"Sama-sama dan jaga diri kamu dengan baik ya," ujar Arion.

Arion pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari hadapan Maura.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel